
Cristian dan Genta sama-sama berpandangan meminta penjelasan dari kedua belah pihak. Mereka sekarang sedang berdua di ruang tamu. Cristian yang memandang Genta dengan intens dan Genta pula yang tak kalah memandang Cristian penuh dengan meminta penjelasan pria itu.
Cristian menghela napas dan menatap kesal. Ia melipat kedua tangannya di dada dan diikuti pula dengan Genta. Cristian pun mengubah gayanya lagi dan lagi diikuti oleh Genta.
Cristian menganga melihat itu. Ia pun kesal dengan pria tersebut dan mendecih yang juga lagi-lagi diikuti oleh Genta.
Pria itu muak dengan Genta yang selalu saja menuruti gayanya. Lantas dia pun membuka suara dengan kesal.
"Sejak kapan kau punya jas mahal?" tanya Cristian dengan tatapan meremehkan. "Ku yakin bahkan gaji mu sendiri tidak cukup untuk membeli jas seperti itu, kau tau?"
Genta pun memasang wajah sombongnya pada Cristian. Ia pun tersenyum miring dan mengibaskan jasnya dengan sombong.
"Bukan kah aku terlihat tampan dengan jas ini? Bahkan lebih tampan dari kau," ujar Genta penuh dengan senyum kemenangan.
Cristian pun tertawa tak percaya. Ia berdiri dari tempatnya dan mendekat pada Genta. Wajah kagetnya masih tertera di sana.
"Tidak ku sangka.. wah luar biasa kau Genta. Aku rasa baru saja kemarin menjemput seseorang di stasiun yang masih terlihat polos dan takut-takut dan sekarang dia ada di depan ku dengan sombongnya. Dan tak ku sangka kau juga telah menghamili anak majikan mu sendiri." Cristian bertepuk tangan hebat, "Genta kau memang pria luar biasa. Baru saja ku ajari menjadi pria sejati dan kau telah melakukannya dengan baik. Bagus Genta." Cristian menepuk pundak Genta beberapa kali.
Genta yang tidak terima dengan lontaran Cristian pun kesal dibuatnya. Ia mendengus meski apa yang dikatakan oleh Cristian benar adanya, ia pun merasa dirinya telah berubah. Mungkin faktor paling utamanya adalah ia kehilangan Alice, sehingga membuatnya frustasi dan kehilangan arah.
Genta pun mendongak dan berani menatap Cristian dengan tajam. Matanya menyipit berharap Cristian terintimidasi.
"Berhentilah berkata seperti itu. Ini semua juga karena kau! Andai kau tidak memberiku alkohol baj*Ngan."
Genta pun menarik napas dan bersandar di sofa dengan tangan di dada.
"Andai kau tidak terlalu polos dulu."
Genta pun mendengus dan menatap malas pada pria di depannya ini. Cristian selalu saja meledeknya, ia tak tahan terus menerus diperlakukan seperti itu.
"Cristian kenapa kau bisa ada di sini? Bukan kah kau katanya sudah kehilangan orang tua mu dan tinggal sendiri di apartemen mu itu," tuntut Genta meminta penjelasan atas kebohongan yang telah dilakukan pria tersebut, "apa kau berencana untuk menipuku?"
Cristian pun cepat menoleh pada Genta dan memandang pria itu tidak suka. Napasnya memburu dan tangannya mengepal.
"Apa kata mu? Aku menipumu? Ada kepentingan apa aku menipu mu?"
"Lalu kenapa kau membohongi ku?"
Cristian pun terdiam dan tidak mengeluarkan sepatah kata apa pun sebelum akhirnya Angel datang memecahkan suasana.
"Aku baru tau kau memiliki teman seperti dia," ujar Angel pada kakanya Cristian.
"Diam lah kau. Kau tau ayah pasti kecewa karena perbuatan mu, dan kali ini aku tidak ingin membantu mu," ujar Cristian memandang adiknya dengan malas.
"Siapa juga yang membutuhkan mu. Lagian dari mana ayah tau Genta bukan pacar ku?"
Cristian hendak menjawab namun lekas ia mengatup lagi mulutnya. Ia menghela napas dan meninggalkan ruangan tersebut.
"Ada sesuatu yang tidak perlu kau tahu. Aku tau kau pasti memaksa pelayan itu berpura-pura menjadi pacar mu kan? Sudahlah Angel turuti apa kata papa jauhi pacar mu bocah sialan Gabriel itu," bisik Cristian pada Angel saat sejajar dengan perempuan tersebut.
"Kau... Cristian.. sial*n kau," maki Angel pelan sambil menggenggam tangannya.
Ia menarik napas dan menghapus linang air mata dengan kesal. Perempuan itu menatap pada Genta sebentar dengan pandangan tidak bersahabat.
"Oh ternyata kau seorang pelayan? Jika aku tahu semuanya akan seperti ini aku tidak akan meminta bantuan mu." Angel meninggalkan Genta dan melangkah cepat, "orang ku akan mengantar mu."
Genta menggeleng melihat kepergian Angel. Wanita itu sungguh aneh menurut Genta. Apa salahnya dan kenapa pula Angel marah kepadanya? Apa wanita itu tidak waras?
"Siapa juga yang mau menjadi pacar bohongan mu nona. Aku tidak mengerti apakah setiap orang kaya akan bersikap sombong seperti itu? Tidak tahu terimakasih."
Genta pun jadi kesal. Ia menarik napas dan keluar dari rumah mewah tersebut. Namun langkahnya terhenti saat menatap sebuah bingkai foto. Awalnya tidak ada yang aneh hingga ia pun baru menyadari sesuatu.
Genta meraih bingkai foto itu dan ia terdiam sesaat. Dan mengernyit tidak mengerti. Dirinya merasa heran dan aneh sekaligus.
______
Sementara Alice perempuan itu semakin tidak tentu arah hidupnya. Ia seperti hendak sekarat dengan terus bergerak ke sana kemari.
Tiara pun berusaha menenangkan anaknya. Ia memeluk Alice dengan hangat sembari menangis. Perempuan itu mengusap kepala Alice.
"Nak tenanglah. Papa pasti akan membalas perbuatan pria itu." Tiara mengecup puncak kepala Alice dan tersenyum getir.
Setelah dirasa tenang Tiara pun menjauh dari ranjang putrinya dan meminta dokter untuk bicara secara pribadi dengannya.
"Apakah kandungannya tidak bisa digugurkan?"
Sang dokter tampak berat untuk mengatakan. Tentu tidak bisa digugurkan, umur Alice yang masih rentan dan kondisinya yang seperti itu yang ada akan membahayakan nyawa Alice. Namun jika diteruskan kehamilan Alice pun tidak baik bagi tubuhnya.
"Untuk saat ini sepertinya tidak bisa. Kondisi nona Alice semakin buruk dan dikhawatirkan dengan kesehatannya."
Tiara pun memijat kepalanya pusing dan menghela napas. Sekarang anak buah William tengah menyelidiki siapa biang onar dari masalah ini.
Lina memberikan sesuap bubur pada Alice. Baiknya Alice pun menurut, ia menelan bubur itu. Tapi wajahnya tetap datar dan pucat. Pandangan matanya lurus namun kosong.
"Nona semangat lah untuk sembuh kembali nona. Jika nona sudah sembuh, bukan kah nona lebih gampang untuk melakukan balas dendam kepada Genta nona?"
Alice pun yang semula enggan berinteraksi menatap Lina. Ia terkejut perempuan itu mengetahui siapa penyebabnya. Tangannya mengepal, napasnya memburu. Ya sepertinya dia memang harus sembuh agar mudah melancarkan aksinya.
Tapi apakah mungkin ia seorang wanita polos ini bisa melakukan itu? Oh Alice bukan kah dia juga tega melakukan itu pada mu? Kenapa kau tidak membalasnya? Ronta jiwa hitam Alice.
Alice mengaku dia memang tidak akan bisa melawan Genta. Lagi-lagi hatinya yang lemah lembut itu membuatnya luluh.
_______
🗿🗿🗿🗿 Gak ada orang ketiga dulu kita santai aja dulu nikmati alur.