
Tiga bulan sudah sejak kejadian di acara baksos,Jia menjalani hari-hari sebagai istri pemilik sekolahannya.Awalnya dia kesal karena banyak yang mencibirnya tapi setelah Nara bertindak dan memberi peringatan pada teman-teman Jia yang mencoba mengganggunya semua berjalan seperti biasa bahkan Jia sangat di hormati di sekolahan.
Siang itu Jia merasa kurang enak badan,dan meminta ijin untuk pulang cepat.
"Beb,wajah kamu pucat banget.Kamu sakit ya?" Tanya Abel panik sambil menyentuh kening Jia untuk memastikan.
"Ya ampun beb,panas banget.Ayo kita ke dokter." Ajak Abel sambil segera mengemasi barang-barang Jia dan memasukkan ke dalam tas.
"Ehm...kamu di sini saja beb,aku nggak apa-apa pulang sendiri toh juga ada Beny,kamu nggak usah khawatir." Jia tersenyum kecil untuk meyakinkan sahabatnya kalau dia baik-baik saja.Dia nggak mau merepotkan Abel,apalagi sebentar lagi sudah ujian Nasional.
"Ya sudah,tapi kamu beneran nggak apa-apa kan?" Tanya Abel sekali lagi.Jia menganggukkan kepalanya tersenyum.
"Nona anda kenapa? Tanya Beny sang pengawal siap siaga di samping majikannya,saat melihat Jia keluar dari ruang kelasnya.
"Tidak apa-apa Beny,hanya sedikit pusing saja.Tolong antarkan saya pulang ya."
"Baik nona." Ujar Beny dan segera mengambil ponsel dari saku celananya.Dia ingin melapor pada bosnya kalau istrinya sedang tidak enak badan dan sekarang dalam perjalanan pulang.Karena memang tugas Beny selain menjaga Jia dia juga harus melaporkan apa saja kegiatan Jia selama di sekolahan.
"Ben,kamu jangan bilang Nara ya kalau aku pulang.Hari ini dia ada rapat penting aku nggak mau ganggu dia." Jia memijit pelipisnya dan memejamkan mata untuk mengurangi rasa sakitnya.Merasa tidak mendapatkan jawaban dari Beny,Jia membuka mata dan melihat Beny yang duduk di depan kemudi.
"Maaf nona." Ucap Beny saat tahu arti tatapan mata Jia yang menunggu jawabannya yang terlihat dari kaca mobil.
"Huft...ya sudahlah." Seolah sudah tahu jawaban Beny,Jia memejamkan mata lagi untuk menahan rasa pusing di kepalanya.
Di kantor Nara terlihat sangat sibuk sampai lupa mengecek ponselnya.Barulah sekitar pukul tiga Nara baru membuka ponselnya dan betapa terkejutnya dia membaca pesan dari Beny.
"Oh Tuhan.....Ren ayo kita pulang sekarang." Seru Nara sudah panik tingkat dewa hingga membuat Reno mengernyitkan dahinya tapi langsung mengikuti perintah bosnya,karena dia tahu kalau bosnya sudah panik seperti itu pasti ada hubungannya dengan istrinya.
"Baik tuan." Balas Reno tanpa banyak bertanya dan segera merapikan pekerjaannya.
----
"Sayang kamu kenapa? Yang sakit yang mana?Ayo kakak antar ke dokter." Bujuk Arga yang kebetulan datang kerumah Nara dan Jia yang baru.Arga terlihat sangat kesal karena melihat adiknya sakit dan tak terurus pikirnya.
"Jia nggak apa-apa kak,Jia cuma kecapekan saja karena kemarin Jia habis ngejar deadline buat pesanan desain baju,karena kakak kan sebentar lagi menikah jadi biar besok nggak ganggu pernikahan kakak sama kak Runa." Ucap Jia dengan senyum yang sedikit di paksakan.
"Sayang kamu jangan terlalu memaksakan diri,kamu harus bisa jaga diri.Kalau kamu sudah merasa kewalahan mending kamu sudahi saja kerja sama itu.Toh suami kamu bisa memberi segalanya buat kamu,kakak juga akan kasih apapun yang kamu mau sayang." Ucap Arga pelan membenahi rambut Jia yang sedikit berantakan.
"Jia nggak apa-apa kak.Kakak kan tahu selain balap motor hobi Jia adalah membuat desain baju.Kakak juga nggak lupa kan kalau Nara ngelarang aku balapan lagi begitu juga kakak.Dan hiburan aku cuma itu kak,masa iya di larang juga." Gumam Jia mengerucutkan bibirnya.
"Huhf... ya sudah terserah kamu sayang,tapi kau janji harus bisa jaga diri dan membagi waktu,Jangan sampai kamu sakit seperti ini lagi."
"iya kak...." Jia tersenyum lega kakaknya mau mengerti,karena kalau sampai kakaknya melarang sudah bisa di pastikan dia akan meminta pada Nara untuk menyuruh Jia berhenti membuat desain seperti yang Nara pinta beberapa hari yang lalu,karena melihat Jia tidur sampai larut malam dan itu membuat Nara menyuruhnya untuk berhenti membuat desain.Sampai-sampai mereka berdebat dan berujung dengan Jia yang ngambek selama dua hari.Dan mau tidak mau Nara harus mengijinkan pada istrinya itu untuk membuat desain baju.
"Sayang....sayang..." Terdengar suara teriakan dari ruang bawah yang tak lain adalah suara Nara yang terdengar panik.
"Stop!" Seru Arga saat melihat Nara hendak menyelonong masuk dan ingin menghampiri istrinya yang berbaring di ranjang.
"Kenapa Ga?" Tanya Nara bingung,begitu juga dengan Jia yang bingung dengan sikap kakaknya.
"Kamu bilang ,kalau kamu sudah nggak bisa jaga Jia lagi,aku akan membawanya pulang kalau kamu sudah tidak sanggup!" Seru Arga dengan nada tak ramah.
"Maksud kamu apa Ga?" Nara terkejut mendengar perkataan kakak iparnya yang terlihat marah itu.
"Kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu ,hingga membiarkan Jia sampai jatuh sakit seperti ini! Aku sudah bilang kan dulu,kalau kamu tidak bisa menjaga Jia dengan baik aku akan mengambilnya darimu." Seru Arga dengan wajah penuh amarah mencoba mengingatkan lagi akan kata-katanya dulu pada Nara.
Nara tercengang mendengar perkataan Arga,hatinya sakit mendengar ucapan kakak iparnya itu dan mungkin lebih tepatnya dia takut kalau sampai dia mengambil Jia.
"Kakak apa-apaan sih,tadi kan kita sudah bahas.Ini bukan salah Nara,ini kesalahan Jia kak..." Jia menatap kecewa kakaknya yang sudah menuduh suaminya tidak bisa menjaganya.Padahal sangat jelas dan nyata Jia di perlakukan sangat baik dan penuh cinta oleh suaminya.Bahkan semua fasilitas yang Jia dapatkan adalah fasilitas nomor satu.
"Kamu diam Jia,ini urusan kakak. Kakak hanya ingin yang terbaik untuk kamu." Imbuh Arga tanpa memandang wajah adiknya dan masih menatap tegas adik iparnya.
"Ga,aku minta maaf.Iya aku salah karena aku terlalu sibuk dengan perkerjaanku hingga mengabaikan kesehatan Jia.Aku janji nggak akan ngulangi kesalahan ini lagi,tapi tolong Ga jangan bawa Jia pergi.Aku nggak bisa jauh darinya Ga,aku bisa gila kalau harus hidup tanpa Jia." Nara mengatupkan kedua tangannya memohon penuh harap.
"Nara hentikan,kamu tidak perlu melakukan itu.Aku nggak akan ninggalin kamu." Jia menghampiri Nara dan langsung memeluk suaminya.
"Kakak,sudah jangan seperti ini.Kakak salah kalau mengambil Jia dari Nara,Jia itu istri sah nya Nara kak .Jia sudah jadi tanggung jawab Nara." Ucap Jia menangis,dan seketika pandangan Jia menjadi gelap dan....
"Sayang....sayang bangun...!" Ucap Nara panik karena Jia tiba-tiba tidak sadarkan diri.Begitu juga Arga yang menjadi merasa bersalah.
Nara segera mengangkat tubuh Jia dan membaringkannya ke ranjang.
"Ren.....!" Teriak Nara.Mendengar keributan dan panggilan dari Nara,Reno langsung berlari naik ke atas menuju kamar bosnya.Bersamaan dengan itu terlihat juga pelayan yang tadi di mintai Jia air hangat.Dia terkejut melihat suasana tegang di kamar majikannya,apalagi melihat nona mudanya tak sadarkan diri.
"Iya tuan." Jawab Reno terengah-engah.
"Segera hubungi Reza." Perintah Nara.
"Ba...baik tuan."
"Tuan sebaiknya pakai minyak ini dulu untuk menyadarkan nona muda." Pelayan tanpa di suruh dia mengambil minyak angin di kotak obat yang ada di kamar majikannya itu.
"Iya bi,terimaksih." Nara langsung memberikan minyak di hidung Jia supaya cepat siuman.
"Sayang bangun....maafin kakak." Bisik Arga di telinga Jia merasa bersalah.
Sepuluh menit kemudian Jia baru sadar.Melihat Jia mengerjapkan mata perlahan membuat Nara dan Arga sangat lega.
"Sayang kamu sudah sadar?" Ucap Nara lega,terlihat tetesan air mata sudah membasahi pipinya.
"Kakak,jangan jahat." Ucap Jia memandang kakaknya yang ada di sampingnya.
"Kakak harus tahu kalau Nara terluka,berarti Jia juga terluka." Imbuh Jia lagi dan di susul cairan bening keluar dari kedua ujung matanya.
"Maafin kakak sayang...!" Balas Arga mencium kening adik kesayangannya itu.
.
.
.
Bersambung.