
"Aku sangat puas melihatmu hancur seperti ini,kalau aku tidak bisa memiliki Jia,orang lainpun tidak boleh memilikinya!" Bima tersenyum puas melihat kepergian Nara dari rumahnya.
"Bim,aku mohon sebagai temanmu beri tahu aku Jia dimana? Aku mohon Bim!" Abel menghentikan langkahnya dan berbalik kembali menghampiri Bima,dia mengatupkan kedua tangannya di hadapan Bima dengan air mata yang mengucur deras.Abel yang sudah menganggap Jia saudara merasa sangat kehilangan atas perginya Jia apalagi dia tidak tahu Jia pergi kemana,padahal biasanya Jia akan selalu mengabarinya di setiap masalah yang dia hadapi dan di setiap keputusan yang dia ambil.
Bima merasa tidak tega melihat Abel yang menangis di depannya, tapi mau gimana lagi dia sendiri juga tidak tahu Jia pergi kemana.
"Bel bukannya aku tidak mau memberi tahumu tapi aku juga tidak tahu Jia mau pergi kemana tadi tapi....."
"Tapi apa Bim...?"
"Tapi yang aku tahu Jia pergi dari kota ini,entah keluar kota atau ke luar negeri karena tadi aku menemuinya saat di bandara." Bima akhirnya memberi tahu sedikit informasi yang dia tahu karena tidak tega melihat Abel yang juga temannya itu menangis dan memohon padanya.
"Terimakasih Bim,informasimu sangat berarti.Aku takut Bim kalau sampai terjadi apa-apa dengan Jia.Dia sedang hamil Bim..."
"Apa kamu bilang Bel? Jia hamil?" Bima sangat kaget mendengar ucapan Abel,entah kenapa hatinya terasa sakit lagi mendengarnya.
------
"Sayang,kenapa nomor Jia tidak bisa di hubungi aku sangat merindukannya.Sudah beberapa hari aku tidak mendengar kabarnya." Arga tiba-tiba merasa gelisah teringat dengan adiknya.
"Ya sudah coba saja kamu telfon ke rumahnya atau kamu telfon saja Nara." Aruna yang tahu jika suaminya sedang gelisah segera meninggalkan pekerjaannya dan mencoba menenangkan suaminya dengan mengusap bahunya pelan yang sedang menghubungi Nara.
"Halo Nara...apa kabarmu dan Jia? " Sapa Arga saat nomor Nara sudah berhasil dia hubungi.
Nara terdiam sejenak bingung harus menjawab apa.Hati dan pikirannya berdebat antara harus jujur atau tidak pada kakak iparnya itu tentang keberadaan Jia yang sekarang tidak dia ketahui.
Nara hendak baru saja mengucapkan sepatah kata,tapi lidahnya terasa kelu karena tiba-tiba terlintas bagaimana kemarahan Arga saat dia tidak menjaga Jia dengan baik dulu dan membuat Jia sakit,entah apa yang akan terjadi bila Arga tahu kalau Jia pergi dari rumah saat ini dan itu lagi-lagi karena kebodohannya sendiri.
"Halo Nara...apa kamu masih mendengarkanku?" Tanya Arga lagi dan membuyarkan lamunan Nara.
"Ha..halo iya Ga,aku masih mendengarmu.Maaf aku tidak fokus.Oh ya bagaimana bulan madumu apakah menyenangkan?" Nara berusaha menyembunyikan kepanikannya.
"Bulan maduku berjalan lancar,kapan kamu dan Jia akan menyusul kesini? Jia pasti akan sangat senang kalau kamu ajak kesini karena Runa bilang Jia sangat ingin berlibur kesini." Ucap Arga antusias.
"Syukur Ga aku juga ikut senang,ya aku dan Jia pasti akan segera menyusul kalian kalau aku sudah tidak sibuk,akhir-akhir pekerjaanku sangat banyak dan aku belum bisa meninggalkannya." Jawab Nara berusaha menutupi kegelisahannya.
"Ok,aku tunggu.Oh ya Nara apa kamu sedang bersama Jia,aku mencoba menelfonnya tapi tidak tersambung.Aku sangat merindukannya,apa dia baik-baik saja disana? Arga memberikan pertanyaan bertubi-tubi hingga Nara bingung harus menjawab apa.
"Ehm...i..iya Ga,Jia baik-baik saja.Itu...anu ponsel Jia rusak tadi jatuh dan aku belum sempat membelikannya yang baru."
"Oh,kalau begitu kamu bisa memanggilkan dia sebentar aku ingin mendengar suaranya."
"Ehm....maaf Ga,tapi Jia sedang istirahat katanya dia kelelahan aku tidak tega membangunkan dia.Apa kamu nggak keberatan kalau nanti saja saat dia bangun aku suruh Jia menghubungimu." Nara sebisa mungkin menolak permintaan Arga secara halus karena dia belum berani memberi tahu yang sebenarnya pada kakak iparnya itu.
Reno yang duduk di sebelah Nara merasa iba dengan keadaan bosnya saat ini,dia sangat paham bagaimana posisi bosnya saat ini Abel yang duduk di belakang juga merasa kasihan pada suami sahabatnya itu.
"Ok kalau gitu Nara,biarkan Jia istirahat aku akan menelpon lagi nanti.Aku tutup dulu ya." Nara bernafas lega saat Arga mengakhiri telfonnya.
"Huft ....dimana kamu sayang.Tuhan lindungi istri dan anakku." Gumam Nara mengusap kasar wajahnya.
Reno dan Abel yang mendengar gumaman Nara ikut merasakan kesedihan Nara saat ini.
"Jia kamu dimana,suamimu sangat mencemaskanmu." Batin Abel dalam hati.
"Tuan tadi Bima bilang dia bertemu Jia di bandara." Abel memecah keheningan dengan memberi tahu info dari Bima tadi, membuat Nara dan Reno serentak meoleh ke belakang menatap Abel.
"Terima kasih Bel. Ren...kamu cepat cari tahu segera."
"Maaf tuan,tidak ada daftar penumpang atas nama nona Jia." Ucap Reno setelah mengakhiri telfonnya dengan salah satu orang suruhannya.
"Hah bagaimana mungkin,tadi bocah itu bilang dia bertemu Jia di bandara apa jangan-jangan dia berbohong."
"Tapi sepertinya tadi Bima tidak berbohong tuan." Sahut Abel.
-------
"Akhirnya....aku bisa datang kesini juga walaupun harus dengan keadaan seperti ini." Ucap Jia dalam hati sambil menghirup udara dalam-dalam dan memejamkan matanya tersenyum getir meratapi nasibnya.
"Jia...apa kamu yakin tidak mau paman antar?" Ucap paman Leo membuat Jia membuka matanya.
Jia tersenyum menatap paman Leo yang dari tadi tampak khawatir dan terus menawarkan untuk mengantarnya.
"Paman tenang saja,Jia ini sudah dewasa lo dan nggak mungkin Jia tersesat.Lagian Kak Arga sama kak Runa kan ada disini juga jadi Jia tinggal hubungi mereka untuk jemput." Ucap Jia berbohong supaya paman Leo tidak khawatir.
"Baiklah kalau begitu paman jadi lega.Kalau ada apa-apa kamu hubungi paman saja." Paman Leo mengusap kepala Jia sebelum melepas anak sahabatnya itu dan dia harus segera kembali ke pesawat.
"Siap paman...Jia tersenyum dan melambaikan tangannya pada paman Leo yang sudah melangkah pergi meninggalkannya.Jia berbalik hendak berjalan mencari taksi tapi tiba-tiba.
Brukkkkk
"Nona...anda kenapa?Apa anda baik-baik saja?" Seru seorang laki-laki menahan tubuh Jia yang mendadak pingsan.
"Nona...bangun...hah dia kan..." Justin mencoba menyingkap rambut yang menutupi wajah wanita yang pingsan di pangkuannya,dan betapa terkejutnya Justin saat melihat wanita yang ada di hadapannya sekarang.Tanpa pikir panjang Justin segera membawa Jia masuk ke mobil jemputannya yang sudah menunggu.Melihat tuannya datang dengan membopong seorang wanita,orang yang menjemput Justin cepat tanggap langsung membukakan pintu untuk bosnya.
"Kita ke rumah sakit atau pulang tuan?" Tanyanya pada Justin.
"Kita ke rumah saja." Jawab Justin tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Jia.Wajah wanita yang sudah mengganggu ketenangan hari-harinya.Justin berperang dengan pikirannya sendiri bertanya-tanya apa yang terjadi pada wanita di pangkuannya ini.Justin mencoba mengecek denyut nadinya,dan dia menjadi sedikit panik karena denyut nadinya lemah.
"Bram lebih cepat lagi!" Seru Justin dan di angguki oleh asistennya yang bernama Bram.
Bram adalah asisten kepercayaan Justin.
-----
Prangggg
Tangan Nara tidak sengaja menyenggol figura foto pernikahannya dengan Jia saat dia masuk ke kamarnya.Nara kaget lalu mengambil fotonya yang sudah hancur berkeping-keping.
"Aww...sayang apa yang terjadi padamu." Tiba-tiba perasaan Nara tidak enak,di tatapnya darah yang mengalir dari jarinya akibat terkena pecahan kaca figura fotonya.
Nara tidak menghiraukan luka di jarinya,dia menatap nanar seisi kamarnya terbayang semua kenangan indah yang pernah dia lalui bersama Jia.Nara memejamkan mata sejenak untuk mengurangi sesak di dadanya.
Saat membuka mata tatapan Nara tertuju pada amplop yang berada di atas ranjang.Nara berjalan lalu mengambil dan membuka amplop yang sudah ada di tangannya.
"Tuhan....." Air mata Nara jatuh tanpa bisa di bendung lagi.
"Aku hancur tanpa kalian."
.
.