NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Senjata Makan Tuan



" Hah Nara kamu benar benar gila!" Teriak Jia di kamarnya mengingat permintaan Nara tadi apalagi dia hanya memberi waktu sampai besok pagi.


 


" Aku akan memberimu waktu sampai besok pagi Jia." Ucap Nara dengan tatapan seriusnya.


" Hah kamu gila ya,masa cuma sampai besok pagi aku mana bisa mikir secepat itu,ini kan menyangkut masa depanku.Aku harus memikirkan dengan matang." Protes Jia dengan wajah cemberut,karena Nara selalu memaksakan kehendaknya.


"Besok pagi,atau jawab sekarang!" Ujar Nara sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Jia,hingga jarak wajah mereka begitu dekat dan membuat jantung Jia jadi berdebar sangat kencang.


"Ok ok besok pagi." Ucap Jia sambil mendorong tubuh Nara.Jia sudah tidak bisa mengatur nafasnya karena dadanya begitu sesak menahan perasaan yang aneh di dadanya.Walaupun sudah berciuman beberapa kali dengan Nara,Jia tetap saja gugup bila di tatap sedekat ini oleh Nara.


 


Jia berguling guling di tempat tidurnya,badannya terasa panas ketika mengingat kejadian tadi.


" Ya Tuhan apa aku sedang bermimpi?" Jia memegangi dadanya dan menepuk nepuk pipinya sendiri untuk memastikan ini semua bukan mimpi.


Drt drt....


Jia yang sedang asyik bermain main dengan pikirannya harus terhenti karena ada pesan masuk di ponselnya.Dia membuka ponselnya,wajahnya langsung memerah setelah membaca pesan yang baru masuk dari crazy people.Iya Jia memberi nama crazy people nomor Nara di ponselnya.


Crazy people:


Besok aku tunggu jawabanmu,dan aku hanya mau jawaban iya atau ok,ingat itu! Kalau kamu memberi jawaban lain akan aku pastikan hukuman yang lebih dari biasanya,hukuman yang membuatmu selalu mengingatku.From your future husband.


Jia melempar ponselnya begitu saja di ranjang,setelah membaca pesan dari Nara.


" Hah.. Nara kamu membuat aku gila,sukanya maksa.'' Umpat Jia sambil menutup matanya dan menghentakkan kakinya dikasur empuknya.Entah berapa lama Jia berkutat dengan pikirannya hingga tertidur karena kelelahan.


Sedangkan di kamarnya Nara tidak bisa memejamkan matanya.Dia tersenyum tipis membayangkan wajah Jia tadi.Dia sudah tidak sabar menunggu pagi tiba untuk mendengar jawaban Jia,walaupun sebenarnya sudah bisa di pastikan jawabannya tidak akan membuat dia kecewa karena ancaman yang dia berikan hasilnya akan tetap sama sama membuat dia senang.


Ponsel Jia berdering sangat keras hingga membuat Jia yang masih mengantuk terpaksa terbangun dari tidurnya,tanpa membuka mata dia mengangkat telfonnya.


"Jiaaaa kamu jahat......!!!!" Teriak suara orang yang ada di telfon yang tak lain adalah Abel.Jia langsung menjauhkan ponsel dari telinganya dan melihat siapa yang menelfon dengan mengerjapkan matanya yang belum terbuka sempurna.Dan setelah dia tahu kalau yang menelfon adalah sahabatnya dia langsung membalas dengan teriakan juga.


"Abel kamu bisa nggak sih pelan pelan bicaranya,suaramu sudah kaya toa aja." Sungut Jia dengan ngomel ngomel.


"Kok jadi kamu yang marah marah sih,kan seharusnya aku yang marah.Kenapa kamu pergi nggak pamit,nggak kasih kabar,ponsel nggak aktif.Kamu udah nggak anggep aku sahabat ya!" Seru Abel dengan suara meninggi di ujung telfon sana.


Jia terdiam mendengar perkataan Abel,dia merasa bersalah karena kemarin tidak memberi tahu pada sahabatnya itu.


" Hehehe iya maaf beb,aku lupa." Ucapnya dengan senyum nyengir kudanya.


"Enak aja cuma minta maaf,setelah kamu bikin aku cemas beberapa hari ini." Saut Abel dengan suara ngambeknya.


" Iya iya beb,aku beneran minta maaf,kemarin kak Arga mendadak ngajak perginya,dan kak Arga bilang mau liburan cuma berdua tanpa ada yang ganggu.Jadi terpaksa aku nggak ngabari kamu,dan kita disini nggak aktifin ponsel sama sekali karena bener bener mau habisin waktu berdua." Ujar Jia panjang lebar menjelaskan ke sahabatnya berharap sahabatnya ini nggak ngambek lagi.


" Please dong beb jangan ngambek lagi,ntar aku bawain oleh oleh deh yang banyak buat kamu."Jia mengeluarkan jurus pamungkasnya untuk merayu Abel.


" Ok tapi, bener yang banyak ya!" Saut Abel dengan suara sumringah,sebenarnya tadi dia sudah nggak marah setelah mendengar penjelasan Jia tapi sebelum dia ngomong keburu Jia merayunya.Ya sudah nggak boleh menyia nyiakan rejeki batinnya sambil menahan tawa bahagia.


" Huh dasar,kalau sudah ngomong oleh oleh pasti seneng." Saut Jia sebel tapi lega karena sahabatnya udah nggak marah.


" Heheh kapan lagi beb dapat oleh oleh gratis, tapi ngomong ngomong kamu kapan baliknya,liburannya kan udah mau selesai beb,apalagi sebentar lagi ujian lo."


"Kamu kenapa beb?'' Maksud kamu cowok apa,terus ngasih jawaban apa?" Tanya Abel bingung mendengar teriakan Jia.


Jia menghela nafas panjang dan menceritakan semua pada Abel soal pertemuan Nara dan soal lamaran Nara yang langsung membuat Abel kaget.


"Whatt..!!! Dia nglamar kamu,terus kamu jawab apa beb?" Tanya Abel antusias.


" Nah itu dia beb,aku belum kasih jawaban karena aku bingung mau jawab apa ini terlalu mendadak.Apalagi dia minta jawaban pagi ini,padahal aku belum tahu mesti jawab apa." Jawab Jia frustasi sambil mengacak acak rambutnya sendiri.


" Kalau kamu nggak mau buat aku aja beb...hahah?" Goda Abel sambil tertawa.


" Hey enak aja!" Seru Jia dengan nada tidak terimanya.


"Heheh bercanda sayang,lagian aku nggak mau sama om om." Saut Abel dengan suara mengejek.


" Biarin om om,tapi dia kan keren..weekkk!" Seru Jia nggak terima dengan ucapan sahabatnya.


" Iya iya keren tajir lagi,kayaknya temenku ini sudah jatuh cinta deh sama om ganteng itu.Tapi beb kamu harus pikirin baik baik lo,soalnya ini menyangkut masa depan kamu dan kamu harus ikuti kata hatimu." Ucap Abel dengan kata kata sok bijaknya,hehe.


" Nah itu dia beb,aku belum punya jawabannya sekarang."


Tok tok...


" Sayang kamu sudah bangun belum,ayo sarapan itu juga sudah di tunggu sama Tuan Nara dan tuan Reno." Teriak Arga dari depan pintu kamar Jia.


" Aduh Bel mati aku,dia sudah ada disini,aku harus gimana, bantuin aku mikir dong." Seru Jia dengan suara panik plus memelas.


"Ehm gimana beb,aku jadi ikut panik nih...apa kamu pura pura sakit aja,jadi nggak perlu nemuin dia dulu!" Usul Abel.


" Boleh juga ide kamu beb,ya sudah aku tutup telfonnya dulu ya,bye." Setelah menutup telfon Jia segera menarik selimutnya dan pura pura tidur.


Merasa tak ada jawaban Arga memutuskan untuk masuk ke kamar adiknya,dia khawatir kalau terjadi apa apa dengan adiknya pasalnya Jia tidak pernah bangun sesiang ini.


Dan Arga mendapati Jia masih tidur dengan selimut yang menutupi hampir seluruh badannya dan hanya terlihat kepalanya saja.Arga duduk di tepi ranjang mencoba membangunkan Jia.


" Sayang bangun,ini sudah siang.Itu di depan sudah ada tuan Nara ingin ketemu sama kamu." Ucap Arga lembut membangunkan Jia.Jia hanya menggeliat dan menarik selimutnya lagi. " Kok malah tidur lagi sih,ayo bangun sayang.Dia sudah nunggu lama lo dari tadi." Arga mengusap rambut Jia berharap adiknya bangun.


" Ehmmm kak,Jia lagi nggak enak badan bilangin ke Nara suruh datang besok saja." Ucap Jia lirih supaya kakaknya percaya kalau dia sakit.Tapi justru malah membuat kakaknya panik.


" Hah kamu kenapa sayang,apanya yang sakit?" Seru Arga panik sambil memegang dahi Jia tapi dia tidak merasakan panas.


" Badan Jia sakit semua kak,perut Jia juga sakit." Ucap Jia masih dengan suara lirih.


" Ya sudah kakak panggil dokter dulu,kamu tahan ya." Arga hendak beranjak berdiri tapi di tahan oleh Jia.


"Eh kakak nggak usah panggil dokter,nanti juga sembuh sendiri kok Jia cuma butuh istirahat aja."Saut Jia yang mulai panik kalau kakaknya beneran manggil dokter dan pasti sandiwaranya akan ketahuan.


" Kamu gimana sih kalau sakit ya harus diperiksa dokter nggak bisa cuma di biarin aja ntar nggak sembuh sembuh,udah kamu tunggu sebentar kakak nggak akan lama.Kakak akan suruh Nara temenin kamu dulu." Seru Arga yang sudah beranjak pergi meninggalkan Jia yang sudah panik tingkat dewa.


" Wahduh mati aku ,malah dia yang di suruh jaga aku padahal sandiwaraku ini biar nggak ketemu dia,ini namanya senjata makan tuan dong." Gumam Jia dengan muka pasrah.


****


Jangan lupa kasih like dan votenya ya kakak....