NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Kita Harus Segera Bertindak



Siang itu Jia sudah membuat janji dengan dokter Vivi untuk melakukan pemeriksaan.Karena Jia merasa ada yang aneh pada dirinya akhir-akhir ini jadi dia memutuskan untuk memeriksakan diri.Sebenarnya sejak dokter Vivi memeriksa Jia pertama kali dulu dia sudah menyarankan pada Jia untuk periksa tapi baru hari ini Jia melakukannya setelah beberapa bulan berlalu.


Tadi pagi Jia sebenarnya sudah mengetes dengan tespack dan hasilnya positif tapi karena Jia ingin tambah yakin lagi dia memutuskan untuk periksa ke rumah sakit secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan Nara.


"Silahkan duduk nona Jia." Sapa dokter Vivi tersenyum ramah pada istri pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.


"Iya dok terimakasih." Balas Jia.


"Bagaimana nona apa anda sudah siap untuk di periksa?" Tanya dokter Vivi masih dengan senyuman yang sama.


"Iya dok."


"Kalau begitu silahkan anda berbaring disini nona." Ucap dokter Vivi menunjuk sebuah ranjang di sampingnya.Jia segera menuruti ucapan dokter Vivi berbaring di atas ranjang yang di sampingnya terpampang sebuah layar monitor.


Dokter Vivi segera memeriksa Jia,dia menunjukan janin yang masih sangat kecil tapi sudah sedikit berbentuk di layar monitor,dia dengan sabar memberi penjelasan pada Jia yang terlihat sangat antusias mendengarkan penjelasan dari dokter Vivi,matanya berbinar-binar bahagia melihat ke arah monitor seakan masih tidak percaya kalau di perutnya ada hasil benih cinta darinya dan juga Nara.


"Kandungan anda sangat sehat nona,dan usianya sekitar 7-8 minggu." Ucap dokter Vivi setelah duduk di kursinya dan di ikuti Jia.


Jia sangat bahagia mendengar penjelasan dari dokter Vivi,tak henti-hentinya dia mengusap perutnya yang masih datar.


"Dokter tapi kenapa aku tidak merasakan mual ya,padahal saya pernah baca kalau wanita hamil itu akan mengalami mual dan muntah?"


"Morning sickness adalah hal lazim pada ibu hamil.Kondisi ini biasanya terjadi pada trimester pertama,namun bila anda tidak mengalami mual dan muntah bukan berarti ada masalah dengan kehamilan anda.Jadi tidak semua ibu hamil mengalaminya nona,sekitar ada 30% ibu hamil tanpa mual nona jadi anda tidak usah khawatir." Ujar dokter Vivi.


"Oh begitu ya dokter,baiklah terimakasih.Kalau begitu saya permisi." Jia beranjak berdiri berpamitan.


"Iya nona,hati-hati." Jawab dokter Vivi.


Jia berhenti saat memegang handle pintu dan berbalik menoleh ke arah dokter Vivi.


"Dokter jangan bilang pada dokter Reza dulu ya,takutnya dia nanti akan memberi tahu suami saya.Saya ingin memberi kejutan untuknya." Pinta Jia dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Tentu saja nona." Jawab dokter Vivi membalas dengan tersenyum.


"Aku akan ke kantor Nara sekarang,aku mau memberinya kejutan." Gumam Jia berjalan masih dengan tersenyum bahagia.


Tiba-tiba langkah Jia terhenti saat melihat sosok yang sangat dia kenal yang tak lain adalah suaminya sedang memasuki salah satu ruangan.Dia segera menyusulnya,langkah Jia terhenti saat melihat tangan suaminya tampak memegang tangan seorang wanita yang terbaring di ranjang.


Tanpa sadar air mata Jia sudah meleleh melihat pemandangan di depannya.Apalagi setelah melihat tangan wanita yang di pegang oleh suaminya,wanita yang beberapa hari lalu mengancam akan merebut suaminya.


Jia seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang.Dia memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan tersebut yang sedikit terbuka tanpa sepengetahuan Nara dan juga Kara.


"Nara aku ingin kamu memenuhi permintaan terakhirku,mungkin umurku tidak akan lama lagi." Ucap Kara pelan dengan suara sendu.Nara hanya terdiam tanpa mengucapkan satu patah katapun.


"Aku ingin kamu menikahiku Nara." Permintaan Kara membuat Nara tersentak tak percaya.


"Tidak mungkin Kara,aku tidak mungkin melakukannya aku sudah menikah." Nara melepas genggaman tangannya.Jia yang tak kalah kaget mendengar permintaan Kara hanya diam terpaku karena dia masih sangat syok.


"Aku mau menjadi istri keduamu Nara,aku masih mencintaimu.Aku minta maaf dulu sudah meninggalkanmu.Aku ingin kembali padamu Nara setidaknya di sisa umurku yang tinggal sedikit ini." Kara memohon dengan wajahnya yang tampak sedih.


Hati Jia sangat sakit mendengar permintaan Kara apalagi di tambah tidak ada jawaban dari Nara yang terlihat tidak mengiyakan ataupun menolak permintaan Kara itu sudah membuat Jia menyimpulkan sendiri isi hati suaminya.Saat itu juga Jia merasa ragu dengan cinta Nara untuknya.


"Aku tidak mengijinkan Nara menikahimu." Seru Jia dari arah pintu mengagetkan Nara dan Kara.


"Sayang..." Nara terkejut dengan kehadiran istrinya.Namun masih belum berpindah dari tempatnya berdiri itu membuat Jia semakin terluka.Jia menghampiri Nara dan menarik tangannya.Jia menatap tajam wajah Kara yang terbaring di ranjang.


"Sayang,tenanglah dulu.Kara sedang sakit bicaralah dengan pelan." Nara memegang lengan Jia dan langsung mendapat penolakan dari Jia karena kata-kata suaminya itu membuatnya marah.


"Apa kamu percaya sama dia,dia nggak sakit Nara dia bohong." Seru Jia menatap suaminya tajam.


"Jia sudah cukup!" Nara tidak sadar membentak Jia,membuat Jia menutup mulutnya tidak percaya kalau suaminya membentaknya seperti ini apalagi di depan wanita yang sudah mengancamnya akan merebut suaminya itu.


"Nara,kamu....kamu bentak aku?" Ucap Jia terbata.


"Maaf sayang,aku tidak sadar..." Nara meraih tangan Jia tapi Jia langsung menepisnya.


"Sekarang kamu bilang,kamu pilih aku atau dia." Seru Jia dengan nada meninggi.


"Sayang kamu istriku,tentu aku memilihmu tapi..."


"Tapi apa...?" Sahut Jia dengan nada masih sama.


"Aku sangat menikmati adegan ini,tidak sia-sia aku menyuruh orang untuk memanggil Nara ke sini dan membayar dokter sialan itu untuk berpura-pura tadi. Walaupun aku harus membayarnya dengan tubuhku." Batin Kara senang.


"Jia,aku minta maaf bila aku harus meminta ini darimu.Aku mohon berbagilah Nara denganku,aku hanya akan menjadi istrinya beberapa bulan ke depan." Ucap Kara yang sudah berdiri dan mencoba memegang bahu Jia tapi langsung di tepis oleh Jia.


"Aku tidak mau membagi suamiku dengan orang lain walau hanya sedetikpun apalagi dengan wanita busuk sepertimu." Ucap Jia penuh penekanan.


Brukkkk...awww


"Jia!!" Bentak Nara lagi karena tiba-tiba Jia mendorong tubuh Kara hingga terjatuh.Hati Jia semakin bertambah sakit melihat Nara memapah Kara di tambah lagi bentakan kedua Nara benar-benar membuat hati Jia terluka.


"Mending sekarang kamu pulang,kita akan bicara nanti di rumah." Ucap Nara tanpa menoleh pada Jia.


Tanpa menunggu lama Jia sudah berlari keluar sambil menangis,hatinya sangat terluka Nara mengusirnya.


-----


"Bagaimana Za,apa kamu sudah mendapatkan infomasi?" Reno menyeruput kopinya setelah bertanya pada Reza.Reno mengajak Reza bertemu di kantin rumah sakit tanpa memberi tahu Nara.


"Belum,karena dokter yang dulu menangani Nara sudah pensiun dan sekarang aku belum menemukan tempat tinggal barunya,kamu tenang saja aku sudah menyuruh orang untuk mencari alamatnya.Tapi Ren,kemarin aku melihat Kara datang ke rumah sakit ini.Saat aku memanggilnya dia buru- buru pergi seakan menghindariku."


"Apa yang dia lakukan di rumah sakit,apa dia sakit." Gumam Reno.


"Setelah kamu menyuruhku untuk menyelidiki Kara,kemarin setelah aku bertemu dengannya aku langsung mencari tahu di bagian pendaftaran tapi,setelah aku cek dia tidak sedang ada janji pemeriksaan di sini." Ucap Reza setelah mendengar gumaman Reno.


"Menurutmu,apa yang dia lakukan di sini Za,apa dia punya teman disini?" Reno menatap Reza,entahlah feelingnya mengatakan ada yang tidak beres dengan kedatangan Kara kali ini.Dia sudah cukup lama mengenal sifat Kara,dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya.


Tiba -tiba mata Reza mengangkap sosok wanita yang dia kenal sedang berlari di koridor sambil menangis.


"Nona Jia...." Serunya memanggil Jia tapi tidak di hiraukan oleh Jia.Reno menoleh ke arah tatapan Reza dan dia terkejut melihat kondisi Jia yang sedang menangis.


Reza dan Reno saling pandang, isi pikiran mereka kali ini sama bertanya-tanya apa yang terjadi pada Jia.Reno bangkit dari duduknya hendak mengejar Jia tapi langkahnya terhenti saat mendengar bunyi dari ponselnya,terlihat panggilan dari Nara dan membuatnya mengurungkan niatnya untuk mengejar Jia.


Setelah menerima panggilan dari Nara,Reno terlihat bingung karena dia baru saja menyampaikan kalau dia baru saja melihat Jia di rumah sakit tapi Nara malah bilang biarkan saja,membuat Reno penasaran dengan apa yang sudah terjadi terlebih lagi mendengar Nara juga berada di rumah sakit yang sama dengannya saat ini dan sedang menemani Kara.


"Feelingku semakin kuat Za,ini pasti ada yang tidak beres." Ucap Reno menatap Reza.


"Kita harus segera bertindak."