NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Panik Part 2



"Beb aku lapar nih,kira-kira mereka meetingnya masih lama nggak ya?" Tanya Abel dengan memegangi perutnya.


"Nggak tahu beb,aku juga lapar banget.Apa kita makan saja dulu yuk." Usul Jia dan di angguki dengan semangat oleh Abel.


Akhirnya mereka berdua makan duluan sambil nonton film kartun spongebob squarepants kesayangan mereka berdua di ruangan Nara.Sesekali terdengar gelak tawa dari mereka saat menonton tingkah konyol spongebob dan patrick.


Tanpa mereka sadari kalau di luar sedang terjadi kepanikan yang luar biasa.


"Tuan apa yang terjadi,siapa yang hilang?" Reno bertanya dengan muka yang sama cemas.


Nara yang sedang berulang kali menghubungi Jia,sampai tidak menghiraukan pertanyaan Reno.


"Ren,coba kamu telfon Abel,tanya apa dia bersama Jia sekarang." Nara menyuruh Reno tanpa menjawab dulu pertanyaan Reno.


"Baik Tuan." Reno segera menghubungi nomor Abel tanpa bertanya lagi pada bosnya tentang apa yang terjadi sebenarnya.


"Ponsel Abel tidak aktif,sebenarnya apa yang terjadi tuan?" Reno mencoba bertanya lagi.


"Jia Ren,Jia yang hilang.Tadi mama telfon bilang Jia hilang." Nara bertambah panik saat Reno bilang ponsel Abel juga nggak aktif.


"Hah non Jia hilang." Reno tak kalah terkejut saat mendengar Jia hilang.


"Kemana kamu sayang." Gumam Nara sembari berjalan keluar dari ruang meeting meninggalkan para karyawannya yang sedang berbisik-bisik penasaran tentang apa yang terjadi sebenarnya hingga membuat bosnya begitu panik,untung saja meeting dengan calon investornya sudah selesai.


"Mungkin nona Jia pulang ke rumah tuan,atau sedang bersama tuan Arga." Pernyataan Reno membuat Nara berhenti berjalan.


"Mungkin Ren,aku akan menghubungi Arga,kamu coba telfon ke rumah Jia." Nara segera menelfon Arga dan Reno juga terlihat menghubungi nomor telfon di rumah Jia.


"Jia nggak sama aku,apa dia nggak pamit sama kamu Nara kalau mau pergi?" Terdengar suara Arga dari ujung telfon yang tak kalah panik.Nara mengkahiri telfonnya dengan Arga dengan wajah yang semakin terlihat cemas.


Saat melihat Reno sudah mengakhiri telfonnya Nara segera bertanya,dan jawaban Reno juga sama kalau Jia juga tidak ada di rumah hingga membuat tubuh Nara lemas karena di pikirannya sudah terbayang-bayang hal -hal yang buruk terjadi pada Jia.


" Apa mungkin nona Jia di culik tuan?" Tiba-tiba Reno mengucapkan hal yang sama yang baru saja di pikirkan Nara.


"Hubungi Beny sekarang Ren!" Seru Nara dengan aura dingin di wajahnya.


Langkah Nara terhenti saat mendengar ponselnya berdering,dengan segera dia mengambil ponselnya terlihat satu panggilan masuk dari papanya.


"Halo Nara,bagaimana Jia sudah ketemu apa belum." Terdengar suara papa Wira.


"Belum pa,ini Nara juga sedang mencari Jia."


"Apa mungkin Jia pulang atau pergi menemui Arga?"


"Tidak pa,tadi Nara sudah menghubungi Arga tapi Jia juga tidak bersama dia,di rumahpun Jia juga nggak ada."


"Ya sudah papa juga akan suruh anak buah papa buat nyari Jia,kalau sudah ada kabar segera kabari papa ini mamamu nggak berhenti nangis dari tadi."


"Iya pa,pasti Na..." Nara tidak melanjutkan kata katanya saat sudah berada di depan pintu ruangannya,karena dia mendengar suara tawa dari dalam ruangannya.Begitupun Reno juga mendengar hal yang sama.Nara dan Reno saling pandang,dan segera membuka pintu ruangannya tanpa mematikan telfon dari papanya.


Ceklek....


Betapa terkejutnya Nara dan Reno saat melihat Jia dan Abel sedang berada di ruangannya saat ini.Dan dengan santainya mereka berdua tertawa lepas menonton film kartun,tanpa mereka tahu kalau semua orang sedang cemas memikirkan mereka.


"Jia....!" seru Nara hingga membuat Jia dan Abel menoleh.


"Nara,apa Jia sudah ketemu?" Tanya papa Wira di ujung telfon.


"I..Iya pa,Jia ada di kantor Nara.Sudah dulu ya pa nanti Nara hubungi lagi." Nara segera mematikan ponselnya dan berjalan menghampiri Jia,di ikuti Reno.


"Hay..kamu terkejut nggak?" Sapa Jia tersenyum tanpa rasa bersalah melambaikan tangannya.


Nara tidak memperdulikan sapaan Jia,tapi dia langsung memeluknya,hingga membuat Jia kaget.


"Kamu dari tadi kemana?" Ucap Nara setelah melepaskan pelukannya.


"Aku dari tadi ada di sini nunggu kamu,ya nggak Bel?" Jawab Jia sambil melirik Abel dan Abel menganggukan kepalanya.


"Kenapa kamu keluar rumah,memang kaki kamu sudah sembuh?"


"Sudah,nih lihat." Jia berdiri dan memutar badannya untuk meyakinkan Nara kalau kakinya sudah benar-benar sembuh.


Dengan segera Nara menarik tangan Jia untuk duduk lagi. "Kenapa kamu nggak pamit sama mama kalau mau pergi,dan nggak bilang sama aku juga,terus kenapa handphone kamu nggak aktif?" Nara memberi pertanyaan bertubi-tubi pada Jia hingga membuat Jia menghela nafas.Sedangkan Reno dan Abel hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Nanyanya satu-satu dong.Lagian tadi aku sudah minta ijin sama mama lewat pesan wa tapi kayaknya ponsel mama nggak aktif,aku juga sudah bilang sama pelayan di rumah kalau aku pergi sebentar sama Abel."


"Terus kenapa nggak bilang sama aku?" Protes Nara memotong perkataan Jia.


"Karena aku mau kasih kejutan sama kamu,terus soal handphone nggak aktif,tadi aku lupa ngecas jadi batreynya habis,mau pinjam handphone Abel,handphone dia juga sama lowbat." Imbuh Jia lagi.


Ketika hendak bicara lagi,ponsel Nara berbunyi karena ada panggilan dari Arga.


"Halo Nara bagaimana Jia,sudah ketemu belum.Aku sudah hubungi rumah tapi Jia juga nggak ada,telfon Abel tapi nomornya tidak aktif."


"Tenang Ga,Jia sudah ketemu dia sekarang lagi sama aku." Nara memberikan ponselnya pada Jia.


"Halo kak,Jia nggak hilang kok dari tadi Jia ada di kantor Nara." Sahut Jia tanpa memberikan kesempatan kakaknya dulu untuk bicara.


"Dasar anak nakal,kamu seneng ya bikin cemas semua orang." Sahut Arga dari telfon.


"Maaf kak,Jia nggak bermaksud kaya gitu." Ujar Jia dengan suara pelan dan terlihat sedih.Nara yang melihat perubahan di wajah Jia segera mengambil ponselnya.


"Sudah Ga,jangan di marahi Jia.Dia nggak bermaksud kaya gitu kok.yang penting sekarang Jia sudah ketemu kan."


"Iya Nara,kalau gitu titip jagain Jia ya."


"Pasti,tanpa kamu minta aku pasti jaga dia Ga." Ucap Nara sebelum mengakhiri telfonnya.


Setelah mengakhiri panggilannya dengan Arga,Nara melihat ke arah meja dan mendapati ada dua kotak makanan yang masih utuh dan dua kotak makanan lagi yang hanya tinggal bungkusnya.


"Kamu sudah makan?" Tanya Nara melirik Jia.


"Iya sudah,sebenarnya tadi mau makan bareng berempat tapi karena kalian lama ya sudah aku sama Abel makan duluan,kamu pasti belum makan kan? Sekarang kamu makan ya sama tuan Reno." Jia mengambil satu kotak makanan untuk Nara.


"Kamu nggak mau ngambilin makanan untuk aku." Bisik Reno pelan di telinga Abel.


"Ambil saja sendiri,nggak usah manja." Gumam Abel pelan dan membuat Reno tampak kesal.


"Tuan Reno ini untukmu satu." Ucap Jia sambil mengangkat kota makanan ke arah Reno.


"Iya nona." Reno mengambil makanan dari Jia,dan dia minta ijin pada Nara untuk makan di pantry karena masih kesal sama Abel.


Melihat Jia menyuapi Nara,Abel merasa baper dan mau nggak mau dia nyusul Reno ke pantry karena nggak mau jadi obat nyamuk melihat Jia dan Nara bermesraan.


"Sayang,besok-besok jangan kaya gini lagi ya.Aku hampir gila mengira kamu hilang."


"Iya,maaf deh aku kan niatnya mau kasih kejutan sama kamu,karena aku bosan di rumah terus.


"Iya kejutanmu sangat berhasil sayang,hampir membuat aku jantungan." Seru Nara sambil mencubit hidung Jia.


"Aww,sakit tahu."


"Biarin itu hukuman pertama buat kamu."


"Hukuman pertama? Berarti ada hukuman lagi?" Tanya Jia dengan masih memegangi hidungnya yang memerah.


"Iya,mau hukuman keduanya sekarang apa di nanti di rumah?" Nara menaikan alisnya menggoda Jia.


"Hah nggak mau..mulai deh mesumnya kumat." Seru Jia mendorong tubuh Nara agar menjauh darinya.Nara tersenyum puas bisa menggoda kesayangannya itu.


Tapi senyumnya hilang saat mendengar permintaan Jia.


"Ehmm...Nara apa aku sudah boleh masuk sekolah lagi,kakiku kan sudah sembuh." Ujar Jia pelan sambil menusuk-nusuk dada bidang Nara dengan jari telunjuknya.


"Nggak boleh,kakimu baru saja sembuh dan belum sembuh benar." Jawab Nara seketika saat mendengar permintaan Jia.


"Tapi aku bosan di rumah terus." Jia masih berusaha minta ijin.


"Ok,kalau kamu bosan mulai besok aku akan menemani kamu."


"Tapi kan kamu harus kerja." Imbuh Jia lagi.


"Aku bisa bekerja dari rumah." Tutur Nara masih kekeh tidak mau memberikan ijin untuk Jia.


"Tapi aku pengen ke sekolah,Nara." Jia memasang wajah memelas dan menggelayuti lengan Nara.


"Jia,aku nggak mau marah sama kamu! Sekali tidak tetap tidak!" Seru Nara dengan wajah dinginnya hingga membuat Jia melepaskan tangannya kesal dan menjauh dari Nara.


"Aku tidak akan mengijinkan kamu masuk sekolah sebelum semuanya benar benar aman sayang." Batin Nara sambil melirik Jia yang kini duduk menjauh darinya.


.


.


.


.


Bersambung.


jangan lupa like sam kasih votenya ya kakak.