
"Ga,kamu bercanda kan?" Tanya Nara yang juga kaget begitupun Aldo ,walaupun dia tahu apa yang di pikirkan Arga tapi dia tidak menyangka kalau Arga akan ngomong seperti itu.
"Aku nggak bercanda,kamu telfon kedua orang tuamu sekarang minta mereka kesini dan aku akan mengurus semua persiapannya." Ucap Arga penuh penekanan,lalu beranjak pergi meninggalkan sarapannya yang belum tersentuh sama sekali.
"Kakak tunggu....!" Jia berdiri hendak mengejar kakaknya tapi karena kepalanya pusing dia mengurungkan niatnya dan kembali duduk.
Melihat Jia pusing dan wajahnya pucat,Aldopun juga jadi menaruh curiga yang sama seperti Arga.
"Lebih baik kamu telfon orang tuamu sekarang Nara,turuti kata-kata Arga." Ujar Aldo sambil melanjutkan sarapannya.
"Sayang aku antar kamu ke kamar ya buat istirahat."
"Aku ingin bicara sama kakak,Nara." Gumam Jia lirih karena badannya lemas.Entah kenapa tiba-tiba badannya lemas padahal tadi dia baik-baik saja.
"Mending nggak usah Jia,kamu istirahat saja.Kamu tahu kan kalau kakakmu sudah bicara itu nggak bisa di rubah." Aldo memberikan pengertian pada Jia.
"Tapi kak,Jia butuh penjelasan kenapa kakak tiba-tiba bicara seperti itu,apalagi Jiakan masih sekolah mana mungkin bisa nikah." Ucap Jia lagi masih tidak bisa mengerti dengan permintaan kakaknya.
"Mungkin maksud Arga kalian bisa nikah secara agama dulu,terus nanti kalau kamu sudah lulus baru deh nikah secara resmi di KUA." Ucap Aldo.
"Tapi Al,yang aku bingung kenapa Arga ngomongnya mendadak dan tidak bilang dulu sama aku ataupun Jia." Nara juga masih bingung dengan maksud Arga,walaupun sebenarnya dia senang juga dengan keputusan Arga.
"Mungkin biar kalian nggak bikin dosa terus kali..." Bisik Aldo sambil menahan tawanya.
"Ah...kak Aldo...." Wajah Jia memerah mendengar ucapan Aldo yang menggodanya.
"Sialan kamu Al..." Seru Nara sambil memukul pundak Aldo.Aldo hanya meringis karena bisa menggoda Nara dan Jia.
"Mang tolong segera siapkan semuanya,saya minta malam ini juga ya mang." Arga sedang meminta tolong pada mang Jaka untuk membantu mempersiapkan acara pernikahan Jia nanti malam dengan mencarikan penghulu dan memanggil beberapa tokoh desa setempat untuk menjadi saksi nanti.
Setelah selesai bicara dengan mang Jaka,Nara tampak mengambil ponselnya dan menghubungi mama Ajeng untuk memberi tahu tentang acara nanti malam,dia tidak sabar menunggu Nara menghubungi orang tuanya.
Di ujung telfon mama Ajeng juga sangat kaget dengan keputusan Arga apalagi saat Arga memberi tahu alasannya menikahkan Nara dan Jia sekarang,mama Ajeng tampak syok dan tidak menyangka kalau mereka sudah berbuat sejauh itu.Tapi di sisi lain mama Ajeng senang karena keinginannya untuk segera memiliki cucu akan segera terpenuhi.
"Ga..." Aldo menepuk bahu Arga yang baru saja menyudahi percakapannya dengan mama Ajeng.Arga hanya menoleh dan kembali menatap lurus ke luar vila.
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu untuk menikahkan Jia sekarang? Apa nggak sebaiknya kamu tanya pada Jia dulu." Imbuh Aldo mencoba menasehati Arga.
"Tidak perlu Al,semua bukti sudah menunjukkan gejalanya." Ucap Arga sambil berlalu meninggalkan Aldo sendrian di teras.Arga mencari bi Elis di dapur hendak minta tolong untuk menyiapakan makanan untuk acara nanti.
Huh...
"Terserah kamu saja Ga,kamu yang lebih tahu apa yang terbaik untuk adikmu." Batin Aldo menghela nafas melihat Arga pergi.
Sementara Jia kini sedang tertidur setelah minum obat masuk angin yang di berikan bi Elis.Saat merasa Jia sudah tidur dengan pulas,Nara keluar dari kamar Jia dan hendak menemui Arga.
"Al kamu lihat Arga nggak?" Nara menepuk bahu Aldo yang sedang berdiri di taman depan vila.
"Eh kamu ngagetin aja Nara,Arga baru saja pergi keluar sama mang Jaka tapi aku nggak tahu kemana." Jawab Aldo sambil menaikkan bahunya.
"Ehmm Al,kamu tahu nggak alasan kenapa tiba-tiba Arga mau nikahin aku sama Jia?" Nara mencoba bertanya pada Aldo.
"Aku juga nggak tahu pasti Nara,tapi lebih baik kamu tanya langsung sama dia saja,karena ini menyangkut urusan keluarga aku nggak berani ikut campur terlalu jauh." Ujar Aldo.
Karena tidak menemukan Arga dan tidak juga mendapatkan informasi dari Aldo akhirnya Nara memutuskan untuk kembali ke kamar melihat kondisi Jia.
Nara memegang kening Jia untuk memastikan masih demam atau tidak,karena tadi setelah dari ruang makan Jia sempat merasakan demam.
"Syukurlah demamnya sudah turun." Batin Nara lega.Karena merasa ngantuk di tambah lagi cuaca yang mendukung di kota itu yang sejuk akhirnya Nara tertidur di sofa dengan pulas.
Cukup lama Nara tidur hingga hari menjelang sore dia baru terbangun karena mendengar suara gaduh seorang wanita yang tak lain adalah mamanya.
"Mama....! Kapan mama datang,kenapa mama kesini Nara kan belum menghubungi mama?" Tanya Nara beruntun karena kaget melihat mamanya ada di kamar dan sedang berbincang dengan Jia.
"Ah kamu baru juga buka mata tapi sudah kasih banyak banget pertanyaan." Seru mama Ajeng.
"Iya ma maaf,Nara kan kaget mama tiba-tiba sudah ada disini."
"Mama sampai sudah satu jam yang lalu,karena kalian terlihat sangat nyenyak tidurnya jadi mama nggak berani bangunin."
"Iya ma,sepertinya mereka kelelahan..." Sahut papa Wira dari balik pintu dan tersenyum mengedipkan matanya pada mama Ajeng.Mama Ajengpun membalas dengan senyuman.
"Apa-apaan sih ma,pa?" Tanya Nara masih bingung melirik Jia mencoba mencari tahu,tapi Jia juga hanya menaikkan bahunya sebagai jawaban.
"Kenapa semua orang jadi aneh sih?" Batin Nara,lalu menghampiri mama dan papanya.
"Sayang,gimana badan kamu sudah enakan belum tadi kata Aldo kamu nggak enak badan?" Mama Ajeng memegang kening Jia untuk memastikan keadaan calon menantunya itu baik-baik saja.
"Jia sudah enakan kok ma,tadi sudah di kasih obat sama bibi." Jawab Jia dengan tersenyum.
"Aduh sayang kamu jangan minum obat sembarangan,kita periksa ke dokter sekarang ya mumpung masih ada waktu beberapa jam." Ajak mama Ajeng.
"Jia nggak apa- apa ma,nggak perlu ke dokter.Ini sudah enakan kok ma." Jawab Jia.
"Beneran kamu sudah enakan sayang,atau kamu mau makan apa gitu,biar di cariin sama Nara."
"Loh kok aku sih ma,kan yang nawarin mama?" Protes Nara.
"Ah kamu Nara,masa nurutin permintaan calon istri saja nggak mau." Seru mama Ajeng sewot.Jia hanya tersenyum melihat perdebatan antara ibu dan anak itu,begitu juga dengan papa Wira hanya bisa menggelengkan kepala melihat istri dan anaknya yang sudah biasa berdebat.
"Iya...iya ma,Nara mau kok.Sayang kamu mau makan apa,biar aku yang beliin." Ujar Nara.
"Ehmmm...apa ya..? Aku mau makan mie instan pakai sawi di irisin cabe pakai telur juga,tapi aku mau kamu yang masak." Seru Jia setelah terbayang makanan yang tiba-tiba saja terlintas di pikirannya.
"Kok mie instan sih sayang itu kan nggak sehat,yang lain saja.Lagian aku nggak bisa masak,minta makanan yang lain saja biar aku beliin."
"Nggak mau! Tadi nanya sekarang protes nggak mau nurutin,dasar..." Ucap Jia sambil menggerutu dengan tangan bersedekap di atas perutnya.
"Ih kamu,buruan sana bikinin nanti ndak ngeces loh." Ucap mama Ajeng sambil memukul pelan lengan Nara yang duduk di sampingnya.
"Mama kan tahu aku nggak bisa masak,Nggak biasanya juga mama kasih ijin buat makan mie."Sahut Nara .
"Sudah ayo papa temenin." Akhirnya papa Wira yang menengahi mereka seperti biasa.
"Sayang,mama sudah bawain kebaya buat kamu nanti.Ini kebaya mama dulu waktu mama nikah sama papa,kamu nggak apa-apa kan pakai kebaya bekas mama dulu? Habisnya Arga ngasih kabar mama mendadak jadi mama nggak sempet siapin baju kebaya untuk kamu sayang." Mama Ajeng memperlihatkan kebaya yang dia bawa pada Jia.
Jia yang bingung harus ngomong apa,hanya bisa diam.Dia saja belum tahu alasan kenapa kakaknya tiba-tiba mendadak ingin menikahkan dia,dan sekarang dia di hadapkan dengan mama Ajeng yang sudah membawa kebaya untuk pernikahannya.
"Kenapa kamu diam saja sayang,kamu nggak suka ya sama kebayanya? Kalau kamu nggak suka mama akan suruh orang buat cariin kebaya sekarang."
Mata Jia berkaca-kaca menatap mama Ajeng,tiba-tiba saja dia teringat dengan mamanya,Jia merengkuh tubuh mama Ajeng dan memeluknya. "Ma,makasih ya Jia sukakok sama kebayanya." Ucap Jia parau karena sudah menangis.
Mama Ajeng tersenyum dan membalas pelukan Jia dengan erat. "Menangislah sayang,mama akan selalu ada dan menjaga kalian." Bisik mama Ajeng sambil mengusap lembut rambut Jia.
"Makanan datang..." Seru Nara dari balik pintu membawa semangkuk mie pesanan Jia.
Jia menikmati mie yang Nara masak untuknya dengan lahap.Hingga membuat Nara menelan salivanya sendiri.
"Sayang,apa sebegitu enaknya makan mie instan."
"Enak banget tahu,seger,mantap." Seru Jia melanjutkan makannya.
"Ahduh cucuku laper banget kayaknya." Batin mama Ajeng menggelengkan kepalanya melihat cara makan Jia yang seperti tidak makan berhari-hari.
"Sayang aku minta dong sedikit." Nara menelan salivanya berulang kali.
"Nggak boleh,masak sendiri aja." Seru Jia sambil menjauhkan mangkuknya dari jangkauan tangan Nara.
"Sedikit saja sayang,boleh ya...!"Nara mencoba merayu Jia.
"Nara sudah deh ngalah dong sama anak sendiri juga." Seru mama Ajeng,yang langsung membuat Nara dan Jia kaget dan saling pandang.
"Maksud mama apa?" Ucap Jia dan Nara bersamaan.
"Permisi nyonya,orang yang mau merias nona Jia sudah datang dan sekarang ada di bawah." Ucap Bi Elis membuat mama Ajeng tidak jadi menjawab pertanyaan Jia dan Nara.
"Iya bi,suruh tunggu sebentar saya akan segera turun."
"Sayang kamu buruan habisin mienya,setelah itu kamu mandi ya orang yang mau makeup kamu sudah datang.Kamu juga Nara buruan mandi siap-siap."
"Emangnya mau ada acara apa ma kok pakai di rias segala." Tanya Jia sambil memasukkan mie lagi ke dalam mulutnya.
"Ya untuk pernikahan kamu sama Nara sayang."
Uhuk...uhuk...
Jia tersedak mendengar ucapan mama Ajeng begitu juga Nara.
"Bukannya besok ma...?" Seru Jia dan
Nara bersamaan.
.
.
.
Bersambung.
'