NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Awas Kamu



"Ren,kita ke rumah Abel saja dan kamu suruh orang untuk mengecek keberadaan Jia di vilanya yang ada di Bandung dan juga di Bali." Nara tidak ingin pulang sebelum menemukan Jia dia memutuskan untuk ke rumah Abel dulu mungkin Jia ada di sana mengingat cuma Abel sahabat Jia yang Nara kenal.


"Baik tuan." Reno segera menghidupkan mobilnya menuju rumah kekasihnya setelah selesai menghubungi orang kepercayaannya untuk melakukan tugas yang di berikan bosnya.


-----


"Hah aku merindukan rumahku...." Gumam Justin yang sudah berada di pesawat.Tiga jam yang lalu Justin berangkat dari bandara menuju rumahnya yang berada di Belanda.Hari ini dia memutuskan untuk pulang karena merasa urusannya sudah selesai.Seharusnya dia sudah kembali beberapa hari yang lalu,tapi karena rasa penasarannya pada seorang gadis yang sudah mencuri perhatiaannya Justin mencoba mencari tahu tentangnya tapi naasnya dia harus menelan kenyataan pahit kalau ternyata gadis itu sudah menjadi milik orang lain.


Justin memutuskan untuk mengubur rasa di hatinya sebelum dia merasakan sakit terlalu dalam,aneh memang kalau Justin merasakan sakit karena dia saja belum mengenalnya tapi entahlah itu yang di rasakan Justin.Mungkin karena ini adalah pertama kalinya dia merasakan jatuh cinta.


"Huft....kenapa wajah itu selalu terbayang di pikiranku." Justin menghembuskan nafasnya kasar mencoba memejamkan matanya tapi lagi-lagi wajah wanita itu menganggu pikirannya.


------


"Hah....apa Jia pergi dari rumah?? Kenapa bisa,apa yang sudah terjadi?" Abel bersuara dengan nada tinggi menatap kedua pria yang duduk di hadapannya meminta jawaban.


"Ceritanya panjang,kamu beri tahu saja Bel kalau mengetahui keberadaan Jia." Ucap Nara dengan wajah serius.


"Pasti sudah terjadi sesuatu yang menyakiti hatinya sampai Jia memutuskan untuk pergi.Tuan Nara apa yang sudah anda lakukan pada Jia? Jia nggak akan pergi kalau tidak ada masalah yang besar,anda pasti sudah menyakitinya,kenapa anda menyakiti Jia bukannya anda sudah berjanji untuk menjaganya!"


"Abel....!"Seru Reno mencoba menyela ucapan Abel yang terus memojokkan Nara,mata Abel berkaca-kaca mendengar Reno sedikit membentaknya.


"Ikut aku!" Reno hendak menarik tangan Abel mengajaknya menjauh dari Nara untuk bicara berdua tapi Abel segera meghempas kasar tangan Reno.


"Aku tidak mau kemana-mana kalau mau bicara disini saja!" Seru Abel mencoba menahan air matanya yang hampir jatuh.


"Baiklah,tapi kamu harus janji jangan menyalahkan tuan Nara.Ini semua hanya salah paham." Ucap Reno mengalah akhirnya dan mulai menceritakan sedikit kronologi kejadian di rumah sakit tadi.


"Huft Jia....kamu dimana sekarang?" Gumam Abel yang sudah tidak bisa menahan air matanya untuk tidak keluar.Dia bisa merasakan bagaimana perasaan Jia sekarang karena perlakuan Nara.


Abel mengusap air matanya dan menghela nafas panjang sebelum menyampaikan sesuatu pada Nara. "Tuan Nara temukan Jia secepatnya atau anda akan menyesal akan kehilangan dua orang sekaligus." Ucap Abel dengan suara berat.


"Apa maksudmu Abel?" Nara mengerutkan dahinya bingung dengan perkataan Abel begitu juga dengan Reno.


"Asal anda tahu Jia sekarang sedang hamil."


"Apa? Jia hamil? Kamu tidak sedang bercanda kan Abel?" Nara terkejut bukan main mendengar ucapan Abel.Ada rasa bahagia mendengar kabar itu tapi Nara juga sekaligus merasakan luka yang bertambah berkali-kali lipat karena merasa gagal menjaga orang yang sangat dia sayangi.


"Apa pantas aku bercanda di saat seperti ini?Tadi Jia mengabari aku,kalau dia habis periksa dan dokter menyatakan kalau dia hamil.Dia sangat bahagia dan bilang ingin segera memberi kejutan berita bahagia ini pada anda,tapi nyatanya andalah yang sudah memberi kejutan pada Jia terlebih dulu." Abel tersenyum getir setelah menyelesaikan ucapannya.


"Arghhh.... bodohnya aku!!!!" Seru Nara frustasi mengacak-acak rambutnya.


"Tuan anda tenang dulu,sekarang kita harus secepatnya mencari nona Jia.Mungkin nona Jia masih di kota ini." Reno menyentuh pundak Nara untuk memberi dukungan.


"Bagaimana aku bisa tenang Ren,setelah semua yang sudah terjadi karena kebodohanku.Aku nggak mau kehilangan Jia Ren!"


"Bel apa kamu tidak tahu tempat yang mungkin di kunjungi nona Jia,atau nona Jia punya sahabat dekat selain kamu?" Reno menatap Abel penuh tanya,tapi Abel menggelengkan kepala sebagai jawaban.Karena memang sahabat Jia hanya dirinya,dan selama ini Jia dan dirinya tidak pernah punya tempat yang spesial jadi Abelpun buntu tidak tahu kemungkinan Jia berada sekarang.


"Baik tuan."


"Aku ikut,aku tahu rumah Bima jadi lebih cepat untuk kita kesana." Jia menatap penuh harap pada Nara yang hanya meliriknya.


"Baiklah." Ucap Reno yang sudah mendapat persetujuan bosnya.


------


"Awww,kenapa tiba-tiba perutku sakit." Jia meringis menahan kram di perutnya dan mencoba mengusapnya perlahan untuk mengurangi rasa sakit yang dia rasakan.


"Non Jia,apa anda baik-baik saja?" Tegur paman Leo yang kini sudah berdiri di samping Jia,karena sebenarnya sudah dari tadi paman Leo memperhatikan Jia yang merasa kesakitan.


"Ehm...tidak apa-apa paman,perutku hanya sedikit kram saja." Ucap Jia sedikit tersenyum mencoba menahan rasa sakitnya.


"Ehm....paman Leo bisa tolong saya untuk ke kamar, saya ingin berbaring." Ucap Jia ragu-ragu untuk meminta tolong pada pria sahabat papanya itu.


"Iya tentu saja,ayo paman bantu." Paman Leo mengulurkan tangannya untuk memapah Jia berjalan ke kamar.


"Terima kasih paman." Ucap Jia setelah sampai di sebuah kamar di pesawat pribadinya.


"Iya nona,apa masih ada yang paman bisa bantu?" Tanya paman Leo yang masih berdiri di depan Jia.Dia memang sudah menganggap Jia seperti anaknya sendiri mengingat persahabatannya dengan kedua orang tua Jia selama hidup mereka yang sangat baik terhadapnya membuatnya akan berusaha selalu menjaga Jia dan Arga.


Leo tahu kalau saat ini Jia sedang tidak baik-baik saja,apalagi melihat Jia pergi sendiri dari negaranya padahal setahunya dari Arga Jia sudah menikah di tambah Jia berpesan untuk tidak memberi tahu siapapun tentang kepergiannya kali ini.Sebenarnya dia ingin bertanya tapi melihat Jia seperti kurang sehat Leo mencoba menahan rasa penasarannya.


"Tidak ada paman,nanti kalau Jia butuh apa-apa Jia pasti bilang." Ucap Jia dengan wajah menahan sakit mencoba sebisa mungkin untuk terlihat baik-baik saja,karena Jia tidak mau membuat paman Leo khawatir yang ujung-ujungnya akan memberi tahu Arga dan itu bisa mengacaukan rencananya.


Bukannya Jia tidak mau mengabari kakaknya tapi untuk saat ini Jia hanya ingin sendiri dan kalau sampai kakaknya tahu tentang masalahnya ini sudah di pastikan seberapa besar marahnya Arga pada Nara.Jia tidak ingin itu terjadi.Walaupun dia sendiri tidak yakin apakan nanti akan bisa kembali pada suaminya atau tidak.


"Ehm...paman Jia minta mulai sekarang paman manggil Jia nggak usah pakai kata nona.Paman kan sudah bilang sendiri kalau paman anggap Jia sebagai anak sendiri." Imbuh Jia sebelum Leo melangkahkan kakinya keluar.


"Baiklah,kalau begitu paman keluar dulu,kalau butuh apa-apa kamu bisa panggil paman." Leo tersenyum mendengar permintaan Jia,lalu beranjak keluar setelah mengusap kepala gadis yang sudah dia anggap anaknya sendiri itu.


------


"Aku tidak tahu Jia pergi kemana,tapi walaupun aku tahu aku tidak akan memberi tahumu!!!!" Seru Bima dengan suara meninggi dan senyum mengejek Nara.


"Awas kamu bocah tengik!!!" Sahut Nara geram melepaskan krah baju Bima yang dia cengkeram karena perdebatannya tadi.


.


.


.


Kakak-kakak readers yang baik,,jangan lupa kasih dukunganya lIke rate dan votenya.