
Deg....
Jantung Arga tersentak mendengar ucapan Aruna,apalagi mendengar tangis bahagianya seakan menyadarkan Arga kalau dia sudah menyakiti wanita di depannya ini terlalu lama.
Arga semakin mengeratkan pelukannya dan sesekali mencium pucuk rambut Aruna.
"Maafkan aku Runa..." Bisik Arga pelan.
------
"Sayang katanya kamu mau ceritain tentang Arga?" Nara menagih janji Jia untuk menceritakan tentang kakaknya.
"Ehm iya-iya sabar....Jadi dulu kak Arga pernah punya pacar dan sudah tunangan,tapi kak Arga nggak sengaja memergoki tunangannya itu selingkuh,dan kamu tahu nggak sayang alasan dia selingkuh itu apa?" Jia mengambil nafas sebelum melanjutkan ceritanya.
"Apa...?" Tanya Nara penasaran.
"Alasannya itu karena dia cemburu sama aku,kak Arga selalu mengutamakan aku ketimbang pacarnya dan yang paling membuat kak Arga marah dia bilang kalau aku itu terlalu manja dan hanya menjadi pengganggu buat hubungan kak Arga sama dia.
Sejak saat itu kak Arga nggak mau lagi pacaran,hingga akhirnya kak Runa datang dan bisa mengambil sedikit hati kak Arga,karena kak Runa bisa menerima aku dan juga sayang banget sama aku dan itu membuat hubungan mereka bisa bertahan sampai sekarang.Tapi seperti yang kamu lihat sendiri tadi,kak Arga tetap saja masih dingin dan menjaga jarak dari kak Runa padahal hubungan mereka sudah empat tahun." Jia menghela nafas lalu menghempaskan tubuhnya di jok mobil.
"Aku pernah meminta kakak untuk menikahi kak Runa,tapi jawabannya kakak mau lihat aku bahagia dulu dan menyerahkan aku pada orang yang tepat barulah dia mau menikah.Sebenarnya aku merasa bersalah,seandainya dulu aku tidak selalu manja sama kakak mungkin sekarang dia sudah bahagia dengan kekasihnya dulu." Jia merutuki kesalahannya hingga membuat wajahnya muram.
Nara mengusap pipi Jia lalu menggenggam erat tangannya untuk memberi dukungan pada istrinya.
"Itu bukan salah kamu sayang,kamu harus bersyukur Arga nggak jadi nikah sama pacarnya yang dulu.Bisa di tebak kalau dia bukan wanita yang baik,dan kalaupun dia menikah sama Arga,itu nggak akan menjamin kalau dia tidak selingkuh nanti." Ujar Nara sambil masih tetap fokus menyetir mobil.
"Sekarang kan kamu sudah menikah denganku sayang,dan aku janji akan selalu membuat kamu bahagia.Kamu sudah jadi tanggung jawabku,nanti kita akan bujuk Arga untuk segera menikahi Aruna." Imbuh Nara lagi.
Mendengar perkataan Nara membuat hati Jia sedikit lega,di balasnya genggaman tangan suaminya dan Jia menyenderkan kepalanya di bahu Nara.
------
"Tuan muda....nona muda selamat malam." Sapa pelayan di rumah Nara membungkukkan badan setelah membukakan pintu.
"Selamat malam bi..." Balas Jia tersenyum ramah,sedangkan Nara hanya tersenyum dingin seperti yang biasa dia lakukan.
"Mama ada di rumah bi?" Tanya Nara menghentikan langkahnya.
"Ada tuan,nyonya besar ada di ruang tengah bersama tuan besar."
"Oh ya sudah bi,terimakasih."
"Selamat malam ma,pa...." Sapa Jia dan Nara berjalan mendekati orang tua mereka yang sedang bersantai.
"Jia....akhirnya menantu kesayangan mama datang." Seru mama Ajeng senang dan berdiri menyambut Jia dan Nara.Mama Ajeng memeluk Jia dan berulang kali memberikan ciuman di wajahnya hingga mengabaikan Nara yang berada di samping Jia.
"Mentang-mentang sudah punya menantu,anak sendiri di asingkan." Gerutu Nara sambil menghempaskan tubuhnya di sofa hingga membuat mama Ajeng dan Jia terkekeh.
"Nara...Nara kenapa kamu jadi seperti anak kecil,masa cemburu sama istri sendiri." Sahut papa Wira menggelengkan kepala melihat Nara ngambek.
"Sudah biarin pa,kalau dia ngambek biar Jia tidur sama mama nanti malam." Ancam mama Ajeng menggoda Nara.
"No ma,jangan usil deh." Nara segera menggeser duduknya mendekati istrinya dan melingkarkan tangannya di pinggang Jia hingga membuat Jia risih karena malu di lihat mertuanya.
"Duh kenapa suamiku mendadak berubah seperti anak kecil." Batin Jia dalam hati dan masih berusaha melepaskan tangan Nara dari pinggangnya,tapi sia-sia karena Nara malah semakin mengeratkan tangannya.
"Huh dasar kamu Nara,manjanya kumat." Gumam mama Ajeng.
Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan kedua orang tuanya Nara mengajak Jia untuk istirahat di kamar.
" Ma,pa Nara sama Jia ke kamar dulu ya mau istirahat kasian Jia besok sudah mulai masuk sekolah lagi.
"Ok sayang,jangan lupa pesan mama tadi ya." Mama Ajeng mencium kening Jia dan mengedipkan matanya pada Jia,membuat Jia malu karena teringat permintaan mamanya itu untuk segera memberinya cucu.
"Ah mama..." Jia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan segera berjalan mengikuti suaminya.
"Ma...jangan terlalu menuntut pada mereka,biar mereka menikmati pernikahannya dulu,lagian Jia juga masih sekolah biar dia fokus dulu menyelesaikan sekolahnya." Ucap papa Wira yang merasa istrinya terlalu menuntut.
"Ah papa,mama kan cuma bercanda.Tapi kalau segera di kasih mama akan sangat bahagia.Mama sudah tidak sabar untuk menimang cucu.Apa papa nggak ingin ya buruan punya cucu?"
"Ya pengen sih ma,tapi kan mereka juga baru saja menikah." Papa Wira hanya menggelengkan kepala,karena dia pasti akan kalah kalau berdebat dengan istrinya.
Nara menjatuhkan tubuhnya di ranjang dengan tangan terlentang,sedangkan Jia sedang mengotak-atik ponselnya menghubungi Runa.Dia penasaran dengan apa yang sedang terjadi dengan kakaknya bersama Runa.
"Sayang kamu telfon siapa? Nara beranjak dari tidurnya dan duduk di samping istrinya yang masih sibuk mencoba menghubungi Runa berulang kali.
Nara menyaut ponsel Jia,karena kesal Jia tidak menjawab pertanyaan.
"Nara kok di ambil sih ponselnya,balikin nggak!" Protes Jia kesal.
"Habisnya kamu nggak jawab pertanyaanku,jawab dulu baru aku balikin."
"Huft...iya..iya maaf,aku sedang telfon kak Runa tapi nggak di angkat-angkat.Aku takut kalau terjadi apa-apa sama kak Runa." Jia menghela nafas.
"Sayang kalau kamu takut terjadi apa-apa sama Runa kenapa tadi ninggalin mereka berdua?" Nara memandang wajah istrinya heran.
"Sudahlah nggak usah cemas sayang,mereka sudah sama-sama dewasa jadi kamu nggak perlu khawatir.Mereka pasti tahu batasannya,tapi bukankah ini yang kamu mau supaya Arga bisa membuka hatinya." Imbuh Nara lagi sambil mencubit hidung Jia yang mancung.
"Aww sakit....Kamu kebiasaan kalau hidungku lepas gimana?" Jia menggerutu memegangi hidungnya yang sedikit sakit.
"Hehe maaf."
"Bener juga kata Nara,aku nggak perlu khawatir kak Arga nggak akan macam-macam.Mending aku telfonnya besok saja." Batin Jia.
"Sudah sekarang mending kamu cuci muka,ganti baju terus tidur ya besok kan sudah mulai sekolah." Nara mengecup kening Jia sebelum dia berjalan ke sofa dan mengambil laptopnya.
Jia sudah berganti baju dan kini berbaring di ranjang,di lihatnya Nara masih sibuk dengan laptopnya.
"Huh malah di cuekin." Gerutu Jia pelan.Jia berulang kali berpindah posisi mencari posisi yang nyaman,tapi tetap saja tidak bisa tidur.Entah kenapa sekarang Jia jadi merasa sulit tidur kalau tidak memeluk suaminya.
Nara melirik ke arah istrinya yang berulang kali berganti posisi tidur.Nara mematikan laptop dan berjalan menghampiri istrinya lalu merebahkan tubuhnya di samping Jia.
Jia sangat senang saat Nara sudah berada di sampingnya dan memeluknya .Jia membalas pelukannya dengan erat,menempelkan wajahnya di dada bidang suaminya itu mencium dalam aroma tubuh khas suaminya yang sekarang menjadi candu untuk dia.
Nara tersenyum melihat istrinya yang menurutnya sudah tertidur pulas. " Huh dasar bilang saja minta di peluk tapi masih saja gengsi." Gumam Arga pelan menyentuh hidung Jia pelan.Nara hendak bangun dari tidur dan ingin kembali melanjutkan pekerjaannya yang terhenti tadi.
"Jangan kemana-kemana,kalau kamu pergi aku nggak mau tidur sama kamu lagi." Gumam Jia dengan mata masih terpejam membuat Nara kaget.
Nara mengurungkan niatnya, kembali berbaring dan memeluk erat istrinya.
"Aku nggak akan pergi sayang." Bisik Nara menghujani banyak ciuman di wajah Jia hingga membuat Jia menggeliat geli tapi tidak membuatnya membuka mata.
-----------
Jia sudah kembali beraktivitas seperti biasa dan kembali ke sekolah lagi.Sesuai kesepakatan Jia di kawal oleh Beny sejak dari sekolah sampai kerumah.Untuk sementara Jia tinggal di rumah orang tua Nara,awalnya Nara ingin membeli rumah sendiri tapi karena permintaan orang tuanya yang jarang ada di rumah akhirnya Nara dan Jia memutuskan untuk tetap tinggal di sana sementara waktu.
Sedangkan Arga dan Runa,semejak kejadian malam itu mereka semakin terlihat seperti sepasang kekasih.Arga sudah bisa melupakan masa lalunya dan benar-benar memberikan perhatian pada Aruna.Itu yang membuat Jia setuju dengan permintaan mama Ajeng untuk tinggal di rumahnya sementara waktu.Dia ingin memberi banyak waktu untuk kakaknya berdua dengan Runa.
Sore itu Jia mengajak Nara untuk mengunjungi kakaknya.Mereka berempat berbincang-bincang di taman belakang rumah dan sesekali terselip candaan yang membuat mereka tertawa.
"Kak..." Jia melihat kakaknya dengan tatapan serius.
"Iya sayang?" Jawab Arga mengerutkan dahinya seakan bertanya.
"Jadi kakak kapan akan melamar kak Runa." Tanya Jia tiba-tiba hingga membuat Arga terdiam sejenak. Nara melihat Jia dan berganti melihat Arga menunggu jawabannya.
Aruna kaget karena tidak menyangka Jia akan menanyakan hal itu sekarang,baginya Nara sudah membuka hatinya itu sudah cukup untuk saat ini walaupun tidak di pungkiri kalau dia juga ingin mendapat kepastian dari Arga.
"Kakak kan sudah pernah janji sama aku,kalau kakak akan menikah saat sudah ada seseorang yang bisa menjagaku." Imbuh Jia lagi sambil melirik Nara yang ada di sampingnya.
"Kamu tidak perlu cemas Ga,aku akan menjaga Jia.Jadi sekarang waktunya kamu memikirkan untuk masa depanmu sendiri." Ucap Nara penuh penegasan.
Arga mengangkat kepalanya,di lihatnya wajah adiknya lalu Nara dan terakhir menatap wajah Aruna yang berada di sampinya.Di raihnya tangan wanita yang sudah mengisi harinya akhir-akhir ini dan merubahnya menjadi penuh warna.Di tatapnya lekat,lalu mengambil nafas dalam-dalam.
"Runa,will you marry me?" Ucap Arga setelah mengambil sebuah kotak berisi cincin di saku celananya.Arga sebenarnya sudah membeli cincin itu beberapa hari yang lalu,tapi dia belum berani mengungkapkan keinginannya.barulah tadi saat Jia bertanya dia rasa kalau ini saat yang tepat.
Aruna menutup bibirnya tak percaya dengan lamaran Arga,dia tidak bisa berkata apa-apa.Begitupun Jia dan Nara, mereka terkejut tidak menyangka kalau Arga akan melamar Aruna sekarang dan ternyata dia juga sudah menyiapkan cincin untuk melamar Aruna.
"Kak Runa ayo jawab." Suara Jia membuyarkan pikiran Aruna yang masih melayang-layang karena bahagia.
"Eh...ehm...Iya....Yes,I will..." Jawab Aruan dengan tergagap karena gugup.
"Yes...." Seru Jia bahagia.Nara juga ikut bahagia apalagi melihat istrinya tersenyum senang membuat Nara semakin bahagia.
Arga memakaikan cincin di jari manis Aruna lalu menciumnya perlahan hingga membuat Aruna tersipu malu.
"Selamat ya kak." Jia menghamburkan pelukan pada kakaknya dan juga calon kakak iparnya itu.
"Iya sayang...makasih ya,ini juga berkat kamu." Gumam Aruna pelan sambil tersenyum.
"Selamat ya Ga...." Nara menepuk bahu Arga memberikan selamat.
"Iya Nara terimakasih,kamu harus menepati janjimu untuk selalu menjaga Jia.Aku tidak akan segan-segan mengambilnya darimu kalau kamu menyakitinya." Ujar Arga dengan nada yang seakan belum bisa melepaskan adiknya seutuhnya.
"Kamu tenang saja Ga,aku akan menjaganya dengan baik." Ucap Nara sambil menatap istrinya yang baru saja masuk ke dalam bersama Aruna untuk mengambil minuman lagi.
"Jia terimakasih ya,kalau bukan karena kamu memberi kakak waktu untuk berdua dengan Arga malam itu mungkin Arga masih tetap seperti dulu." Aruna memeluk calon adiknya dengan erat.
"Iya kak,aku yang harusnya berterimakasih sama kak Runa karena sudah sabar menghadapi sikap kak Arga dan setia menunggu sampai sekarang." Ucap Jia melepaskan pelukannya.Dan mereka tersenyum bahagia berdua.
"Oh ya sayang,desain kamu yang kemarin sudah kakak kirim ke pelanggan,dia sangat senang dengan semua desainmu dan sebenarnya dia ingin bertemu denganmu ingin menawarkan kerja sama mumpung sekarang dia juga sedang liburan ke Indonesia,tapi kakak nggak yakin kalau Nara akan memberikan ijin."
"Memang kenapa kak? Nara pasti ngijinin kok,dia sudah bilang nggak akan membatasi kegiatanku." Seru Jia semangat mendengar kalau ada yang ingin mengajaknya kerja sama dengannya.
"Karena dia cowok sayang,melihat Nara yang posesif banget sama kamu kakak nggak yakin kalau dia bakal ngijinin,apalagi cowok ini masih muda dan juga tampan sayang." Ucap Aruna sambil mengaduk kopi.
"Bener juga kata kak Runa....Nara kan posesif." Batin Jia tiba-tiba wajahnya berubah galau.
"Oh ya sayang ,uang hasil penjulan desain kemarin mau kakak transfer atau mau buat tambah uang muka pembelian rumah di Belanda?" Tanya Aruna yang sudah bersiap mengangkat nampan berisi dua cangkir kopi.
"Buat tambah uang muka saja kak,tapi kakak jangan bilang dulu ya sama kak Arga apalagi sama Nara kalau aku mau beli rumah di Belanda!" Pinta Jia penuh harap.
"Jangan bilang apa sayang? Kalian ada rahasia apa? Tanya Nara yang tiba-tiba datang penuh selidik hingga membuat Jia dan Aruna tersentak kaget.
"Ah kamu mau tahu saja...ini urusan wanita sayang." Elak Jia segera.
.
.
.
Bersambung