
"Jia kamu harus banyak istirahat,mungkin beberapa hari ke depan aku tidak bisa menemanimu karena aku akan mulai sibuk magang di rumah sakit,kamu jangan banyak melakukan aktivitas dulu,Ok!'' Justin menatap penuh perhatian pada Jia yang sedang menyenderkan tubuhnya di sofa.
"Terimakasih Justin kamu begitu peduli padaku.Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Kenapa kamu begitu baik padaku,padahal aku merasa belum pernah bertemu denganmu,tapi entah kenapa seperti ada sesuatu." Jia memandang Justin menunggu jawaban.Awalnya dia ragu untuk bertanya pada Justin tapi karena rasa penasarannya yang begitu besar akhirnya dia meyakinkan diri untuk bertanya.
"Ehm....kita bertemu di bandara Jia,masa kamu lupa?" Justin berbohong mencoba menutupi perasaanya yang kembali bergetar karena pertanyaan Jia.
"Oh benarkah? Kalau begitu mungkin ini hanya perasaanku saja,karena kamu begitu baik padaku." Gumam Jia pelan tapi masih bisa di dengar oleh Justin.
"Iya Jia ada sesuatu...sesuatu yang membuatku gila memikirkanmu." Ucap Justin dalam hati menatap Jia penuh arti.
-------
"Arghhhhh sial kenapa harus di saat seperti ini." Umpat Arga emosi setelah membaca email dari Aldo.
"Kenapa Ga?" Runa menepuk pundak Arga perlahan mencoba bertanya.
"Aku harus segera kembali ke Indonesia Runa,ada masalah di kantor dan harus aku yang turun tangan." Seru Arga sambil mengusap wajahnya kasar.
Mengerti dengan suasana hati suaminya,Runa mencoba kembali mengusap bahu. " Pulanglah ke Indonesia,masalah Jia serahkan padaku.Aku pasti akan menemukan dia.Dan Jia akan baik-baik saja.Kamu percaya kan sama aku?" Aruna menatap mata suaminya teduh membuat Arga menganggukan kepalanya,walaupun berat tapi Arga juga harus berpikir jernih.Dia juga tidak bisa menelantarkan perusahaan peninggalan orang tuanya.Dia tidak mau membuat mereka kecewa.
"Tapi kamu janji,harus segera mengabari aku kalau sudah ada kabar dari Jia." Pinta Arga setengah berbisik dengan memegang tangan istrinya erat dan di ikuti anggukan pelan kepala Aruna.
"Aku juga ingin segera membuat perhitungan dengannya." Batin Nara menatap lurus dengan tatapan berubah tajam.
------
"Aku harus menghubungi nyonya Mery,semoga saja firasatku benar." Ucap Aruna dalam hati setelah tiba kembali di Belanda.
Aruna mencoba berulang kali menghubungi nyonya Mery tapi tidak ada sahutan sama sekali. " Ah mungkin nyonya Mery belum bangun,ini kan masih sangat pagi." Gumam Aruna menenangkan hatinya yang sebenarnya gelisah.
****
"Awww....Sayang kenapa dari semalam kamu menyiksa mama? Mama tahu kamu merindukan papamu,mama juga sangat merindukannya.Tapi mama ingin tahu apa papamu masih menyayangi kita,dan seberapa besar usahanya untuk mencari kita.Jadi mama mohon kamu baik-baik ya di dalam,mama janji mama akan memaafkan papamu jika dia bisa menemukan kita disini." Jia mengusap-usap perutnya sambil berbicara pada janinnya.Dan anehnya seolah mengerti dengan permintaan mamanya,perut Jia tidak merasakan sakit lagi.
"Anak pintar..." Gumam Jia tersenyum kecil.
Tok...tok....
Mendengar suara ketukan pintu,Jia bangun dari tidurnya dan berjalan dengan hati-hati ke depan.
Ceklek.....
Jia diam mematung melihat siapa yang baru saja mengetuk pintu rumahnya.Lidahnya kelu tidak bisa berkata apa-apa,hanya matanya yang sudah terlihat berkaca-kaca seakan mewakili perasaannya.
"Kak Runa..." Gumam Jia lirih saat pelukan hangat kakak iparnya menghampiri tubuhnya.Seakan mendapatkan tempat untuk berbagi bebannya Jia membalas erat pelukan Aruna,bahkan sangat erat.
"Kamu baik-baik saja kan sayang?" Tanya Aruna setelah melepaskan pelukannya.
"Huum iya kak..." Jawab Jia lirih.
"Kenapa kamu tidak memberi tahu kakak sayang,jangan berpikir kamu bisa menghadapi semua sendiri." Ucap Aruna yang sudah sedikit tahu masalah Jia dari Aldo setelah duduk di sofa dan masih membiarkan adik iparnya itu bersender di bahunya.
"Maaf kak...aku tidak mau merepotkan apalagi membuat cemas kak Arga dan akan mengganggu bulan madu kalian." Jawab Jia pelan.
"Hey,jangan bicara seperti itu.Kita adalah keluarga tidak ada yang namanya merepotkan,dan iya kakakmu sangat cemas Jia."
"Tentu saja,dan sudah di pastikan dia sangat cemas dan sangat marah pada suamimu."
Deg...
Ucapan Aruna membuat jantung Jia seakan berhenti berdetak,sudah di pastikan kalau kakaknya akan sangat marah pada Nara dan mungkin sulit untuk memaafkannya.Kemungkinan terburuk dia akan menyuruh Jia berpisah dengan Nara.
"Ah tidak...." Gumam Jia panik menggelengkan kepalanya.
"Kamu kenapa sayang?" Aruna mengernyitkan dahinya heran melihat sikap Jia yang tiba-tiba panik.
"Lalu kak Arga mana kak?" Tanya Jia balik tanpa menjawab pertanyaan Aruna terlebih dulu.
"Dia balik ke Indonesia karena di kantor sedang ada sedikit masalah." Jawab Aruna.
"Hah....apa mungkin kakak akan mencari Nara juga?" Tanyanya lagi penuh kecemasan.
"Kakak tidak tahu sayang,tapi mungkin saja itu terjadi."
"Sayang...." Terdengar suara dari balik pintu memanggil Jia dan mengalihkan perhatian tentang suaminya,sudah hafal dengan suaranya Jia segera menyuruh Nyonya Mery untuk masuk.
"Iya mom...masuk..." Aruna mengikuti mata Jia untuk melihat orang yang datang dan yang Jia panggil dengan mom.
"Oh ternyata ada nona Aruna,pagi nona...." Sapa nyonya Mery.
"Pagi nyonya...." Balas Aruna masih dengan mengernyitkan dahinya bingung.
"Aku sudah menganggap nyonya Mery seperti ibuku kak,dan nyonya Mery tidak keberatan kalau aku memanggilnya moomy." Sahut Jia mengerti dengan kebingungan kakak iparnya.
"Oh...pantas saja.Terimakasih nyonya Mery sudah menjaga adik saya yang bandel ini dan maaf bila dia merepotkanmu." Ucap Aruna tersenyum penuh terimakasih sambil mengacak-acak rambut Jia.
"Dia gadis yang menyenangkan nona,dia sama sekali tidak merepotkanku." Balas nyonya Mery yang sudah duduk di samping Jia setelah meletakkan rantang bawaanya di atas meja.
"Dan juga calon ibu yang hebat."Imbuh nyonya Mery lagi yang langsung membuat Aruna terkejut.
"Maksudnya...?" Aruna masih belum bisa mencerna ucapan nyonya Mery.
"Iya kak,aku hamil....aku akan menjadi ibu." Sahut Jia tersenyum bahagia sambil memegang perutnya yang masih datar.
"Kamu tidak bercanda kan sayang?" Tanya Aruna sekali lagi untuk memastikan.
"Iya kakak...aku tidak bercanda.Kakak akan punya keponakan."
"Oh sayang ini kabar bahagia,Arga pasti akan sangat senang mendengarnya." Aruna memeluk Jia lagi untuk menumpahkan kebahagiannya. "Apa Nara sudah tahu?" Tanya Aruna melepaskan pelukannya yang tiba-tiba teringat dengan Nara.
"Entahlah kak..." Jawab Jia menaikkan bahunya.
"Hah,jadi Nara belum tahu?"
"Aku tidak tahu kak,sebelum pergi aku meninggalkan hasil usg kehamilanku di kamar,seharusnya Nara sudah tahu." Jawab Jia wajahnya berubah sendu.
"Tapi sampai sekarang......" Ucapan Jia menggantung,terdengar ada sedikit nada kekecewaan.
"Apa dia mencariku.....?"