
"Ren segera siapkan keberangkatan kita ke Belanda sekarang!"
"Baik tuan."
Nara sudah mengetahui kemana Jia pergi,orang suruhannya berhasil mendapatkan informasi dari staff bandara segala sesuatu tentang kepemilikan pesawat pribadi keluarga Mahendra yang tak lain milik istrinya beserta jadwal penerbangan terakhir,yang ternyata sama persis dengan hilangnya Jia.Itu semakin menguatkan keyakinan Nara kalau istrinya pergi ke Belanda.
"Aku ikut..." Abel menahan tangan Reno yang hendak bersiap-siap.
"Kamu tunggu saja di rumah,aku akan mengabarimu kalau nona Jia sudah di temukan." Reno mengusap lembut punggung tangan Abel saat memberinya pengertian.
"Aku bisa membantu membujuk Jia kalau aku ikut.Apa kamu yakin kalau Jia akan mau menemui tuan Nara di saat dia masih emosi?" Pertanyaan Abel membuat Reno berpikir,dan memang ada benarnya juga.Di saat seorang wanita sedang kesal pasti sahabatnyalah yang bisa menenangkan dan membujuknya.
"Kamu boleh ikut Bel." Sahut Nara dari arah belakang,karena tanpa sepengetahuan mereka Nara tidak sengaja mendengarkan percakapan antara Abel dan Reno.Dan menurutnya benar nanti pasti dia akan membutuhkan bantuan Abel.
-----
"Sayang sebenarnya apa yang sudah terjadi,kenapa kamu tampak marah?" Aruna mencoba memegang tangan suaminya saat bertanya supaya tidak membuat Arga bertambah marah saat sudah berada di dalam mobil.
"Firasatku benar Run,Jia sedang ada masalah dengan Nara.Dan sekarang Jia kabur dari rumah,keberadaannya belum di ketahui sampai sekarang." Arga menatap istrinya mencoba untuk menahan rasa sedih dan cemasnya.
"Menangislah biar bebanmu sedikit berkurang sayang..." Aruna memeluk suaminya erat,dia tahu Arga yang tampak kuat dari luar, tapi dia rapuh bila itu sudah menyangkut adiknya.
" Runa,apa aku salah mengijinkan Jia menikah muda dengan Nara?" Ucap Arga dengan terisak,dia sudah tidak bisa menahan air matanya untuk tidak keluar.Dia merasa gagal menjaga adiknya,dia merasa bersalah karena sudah menikahkan Jia yang seharusnya masih menikmati masa mudanya.
"Kamu tidak salah Ga,pertengakaran dalam pernikahan itu sudah biasa.Mungkin di antara Jia dan Nara sudah terjadi kesalahpahaman dan karena pernikahan mereka masih baru membuat mereka belum bisa menyelesaikan suatu masalah dengan bersikap dewasa dan lebih mementingkan ego masing-masing."
-----
Tok...tok...
"Permisi nona Jia....nona apa anda ada di dalam?" Nyonya Mery mencoba memanggil Jia berulang kali tapi tidak ada sahutan dari Jia hingga membuatnya penasaran untuk masuk ke dalam karena pintunya sedikit terbuka dan pasti Jia ada di rumah pikir nyonya Mery.
Samar-samar nyonya Mery mendengar suara rintihan dari dalam,dengan langkah di percepat tapi tetap hati-hati karena tidak mau sup yang dia bawa untuk Jia tumpah nyonya Mery mencari sumber suara yang membuatnya semakin penasaran.
"Aww.....Nara....perutku sakit." Jia merintih memegangi perutnya yang terasa sakit karena kram.
"Nona Jia,anda kenapa?" Nyonya Mery segera mendekati Jia yang tergeletak di bawah karpet di depan tungku perapian.Dia memeriksa keadaan Jia memegang dahinya.
"Nona anda kenapa?" Tanyanya lagi karena Jia masih merintih kesakitan.
"Pe...rut saya sa...kit nyonya,kra...ammm" Ucap Jia terbata karena menahan sakit.Dengan sigap nyonya Mery memapah tubuh Jia untuk berbaring di sofa,dan mengambilkan air hangat untuk Jia.
"Minumlah ini dulu nona." Dengan hati-hati nyonya Mery membantu Jia minum.
Nyonya Mery melihat ke sekeliling ruangan,matanya berhenti saat melihat apa yang dia cari yaitu kotak p3k lalu segera mengambilnya.
"Nona usapkan ini di perutmu biar terasa hangat." Nyonya Mery menyodorkan minyak angin pada Jia.
"Saya sedang hamil nyonya,saya tidak bisa memakai itu."
"Oh benarkah? Maaf kalau begitu nona saya tidak tahu."
"Tidak apa-apa nyonya." Jia sedikit tersenyum menahan rasa sakitnya karena tak enak melihat nyonya Mery merasa bersalah.
"Terimakasih nyonya." Ucap Jia memperhatikan nyonya Mery yang sangat perhatian padanya.Jia merasa melihat ibunya lagi.
"Kenapa anda menangis nona?" Tanya nyonya Mery mengerutkan keningnya karena melihat Jia yang tiba-tiba menangis.
"Maaf nyonya,saya teringat dengan ibu saya karena perhatian anda pada saya.Ibu dan Ayah saya sudah meninggal saat saya masih kecil dan sejak saat itu saya hanya tinggal dengan kakak saya." Jia yang terbawa suasana tanpa sadar menceritakan kisah hidupnya pada nyonya Mery.
"Kalau begitu mulai sekarang anggaplah saya seperti ibumu sendiri nona." Ucap nyonya Mery memberi kecupan hangat di kening Jia layaknya seorang ibu hingga membuat Jia terharu dan kembali menangis dengan memeluk nyonya Mery.
Mery sendiripun tidak tahu dengan sikapnya terhadap Jia,dari awal melihat Jia, dia sudah merasa tertarik dengannya.Apalagi mengingat dia pernah kehilangan anak perempuannya dulu karena suatu penyakit dan mungkin jika masih hidup usia anaknya akan sama seumuran dengan Jia.
"Apa sudah enakan" Tanya nyonya Mery setelah melepas pelukannya dan mengganti kompresan di perut Jia.
"Iya mom...." Ucap Jia tersenyum,seakan meminta persetujuan nyonya Mery dengan memanggilnya mommy dan di balas anggukkan kecil juga senyuman dari nyonya Mery.
"Oh ya tadi mommy membawakan sup untukmu,apa kamu mau mommy suapin?"
"Mau mom...." Jawab Jia dengan cepat.
"Oh iya sayang,sebaiknya kamu menghubungi suamimu suruh dia cepat pulang." Jia mengernyitkan dahinya karena pertanyaan Mery.
"Suami yang mana mom?"
"Loh yang tadi datang bersamamu?"
"Oh...dia bukan suamiku mom,dia hanya teman." Ucap Jia saat sudah paham kalau nyonya Mery mengira Justin suaminya.
"Lalu suamimu dimana? Kenapa dia tidak ikut kesini." Pertanyaan nyonya Mery kembali membuat Jia sedih karena harus mengingat lagi kejadian dimana dia bertengkar dengan Nara.
"Apakah kalian sedang ada masalah?" Tanya Nyonya Mery menebak karena Jia tidak segera menjawab pertanyaanya.Dan diamnya Jia membuatnya yakin kalau sedang ada masalah di antara Jia dengan suaminya.
Nyonya Mery mengusap rambut Jia perlahan. " Sayang pertengkaran dalam rumah tangga itu wajar,kalian harus bisa menyelesaikannya dengan kepala dingin.Dan kabur bukan jalan yang terbaik,entah siapa yang salah.Kalian harus memberi kesempatan untuk saling menjelaskan apalagi sekarang ada buah cinta kalian."
Perkataan nyonya Mery membuat Jia diam termangu meresapi setiap kata yang dia dengar.
"Apa kamu mencintainya?" Tanya nyonya Mery lagi dan membuat Jia mendongakan kepala dan reflek menganggukkan kepalanya.
"Dengarkan penjelasannya dan beri kesempatan dia lagi,jangan sampai nanti kamu menyesal."
Jia tersentak mendengar kalimat nyonya Mery yang terakhir,seolah takut dengan kata menyesal bila nanti menimpanya.
"Tapi saat ini aku ingin sendiri dulu mom..." Ucap Jia menatap ke sembarang arah.
"Iya kamu boleh menenangkan diri,tapi jangan terlalu lama.Dia butuh kasih sayang dari kedua orang tuanya walaupun masih dalam kandungan." Ujar nyonya Mery sambil mengusap perut Jia.
.
.
.
Bersambung