
"Kalian ini mandi apa ngapain sih,lama banget." Celetuk Arga sedikit kesal karena sudah satu jaman dia menunggu Jia dan Nara turun ke bawah.
"Ah kamu Ga,kaya nggak tahu saja pengantin baru..." Balas Nara tersenyum mengejek Arga dan langsung pinggangnya menjadi sasaran cubitan Jia.
"Awwwww....sayang sakit tahu." Rintih Nara memegangi pinggangnya.
"Syukurin,habisnya kamu usil." Jia melototkan matanya tapi malah membuat Nara tersenyum terkekeh.
"Maaf kak tadi tuh Nara mandinya lama." Jawab Jia bohong.
"Sudah...sudah ayo makan."Sela Aruna menengahi mereka.
"Ehm....masakan kak Runa memang top deh." Gumam Jia setelah menghabiskan makanannya.
"Ah kamu bisa saja sayang." Balas Runa tersenyum.
"Beneran kak, ya kan kak?" Jia melirik Arga yang masih menikmati makanan di piringnya yang hanya tinggal beberapa sendok.
Arga hanya menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan adiknya,tanpa melihat ke arahnya.Arga memang seperti itu,dia memang dingin pada makhluk yang namanya wanita.Walaupun Aruna adalah kekasihnya tapi Arga belum bisa sepenuhnya membuka hati untuk Aruna karena traumanya di masa lalu.
Hubungan mereka bisa bertahan sampai saat ini,itu karena kesabaran Aruna menghadapi sikap Arga.Aruna sangat mencintai Arga maka dari itu dia bertahan sampai saat ini. Walaupun selama empat tahun ini tidak ada kemajuan sama sekali pada hubungannya tapi Aruna tetap memilih setia pada Arga,dan tidak sekalipun Aruna memalingkan hatinya pada lelaki lain walaupun dia tinggal berjauhan dari Arga.
Aruna yakin suatu saat Arga pasti bisa berubah dan bisa membuka hati sepenuhnya untuk dirinya.
Arga meletakkan sendoknya setelah selesai makan dia berjalan ke ruang tengah dan duduk di sofa di ikuti Nara.Sedangkan Jia membantu Aruna membersihkan meja makan,karena bi Yanti sedang pulang kampung.
"Kak Runa sabar ya." Ucap Jia tiba-tiba dan menyentuh bahu Runa.
"Iya sayang,kamu tenang saja kakak masih bisa bertahan untuk Arga." Runa tersenyum getir menanggapi ucapan Jia.
Jia tahu kalau Aruna sebenarnya terluka dengan sikap kakaknya.Empat tahun bukanlah waktu yang pendek untuk menunggu perubahan kakaknya.
"Jia pastiin kak Arga akan segera menikahimu kak...." Ucap Jia dalam hati.
Nara memainkan ponselnya dan sesekali melirik ke arah Arga yang tidak seperti biasanya.Biasanya Arga banyak bicara menanyakan banyak hal padanya tentang bisnis ataupun tentang hubungannya dengan Jia,tapi kali ini Arga lebih banyak diam dan kadang melamun hingga membuat Nara heran.
"Loh kok ini pada diem-dieman sih?" Seru Jia dari arah dapur bersama Aruna.Jia segera duduk di samping suaminya dengan tatapan penuh tanya,tapi Nara hanya mengangkat bahunya.Sedangkan Aruna duduk di depan Arga yang tidak menatapnya sama sekali.
"Sayang apa kamu masih ada stok desain? Pelanggan kakak sudah banyak yang nanyain soalnya." Ucap Aruna memecah keheningan.
"Ehm....ada kak tapi cuma sedikit,nanti Jia ambilin."
"Ok sayang,kakak minta sekarang ya soalnya kakak mau pulang."
"Ah kakak jangan pulang,temenin kak Arga soalnya tadi mama Ajeng telfon nyuruh Jia sama Nara nginep sana." Ujar Jia berbohong.
"Memang kapan mama telfon sayang,kok aku aw......" Rintih Nara kesakitan karena kakinya tiba-tiba di injak Jia.Jia memelototkan matanya memberi kode pada Nara agar diam.Nara mengerti dan hanya bisa meringis sambil memegangi kakinya.
"Kakak nggak apa-apa Jia, sendirian di rumah." sahut Arga memandang adiknya dengan tatapan tidak setuju.
"Ah pokoknya harus di temenin kak Runa,bi Yanti kan sedang pulang kampung nanti nggak ada yang masakin buat kakak."
"Kak Runa nggak keberatan kan kalau nemenin kak Arga? Tanya Jia memelaskan wajahnya.
"Ehmmm,kakak...."
"Ok kak Runa setuju." Sela Jia memotong ucapan Aruna.Arga melototkan matanya pada Jia,tapi Jia malah tersenyum pura-pura tidak mengerti.Jia berpikir kalau kakaknya di tinggal berdua mungkin bisa sedikit membuka jalan untuk hubungan mereka.
"Ok kak,Jia tinggal ke kamar dulu ya siap-siap."Jia menarik tangan Nara untuk mengikutinya.
"Sayang memang tadi mama beneran telfon ya,kapan? Kok aku nggak tahu?" Tanya Nara saat sudah di dalam kamar.
"Ehmmm,mama nggak nelfon tadi aku bohong.Aku mau kasih waktu buat kakak berdua sama kak Runa." Jawab Jia sambil mengambil beberapa baju dan di masukkan ke dalam tasnya.
"Ehm memang kenapa sama hubungan mereka sayang?" Tanya Nara penasaran.
"Nanti deh aku ceritain,sekarang kamu ganti baju dulu terus kita ke rumah mama sayang." Ujar Jia mencubit pipi Nara.
"Ok sayang..." Balas Nara mengecup bibir Jia mesra.
"Huh...dasar nakal." Gumam Arga mendengus kesal.
"Aku pergi dulu ya Ga,Run...hati-hati kalian di rumah banyak setannya..." Ucap Nara juga dengan nada menggoda.
"Dasar kalian berdua sama saja." Gerutu Arga dan membuat Aruna tersenyum.
"Kak Runa katalog desainnya ada di kamar ya." Imbuh Jia sebelum pergi.
"Iya sayang." Jawab Aruna tersenyum.
Hening.....
Tidak ada sepatah katapun terucap dari bibir mereka berdua setelah kepergian Jia dan Nara.Karena merasa canggung Aruna memutuskan untuk ke kamar Jia mengambil katalog desain baju.
"Ehm...Ga aku mau ke kamar Jia dulu ,apa kamu mau aku bikinin kopi dulu sebelum aku pergi." Tanya Aruna sambil menggigit bibir bawahnya grogi karena hanya berdua saja dengan Arga di rumah.
"Nggak usah nanti kalau aku mau aku bisa bikin sendiri saja." Jawab Arga yang juga grogi apalagi setelah melihat Aruna menggigit bibir bawahnya suhu tubuhnya tiba-tiba saja menjadi panas.
"Baiklah kalau begitu aku ke atas dulu." Pamit Aruna sembari berjalan menjauh,Arga hanya bisa menelan salivanya memandangi Aruna yang sudah menjauh darinya.Bagaimanapun Arga adalah lelaki normal,di tinggal hanya berdua bersama seorang wanita dan melihat tingkah Aruna tadi membuat dada Arga sesak merasakan gejolak kelelakiannya naik.
Arga sekuat tenaga menahan perasaannya,dia menghembuskan nafas panjang untuk menetralkan pikirannya.Saat dia sudah bisa menormalkan detak jantungnya tiba-tiba lampu padam dan Arga mendengar suara teriakan dari Aruna.
"Argaaaaa......tolong aku takut." Teriak Aruna ketakutan karena dia sangat takut dengan kegelapan.
"Astaga Runa kan takut dengan kegelapan." Gumam Arga bangkit dari duduknya dan segera bergegas menghampiri Runa dengan menggunakan senter di ponselnya.
Aruna berjalan pelan dengan meraba dinding kamar Jia untuk menuju pintu,dia sudah merasakan sesak di dadanya dan tubuhnya lemas.Dari kecil memang Aruna sangat takut dengan kegelapan dia akan kesulitan untuk bernafas dan tubuhnya akan lemas bila berada dalam ruangan yang gelap walau hanya beberapa menit saja.
"Arga..." Gumam Aruna lirih,dia sudah tidak bisa berdiri dengan sempurna menahan tubuhnya.
"Runa...." Arga dengan sigap menangkap tubuh Aruna yang sudah tidak bertenaga dan hampir terjatuh.
"Runa,sadar....hey sayang bangun,kamu nggak usah takut sudah ada aku disini." Ucap Arga tanpa sadar memanggil Aruna dengan panggilan sayang.Entah kapan terakhir kalinya Arga mengucap kata itu.Sekarang karena cemas melihat keadaan Aruna,Arga merasakan hatinya sakit karena khawatir.
Aruna membuka mata setelah setengah jam pingsan,dia mengerjapkan matanya perlahan.Di lihatnya ruangan sekitar yang sudah terang benderang karena lampu sudah menyala.
"Arga...." Gumam Aruna pelan melihat Arga duduk di sampingnya cemas.
"Sayang akhirnya kamu sadar,aku takut kalau terjadi apa-apa sama kamu." Ucap Nara menciumi tangan Aruna tanpa henti,terlihat jelas di wajahnya kalau Arga sangat khawatir.
"Berarti tadi aku tidak bermimpi,Arga benar-benar memanggilku dengan panggilan sayang." Batin Aruna dalam hati,dia masih syok dan masih diam saja menatap Arga tidak percaya.Tapi di dalam hatinya dia sangat bahagia mendengarkan kata itu dari mulut Arga.
"Sayang kenapa kamu diam saja? Apa kamu mau sesuatu?" Tanya Arga masih belum sadar sikapnyalah yang membuat Aruna terdiam.
Aruna bangun dari tidurnya dan tanpa aba-aba langsung memeluk Arga dan menangis di dada bidang Arga.
Arga masih bingung dengan sikap Aruna yang tiba-tiba memeluknya dan menangis.
"Sayang kenapa kamu nangis?" Tanya Arga mengusap rambut Aruna lembut.
"Makasih Ga...." Gumam Aruna masih memeluk Arga.
"Makasih untuk apa?" Arga mengernyitkan dahinya bingung.
"Makasih untuk panggilan sayangmu....." Aruna semakin menangis karena bahagia.
Deg.....
.
.
.
.
Bersambung