
Tok..tok
"Tante Abel boleh masuk?" Seru Abel nyengir memasukkan separuh kepalanya ke pintu kamar Nara.
"Iya sini sayang masuk." Jawab mama Ajeng.Di dalam hanya ada mama Ajeng sedangkan papa Wira sudah pergi tidak berapa lama setelah Nara pergi.
"Jia belum siuman ya tante?"
"Iya,mungkin pengaruh obatnya.Abel kamu bisa jelasin sama tante kenapa Jia bisa sampai kaya gini?"
"Ehm...iya tante." Jawab Abel,dan mulai menceritakan kronologinya pada mama Ajeng.
"Huh,anak ini sangat mirip sekali dengan mamanya." Ucap mama Ajeng sambil mengusap rambut Jia.
"Memang mamanya Jia dulu bagaimana tante?" Tanya Abel penasaran.
"Dulu Kinan tidak suka orang lain mengetahui masalahnya,dia lebih suka menyimpannya sendiri.Bahkan saat sakitpun dia tidak mau memberi tahu orang terdekatnya,sampai suatu saat dia sakit lumayan parah dan papanya Jia hampir gila saat terlambat mengetahui Kinan sakit untung Kinan masih bisa di selamatkan."
"Sama kaya tuan Nara tadi dong tante,dia hampir gila waktu lihat Jia pingsan.Anak tante menakutkan ya kalau lagi marah marah." Ujar Abel polos,dan membuat mama Ajeng tersenyum.
"Iya Nara memang seperti itu,bisa di bilang semua laki laki akan seperti itu nak kalau melihat wanita yang dia cintai sakit atau terluka." Ucap mama Ajeng dengan tersenyum memberi pengertian pada Abel.
"Wah enak ya tante di cintai cowok seperti itu." Seru Abel memeluk mama Ajeng dan membayangkan cowok yang dia suka melakukan hal yang sama.
"Emang kamu belum punya pacar sayang?"
"Belum tante,Jia sama Abel belum pernah pacaran.Dan sekarang Jianya udah punya calon suami,Abel jadi jomblo sendirian deh."
"Loch,la Reno siapanya kamu? Tante kira kamu pacarnya Reno." Goda mama Ajeng yang langsung membuat Abel salah tingkah.
"Ah tante,nggak kok." Abel menundukkan wajahnya yang sudah memerah.
"Bohong ma,mereka pasti udah pacaran."Sahut Jia tiba tiba,yang sebenarnya udah bangun dari tadi dan mendengarkan percakapan calon mertuanya dan Abel.Awalnya dia bingung berada dimana,tapi setelah melihat mama Ajeng dan melihat foto Nara di sekitar ruangan dia sudah paham kalau sekarang di rumah Nara.
"Kamu sudah sadar sayang?"
"Jia sejak kapan kamu sadar?"
"Iya ma."
"Sejak tadi,dan udah dengerin semua cerita kamu." Jawab Jia tersenyum,menggoda sahabatnya.Ajeng tersenyum melihat keakraban antara Jia dan Abel,karena mereka mengingatkan dia pada persahabatannya dengan Kinan.
"Ah kamu nyebelin Jia."
"Biarin..week."
"Sudah sudah nggak usah berantem.Sayang gimana kaki kamu udah enakan apa masih sakit?" Tanya mama Ajeng menghentikan perdebatan dua remaja di depannya.
"Udah mendingan ma." Jawab Jia sambil menggerakkan kakinya.
"Syukurlah kalau begitu,kamu mau makan sesuatu atau mau minum?"
"Nggak ma,Jia masih kenyang.Ma dimana Nara?" Tanya Jia karena tidak melihat Nara .
"Ciee udah kangen ya?" Abel balas menggoda Jia,dan membuat Jia malu pada mama Ajeng.
"Nara tadi keluar sebentar sayang ada urusan tapi cuma sebentar kok.Kangennya kamu di simpan dulu ya." Seru mama Ajeng ikut menggoda Jia.
"Ah mama apan sih,kok jadi ikut ikutan Abel." Jia menutup mukanya yang memerah.
"Hahaha." Abel tertawa karena mama Ajeng juga menggoda Jia.
"Iya maaf deh,ya sudah mama ke bawah dulu ya mau lihat bibi sudah siapin makan siang apa belum."
"Iya ma." Jawab Jia.
"Eh Bel,Reno itu juga cowok baik loh.Dia juga beum pernah pacaran sama kaya Nara,jadi kalau kamu di tembak dia langsung di terima saja." Bisik mama Ajeng sebelum berlalu pergi.
"Ah tante...." Seru Abel malu. Ajeng keluar dengan tersenyum karena sudah berhasil menggoda para gadis abg itu.
"Hah rasanya baru kemarin aku di kerjain mamanya Kinan.Waktu cepat berlalu.Seandainya kamu ada disini Kinan,pasti kita bisa mengerjai anak anak kita bareng." Batin mama Ajeng tersenyum kecil.
----
Mega tersenyum melihat Nara dan juga teman temannya yang baru saja sampai di cafe,dia memberi kode pada orang suruhannya untuk melaksanakan tugas yang dia kasih.Saat Nara sudah hampir sampai di mejanya Mega segera beranjak dari duduknya untuk melancarkan rencananya.
"Hay sayang." Sapa Mega dan langsung memeluk Nara.Nara yang belum siap menghadapi Mega tidak bisa mengelak pelukan Mega.
"Apa apaan kamu!" Seru Nara emosi dan reflek menghempaskan tubuh Mega ke kursi.
"Nara kamu jangan kasar dong sama wanita." Seru Reza yang tidak suka dengan sikap Nara,karena memang Reza tidak tahu kalau wanita yang dia bela sekarang adalah wanita yang membuat tunangan Nara kecelakaan.
"Kamu pun akan bertindak sama seperti aku bila tahu kelakuan wanita ini seperti apa!" Seru Nara.
"Diamlah Za,jangan ikut campur dulu.Asal kamu tau wanita ini yang sudah membuat non Jia celaka." Bisik Reno pelan,dan mengajak Reza duduk tak jauh dari meja Nara.
Mega tersenyum dan membetulkan posisi duduknya,dia tidak marah dengan perlakuan Nara karena dia sudah bisa menebak akan sikap Nara padanya.
"Apa kamu tidak berani menemuiku sendirian sehingga harus mengajak teman temanmu sayang dan kamu masih tidak berubah Nara selalu menyuruh orang untuk mengikutiku?" Ucap Mega setelah meminum kopinya.
"Tidak usah basa basi Mega!"
"Kalau kamu mencariku sendiri,aku pasti akan memberikan pelayanan yang memuaskan untukmu sayang." Bisik Mega berjalan mendekati Nara yang duduk di depannya dan langsung memeluknya dari belakang.Nara terkejut dengan kelakuan Mega dia mencoba melepaskan pelukannya tapi Mega malah semakin mengeratkan pelukannya dan mencium pipi Nara.
Reno dan Reza yang duduk di meja lain juga kaget melihat kelakuan Mega.mereka tidak menyangka kalau Mega akan berbuat nekat seperti itu bahkan di tempat umum seperti ini.Nara yang sudah emosi langsung berdiri dan segera menghempaskan tubuh Mega.Begitu juga dengan Reno dan Reza mereka berdiri menghampiri Nara yang sudah emosi.
"Dasar wanita murahan!" Seru Nara dengan suara meninggi.
"Nara kamu jangan munafik,kamu pasti juga ingin kan tidur bersamaku.Ayolah Nara gadis itu tidak lebih baik dariku,aku bisa melayanimu sampai kamu puas."
Plak
Nara menampar Mega karena sudah tidak bisa menahan emosinya saat Mega menyinggung soal Jia,dan menyamakan jia seperti dirinya.
"Jangan pernah samakan wanitaku dengan dirimu yang murahan! Aku ingatkan,aku tidak akan segan segan melenyapkanmu kalau kamu berani menyentuhnya lagi!!" Ucap Nara penuh penekanan sebelum pergi meninggalkan Mega di ikuti Reza dan Reno.
"Akan aku buat kamu datang sendiri padaku Nara." Batin Mega tersenyum puas karena sudah mendapatkan apa yang dia mau.
Tidak berapa lama ponselnya bergetar karena ada pesan masuk.Melihat pesan yang baru saja masuk,Mega tersenyum puas.
"Let's start this game." Gumam Mega saat sudah mengirimkan videonya bersama Nara tadi ke nomor Jia,yang tentunya sudah di edit dan hanya bagian bagian yang mesra saja yang dia kirim.
---
"Beb calon mertuamu itu usilnya minta ampun deh." Ucap Abel yang sudah berbaring di samping Jia.
"Hehe iya beb,tapi mama seru ya.Apa mamaku juga semenyenangkan mama Ajeng ya." Gumamnya lirih.
"Aku rasa iya deh beb,biasanya kalau sahabatan kan mesti sifatnya nggak jauh beda kaya kita gini." Ujar Abel melirik Jia.
"Heem kali ya.Nara kok nggak balik balik sih Bel,mana nggak kasih kabar juga."
"Aduh sabar dong beb,baru juga di tinggal sebentar udah kangen aja.Coba kamu aja yang telfon dia duluan!" Usul Abel.
"Iya juga ya,mending aku telfon dia." Jia mengambil ponselnya dan saat hendak memencet nomor Nara terlihat ada pesan video masuk.
Jia merasa tubuhnya panas,dadanya terasa sesak dan hatinya sangat sakit saat melihat video itu.Melihat ada perubahan di wajah Jia saat memandangi ponselnya membuat Abel penasaran dan segera menyaut ponsel dari tangan Jia.
Di bawah terdengar suara mobil Nara baru saja tiba. "Aku benar benar tidak habis pikir dengan wanita itu." Gumam Nara.
"Nara,sebenarnya dia siapa?" Tanya Reza yang sebenarnya penasaran dari tadi,tapi baru berani bertanya sekarang setelah Nara mengeluarkan suaranya.
"Dia adalah salah satu wanita yang dulu di jodohkan mama untukku." Nara menghela nafas berat mengingat kejadian dulu,dan segera turun dari mobil ingin menemui Jia,karena tadi mama sudah memberitahunya kalau Jia sudah sadar.
Abel menutup mulutnya ,dan matanya tidak berkedip melihat video di ponsel Jia. "Beb,ini..?" Ucap Abel tidak meneruskan kata katanya karena melihat Jia sudah menangis.
Ceklek
Jia dan Abel melihat ke arah pintu yang baru saja terbuka.Muncullah Nara,Reno dan juga Reza masuk ke dalam kamar.Jia menatap Nara yang hendak menghampirinya dengan tatapan tajam penuh amarah,air matanyapun tidak berhenti mengalir dari matanya hingga membuat Nara cemas.
"Sayang kamu kenapa?" Nara mendekati Jia dan hendak mengusap air matanya,tapi Jia langsung menepisnya dengan kasar hingga membuat Nara kaget begitu juga dengan kedua temannya.
"Sayang kamu kenapa? Tanya Nara yang tidak tahu apa apa,mencoba berpikir telah melakukan kesalahan apa sehingga membuat Jia menangis dan tidak mau dia sentuh.
"Bel ayo kita pulang,aku tidak mau disini!" Seru Jia hendak turun dari tempat duduk,tapi tangannya langsung di tahan Nara,dan membuatnya duduk lagi.
"Sayang kamu kenapa,kamu jelasin ada apa,jangan seperti ini Jia?" Tanya Nara frustasi.
Jia menepis lagi tangan Nara dengan kasar dan mencoba berdiri tapi baru beberapa detik dia berdiri kakinya sudah terasa sakit.
"Aww..." Rintih Jia hampir terjatuh bila tidak di pegang oleh Nara.
"Nona Jia jangan banyak bergerak dulu,itu bisa berbahaya untuk kakimu." Ucap Reza panik.
"Lepasin,jangan sentuh aku." Seru Jia dengan nada meninggi.
"Jia kamu kenapa? Kenapa kamu jadi marah marah,tolong katakan sesuatu!"
Reno menatap Abel memberi isyarat bertanya apa yang sedang terjadi,tapi tatapan Abel tidak jauh beda dengan Jia.Dia juga menatap dingin penuh amarah pada Reno hingga membuat Reno mengernyitkan dahinya bingung dengan para wanita wanita ini.
"Dasar semua cowok sama saja,pasti kelakuan dia sama saja kaya bosnya." Batin Abel masih menatap tajam Reno.
.
.
.
To be continued