
"Arghhh...lepasin nggak....!" Jia memukul dada bidang Nara berulang kali,meronta supaya di lepaskan.Tapi Nara malah semakin memeluk erat tubuh Jia sambil tertawa .
"Nggak mau,aku nggak akan lepasin kamu." Ucap Nara di sela tawanya.
"OK, kalau kamu nggak mau lepasin."
"Awww,sakit sayang." Nara berteriak kesakitan karena Jia menggigit lengan Nara,dan otomatis membuat Nara melepaskan pelukannya.
"Syukurin siapa suruh kamu nggak mau lepasin aku." Jia berucap dengan bibir mengerucut membuat Nara ingin menciumnya lagi tapi kali ini Jia bisa menghindar dari terkaman mesum Nara.
"Nara sudah dong,kamu bisa nggak sih hilangin kelakuan mesum kamu itu." Ucap Jia terengah-engah karena kelelahan berusaha menghindar dari Nara.
"Nggak bisa sayang,kamu itu candu buatku Jia." Bisik Nara dengan mencubit hidung Jia yang berbaring menghadap ke arahnya.
"Dasar om-om mesum." Gerutu Jia sambil mengubah posisinya.Kini dia berbaring menatap langit-langit rumah pohon dengan kakinya setengah menggantung ke bawah.
"Nara,aku boleh minta sesuatu?"
"Tentu saja sayang kamu boleh minta apapun.Kamu mau minta apa,aku akan membelikannya sekarang." Ucap Nara yang sudah mengubah posisinya sama seperti Jia menatap langit-langit rumah pohon.
"Aku nggak minta di belikan apa-apa."
"Lalu kamu mau minta apa sayang?" Tanya Nara lagi dan mengubah posisinya menjadi miring menghadap Jia.
Jia juga mengubah posisinya miring,dan kini berhadapan dengan Nara. "Ijinin aku ke sekolah lagi,aku mohon! Aku ingin menikmati masa mudaku yang tinggal beberapa bulan lagi sebelum aku menikah denganmu,aku mohon Nara!" Jia mengatupkan kedua tangan di dadanya dengan air mata yang hampir terjatuh.
Deg....
Nara merasakan sakit di hatinya mendengar permintaan Jia. "Bodohnya aku,kenapa aku tidak memikirkan perasaan Jia.Sebentar lagi dia akan menikah denganku dan otomatis dia akan kehilangan masa mudanya,kenapa hal itu tidak terpikirkan olehku." Batin Nara merutuki kebodohannya karena tidak memahami perasaan Jia.
Nara meraih tangan Jia yang masih memohon padanya lalu menghapus air matanya dengan ibu jarinya.
"Maafkan aku sayang,aku tidak bisa memahamimu.Aku minta maaf,aku akan ijinin kamu ke sekolah lagi." Nara menggenggam tangan Jia lalu menciumnya.
"Kamu nggak bohong kan? kamu beneran kasih ijin kan?" Jia tersenyum senang mendengar jawaban Nara.
"Iya sayang,aku ijinin,Tapi tetap harus ada bodyguard yang ngawal kamu."
"Ok nggak apa-apa,mau di kasih pengawal berapapun aku nggak nolak deh." Ucap Jia penuh semangat.
"Aku hampir saja kehilangan senyumnya ini,aku nggak mau dia sedih lagi." Batin Nara berjanji dalam hati.
Muacchhhhh...
Nara bengong terkejut karena Jia mencium pipinya,ini baru pertama kalinya Jia menciumnya karena memang dialah yang selalu mencium Jia.Dan ini membuat Nara jadi bergairah lagi.
"Kok kamu bengong sih?" Tanya Jia tidak merasa bersalah.
"Sayang kenapa kamu selalu mancing aku,ha?" Nara memajukan wajahnya.
"No Nara,jangan mesum lagi deh..!" Seru Jia melototkan matanya.
"Habisnya kamu tuh yang memancing." Balas Nara lalu mencium kening Jia.
"Huh dasar kamunya aja.Ehmmm aku juga masih boleh kan ikut baksos besok? Please buat yang terakhir kalinya,aku janji habis acara baksos besok aku akan keluar dari club motor." Ucap Jia panjang lebar sebelum Nara menolaknya.
Nara yang tidak ingin mengecewakan Jia lagi dengan berat hati mengiyakan permintaannya.
"Iya sayang,tapi dengan syarat aku harus ikut." Nara tetap tidak bisa melepaskan Jia begitu saja.
"Hah.....ehmmm ya sudah nggak apa-apa,tapi kamu jadi salah satu penyumbang ya!" Jia menerima persyaratan Nara,dari pada tidak bisa ikut sama sekali pikirnya.
"Apapun itu sayang,yang penting buat kamu senang."
"Makasih..."Jia memegang kedua pipi Nara untuk dan mengucapkan terima kasih.
"Membuatnya bahagia tidak harus menggunakan uang." Batin Nara tersenyum tipis memandangi wanita yang ada di depannya sekarang.
"Kita balik yuk!" Ucap Jia yang sudah duduk merapikan rambutnya.
"Ayo."
Jia turun duluan,tapi sebelumnya dia memetik dua buah mangga lagi untuk dia bawa pulang.Nara hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kesayangannya itu.
-----
"Ga,kamu lagi baca apa kok serius banget." Sapa Aldo lalu menghampiri Arga yang duduk di sofa dan terlihat serius membaca sesuatu dari ponselnya dan duduk di depannya.
Karena tidak mendapatkan respon dari sahabatnya,Aldo iseng menyaut ponsel Arga dan membacanya. Dahinya berkerut menatap Arga sejenak setelah membaca tulisan dari ponselnya.
"Kamu nggak lagi ngehamilin seorang perempuan kan Ga?" Tanya Aldo curiga,memandang Nara.
"Sembarangan saja kamu bilang!" Seru Arga lalu menyaut ponselnya kembali.
Arga menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Aldo. "Sebenarnya aku nggak yakin Al,ini hanya perkiraanku saja."
"Iya apa?" Aldo sudah sangat penasaran.
"Jia,Al..."
"Jia...maksud kamu Jia hamil?" Seru Aldo terkejut dengan pernyataan Arga.Arga menganggukan kepalanya.
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? Aku nggak yakin kalau Nara akan melakukan itu sebelum menikah,kamu juga tahu Jia.Dia pasti akan menolak Ga." Aldo masih tidak percaya dengan ucapan Arga.
"Aku juga belum yakin saja Al,tapi kamu lihat kan tadi Jia makan mangga muda mana masih pagi lagi.Aku pernah dengar kalau wanita hamil suka makan mangga muda Al."
"Ya ampun Ga,kamu ngira Jia hamil cuma gara-gara Jia makan mangga muda? Come on Ga,buang pikiran burukmu itu." Aldo menepuk bahu Arga.
"Semoga saja kecurigaanku salah Al." Gumam Arga sambil menoleh ke arah pintu karena mendengar suara yang gaduh orang tertawa yang tak lain adalah Jia dan Nara.
"Udah ah aku capek,aku nggak mau lari lagi." Terlihat Jia membungkukkan badannya dengan nafas tersengal-sengal karena kelelahan kejar-kejaran dengan Nara.
"Ah kamu curang." Seru Nara sambil menggelitik Jia,dan membuat Jia berlari lagi sampai di sofa dan berlindung di samping kakaknya.
"Kakak Nara nakal...." Jia memeluk lengan kakaknya untuk mengadu dan meledek Nara dengan menjulurkan lidahnya.
"Tuh kan curang beraninya ngadu." Ujar Nara lalu mendudukan tubuhnya di samping Aldo.
"Biarin..."
"Kalian ini sudah mau nikah tapi masih main kejar kejaran kaya anak kecil."
"Nggak apa-apa Ga,kapan lagi kita bisa melihat kejadian langka seorang ceo sukses Nara Araya Wiratama main kejar-kejaran sama abg sma." Ucap Aldo nyengir.
"Betul kamu Al." Sahut Arga.Nara yang tidak bisa mengelak perkataan Aldo hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Permisi den,non sarapannya sudah matang,apa saya siapkan sekarang atau nanti?" Tanya bi Elis.
"Iya bi,sebentar lagi kita sarapan.Oh ya bi tolong kupasin mangga ini ya bi." Jia mengulurkan mangganya pada bi Elis.
"Iya non."
Mereka berempat sudah berada di meja makan,dan menunggu bi Elis menata makanan di meja makan.Karena tadi harus mengupas mangga terlebih dahulu hingga membuat bi Elis agak telat menyiapkan makanan di atas meja.
"Sayang kamu kan belum makan nasi,jangan makan mangga terlalu banyak nanti perut kamu sakit." Seru Arga yang sudah ngilu melihat Jia makan mangga dengan lahap.
"Nggak apa-apa kak,ini seger loh.Kakak mau?" Jia mengangkat piring menawarkan pada kakaknya.
"Sini aku minta sayang,sepertinya enak." Nara yang tidak tahu rasa mangga muda seperti apa langsung saja mengambil mangga di piring yang masih di pegang Jia dan langsung memakannya.
"Ini mangga apaan sayang,kenapa rasanya asam seperti ini." Seru Nara langsung mengambil tisu dan memuntahkan mangga yang baru saja dia gigit.
"Ini ya mangga beneran dong." Ucap Jia sambil menahan tawa.Begitu juga Arga dan Aldo tak bisa menahan tawanya melihat wajah Nara.
Tawa Jia berhenti saat mencium bau masakan yang baru saja di letakkan bi Elis di meja.Perutnya seakan di aduk-aduk setelah mencium bau makanan itu,dia menggembungkan mulutnya menahan agar tidak muntah dan menutup mulutnya yang sudah penuh.
"Sayang kamu kenapa?" Tanya Nara panik karena melihat perubahan pada wajah Jia.Jia hanya menggelengkan kepala dan segera bangkit dari duduknya lalu berlari ke kamar mandi karena sudah tidak bisa menahan untuk tidak memuntahkan makanan yang ada di mulutnya sekarang.
Huwekkk.....uwekkk
Terdengar suara Jia muntah di kamar mandi,Nara panik dan langsung berlari menyusul Jia.Di lihatnya Jia memuntahkan semua makanan dari perutnya,Nara mengurut leher Jia dan menepuk perlahan.
Arga dan Aldo saling pandang. " Al...." Gumam Arga menatap sahabatnya itu,seolah tahu sedang memikirkan hal yang sama.
"Sayang kamu nggak apa-apa kan?" Tanya Nara panik sambil menuntun Jia duduk lagi di meja makan.
"Jauhkan makanan itu,aku nggak suka baunya." Jia menutup hidungnya dan menyuruh Nara menjauhkan makanan di depannya.
Arga semakin yakin dengan kecurigaanya,apalagi melihat ciri-ciri yang Jia alami mirip dengan artikel yang dia baca tadi.
"Jia tidak biasanya menolak makanan kesukaannya seperti ini." Batin Arga masih menatap Jia curiga,ada rasa kecewa di pandangannya.
"Sebaiknya kalian segera menikah secepatnya,besok kalau bisa." Ucapan Arga membuat Jia yang sedang minum tersedak,begitu juga dengan Nara.
"Menikah...besok....??? Apa maksud kakak?"
.
.
.
.
Maaf ya kakak-kakak updatenya telat.Tetep kasih dukungan ya buat aku.like dan votenya.