NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Wanita Memang Merepotkan



"Jia apa kamu tahu,Tuan Nara sangat mengkhawatirkanmu saat kamu pergi.Aku dan Reno jadi saksi kalau Tuan Nara sangat hancur tanpamu Jia." Abel tengah duduk di samping ranjang Jia dan menceritakan semua yang dia lihat tentang Nara kemarin.


"Dan kemarin Tuan Nara sempat sakit tapi saat mendapat kabar tentangmu dia menjadi semangat.Aku bisa melihat kalau dia sangat mencintaimu." Imbuh Abel lagi.


Jia tersenyum samar mendengarkan cerita dari sahabatnya itu.Dia juga bisa merasakan betapa besarnya cinta Nara untuknya.Dan dia juga merasa dengan adanya kejadian kemarin cinta diantara mereka semakin bertambah sekarang.Jia merasakan pedih dengan perpisahan kemarin dan Narapun juga merasakan hal yang sama dengannya.


"Aku juga sangat mencintainya Bel..." Ucap Jia pelan.Abel tersenyum dan reflek memeluk sahabatnya itu.


"Jangan pergi lagi ya....capek tahu nyarinya..." Bisik Abel yang langsung di sambut pukulan di bahunya dari tangan Jia.


"Huh...berarti nggak ikhlas nyarinya,dasar....." Ucap Jia sambil mengerucutkan bibirnya dan di tersenyum.


"Sayang...." Sapa Nara dari arah pintu dan di ikuti Justin juga Reno.


"Nara...bagaimana hasilnya,apa aku sudah boleh pulang?" Tanya Jia yang sudah tidak betah berada di rumah sakit.


"Iya kamu sudah boleh pulang Jia,dan hasilnya....entah ini keajaiban atau apa hasil pemeriksaanmu semua normal,dugaanku memang benar anakmu ini hanya tidak ingin jauh dari ayahnya,jadi kamu jangan coba-coba kabur lagi." Sela Justin tersenyum penuh sindiran untuk Jia.


"Ahhh aku tidak kabur Justin,aku hanya piknik saja." Sahut Jia nggak mau kalah.Nara hanya tertawa kecil melihat tingkah istrinya yang menggemaskan,ingin rasanya dia menggigit bibir kecil istrinya yang sangat dia rindukan itu.Tapi dia harus bisa menahanya,karena tidak mungkin dia melakukannya sekarang.


"Pikniknya jauh banget ya non...." Imbuh Abel sambil terkekeh menggoda Jia.


****


"Jia ini beneran rumah kamu? Sumpah ini keren banget..." Ucap Abel takjub dengan rumah Jia.


Iya sekarang Jia sudah pulang,dan memilih untuk pulang ke rumahnya,awalnya Nara ingin mengajak Jia untuk pulang ke hotel tapi Jia mennolak dan akhirnya Nara mengalah karena dia hanya mau Jia bahagia sekarang.


"Iya Bel..." Jawab Jia sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya.


"Jia lebih baik kamu istirahat ya,kamu harus ingat kata dokter kamu nggak boleh kecapekan." Ucap Aruna mengingatkan.


"Kakak justru aku capek kalau istirahat terus,di rumah sakit kan sudah istirahat."


"Sayang benar kata Runa kamu harus istirahat,sekarang aku antar ke kamar dan nggak boleh bantah." Seru Nara yang sudah menggendong Jia ala bridal style tanpa menghiraukan mulut Jia yang tak berhenti menggerutu.


"Semoga saja Arga mau memaafkanmu Nara dan memberimu kesempatan lagi,aku belum pernah melihat Arga semarah ini semoga saja semua baik-baik saja." Ucap Aruna lirih selepas kepergian kedua adik iparnya.


"Sepertinya ada yang sedang anda dpikirkan nona Runa?" Ucap Reno yang merasa ada kekhawatiran dalam raut wajah Runa.


"Ehmm tidak apa-apa,aku sedang tidak memikirkan sesuatu Ren." Balas Runa berbohong dan berlalu pergi meninggalkan Reno.


"Ketakutan kita sama Nona,semoga saja tuan Arga mau memberi kesempatan untuk Tuan Nara ." Batin Reno.


****


"Nara sudah lepasin aku...mau sampai kapan kamu memelukku seperti ini." Protes Jia berusaha melepaskan pelukan suaminya.


"Kalau boleh aku nggak mau lepasin pelukan ini selamanya sayang." Ucap Nara yang masih memejamkan matanya,menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya yang sangat...sangat dia rindukan.


"Aku sangat merindukanmu sayang,jangan pergi dariku lagi Jia..." Pinta Nara setelah melepaskan pelukannya dan sekarang menatap kedua mata Jia.


Jia mengangguk pelan mendengar permintaan Nara.Kedua matanya terkunci oleh tatapan Nara seakan sulit untuk menghindar dan entah sejak kapan Nara sudah membenamkan ciuman di bibirnya.Tubuhnya mengeluarkan hawa panas karena sentuhan nakal tangan Nara di bagian tubuhnya.


"Apa aku boleh melakukannya?" Bisik Nara sesaat melepaskan ciumannya dan meminta persetujuan Jia untuk melakukan lebih dari sekedar ciuman.Jia hanyan menganggukan kepalanya,karena tidak di pungkiri dia juga merindukan setiap sentuhan jamahan dari suaminya.


"Terimakasih sayang,aku akan melakukannya dengan pelan." Bisik Nara lagi dan membenamkan ciuman panas lagi di bibir Jia dan tanganya sudah berhasil melucuti pakaian yang Jia kenakan.Tubuh polos Jia semakin membuat Nara bergairah dan ingin segera membenamkan tubuhnya saat ini juga.Rasa rindu yang sudah dia tahan selama berhari-hari karena kepergian Jia ingin dia tuntaskan sekarang juga.


Nara menelusuri setiap lekuk tubuh Jia dan meninggalkan tanda di area kesukaannya.Tubuh Jia rasanya mengejang menikmati setiap sentuhan Nara yang juga sangat dia rindukan,ingin rasanya dia berteriak untuk menumpahkan perasaannya saat ini,tapi rasanya itu sungguh memalukan dan hanya lenguhan dan desahan kecil yang keluar dari bibir tipisnya membuat Nara semakin bersemangat dan melepaskan gairahnya yang sudah lama dia tahan.


"Terimakasih sayang." Bisik Nara dan mengecup kening Jia yang tampak memejamkan mata karena kelelahan.


***


"Apa kamu suka dengan tempat ini?" Ucap Reno tiba-tiba yang sudah berdiri di samping Abel.Dan membuat Abel terkejut.


"Tentu saja aku suka,tempat ini indah banget.Dulu aku dan Jia punya rencana mau kuliah di negara ini karena terpesona dengan keindahannya apalagi kota ini." Jawab Abel dengan mata berbinar-binar.


"Kalau begitu bagaimana kalau setelah kita menikah kita tinggal saja di kota ini." Sahut Reno dengan menatap mata Abel.


Plak....


"Menikah...ngaco kamu kalau ngomong." Abel memukul lengan Reno karena menganggap ucapan Reno hanya bercanda.


"Siapa yang ngaco,aku serius." Reno memegang tangan Abel dan menatap matanya penuh keseriusan.


"Apa kamu nggak mau menikah denganku?" Tanya Reno lagi yang nggak sabar mendengar jawaban Abel hingga membuat Abel salah tingkah dan memalingkan wajahnya dari tatapan Reno,karena dia nggak mau kalau Reno melihat wajahnya yang memerah karena malu sangking senangnya di lamar Reno.


"Hey...." Panggil Reno sambil menyentuh pundak Abel.


"Huh kamu tuh dasar om om nggak romantis,masak nglamar cewek kaya gini." Gerutu Abel yang pura-pura kesal untuk menutupi rasa senangnya.


"La terus harus pakai apa? Aku kan memang belum pernah nglamar cewek." Ucap Reno bingung.


"Pikir saja sendiri." Seru Abel sambil berlari meninggalkan Reno sendirian dengan kebingungannya.


"Huh....menyebalkan,aku kan memang nggak tahu,dekat sama wanita saja baru sama dia." Gerutu Reno.


"Wanita memang merepotkan."


.


.


.


Kakak-kakak jangan lupa like vote dan komennya ya.