My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 9



Plakkk


Lina menatap Genta dengan perasaan penuh amarah dan kecewa. Ia tak menyangka orang yang dikiranya baik dan lugu itu telah melakukan hal keji yang tak termaafkan. Parahnya lagi korbannya adalah anak majikannya sendiri, di mana otak Genta sebenarnya?


Lina rasa Genta tak punya syaraf untuk berpikir. Ternyata orang yang terlihat polos lebih menakutkan.


Ia cukup kecewa mendapatkan kenyataan tersebut. Ia bahkan sampai saat ini belum mempercayai apa yang yang barusan dituturkan Genta, namun dengan bukti-bukti yang ada bagaiman caranya ia untuk tetap menolak kenyataan itu?


Pria itu benar-benar keterlaluan.


Cristian menarik napas sejenak. Ia terdiam sesaat, benar-benar diluar dugaan. Ia pun juga sama seperti Lina tak menyangka. Cristian menghampiri Genta dan menepuk pundak pria itu.


"Kau aneh Genta, apa guna mu menangis sekarang?"


"Kau tahu Genta perbuatan mu ku rasa tak pantas untuk dimaafkan. Kau sungguh menjijikkan." Lina berlalu dari sana dengan wajah sinis. Ia sendiri pun jijik dengan wajah sok polos itu, munafik.


Genta tertunduk tak berdaya.


"Ya aku memang kejam."


Cristian yang terlihat kecewa dan tak menyangka itupun meninggalkan Genta sendirian di sana menyusul Lina. Genta ingin menyeru pria itu namun diurungkan niatnya.


Ia yakin laki-laki tersebut amat kecewa dengan perbuatannya. Genta berjalan di lorong rumah sakit tak tentu arah.


Pandangannya kosong, langkahnya lemah. Hingga ia tak sengaja menabrak seseorang dan membuat keduanya terjatuh.


"Auuu!!" keluh orang yang baru saja ditabrak oleh Genta.


Pria itu mendongak dan menatap siapa yang telah menjadi korbannya. Napasnya tercekat, dari gayanya saja Genta sudah tau perempuan yang ditabraknya barusan bukan sembarang orang.


Dalam hati Genta merutuki dirinya yang tak henti-henti membuat masalah. Genta pun berinisiatif membantu wanita itu berdiri.


Genta saat ini ketakutan, apa yang akan dilakukan oleh wanita tersebut? Bodoh sekali tentu saja memakinya dan meminta pertanggungjawaban.


Namun Genta mengerutkan keningnya saat menatap wajah wanita tersebut yang sembab. Ia terlihat baru saja habis menangis.


"Kau habis menangis? Cengeng sekali, padahal kau yang menabrak tapi kau yang menangis," umpat wanita itu kesal sembari mengibaskan tangannya untuk membersihkan dress yang ia kenakan.


Genta terkekeh sebentar mendengar ucapan remeh wanita itu. Apa ia tidak salah dengar? Genta memaksakan senyuman diantara celah kesedihan.


"Lalu bagaimana denganmu sendiri nona? Kau seperti juga habis menangis," sindir Genta balik.


Angel ternganga dan setelahnya ia kembali menetralkan ekspresi nya. Ia menatap pria itu dengan angkuh.


"Apa kau tak punya mata? Ku harap lain kali kau dapat berjalan dengan baik tidak seperti orang buta."


Wanita tersebut pergi dari sana dengan gaya angkuhnya berjalan meninggalkannya.


Genta menatap punggung wanita yang tak diketahui namanya itu sembari menghela napas.


Suasana hatinya kian buruk setelah kejadian tadi. Ia ingin beristirahat sejenak dan merilekskan otaknya.


Ia mencari tempat untuk digunakannya sebagai tempat peristirahatan.


________


Ia sangat mengkhawatirkan Alice, tak dapat dipungkiri jika ia benar-benar yakin dirinya telah jatuh hati pada wanita tersebut. Meskipun ini salah, tapi ia tak dapat menolak perasaan tersebut. Hatinya sakit saat berjauhan dengan Alice.


Ini gila, dirinya memang sudah gila. Dia telah dibuatkan oleh cinta, bahkan rasa penyesalannya atas kejadian kemarin pun memudar. Entahlah dia harus bersyukur atau tidak. Di satu sisi ada rasa senang, namun di sisi lain ia juga diliputi penyesalan.


Genta mengayunkan kakinya ke arah ranjang rumah sakit. Ia menarik kursi lalu mengamati lamat wajah yang amat pucat itu.


"Maafkan saya nona. Saya tau anda juga bosan selalu mendengar maaf saya."


Genta menatap tangan Alice lalu meraih lengan kecil itu dan digenggamnya dengan erat.


Tangan Alice terasa sangat dingin seperti mayat. Genta yang merasakan itu meringis, seberapa tersiksanya nonanya ini? Genta membawa telapak tangan Alice ke wajahnya.


"Saya tau nona ini lancang, tapi saya harus bagaimana nona? Saya memang bejat nona. Tidak apa jika nona mencap saya seperti itu. Tapi nona izinkan saya agar tetap dekat dengan nona," monolog Genta kepada tubuh yang tak berdaya di depannya.


Genta meletakkan kembali lengan Alice. Ia mengamati wajah sempurna tersebut. Hidung Alice mungil, dengan diikuti bibir yang juga mungil, mata agak sipit, dan bulu matanya yang lentik.


Pria itu menelan salivanya ketika pandangan matanya jatuh pada bibir kemerahan tersebut. Genta dengan lancang menyentuhnya. Napas Genta memburu. Sejenak ia menggeleng mengenyahkan pikiran busuknya.


Napas Genta beradu. Batinnya berperang, tidak ada salahnya kan jika dia merasakannya sebentar? Hanya sebentar, lagian tidak ada yang tahu kan?


Di lain sisi, pikirannya menjerit jika itu adalah salah. Bahkan sangat fatal. Dirinya yang rendahan seperti ini tak pantas melakukan perbuatan memalukan seperti itu apalagi saat korbannya dalam kondisi kritis.


Pada akhirnya Genta pun mengambil keputusan.


Pria itu menempelkan bibirnya pada Alice, hanya mengecup dan tidak lebih. Setelah melakukan itu dada Genta sesak. Dan barulah muncul rasa penyesalan tersebut.


Ia merutuki perbuatannya barusan, tapi tak dapat ditampik jika ia juga cukup senang. Rasanya sangat lembut.


"Maafkan saya Nona, saya melakukan kesalahan lagi. Dan kesalahan tersebar saya adalah saya telah lancang jatuh hati kepada nona."


Sungguh hanya Genta lah seorang tukang kebun yang telah lancang melakukan itu kepada anak majikannya.


Setetes bulir bening jatuh dari sisi indah mata Alice. Genta kaget, apakah Alice dapat mendengar semuanya?


Saat sedang melamun Genta dikejutkan dengan suhu tubuh Alice yang meningkat. Tubuh Alice penuh dengan peluh. Permukaan wajahnya basah. Seperti ada sesuatu yang telah membuatnya ketakutan.


Genta pun langsung panik dan ia berusaha mencari akal agar dapat menenangkan nona mudanya.


Ia membelai kepala Alice dengan lembut hingga secara perlahan wajah yang mengerut ketakutan itu kembali damai seperti semula. Napasnya memburu dan perlahan kembali tenang.


Genta bersyukur melihatnya. Ia mengambil sapu tangan dan mengusap keringat di tubuh Alice.


"Nona pasti sangat sakit kan?"


Genta meraih jemari Alice dan menggenggamnya. Ia pun tertidur di samping wanita itu cukup lama.


Ketukan pintu di luar membuat kesadaran Genta perlahan terkumpul. Setelah beberapa detik barulah ia sadar secara seutuhnya dan langsung panik mencari tempat persembunyian.


Ia menatap kolong bawah ranjang. Tidak ada jalan lain selain bersembunyi di sana. Ia masuk secara diam-diam jika dirinya ketahuan maka tamatlah riwayatnya.


_____


Teman-teman mohon jangan lupa like dan komennya yah🥺🥺🙏🙏