NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Aku Seperti Tidak Mengenalinya



Setelah polisi datang dan sudah mengamankan Mega serta anak buahnya,Nara dan rombongannya segera kembali ke vila Jia.


Di dalam perjalanan Nara tidak sedetikpun melepaskan tangan Jia dari genggamannya.Dia memeluk erat tubuh Jia dan sesekali memberikan ciuman di kepala Jia.Hatinya benar-benar terasa sakit melihat luka Jia,Nara merasa sangat bersalah pada Arga karena berulang kali tidak bisa menjaga Jia dengan baik dan tidak bisa menepati janjinya.


Jia memeluk erat tubuh lelaki yang dia cintai,rasanya dia sangat merindukan pria yang dia peluk saat ini.Untuk sesaat Jia bisa melupakan rasa sakit dan kecewanya tentang foto yang dia lihat di lemari Nara kemarin yang dia rasakan sekarang dia hanya ingin berada dalam dekapan Nara dan menikmati aroma tubuh lelaki yang sangat dia rindukan.


Setelah penculikan tadi Jia memutuskan untuk berdamai dengan hatinya,karena dia menyadari dia tidak bisa jauh dari Nara apalagi kalau sampai Nara di rebut wanita lain.Saat mendengar Mega meminta untuk menyerahkan Nara,hati Jia seakan tidak terima dan sejak saat itu dia memutuskan untuk tidak akan melepas Nara dan memberikan Nara pada orang lain kecuali Nara sendiri yang menginginkan itu.


Sangking nyamannya Jia sampai tidur dengan lelap di pelukan Nara dan tidak menyadari kalau sudah sampai di vila.Nara menatap wajah Jia yang tampak kelelahan,dan membuatnya tidak tega untuk membangunkan Jia hingga akhirnya dia menggendong Jia ala bridal style masuk ke dalam vila.


"Jia....." Teriak Abel yang sangat khawatir dengan sahabatnya itu dan langsung berdiri menghadang Nara yang membopong Jia masuk ke dalam vila di ikuti bi Elis yang sedari tadi juga cemas menunggu majikannya.


"Biar nona Jia istirahat dulu." Sahut Reno menghentikan Abel yang ingin melihat kondisi dan memeluk Jia.


"Tapi Jia..."


"Jia nggak apa-apa Bel,dia cuma kelelahan." Ucap Arga menenangkan sahabat adiknya yang sudah seperti adiknya sendiri itu.


Mendengar ucapan Arga kalau Jia baik-baik saja membuat Abel sedikit lega dan membiarkan Nara membawa Jia masuk ke kamarnya,walaupun sebenarnya dia sangat ingin melihat sendiri kondisi Jia.


"Bi kamar Jia sebelah mana?" Tanya Nara menoleh ke arah bi Elis yang berada di belakangnya.


"Di lantai atas den,mari saya antarkan." Jawab bi Elis mendahului langkah Nara.


Nara mengikuti langkah bi Elis naik ke lantai atas dan Arga juga mengikutinya dari belakang.Sampainya di kamar Nara membaringkan tubuh Jia secara perlahan,dia tidak ingin sampai membangunkan Jia.


"Bi saya boleh minta air hangat dan handuk?" Nara menoleh pada bi Elis yang sedang membuka jendela kamar Jia.


"Tentu saja den,bibi akan ambilkan tunggu sebentar."


"Iya bi terima kasih."


"Ga aku minta maaf,untuk kesekian kalinya aku sudah mengingkari janjiku.Aku tidak bisa menjaga Jia dengan baik,aku benar-benar minta maaf." Terlihat kedua ujung mata Nara sudah basah tidak bisa menahan tangisnya,tangannyapun tetap menggenggam tangan Jia dan tidak berniat untuk melepaskannya.


"Aku tidak menyalahkanmu Nara,ini semua sudah takdir.Tapi aku harap setelah kejadian ini jangan lagi ada yang kamu tutupi dari Jia.Kalian akan menikah sebentar lagi jadi jangan sampai ada kebohongan yang bisa menghancurkan hubungan kalian." Arga mendekati dan menepuk bahu Nara.


"Terima kasih Ga,aku akan menjelaskan semua pada Jia tanpa ada yang aku tutupi lagi." Ucap Nara masih dengan menundukkan kepalanya dan mencium tangan Jia yang ada di genggamannya.


"Permisi den,ini air hangat dan handuknya saya juga membawa obat untuk luka non Jia." Ujar bi Elis dengan membawa nampan berisi kotak obat,air hangat dan juga handuk kecil.


"Terima kasih bi." Ucap Nara seraya mengambil nampan dari tangan bi Elis.


"Iya den,ada yang bisa saya bantu den?" tanya bi Elis yang masih berdiri di samping Nara dan Arga yang sudah mulai membersihkan luka Jia dan mengobati luka di pipi Jia.


"Iya bi,setelah ini tolong bantu mengganti baju Jia ya." Ucap Nara lirih.


"Iya den."


-----


"Bagaimana Ben,apa wanita itu sudah kau bereskan." Terlihat Reno sedang berbicara pada Beny yang baru saja tiba setelah ikut ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian.


"Sudah tuan,polisi akan memproses kasus wanita itu,Anda tenang saja,wanita itu akan di jerat dengan laporan dua kasus karena saya juga sudah melaporkan soal kecelakaaan nona Jia kemarin dan pasti itu akan membuatnya lama mendekam di penjara." Ucap Beny memberi laporan pada Reno.


"Baguslah kalau begitu Ben."


Sedangkan Aldo terlihat berbincang-bincang dengan mang Jaka di taman belakang.Mang Jaka menceritakan awal mula dia bisa bekerja di vila milik Jia bersama istrinya.


Hanya Abel yang sedang gelisah karena masih belum bisa melihat keadaan Jia.Reno yang melihat Abel sedang cemas segera menghampirinya dan menyuruh Beny untuk bergabung dengan Aldo dan mang Jaka.


"Kamu masih cemas sama keadaan nona Jia?" Tanya Reno yang sudah berdiri di depan Abel.


"Huum...." Jawab Abel menganggukkan kepalanya dan mendongakkan kepalanya ke atas melihat Reno.


"Ayo aku antar melihat nona Jia!"


"Memangnya boleh?" Tanya Abel sedikit ragu."


"Kenapa tidak? tentu saja boleh,kamu kan sahabat nona Jia." Ucap Reno sambil mengulurkan tangannya.Dan tanpa sadar Abel menerima uluran tangan Reno.Mereka berdua bergandengan tangan menuju kamar Jia di lantai atas.


"Huh kenapa jantungku berdebar lagi seperti ini,aku kan nggak mau dekat-dekat dia dulu sebelum dia menyatakan perasaannya secara langsung padaku." Batin Abel memandangi tangannya yang di genggam Reno.


Saat Abel sedang sibuk berperang dengan hatinya sendiri tiba-tiba Reno menghentikan langkahnya hingga membuat Abel menabrak tubuh Reno yang berhenti di depannya secara mendadak.


"Aww..kalau mau berhenti bilang dong,sakit tahu!" Gerutu Abel sambil memegang hidungnya.Reno tidak menghiraukan ucapan Abel,tapi dia malah memandang wajah Abel dengan tatapan yang dalam.


"Jangan asal main peluk lelaki lain seperti tadi aku tidak suka!" Ucap Reno dengan penuh penegasan.


"Main peluk? Maksudnya?" Abel mengerutkan keningnya bingung dengan ucapan Reno.


"Kenapa lagi sih dia,dasar aneh memangnya aku di peluk siapa coba." Batin Abel memandangi tubuh tegap Reno dari belakang.


Saat Reno hendak mengetuk pintu kamar,tiba-tiba pintu terbuka dan di lihatnya Nara hendak keluar dari kamar.


"Ada apa Ren?" Tanya Nara memperhatikan sahabat sekaligus tangan kanannya itu.


"Saya mengantarkan Abel tuan,dia ingin melihat keadaan nona Jia." Jawab Reno sambil melirik Abel.


"Iya tuan,bagaimana keadaan Jia sekarang?" Tanya Abel sambil berusaha mengintip ke dalam.


"Jia masih tidur,masuklah sekalian tolong bantu bi Elis untuk mengganti baju Jia."


"Iya tuan." Abel segera masuk meninggalkan Reno.


"Kak Arga..." Sapa Abel saat berpapasan dengan Arga yang hendak keluar menyusul Nara.


"Iya Bel,kamu tolong jaga Jia sebentar ya kakak mau turun ke bawah dulu."


"Iya kak."


------


"Bim bagaimana acara baksos besok kenapa belum ada rapat lagi." Tanya Nino yang sedang bermain game di kamar Bima.


"Jia belum masuk sekolah lagi,kita akan menunda dan menunggu sampai Jia sembuh dulu.Karena aku nggak mau acara ini berjalan tanpa Jia." Ucap Bima yang sedang memainkan secara asal gitarnya.


Nino menghentikan permainannya dan menghampiri Bima. "Jangan bilang kamu masih mengharapkan Jia,Bim!" Tanya Nino penuh selidik.


"Entahlah..." Jawab Bima sambil meletakkan gitarnya dan membaringkan tubuhnya.Tangannya menumpu di bawah kepalanya yang sedang menatap langit-langit kamarnya.


"Kamu jangan gila Bim,Jia sudah punya tunangan dan kita semua tahu tunangan Jia bukan orang sembarangan.Kamu tidak mungkin bisa bersaing dengannya.Lupakan Jia Bim,biarkan dia bahagia dengan pilihannya." Nino tampak memberikan nasehat pada Bima sahabatnya itu.


"Benar juga kata Nino,aku harus bisa menerima kenyataan kalau aku tidak mungkin bisa bersamanya,kalau Jia bahagia dengan pria itu aku akan merelakannya." Batin Bima memejamkan matanya.


"Tapi entahlah untuk saat ini aku belum bisa." Batinnya lagi masih dengan memejamkan matanya.


-------


Arga berkeliling melihat vila yang di beli adiknya di temani Aldo yang sesekali menceritakan awal mula Jia mendapatkan vila ini seperti yang telah di ceritakan mang Jaka padanya tadi.


Arga terharu dengan perjuangan Jia dia tidak menyangka adiknya sudah sangat dewasa sekarang dan membuatnya bangga.


Setelah selesai melihat-lihat vila adiknya,Arga dan Aldo bergabung dengan Nara yang tampak serius berbincang bersama Reno dan Beny.


"Kalian sedang membahas apa?" Tanya Arga setelah duduk bergabung dengan mereka bersama Aldo.


"Kami sedang membahas wanita tadi Ga." Jawab Nara.


"Maksudmu wanita yang menculik Jia tadi?" Imbuh Arga.


"Iya Ga."


"Oh ya Nara,sebenarnya aku pernah bertemu dengannya."


"Dimana Ga?" Nara mengerutkan keningnya mendengar Arga pernah bertemu Mega.


"Dia pernah memberi aku tumpangan saat aku hendak menonton lomba balapan Jia dulu,karena mobilku mogok."


"Oh iya Ga,makanya aku juga merasa tidak asing dengan wanita tadi." Sahut Aldo yang sedari tadi juga mengingat ingat dimana dia melihat wanita yang menculik Jia.


"Kenapa semua kebetulan seperti ini ya.Saat itu dia juga sedang mencariku Ga,tapi aku tidak pernah mau menemuinya hingga akhirnya dia mencoba mencelakai Jia dan membuat aku terpaksa menemuinya." Ucap Nara menceritakan tentang Mega hingga membuat dia kembali terlihat kesal.


"Aku tidak menyangka wanita secantik itu bisa berbuat kriminal." Sahut Aldo.


"Ingat Al,wanita cantik bisa berubah menakutkan kalau sudah menyangkut masalah hati." Ujar Arga dengan penekanan,karena dia sudah melihat sendiri bagaimana perubahan sorot mata adiknya tadi saat membalas setiap ucapan Mega yang menyuruhnya untuk melepaskan Nara,tapi langsung di jawab tegas oleh Jia dengan sorot mata yang tajam.


"Aku seperti tidak mengenalinya tadi,saat dia dengan keras mempertahankan Nara.Padahal Jia tidak seperti itu sebelumnya." Batin Arga.


.


.


.


Kasih dukungannya ya kakak...dengan like dan kasih vote.