NARA'S LOVE FOR JIA

NARA'S LOVE FOR JIA
Tunggu Aku Sayang



Jia baru saja selesai di rias,dia sedang duduk di depan cermin.Entah apa yang Jia rasakan sekarang,seharusnya dia bahagia tapi Jia tidak tahu harus bagaimana menyikapi situasi saat ini.


Bayangan tentang pernikahan yang dia impikan bukanlah seperti ini.Dia bahagia bisa menikah dengan lelaki yang dia cintai,tapi tidak pernah terbayangkan olehnya kalau acara pernikahannya seperti ini.


Huuuuuh


Jia menghela nafas panjang. " Aku harus bahagia ini sudah keputusan kak Arga,berarti ini yang terbaik untukku." Gumam Jia sambil memejamkan matanya.


"Beb kamu sudah siap?" Suara Abel mengagetkan Jia,hingga membuat Jia membuka matanya dan menoleh pada sahabatnya yang sudah datang sejam yang lalu bersama Reno.


"Iya beb,sudah." Jawab Jia dengan tersenyum tipis.


"Kenapa muka kamu seperti tidak bahagia Jia?" Tanya Abel yang tahu kalau sahabatnya memendam sesuatu.


" Kelihatan ya beb? Bukannya tidak bahagia Bel, tapi hanya bingung saja.Sampai sekarang aku tidak tahu alasan kak Arga nikahin aku secara mendadak seperti ini,dan sampai sekarang kakak nggak nemuin aku,itu yang membuat aku kepikiran." Jia mencurahkan isi hatinya pada sahabatnya walaupun tidak bisa menjawab kegelisahannya tapi paling tidak dia bisa lega.


Abel mendekati Jia dan memeluknya. "Kamu nggak usah cemas Jia,apapun keputusan kak Arga pasti itu yang terbaik buat kamu,kak Arga nggak mungkin ngelakuin ini semua kalau nggak ada alasannya beb,jadi kamu percaya saja sama kak Arga ya." Abel menepuk bahu Jia perlahan untuk memberi semangat.


"Iya beb.." Jia mengangguk dan mengusap ujung matanya yang sudah basah.


"Kalau begitu kita turun sekarang,semua sudah nunggu,apalagi calon suami kamu kelihatan udah nggak sabar." Bisik Abel menggoda Jia,hingga membuat pipi Jia memerah.


---


Di ruang tamu yang sudah di tata untuk acara di mulai tampak Nara sedang menghafalkan kata-kata untuk ijab qobul,terlihat di wajahnya kalau dia sedang gugup.


Sudah terlihat juga Arga yang berbincang dengan papa Wira.Aldo dan Reno yang ada di samping Nara,yang bukannya memberi semangat malah terus-terusan menggoda Nara.Penghulu dan beberapa tokoh desa juga sudah hadir untuk menjadi saksi,sedangkan mama Ajeng membantu bi Elis menata makanan.


"Nara jangan sampai ngulang ya,harus satu kali nafas lo kalau sampai salah malu-maluin tahu!" Ucap Aldo tersenyum menyeringai.


"Iya nggak mungkinlah salah." Sahut Nara yakin.


"Iya lo bos jangan sampai ngulang, semangat!" Reno mengangkat tangannya yang mengepal memberi semangat pada Nara.


Saat mendengar langkah kaki dari tangga yang tak lain langkah kaki dari Jia dan Abel semua mata tertuju pada mereka.Terutama Nara,dia tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Jia yang terlihat sangat cantik memakai kebaya berwarna putih dan memakai sanggul yang semakin membuatnya terlihat anggun.


Jia duduk di sebelah Nara,jantungnya berdebar -debar saat kakaknya sudah menjabat tangan Nara untuk melakukan ijab qobul.Jia seakan tidak bisa bernafas matanya tidak berkedip hingga akhirnya terdengar kata yang membuat semua orang di situ lega.


Sah.....


Sah.....


Terlihat air mata menetes di pipi Jia,air mata kebahagiaan.Dia tidak menyangka sekarang dia sudah menjadi seorang istri.


Jia mencium tangan Nara,dan Narapun mencium kening Jia.Semua orang tampak bahagia melihat acaranya berjalan lancar.


Jia dan Nara bergantian meminta restu pada mama Ajeng,papa Wira dan juga pada Arga.


"Kak..." Gumam Jia lirih yang kini air matanya sudah mengalir deras tak tertahankan.


Arga memandang Jia pilu,dia langsung memeluk adik semata wayangya itu yang kini sudah sah menjadi istri orang lain.


"Pa,ma tugas Arga sudah selesai kan.Sekarang Jia sudah menikah.Maafin Arga yang tidak bisa menjaga Jia dengan baik hingga pernikahannya harus seperti ini." Batin Arga yang kini matanya juga sudah terlihat basah.


"Kakak masih hutang penjelasan sama Jia." Bisik Jia saat akan melepaskan pelukannya.


Arga tidak menjawab ucapan Jia,dia berganti memeluk Nara. " Jaga adikku Nara,jangan kamu buat Jia menangis atau aku akan mengambilnya lagi.


"Pasti Ga,kamu nggak usah khawatir."


"Dan juga jaga calon ponakanku dengan baik,walau sebenarnya aku kecewa dengan kalian tapi ya sudahlah semua sudah terjadi." Bisik Arga di sela pelukannya.


"Maksud kamu Ga?" Tanya Nara yang bingung dengan perkataan Arga.


Arga tidak menjawab,dia melepaskan pelukannya dan bergantian menyalami penghulu dan para tokoh desa yang dia undang.


"Sayang mama senang akhirnya kamu nikah sama Nara,walaupun dalam keadaan seperti ini tapi tidak mengurangi kebahagiaan papa sama mama,ya kan pa?" Tanya mama Ajeng pada suaminya yang juga terlihat bahagia.


"Iya sayang,kamu jaga calon cucu papa ya!" Imbuh papa Wira.


Jia memandang Nara bingung,Narapun juga terlihat bingung karena hanya mereka saja yang tidak tahu alasan mengapa mereka di nikahkan secara mendadak.


Jia yang bingung hanya tersenyum membalas ucapan papa Wira.


"Beb selamat ya..." Abel memeluk bahagia sahabatnya.


"Aku nggak nyangka kamu yang duluan nikah beb,padahal kan yang dulu pengen nikah muda aku tapi sekarang malah kamu duluan." Gumam Abel.


"Iya Bel makasih ya.Kalau kamu mau sekarang aja sekalian mumpung penghulunya masih disini,ya nggak tuan Reno." Ucap Jia melirik Reno.


"Iya sana Ren,sekalian aja nanti kita bisa bulan madu bareng,gimana?" Ucap Nara sambil menggerakkan alisnya melirik Reno.


"Ah saya sih mau-mau aja,tinggal Abelnya mau apa nggak." Reno melirik Abel yang kini melototkan matanya pada Reno dan membuat Reno tertawa begitu juga Jia dan Nara.


Di sela tawanya Nara membisikkan sesuatu pada Jia yang membuat muka Jia memerah.


"Siap-siap nanti ya sayang,aku nggak akan lepasin kamu..." Bisik Nara pelan.


"Apaan sih kamu...?" Balas Jia sambil mencubit pinggang Nara.


"Nggak mau..." Jawab Jia sambil berlalu menghampiri kakaknya yang sedang duduk sendiri di taman.


"Selamat ya Nara,mulai sekarang Jia jadi tanggung jawabmu.Jia sudah seperti adikku sendiri tolong kamu jaga dia dengan baik ya dan juga jaga calon ponakanku" Ucap Aldo menepuk bahu Nara.


Nara semakin bingung dengan semua orang yang memberinya selamat. "Kenapa semua orang jadi aneh. dan mengatakan hal yang sama." Batin Nara mengerutkan keningnya.


-----


"Kak..." Sapa Jia dan duduk di sebelah kakaknya.


"Iya sayang ada apa?" Jawab Aldo dengan mengusap kedua ujung matanya yang basah.


"Kenapa kakak menangis, Jia merasa kakak tidak bahagia dengan pernikahan Jia.Kakak kenapa? Bukannya kakak yang memaksa Jia untuk menikah tapi kenapa kakak yang terlihat sedih dan kecewa?" Tanya Jia yang bisa melihat kesedihan di wajah kakaknya.


"Iya Ga,sebenarnya ada apa? Apa alasanmu menikahkan kami secara mendadak seperti ini dan tanpa meminta persetujuan kami dulu." Nara sudah duduk di depan Arga menunggu jawabannya.


"Kenapa kalian malah bertanya padaku,seharusnya kalian tahu kenapa aku menikahkan kalian secepat ini." Gumam Arga lirih tanpa menatap mereka,pandangannya lurus ke kolam ikan yang ada di depannya.


"Aku nggak tahu maksudmu Ga? Sebenarnya apa yang terjadi,tolong katakan! Walaupun sebenarnya aku senang dengan keputusanmu tapi aku harus tahu apa alasanmu Ga!"


"Sayang kamu kok disini,ayo masuk ganti baju,mama bantu lepas sanggul kamu dan bersih-bersih.Kamu nggak boleh kecapekan sayang,itu nggak baik buat kamu dan juga cucu mama." Ucap mama Ajeng dengan tersenyum menghampiri Jia yang semakin bingung dengan ucapan mertuanya.


"Tunggu ma,dari tadi mama bilang cucu? Sebenarnya apa sih yang terjadi Jia bingung ma,kakak tolong jelasin ke Jia kasih tahu alasan kakak nikahin Jia mendadak seperti ini." Tanya Jia yang sudah tidak bisa menahan pertanyaan yang dari tadi mengganggunya.


"Huhhh...Ok kakak akan jelasin kenapa kakak menyuruh kalian secepat ini.Karena kakak nggak mau perut kamu semakin besar Jia."


"Besar? Emang kenapa kalau perutku besar?" Jia belum tahu maksud dari ucapan kakaknya.


"Kamu pikir Jia hamil Ga?" Seru Nara yang sudah tahu maksud dari ucapan Arga.


Mulut Jia menganga mendengar ucapan Nara.Dia berganti menatap kakaknya tak percaya kalau kakaknya berpikiran seperti itu.


"Loh memang benar kan kalau sekarang Jia hamil,tadi pagi Jia muntah-muntah terus makan mangga muda dan Jia juga mual saat mencium bau makanan yang notabene makanan kesukaannya." Ucap Arga.


Jia seakan tak percaya dengan kata-kata yang baru saja di ucapkan kakaknya,dia syok karena telah di tuduh hamil.


"Kakak...tapi Jia nggak hamil." Gumam Jia lirih kecewa karena tuduhan Arga.


Kini giliran Arga yang kaget mendengar pernyataan Jia.


"Iya Ga,Jia nggak hamil tadi dia masuk angin.Lagipula aku belum melakukan itu Ga,aku masih tahu batasanku." Imbuh Nara.


Arga memandang adiknya dan juga Nara secara bergantian lalu tersenyum.


"Berarti kakak salah ya,sudah menuduh kalian yang nggak-nggak." Ucap Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tanpa rasa bersalah.


"Kakakkkkkk.....!" Seru Jia kesal dan berulang kali memukul lengan kakaknya.


"Ampun sayang maafin kakak.Kakak nggak tahu."


"Gara-gara kakak aku jadi melepas masa lajangku seperti ini!" Gerutu Jia kesal.


"Ya ampun Ga..Ga..." Gumam Nara dengan menggelengkan kepalanya.


"Tapi bukannya kalian senang,jadi kalian bebas mau ngapai aja kan sudah halal." Seru Arga.


"Jadi mama nggak jadi punya cucu dong."


"Bukannya nggak jadi ma,tapi belum.Sekarang tinggal minta mereka bikin aja ma." Sahut Arga sambil beranjak dari duduknya karena ingin menghindar dari amukan Jia.


"Kakakkkk apaan sih!" Seru Jia lagi yang mukanya sudah merah.


"Ah,mama kecewa nih." Gumam mama Ajeng mengikuti Arga masuk ke dalam.


Tinggallah Jia dan Nara yang saling pandang.Entah Jia mau bicara apa,rasanya dia kesal,malu,tapi ada bahagianya.Mereka memikirkan hal yang sama dan akhirnya tertawa mengingat kejadian yang mereka alami.


"Jadi gimana nih?"


"Gimana apanya?"


"Ya itu...permintaan mama,mau di turutin sekarang?" Bisik Nara yang sudah tidak sabar.


"ARghhhh....nggak mau..." Seru Jia dan berlari masuk ke dalam karena malu dengan ucapan Nara.Nara tersenyum melihat reaksi Jia.


"Aku nggak akan lepasin kamu sayang,terima kasih Ga." Batin Nara tersenyum lebar sebelum dia pergi menyusul istrinya.


"Tunggu aku sayang..."


.


.


.


Bersambung...