My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 16



Suara decit pintu memecahkan suasana yang semula hening. Merasa terganggu Alice pun menatap ke arah pintu kamarnya.


Ia tersenyum pasti itu ayahnya yang akan menemuinya. Alice lantas menyiapkan senyuman selebar mungkin untuk menyambut William.


Namun perlahan-lahan senyum itu kian luntur saat melihat siapa yang telah masuk ke dalam kamarnya.


Napas Alice memburu, dadanya berdetak cepat di luar batas normal. Perempuan itu langsung mengerutkan wajah ketakutan. Alice membuang wajahnya ke jendela.


Genta hanya bisa terpaku di depan pintu. Kenyataan yang baru saja disuguhkan Tuhan kepadanya bak mimpi di siang bolong.


Pria itu tidak percaya. Tetapi bukti telah di depan mata, dan hal apa lagi yang masih membuatnya ragu?


Genta semakin menyimpan rasa bersalah. Dadanya sesak melihat keterpurukan Alice, tapi di sisi lain tidak dapat dibohongi jika dirinya sangat bahagia dan teramat bahagia bahwa Alice tengah mengandung dan itu adalah anaknya. Siapa yang tidak bahagia mengetahui bahwa sebentar lagi akan menjad seorangi ayah?


Suara ketukan antara sepatu dan lantai mengalun disetiap langkahnya. Pria itu menghampiri Alice yang enggan untuk bertemu dengannya.


"Nona," lirih Genta.


Tidak ada jawaban dari Alice. Perempuan itu diam membisu bak patung. Ah bukannya dia memang bisu?


Genta menghela dan memaksakan untuk tersenyum. Ia membawa sebuah hadiah diberikan untuk Alice.


Pria itu tersenyum melihat hadiah yang akan diserahkannya kepada Alice, wanita pujaannya.


Ia mengambil hadiah tersebut yang ternyata berupa kalung sederhana lalu hendak mengenakannya kepada Alice.


Alice pun sempat melihat kalung itu. Ia menghela napas dan mendecih dalam hati. Ia langsung menepis kuat tangan Genta yang hendak memasangkan kalung itu padanya.


Kalung tersebut pun terlempar jauh. Genta kaget dan ia hanya bisa menatap nanar kalung indah berbandul berlian tersebut. Kalung itu adalah hasil dari jerit payahnya bekerja, ia tidak ingin menemui Alice dengan tangan kosong.


Genta menatap lama wajah Alice yang dibalas tatapan malas oleh wanita tersebut.


"Nona tidak bisakah anda sekali saja memaafkan saya dan memberikan saya kesempatan sedikit saja nona?"


Lagi-lagi Genta harus menelan kekecewaan. Pria itu tertawa lalu tersenyum pedih. Tak terasa bulir air mata jatuh ke wajahnya.


Genta mendekat ke arah Alice dan bersimpuh di depan wanita itu. Ia bersujud di kaki Alice memohon maaf kepada sang wanita.


Alice hanya menarik napas sedalam-dalamnya untuk mengurangi potensi ikutan menangis. Sejujurnya jauh di lubuk hati Alice, wanita itu juga tak tega melakukan hal semacam ini kepada Genta, tapi jika dipikir-pikir pria itu jauh lebih kejam.


Alice menarik napas dan meminta agar Genta berdiri. Tapi ternyata pria itu tidak mau.


Malah Alice kebingungan sendiri. Ia pun hendak menjalankan kursi rodanya. Tapi sesuatu yang menendang dari dalam perutnya membuat Alice mengaduh kesakitan.


Hanya dengan hal itulah yang mampu menghentikan Genta bersujud. Pria itu bangun dan panik, apalagi saat ia melihat perut Alice yang membuncit itu bergerak-gerak. Ia ngeri melihatnya.


Genta pun memberanikan diri untuk mengusap perut Alice. Anehnya Alice pun tidak lagi merasakan sakit. Ia merasakan nyaman dan hangat saat tangan kekar tersebut mengelus permukaan perutnya.


Diam-diam wanita tersebut mengamati Genta yang tengah mengusap perutnya. Andaikan saja jika dirinya hamil karena sebuah pernikahan bukan kesalahan, mungkin kehidupannya dilanda kebahagiaan.


Pria itu bahagia merasakan tendangan dari sang anak. Ia tertawa kecil. Lalu menatap wajah Alice cukup lekat.


Posisi mereka berdua sangat dekat, hanya berjarak beberapa senti. Dada Alice berdetak dengan kuat. Ia mencengkram erat sisi kursi rodanya.


"Alice," lirih Genta tanpa ada embel-embel nona seperti biasanya. Pria itu telah berani menyebut namanya.


Genta pun kian mendekatkan wajahnya mengikis jarak. Sedangkan Alice masih terdiam membeku tidak bisa menghindari situasi ini.


Saat bibir Genta hendak menyentuh bibir wanita tersebut, tiba-tiba suara seseorang mengacaukan momen itu.


Genta tersentak cepat menjauhkan wajahnya dan menatap orang yang baru saja datang tersebut. Genta menghela napas dan menunduk.


"Maaf."


Alice menghela napas lega. Lina telah datang tepat waktu menyelamatkan dirinya. Ia benar-benar merasa beruntung memilik pelayan seperti Lina.


"Kau benar-benar keterlaluan Genta. Apa kau tidak memiliki akal?"


Lina menampar wajah Genta dengan cukup keras. Ia merasakan emosinya telah sampai ke ubun-ubun melihat adegan tadi tepat di depan matanya.


Pria itu menyentuh wajahnya yang memerah bekas tamparan Lina. Ia mencuri pandang menatap Alice yang tampak acuh. Matanya memanas dan pria itu langsung keluar dari kamar tersebut.


"Jauhi nona Alice, sekali lagi kau melakukan itu aku akan benar-benar memberitahukan mu kepada tuan," ancam Lina yang tidak terdengar main-main.


_______


Satu keluarga berkumpul di ruangan makan. William tampak sedang menghibur anak bungsunya Grisson.


Hiburan dari sang ayah membuat Grisson tertawa dan menepuk-nepuk tangannya. Anak kecil tersebut memang cukup menggemaskan.


Tiara dan Alice hanya mengukir senyum saat ruangan itu penuh dengan tawa dari Grisson.


Tiara pun menghela napas dan mengusap putranya dengan penuh kasih.


William mengangkat kepalanya dan menatap Alice.


Pandangannya pun jatuh pada perut anaknya yang setiap harinya semakin membesar. William mengepal erat. Dirinya tidak menyangka putri semata wayangnya kini tidak lama lagi akan menjadi ibu.


Menyadari tatapan dari sang ayah membuat mood Alice hancur seketika. Ia menunduk dan melihat piring yang terisi makanan itu cukup lama.


Ia mengaduk-aduk makanan khas China tersebut. Pikirannya kosong, ia hanya ingin membuat batinnya kembali nyaman seperti semula.


Lina yang tidak jauh dari meja makan hanya menunduk. Pasti tuannya sangat sedih. William sangat menyayangi Alice, tapi ia juga merasa sangat bersalah karena tidak bisa menemukan pelaku tersebut.


Alice juga merasa heran, bukan kah Genta orang biasa kenapa pria itu sulit sekali diketahui? Apakah ada orang lain yang telah membantu Genta? Dirinya memang tidak ingin memberitahu. Ia ingin sampai mana Genta dapat bertahan.


Tiara pun mengetuk meja sebanyak 3 kali agar situasi kembali seperti awal. William menarik napas dan menyantap makanannya.


Tidak lama setelah usai kegiatan makan itu, William membuka suara. Ia ingin menyampaikan sesuatu yang cukup penting.


"Mengenai kehamilan mu." William pun menjeda kalimatnya, "aku sudah memutuskannya."


Semua mata memandang ke William, tidak luput dengan Genta yang juga berada di sana. Ia paling serius di antara pelayan lainnya yang ingin mendengar pernyataan sang majika.


"Aku memutuskan bayi itu setelah lahir akan dianggap anak mu Lina. Dan jangan pernah mengenalkan jika Alice adalah ibunya. Jauhkan bayi itu dari Alice."


Alice menghela napas dan hanya diam. Ia tidak masalah, lagian dirinya juga benci dengan kehadiran makhluk di perutnya itu.


Jika Alice merasa senang maka Genta sebaliknya, pria itu terdiam di tempatnya. Ia menelan salivanya dan memandang Alice yang ada di meja makan.


Alice pun melirik Genta yang seperti tidak terima dengan pernyataan yang baru saja disampaikan ayahnya.


Lina juga melakukan hal sama ingin melihat ekspresi dari Genta. Pria itu menjauh dari sana dengan perasaan gundah.


______


LIKE DAN KOMEN YA KAKA