
Setelah selesai makan malam Nara dan keluarganya pamit untuk pulang.Saat berada di dalam mobil,mama Ajeng masih tampak memikirkan sesuatu.
"Mama kenapa?'' Tanya papa Wira yang sedari tadi memperhatikan istrinya yang melamun.
"Mama kepikiran Kinanti sahabat kita pah,mama merasa Jia sangat mirip dengan Kinanti apalagi saat memakai kebaya tadi.Kebaya tadi mirip punya kinanti pa,mama ingat betul karena kebaya itu sangat mirip dengan kebaya yang dipakai kinanti saat wisuda dulu." Mama Ajeng mengingat kenangannya bersama sahabatnya saat sekolah dulu.
Nara yang duduk di depan bersama Reno mendengar percakapan orang tuanya. "Kalau mama penasaran besok tanya saja sama Jia." Saut Nara yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Benar kata Nara ma,besok tanya saja sama Jia." Ucap papa Wira mencoba menenangkan istrinya.
"Kalau benar Jia dan Arga anak Kinan dan Galih berarti ini memang sudah takdir pah." Nara tampak menoleh ke mama Ajeng.
"Maksud mama apa ?" Nara jadi penasaran karena sudah menyangkut Jia.
"Asal kamu tahu Nara dulu mama janjian sama sahabat mama yang bernama Kinanti kalau nanti punya anak mau di jodohin,dan kalau benar Jia anak dari teman mama berarti kalian memang berjodoh sayang."
"Ah mama jaman sekarang masih di jodoh jodohin.Tapi karena jodohinnya sama Jia,Nara nggak nolak ma." Saut Nara tersenyum.
"Aku harus kasih kabar sama Abel nih,kalau nggak dia pasti nanti marah marah." Gumam Jia sambil mengotak atik ponselnya menghubungi Abel.
Tut..tut....
"Kenapa nggak di angkat Abel kemana sih?Beb besok aku mau tunangan sama Nara,kamu datang ya nyusul kesini!" Karena beberapa kali mencoba menelfon Abel tapi tidak di angkat Jia kemudian mengirim pesan pada sahabatnya itu,Karena dia ingin di hari pentingnya Abel datang menemaninya.Dan karena Jia sudah sangat mengantuk tidak beberapa lama dia tertidur.
Nara yang berada dikamarnya sedang marah marah nggak jelas karena pesannya tidak di balas oleh Jia.
"Dia lagi ngapain sih,kenapa pesanku nggak dibalas balas." Gumam Nara yang dari tadi memandangi ponselnya menunggu balasan Jia.Karena terlalu lama menunggu akhirnya Nara tertidur karena tidak bisa menahan rasa kantuknya.
Mentari pagi menerobos masuk ke dalam sela sela jendela kamar Jia,sinarnya yang terang menyilaukan matanya hingga membuat Jia terbangun.
"Woahh, ehm masih ngantuk nih." Jia menguap menahan kantuk dan terbangun karena panggilan dari bi Murni.
"Masuk aja bi." Jia menyauti panggilan bi Murni dengan mata masih terpejam dan tidak melihat siapa yang sudah ada di kamarnya sekarang.
Cup
Sebuah ciuman mendarat dibibir Jia dan membuat matanya lansung terbuka lebar karena kaget.Namun dia tidak bisa berbuat apa apa karena tangannya di pegang erat dan bibirnya tidak bisa menolak ciuman itu.Sampai dia hampir kehabisan nafas,barulah ciuman itu bisa lepas.
Jia bangun dari tidurnya dan langsung memukul dada cowok yang sekarang ada di depannya dengan kesal.
"Apa apaan sih kamu,kamu gila Nara." Ucap Jia terengah engah menahan kesal.Tanpa rasa bersalah Nara malah memberi kecupan lagi dibibir Jia, dan membaringkan tubuhnya sembarangan diranjang Jia.
"Baby,kita langsung nikah aja yuk ! Seru Nara alih alih menjawab pertanyaan Jia yang sudah kesal tapi malah mengajak Jia untuk menikah.
" Kamu tuh ya,nggak tahu kalau aku lagi kesal sama kamu malah ngomongnya ngaco." Saut Jia sambil memukul lengan Nara yang masih berbaring.Seketika itu juga Nara menarik tangan Jia dan membuat Jia jatuh dalam pelukannya,hingga membuat jantung Jia berdegup kencang karena pagi pagi sudah mendapatkan syok terapy dari Nara.
"Aku nggak bisa lama lama jauh dari kamu sayang,apalagi kalau harus menunggu kabar dari kamu.Kenapa semalam kamu nggak angkat telfonku dan nggak balas pesanku?" Tanya Nara yang menatap lekat wajah Jia yang berada tepat di depannya.Jia yang masih berada di posisi yang sama,mencoba meraih ponsel di tepi ranjangnya.Dia terkejut melihat begitu banyak panggilan dan pesan yang masuk dari Nara.Dan akhirnya dia tahu alasan kenapa Nara ngomong ngaco.
"Apa aku sebegitu ngangenin ya." Jia malah tersenyum menggoda Nara dan bangkit dari tidurnya.
" Kamu mau main main sama aku ya." Saut Nara sambil mengelitik Jia.
"No,,ampun...lepasin..ampun sayang."Jia berteriak keceplosan memanggil Nara dengan sebutan sayang dan justru berhasil membuat Nara menghentikan aksinya.
"Tadi kamu panggil apa? Coba sekali lagi,aku nggak dengar."
"Yang tadi!" Saut Nara menegaskan.Karena kesal merasa dikerjain ,Nara menggelitik Jia lagi tanpa ampun dan sampai dia menyerah.
"Iya...iya ampun..iya sayang ampun." Jia merengek sambil menahan geli.Akhirnya Nara berhenti karena kata yang ingin dia dengar sudah Jia ucapkan.
"Mulai sekarang kamu harus panggil aku sayang ok,nggak ada bantahan!" Perintah Nara dengan paksa.Jia hanya bisa mengangguk pasrah karena sudah tidak punya tenaga lagi.
"Permisi nona,sarapannya sudah siap." Suara bi Murni mengagetkan Jia dan Nara dan membuat Nara bangun dari tidurnya.
" Ehm,iya bi tolong bilang sama kak Arga Jia mandi dulu.
"Tuan Arga tadi pagi pergi karena ada urusan non.Non Jia disuruh sarapan sendiri."
" Oh ya sudah bi terimakasih.
"Iya non,kalau begitu bibi permisi." Ucap bi Murni yang canggung karena sudah mengganggu nona mudanya dan calon tunangannya.
"Iya bi."
"Kamu tunggu di luar ya,aku mau mandi dulu habis itu kita sarapan bareng." Ucap Jia beranjak berdiri menuju kamar mandi.
"Nggak mau aku tunggu disini saja." Seru Nara sambil melipat tangannya diatas perut.
"Huh kamu tuh ya dibilangin ngeyel.Sayangku Nara yang paling ganteng kamu tunggu diluar ya please!" Jia mengatupkan tangannya dan mencoba merayu Nara.
Nara tersenyum melihat tingkah Jia yang menggemaskan.Dia memegang kedua pipi Jia dan kemudian berlalu keluar dari kamar Jia.
Setelah selesai mandi dan merias wajah sedikit Jia keluar kamar dan menuju ruang makan,tapi disana dia tidak menemukan keberadaan Nara.
Tring..
Ada pesan masuk dari Nara.
Crazy people:
"Baby maaf aku nggak bisa nemenin kamu karena ada urusan mendadak,kamu sarapan sendiri dulu ya.Nanti siang biar kamu di jemput sama supirku ke hotel,kita ketemu nanti malah sayang.See you tonight my future fiancee."
Jia:
"See you tonight too my dear."
Jia tersenyum membaca pesan dari Nara,dia tidak menyangka akan secepat ini bertemu dengan jodohnya.Dia berharap tidak salah dalam mengambil keputusan untuk bertunangan dengan Nara.
Begitu juga Nara yang senyum senyum sendiri membaca pesan dari Jia.Reno hanya tersenyum tanpa suara melihat tingkah konyol bosnya.
" Ren,apa kamu sudah menghubunginya." Tanya Nara.
"Sudah tuan,sekarang dia dalam perjalanan, nanti sebelum makan siang dia sudah sampai." Jawab Reno.
"Ok bagus."
To be continued.