My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 50



Genta menatap tajam kedua orang tua Elizabeth. Ia benar-benar tidak mengetahui kebenaran mereka. Wajar saja jika Genta tidak tahu, tipikal orang Amerika lebih individualis dan lebih sibuk dengan pekerjaan.


Ia juga tidak mengerti kenapa mereka muncul setelah kepulangan Elizabeth? Apakah mereka tidak pernah peduli dengan anaknya? Sungguh orang tua yang kejam.


"Aku tidak mau," pungkas Genta seraya meninggalkan ruang tamu.


Begitu banyak beban pikiran yang harus ia pikul, belum lagi masalah misteri barang aneh di kamarnya, sekarang ditambah ia yang akan mewarisi harta Elizabeth.


"Ini adalah permintaan terakhir anak ku, bagaimana aku tidak bisa mengabulkannya? Kau menyayanginya, bukan?" tanya Josep ayah Elizabeth.


Genta yang semula sudah setengah berjalan terpaksa berhenti. Ia menatap depan dengan pandangan keras, dadanya memburu dan lantas ia berbalik menatap ayah dari istrinya tersebut.


"Aku tidak mengerti," tutur Genta seraya kembali mendekati mereka, "kenapa harus aku. Kenapa tidak kau saja yang mengurus? Kau masih hidup, bukan?"


Genta tertawa sekilas, tawa palsu karena setelahnya ia mengeluarkan cairan kesedihan. Ia tidak bisa menerima semuanya, terlalu banyak kebaikan Elizabeth yang diberikan kepadanya.


Ia bingung ingin membalas kebaikan Elizabeth yang mana dan seperti apa membalasnya. Genta rapuh dan tiada yang menguatkannya, yang ia inginkan bukan harta tapi kehadiran perempuan itu lagi ke dalam hidupnya.


"Kau tidak perlu tahu, jika Elizabeth meninggalkan wasiat itu pasti ada maksud tertentu dan dia yakin kau bisa mengurus perusahaan dengan baik, ya ku harap kau memang dapat melakukannya." Josep berdiri bersama sang istri.


Ia menunduk untuk memberikan penghormatan kepada Genta. Ia menarik tangan istrinya membawa pergi.


"Apa kau tidak ingin melihat rumah anak mu sendiri? Kenapa kau baru datang? Aku ragu jika kau orangtuanya, sikap kalian sangat tidak pantas. Bahkan kalian tidak ada saat Elizabeth kritis dan tidak juga hadir di pemakamannya," Genta mengatakannya dengan ekspresi dingin hingga membuat pasangan suami istri itu terintimidasi dan berhenti.


"Apa maksudmu?"


"Sudah jelas bukan maksud ku? Kau sangat tidak pantas disebut orangtuanya." Genta benar-benar tidak menyangka.


Josep mengepalkan tangannya ia berusaha menahan luapan emosi di dadanya. Genta pandai bicara hingga membuat ia merasakan amarah besar pada pria itu.


Istrinya menenangkan Josep agar tidak terpancing dan mengajak meninggalkan ruang tamu tanpa memperdulikan Genta sama sekali.


Mereka pergi dengan amarah yang masih bersama menyertai. Sementara Genta memandang mereka marah bercampur sedih, ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Elizabeth memilik orang tua tidak waras seperti mereka.


"Aku tidak menyangka ada manusia seperti itu. Aku yakin pasti ada sesuatu dari mereka," curiga Genta sambil menatap punggung mereka yang berjalan semakin jauh.


Genta menyentuh pelipisnya dan mengurutnya pelan. Ia merasakan pening yang berlebih akhir-akhir ini.


Matanya masih merah dan perih akibat banyak menangis. Wanita yang dirindukannya kini tidak lagi bisa berada di sampingnya.


"Kau sangat bodoh Elizabeth, aku sudah menawarkan tumpangan pada mu waktu itu. Andai kau membiarkan ku dulu," monolog Genta dan ia pergi dari ruang tamu dengan perasaan berkecamuk.


Genta masuk ke dalam kamar dan menatap seluruh ruangan itu dengan teliti. Ia membuka lemari dan tak sengaja menjatuhkan sebuah dokumen.


Ia membuka dokumen itu dan membacanya, tidak ada yang menarik dengan isinya yang hanya seputar pekerjaan.


Genta menaruhnya kembali ke tempat asal dan ia berjalan menuju tempat barang-barang aneh itu berada.


Sekali lagi ia melakukan penelitian di setiap tempat ditemukan baju berlumuran darah itu dan mencari benda lain yang bisa memberikannya petunjuk.


"Kenapa Elizabeth menyimpan ini?"


Genta tersenyum kecut. Ia ingin mengetahui masa lalunya dan apa yang telah terjadi pada hidupnya.


"Sepertinya aku harus cepat mengembalikan ingatan ku."


Pria itu pergi dari sana dan membuka bajunya. Ia terdiam dengan telanjang dada, matanya memindai sekitar lalu pandangannya jatuh kepada sebuah buku catatan.


Buku tersebut lebih mirip disebut dengan buku harian. Ia membuka lembar buku harian milik Elizabeth ia hendak melihat curahan hati istrinya tersebut.


Buku itu seperti baru saja dipakai. Hanya beberapa halaman yang terisi dan isinya adalah curahan hatinya yang sangat senang bersama Genta.


Genta pun mencari buku sebelumnya dan ingin membaca setiap bait yang dituliskan Elizabeth. Namun ia tidak menemukan apa pun, ia mengernyit heran karena tidak mendapatkannya, dimana Elizabeth menyimpannya?.


_________


Alice dengan semangat masuk ke dalam perusahaan yang akan bekerjasama dengannya. Ia berjalan anggun seperti wanita karir pada umumnya.


Banyak orang yang menyambutnya ramah. Sedangkan asistennya mengikuti dari belakang langkah Alice.


Alice menjabat tangan salah satu rekan kerjanya dengan ramah lalu diikuti dengan asistennya.


"Di ruangan mana kita akan meeting?" Alice tersenyum ramah kepada pria di depannya ini.


"Ah, Nona kita akan melakukan meeting di ruangan sana. Silakan ikuti saya Nona."


Ia merasa perusahaan ini sangat megah bak istana berkedok kantor. Ia menarik napas dalam dan berdoa suatu hari ia bisa memilik perusahaan semewah ini.


Pantas saja kualitas perusahaan ini sangat tinggi dan dilirik dunia, kinerjanya sangat bagus dan penuh disiplin.


Alice masuk ke dalam ruangan meeting. Beberapa orang sedang menunggu kehadirannya. Alice tersenyum kepada mereka satu persatu.


Ia mengambil tempat duduk dan menatap mereka mencari siapa salah satu diantara mereka semua yang bosnya.


Ia sangat penasaran karena selama ini bos mereka dirahasiakan, hanya orang di perusahaan yang tahu dan mereka tidak boleh menyebarkan hal-hal privasi tersebut.


Ia menatap pada orang yang berada di kursi utama dan Alice mengira jika dialah yang merupakan direktur dari perusahaan besar ini. Alice sungguh mengidolakannya.


Moderator membuka bicara dan meminta dari pihak masing-masing menjelaskan bagaimana sistem kerjanya dan keuntungan apa yang diperoleh dari masing-masing.


Alice maju menjelaskan dan mempersentasekan materi pada hari itu. Penjelasan dari Alice begitu lugas hingga membuat orang yang dari pihak perusahaan Mitra Crop terpana.


Startegi dan tehnik pemasaran yang disampaikan olehnya begitu unik membuat mereka semakin yakin untuk setuju bekerjasama.


"Aku menyetujui ide mu Nona. Kau sangat pintar, dan aku yakin kita akan mendapatkan keuntungan yang besar."


"Terima kasih."


Maka Meeting pada hari itu pun selesai. Alice menarik napas panjang dan tersenyum lega. Jika hanya ia sendiri dimari maka ia sudah melompat kesenangan.


Kerja sama dengan perusahaan Mitra Crop akan membuat perusahaan bonekanya semakin naik dan lebih dikenal masyarakat. Dan itulah mimpi terbesarnya.


"Kau tahu aku sangat bahagia mereka mau menerima kerjasama kita," pekik Alice kepada asistennya yang tersenyum menanggapi.


Alice tidak henti tersenyum bangga, di otaknya sudah membayangkan keuntungan besar.


"Kita akan kaya, dan gaji mu akan ku tambah."


Alice memencet tombol lift dan masuk ke dalam lift itu dengan perasaan berbunga-bunga.


"Saya turut senang Nona."


"Ini semua berkat mu, aku bangga memilik asisten seperti kau."


"Terimakasih Nona."


Alice mendekap beberapa berkas di tangannya dengan erat. Ia hendak secepatnya pulang dan menemui anak-anaknya dan menceritakan kabar gembira itu.


"Aku baru tahu direktur perusahaan ini sangat tampan." Josua terkikik geli minat tingkah bosnya.


Alice begitu cantik meski ia penuh dengan wibawa namun tidak dapat dipungkiri di tempat tertutup tingkahnya masih kekanak-kanakan.


Ting


Bunyi lift itu menyadarkan mereka, Josua dan Alice keluar dan perempuan itu menghirup udara dengan hikmat. Hanya beberapa jam berada di dalam perusahaan ini tapi suasananya sangat menghipnotis.


"Jika kita kaya, aku ingin membuat perusahaan seperti ini Josua."


Josua mengangguk, ia tidak ingin mendapat amuk dari sang nona. Perusahaan ini memang membuat betah.


"Nona kita akan ke mana setelahnya?" tanya Josua sembari mengambil berkas yang dibawa Alice.


Alice tampak berpikir sebentar dan menatap girang Josua. Hari ini ia berniat mengajak Josua untuk dinner bersama keluarganya.


"Datanglah ke hotel ku, aku akan melakukan pesta kecil-kecilan."


Salah satu karyawan dari perusahaan Mitra tersebut datang menghampiri Genta. Pakaiannya begitu minim dan rambut blondenya disertai dengan make up mencolok membuatnya terlihat berbeda diantara yang lainnya.


"Bagaimana hari ini?" tanya perempuan itu yang merupakan teman Alice di Amerika dan karena jasa Anastasia pula ia bisa bekerjasama dengan perusahaan ini


"Semua berjalan lancar dan aku telah bertemu direktur, dia sangat tampan. Ah, ya terimakasih Anas."


Anastasia mengerutkan dahinya dan menatap Alice bingung, "direktur ku bukan dia, yang memimpin meeting hari ini bapak Alexander. Bapak Genta tidak bisa datang karena istrinya baru saja meninggal."


Alice langsung kaget, ia bukan kaget mendengar sepeninggalan Elizabeth, tapi ia terkejut dengan nama pria itu, Genta. Nama itu sangat mirip dengan orang di masa lalunya, apakah orang yang sama? Sangat mustahil jika itu benar.


Tbc