
Karena semua anggota sudah berkumpul,Jia dan Bima memimpin untuk memulai rapat membahas susunan acara baksos.Sebenarnya Jia malas harus berdiri di samping Bima,tapi karena tanggung jawabnya sebagai ketua jadi dia mau tidak mau harus membuang egonya.
"Beb itu kenapa si uler keket Mia ada di sini sih,bukannya dia bukan anggota club motor ya?'' Abel yang melihat keberadaan Mia langsung menghampiri Jia.
"Ah bodo amat beb,biarin aja terserah dia."
Bima sudah selesai menjelaskan susunan acara,dan tiba giliran Jia untuk memberi penjelasan.Jia yang merasa sudah sangat tidak nyaman berada di situ,hanya menyampaikan beberapa patah kata dan langsung menyudahinya.
"Beb kok singkat banget sih,nggak kaya biasanya.Kamu nggak apa apa kan?" Abel berjalan setengah berlari untuk mengejar Jia yang sudah berjalan duluan ke arah parkiran seakan tahu sudah terjadi sesuatu dengan sahabatnya ini.
"Aku males lama lama lihat Bima Bel!"
"Emang kenapa,nggak biasanya?"
"Udah ah aku males bahasnya,aku mau pulang,kamu mau ikut aku apa langsung pulang?"
"Aku ikut kamu aja beb,masih jam segini ntar juga bingung mau ngapain di rumah."
"Ok ayo."
Bima mencoba mengejar Jia tapi sayang sudah terlambat karena Jia buru buru menancap gas motornya dan melaju sangat kencang.
"Ah shittt,kenapa jadi begini.Ini semua gara gara om itu,kalau saja om om itu tidak datang pasti kemarin sesudah balapan aku sudah nembak Jia dan sekarang pasti aku sudah jadian sama Jia." Umpat Bima meluapkan emosinya.
"Sudah bro,kalau kamu sayang sama Jia kamu harus bisa melepasnya.Biarkan dia bahagia dengan pilihannya,mungkin dia bukan jodohmu." Nino mencoba menenangkan sahabatnya yang sedang emosi.
"Nggak segampang itu No,Jia cinta pertamaku aku nggak bisa melepas dia begitu saja!" Seru Bima yang berlalu meninggalkan Nino yang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya berubah.
"Ini seperti bukan kamu Bim." Gumam Nino lalu berjalan menyusul Bima.
Di jalan Jia mengemudikan motornya dengan sangat kencang sampai Abel tertinggal jauh dan tidak bisa menyusulnya,hingga di perempatan jalan ada sebuah mobil yang juga melaju kencang dan karena hilang kendali mobil itu menyerempet motor Jia dan membuatnya jatuh dari motor,tapi untungnya Jia tidak mengalami luka serius hanya lecet lecet di beberapa bagian tubuhnya.
Mobil yang menyerempet Jia berhenti,nampak seorang wanita keluar dari mobil dan menghampiri Jia.
"Maaf aku nggak sengaja,aku antar ke rumah sakit ya."
"Nggak usah aku nggak apa apa." Saut Jia sambil menerima uluran tangan wanita yang sudah menabraknya.
"Jia....Kamu nggak apa apa kan? Abel panik melihat motor Jia yang tergeletak di pinggir jalan dan pecah bagian belakangnya,membuatnya langsung menghampiri dan memeriksa keadaan Jia.
"Aku nggak apa apa kok Bel,tenang aja."
"Hey kamu harus tanggung jawab karena udah nabrak temen aku." Seru Abel mengacungkan jari telunjuknya pada wanita yang sudah menabrak sahabatnya,saat ini jiwa bar bar Abel lagi keluar.Abel yang biasanya kalem sekarang bisa berubah sangar.
"Santai aja,aku nggak bakal lari dari tanggung jawab,aku sudah menawarkan pada temanmu ini untuk ke rumah sakit tapi dia tidak mau."
"Udah Bel aku nggak apa apa,ayo kita pulang."
"Tunggu beb,nggak bisa gitu dong kamu luka luka terus motor kamu juga rusak kita harus minta ganti rugi." Seru Abel tidak terima.
"Ok,karena teman kamu nggak mau aku antar ke rumah sakit,aku akan beri uang untuk periksa,tapi kalau untuk memperbaiki motor aku nggak bisa kasih sekarang karena aku nggak bawa cukup uang cash,berikan aku no rekeningmu biar aku transfer."
"Sudah nggak usah." Ucap Jia hendak berjalan menuju motornya.
"Ok aku terima uang ini,tapi untuk nomor rekening nanti aku hubungi,sekarang berikan nomor atau kartu namamu." Perintah Abel sambil menyaut uang dari tangan wanita itu.
Wanita itu tampak mengeluarkan kartu nama dari dalam dompetnya dan menyerahkan pada Abel. "Sialan baru kali ini aku di perintah sama anak kecil." Batinnya.
Abel menerima dan membaca kartu nama itu. "Mega Agata". "Ok tante aku terima ini,kamu jangan coba coba kabur ya!" Seru Abel sebelum pergi meninggalkan wanita itu dan menyusul Jia yang sudah duluan pergi.
"Hey enak saja manggil tante,aku belum tua tahu." Seru Mega yang akhirnya tidak bisa membendung emosinya lagi.Abel tidak menggubrisnya dan berlalu pergi dengan motornya.
Nara melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata rata.
Jia sudah mengobati lukanya di bantu bi Yanti dan juga Abel,dia tampak sesekali meringis saat lukanya di bersihkan dan di pasang perban.
"Bi jangan beri tahu kak Arga ya!"
"Tapi non,ini lukanya serius nanti kalau saya tidak memberi tahu, den Arga pasti akan marah sama bibi."
"Sekali ini aja bi,Jia nggak mau bikin kak Arga cemas,lagian ini cuma luka kecil nggak parah kok nanti pasti cepat sembuh." Jia memohon dengan muka memelas.Sebenarnya bukan itu alasan utamanya,tapi sebenarnya karena Jia takut kalau dia tidak di ijinkan untuk naik motor lagi.
"Baik non,bibi terserah non Jia saja." ujar bi Yanti pasrah dengan permintaan majikannya dan permisi untuk keluar karena sudah selesai membantu mengobati luka Jia.Abel menggelengkan kepalanya karena kelakuan Jia.
"Kenapa kamu nggak mau kak Arga tahu beb,nanti kak Arga cemas."
"Justru kalau aku kasih tahu,kak Arga pasti akan cemas dan kemungkinan terburuknya aku nggak boleh naik motor lagi.Kamu mau aku nggak ikut club motor lagi?"
"Ya nggak sih beb,terserah kamu.Lagian kalau nggak ada kamu pasti nggak seru,terus nanti siapa yang bakal ganti posisimu jadi ketua." Abel manggut manggut mencerna ucapan Jia.
"Huuahmhh..Ngantuk Bel aku mau tidur dulu."
"Iya beb kamu istirahat aja,aku tungguin kamu di sini.
"Huum." Tak butuh waktu lama Jia sudah tertidur.Karena perutnya terasa lapar Abel beranjak bangun dan pergi ke arah dapur.
Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.
Ting tong....
Ceklek
Abel membukakan pintu karena bi Yanti sedang sibuk memasak di dapur dan terkejutnya dia di hadapannya sekarang berdiri seorang pria dengan muka cemas plus panik,siapa lagi kalau bukan Nara.
"Wahduh gimana nih,aku mesti bilang apa." Batinnya bingung.
"Jia dimana?"
"Ehm,itu...anu..Jia baru..." Belum sempat Abel meneruskan ucapannya Nara menerobos masuk dan menuju kamar Jia.
"Ephm tuan Jia baru saja tidur,dia tadi pesan nggak boleh ada yang menganggunya tanpa terkecuali." Seru Abel yang sudah berada di depan pintu kamar Jia menghalangi Nara yang ingin masuk.
"Minggir,atau aku bisa bertindak kasar!"
"Maaf tuan tapi Jia tadi bilang seperti itu."
Nara menarik tangan Abel dengan agak kasar agar tidak menghalanginya. "Jia calon istriku,aku berhak tahu keadaanya!" Seru Nara sebelum masuk ke dalam kamar Jia,dan menatap tajam Abel.
"Hah apa maksudnya,apa jangan jangan tuan Nara tahu." Abel menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena takut kalau Nara tahu Jia baru saja tertabrak.
"Oh no.."
.
.
.
.
Bersambung.....