NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Tidak Segampang Itu



"Ya Tuhan kenapa mataku sulit terpejam." Jia berguling ke kanan dan ke kiri mencari posisi yang menurutnya nyaman kedua matanya melirik ke arah jam di atas nakas samping ranjangnya menunjukkan pukul tiga pagi.Di lihatnya Nara tidur sangat pulas ,ingin rasanya dia membangunkan suaminya tapi tidak tega,karena tiba-tiba merasa lapar Jia memutuskan untuk bangun dan ke dapur.


"Lebih aku keluar sendiri saja." Jia bangun dari tidurnya pelan-pelan supaya tidak membangunkan suaminya dan berjalan keluar menuju dapur.


"Huh,kenapa malam-malam aku lapar begini sih,nggak biasanya." Gumam Jia sambil mengobrak-abrik isi lemari es,matanya berbinar saat menemukan sekotak kue brownies redvelvet.Jia mengambil sekotak penuh kue itu dan membawanya keluar duduk di samping kolam renang.


"Ehm...kuenya enak banget,aku masih pengen ...." Mata Jia memandang sendu kotak kue yang sudah kosong di pangkuannya itu.Perut Jia masih terasa lapar padahal dia sudah menghabiskan satu kotak penuh kue brownies yang berisi delapan potong,tapi rasanya masih kurang.


Di Kamar


Nara menggeliat merentangkan tangan ingin memeluk istrinya,tapi Nara langsung terperanjat bangun dari tidurnya saat menyadari tangannya tidak menemukan tubuh Jia di sampingnya.


"Sayang....kamu dimana." Batin Nara,dia mencoba mengontrol hatinya agar tetap tenang.


"Sayang apa kamu di kamar mandi?" Seru Nara membuka pelan kamar mandi dan ternyata tidak mendapati Jia di sana.


Nara mulai sedikit panik,tapi dia mencoba untuk tenang karena tidak mau membuat keributan.Nara keluar dari kamar mencari Jia ke seluruh ruangan tapi tetap tidak menemukan istrinya.Tiba-tiba mata Nara melirik pintu ke arah kolam renang terbuka dan lampu juga menyala,Nara segera bergega s kesana dan betapa lega hatinya melihat istrinya tertidur meringkuk di kursi tepi kolam renang karena kedinginan.


"Sayang kenapa kamu tidur di sini?" Gumam Nara yang sudah duduk di samping Jia,di pandanginya wajah istrinya,Nara melihat ada bekas kue di sekitar bibir Jia lalu Nara tersenyum saat melihat kotak kue yang sudah kosong di atas meja.


"Kenapa akhir-akhir ini kamu aneh sih sayang,nggak biasanya kamu malam-malam makan apalagi makan kue yang manis kaya gini." Nara mencubit hidung istrinya gemas sebelum dia menggendong Jia ala bridal style menuju kamar.


"Hoammmp...." Jia menggeliat mengerjapkan matanya.


"Pagi sayang....." Nara menghampiri dan mengecup bibir Jia manja,saat dia mendengar suara lenguhan istrinya membuat dia menghentikan aktivitasnya di depan cermin.


"Ehm...Pagi juga sayang...Kamu mau kemana?" Tanya Jia menarik selimutnya masih malas bangun dari tidur.


"Kerja dong sayang..." Jawab Nara hendak mengambil jam tangan di atas Nakas tapi tangannya langsung di tarik Jia.


"Sayang,kamu kan bosnya.Jadi nggak apa-apa dong kalau hari ini nggak usah berangkat kerja." Gumam Jia sambil memeluk tangan Nara di dadanya.


Nara mengernyitkan dahinya heran. " Nggak biasanya Jia nyuruh aku bolos,padahal biasanya dia akan marah-marah kalau aku nggak berangkat ke kantor." Ucap Nara dalam hati.


"Sayang...aku mau di temani kamu." Ucap Jia lagi dengan wajah penuh harap hingga membuat Nara tidak tega.


Ehm....ok deh,apa sih yang nggak buat kamu sayang." Nara mencium kening istrinya,ingin rasanya dia bertanya tentang sikap anehnya akhir-akhir tapi dia urungkan dulu karena nggak mau merusak moment langka ini.


"Sayang sini." Ucap Jia manja menepuk kasur sebelahnya menyuruh Nara tidur lagi di sampingnya.


"Pagi-pagi kamu mau minta ya sayang..." Bisik Nara setelah berbaring di samping Jia.


"Huh...kamu pikirannya mesum terus....Aku hanya mau tidur di peluk kamu,tangannya nggak usah kemana-mana deh." Protes Jia karena tangan Nara sudah bergerilya ke dalam piyama Jia.Nara terkekeh mendengar ocehan istrinya tapi tetap tidak mau mengeluarkan tangannya yang sudah di posisi favoritnya itu.


"Ini buat imbalannya ya sayang,kan aku sudah mau bolos kerja." Bisik Nara menggigit pipi Jia,hingga membuat Jia merintih.


"Dasar mesum." Gerutu Jia dengan memejamkan mata dan membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.Tidak butuh waktu lama Jia sudah tertidur lagi dengan posisi nyaman di peluk Nara.


"Jangan kemana-mana,kalau kamu pergi aku akan ikut kak Arga bulan madu." Ancam Jia masih memejamkan mata,membuat Nara kaget sekaligus takut mendengar ancaman istrinya itu dan segera mengurungkan niatnya untuk bangun.


"Ren,hari ini kamu handle semua pekerjaan di kantor,aku tidak masuk kerja." Nara menulis pesan dan mengirimkan pada Reno lalu dia kembali berbaring memeluk istrinya setelah menaruh ponselnya di atas nakas.


--------


"Pagi Kara....maaf ya aku baru bisa kesini sekarang." Justin menyapa Kara lalu memeluknya untuk melepaskan rasa rindunya karena sudah hampir setahun dia tidak berjumpa dengan sepupunya itu.


"Hayyyy Justin.....Aku kira kamu tidak jadi kesini." Seru Kara menghambur membalas pelukan Justin.


"Mana mungkin aku pulang ke Indonesia tapi tidak menemui sepupuku yang cantik ini.Semalam sepulang dari menghadiri pesta pernikahan temanku mobilku mogok makanya aku tidak jadi kesini,mau menghubungimu tapi ponselku lowbat."


"Oh begitu, ya sudah yang penting sekarang kamu sudah disini." Balas Kara lalu menyuruh Justin duduk.


"Om dimana?" Tanya Justin setelah menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Papa baru saja keluar menemui teman bisnisnya."


Justin dan Kara adalah sepupu,mereka cukup akrab tapi karena dari kecil Justin tinggal di Belanda jadi dia jarang bertemu dengan Kara hanya bisa berhubungan lewat media sosial saja.Setelah lama berbincang-bincang Kara bertanya pada Justin soal dokter spesialis ginjal.


"Ehm...Justin apa kamu punya dokter kenalan spesialis ginjal disini." Pertanyaan Kara membuat Justin mengerutkan keningnya.


"Memang kenapa Kara,siapa yang sakit ginjal." Justin tidak menjawab pertanyaan Kara tapi malah balik bertanya.


"Ehm....bukan siapa-siapa Justin,itu...ehm...ada temanku mempunyai masalah pada ginjalnya dan aku ingin menolongnya dengan mencarikan dokter terbaik untuk dia,kamu kan dokter siapa tahu saja kamu bisa merekomendasikan dokter terbaik yang ahli di bidang itu." Ucap Kara panjang lebar berbohong,dia tidak mau Justin tahu kalau dia sedang berbohong,karena kalau Justin tahu alasannya pasti dia tidak akan setuju.


"Oh....ada kok nanti aku kasih kartu namanya,dia praktek di salah satu rumah sakit besar di kota ini.Dia adalah dokter terbaik,kamu tenang saja dia pasti bisa membantu temanmu." Jawab Justin tanpa rasa curiga dan membuat Kara lega.


"Ok Justin terimakasih."


"Oh ya bagaimana dengan gadis yang kamu ceritakan kemarin, apa kamu sudah menemuinya?" Kara tiba-tiba teringat dengan gadis yang di ceritakan oleh Justin kemarin.


"Huft....sepertinya dia sudah memiliki kekasih." Ucap Justin tidak bersemangat terbayang lagi bagaimana mesranya gadis itu di peluk mesra oleh seorang lelaki yang membuat hatinya nyeri tiap kali mengingatnya,padahal Justin sendiri belum mengenal gadis itu,tapi dia sudah merasakan cemburu.


"Ah sudah dong,kamu itu keren tahu disini masih banyak cewek cantik,nanti aku kenalin sama teman-temanku." Kara menepuk bahu Justin memberikan semangat yang di balas senyuman tipis oleh Justin.


"Tidak segampang itu Kara.....Aku baru pertama kali jatuh cinta tapi sudah harus patah hati sebelum memulainya." Ucap Justin dalam hati tersenyum getir.


.


.


.


Bersambung.