My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 20



"Anak anda mengidap kista pada rahimnya."


Deg


Jantung Tiara seolah hendak berhenti berdetak selamanya mendengar pernyataan dokter tersebut. Ini pasti efek samping dari kehamilan Alice yang cukup rentan.


Tiara tersenyum getir kepada sang dokter. Kenyataan yang sangat memukul perasannya.


"Apakah harus dioperasi?"


"Tidak dulu. Kista pada anak Anda tidak terlalu parah masih dapat dihancurkan dengan obat resep dokter. Jika semakin parah kami akan segera melakukan operasi dan bisa saja rahim anak anda diangkat."


Kali ini Tiara lebih nyesak mendengarnya. Bagaimana dengan Alice? Jika ia tidak mempunyai rahim lagi maka wanita itu tidak dapat melahirkan keturunan sah keluarga Arakhe.


Tiara mengangguk dan pergi dari ruang dokter. Hatinya bak disayat ribuan pisau bahkan untuk sekedar berbicara saja ia tidak dapat untuk mengungkapkannya.


Ia meremas tangannya demi menguatkan hati yang terasa goyah. Langkah gontainya menuju ruangan sang anak dirawat. Harus berapa lama Alice hidup dengan penuh obat-obatan? Rasanya ia tidak sanggup jika dirinya menjadi Alice.


Anak itu kuat, mentalnya pun masih dapat dikendalikan. Orang hebat mana seperti Alice? Perempuan yang mengalami kelumpuhan dan bisu serta diperkosa dan melahirkan lalu sekarang memiliki penyakit kista tapi masih bisa bertahan?


Sungguh hebat dan tangguh perempuan itu. Tiara bangga memiliki putri seperti Alice.


Tiara menatap putrinya sejenak sebelum pergi untuk pulang ke New York. Ia dan William masih memiliki pekerjaan yang harus mereka urus di sana.


Sebenarnya Alice lebih penting tapi sekarang memang sudah saatnya mereka kembali ke New York dikarenakan sudah cukup lama mereka di China.


Berat bagi Tiara dan William meninggalkan putri satu-satunya dan anak kesayangan mereka di sini hanya bersama beberapa orang kepercayaan.


Apalagi Genta. Pria itu ketika mengetahui dirinya akan pulang ke New York hatinya seakan tidak rela. Pria itu juga tidak punya alasan untuk tetap tinggal di sini.


Masih syukur ia dulu diizinkan ikut ke China, sungguh keterlaluan pula kan dirinya sekarang meminta untuk tinggal di China? Genta harus menghargai kepercayaan keluarga Arakhe padanya meskipun pengkhianatan telah lama ia lakukan, tapi Genta ingin menebusnya dengan menjadi pelayan yang setia.


Genta melihat pada selembar foto bayi di tangannya. Di situ terdapat dua bayi dan tidak ada yang mengetahui bayi satunya. Dia kembar dan lucu.


Genta mengukir senyum pedih kala harus mengingat putranya. Ia juga tidak tau keberadaan putranya dan dirinya juga tidak tahu bagaimana cara menemukannya.


Pria itu menarik napas lalu mengemasi barang-barang sebelum melakukan penerbangan ke New York beberapa jam lagi.


_______


2 bulan kemudian


Genta sekarang telah memiliki rumah sendiri dan ia juga tinggal di sana sendiri. Beberapa kali ia akan menginap di rumahnya jika tidak memiliki pekerjaan di rumah keluarga Arakhe.


Lagian juga buat apa dia di sana? Lebih baik tinggal sendiri dan Genta lebih leluasa untuk melakukan hobinya akhir-akhir ini, mabuk-mabukan.


Sungguh itu bukan terlihat seperti Genta. Pria itu manis namun harus mengalami setres diumurnya karena cinta.


Laki-laki itu bangun dari ranjangnya. Denyutan terasa sangat jelas di kepalanya. Pria itu pun menghela dan melangkah keluar saat mendengar bel.


Ia berniat untuk membukakan pintu kepada si pengunjung tapi Genta malah tidak dapat menemui siapa pun di sana. Pria itu mengernyit, siapa gerangan.


Genta pun hendak kembali masuk ke dalam rumah tapi sebuah box bayi di depannya membuat si pria itu kaget. Lekas Genta mengambil bayi tersebut dan ia semakin dibuat shock dan tercengang saat tahu itu adalah putranya.


Seolah Tuhan telah mengabulkan permintaannya. Ia juga tidak mengerti apakah Tuhan pula yang telah mengirimkan bayi ini? Genta masih tidak percaya ia menemukan anaknya di depan pintu rumahnya. Tapi siapa pelakunya?


Dan kenapa pula si pelaku malah menaruh di depan rumahnya ada kepentingan apa.


"Aku seperti sedang bermimpi, Tuhan. Ini nyata anak ku ada di dekapan ku."


Genta menciumi bayi tersebut yang sudah cukup umur untuk dikeluarkan dari inkubator. Putranya tampak anteng dan tertidur pulas.


Tentu Genta mengetahui jika bayi tersebut anaknya. Naluri ayahnya sangat kuat, batinnya pun juga mengatakan hal yang sama. Wajah putranya pun mirip dengan Alice. Genta menyadari jika anaknya kembar tidak seiras.


Tiba-tiba seorang wanita keluar dari rumahnya. Kebetulan ia bertetangga dengan wanita paruh baya itu.


"Siapa anak itu?" tanya sang wanita penasaran.


"Ah dia anak ku." Genta tersenyum.


"Sepertinya kau kesusahan mengurusnya sendiri. Aku bisa membantumu."


Entah kenapa hari ini Tuhan seperti telah berbaik hati padanya. Genta sangat bersyukur dalam hati ada seseorang yang telah mau membantunya.


"Terimakasih banyak. Nanti aku akan meminta bantuan mu."


Tetangganya itu mengangguk lalu pergi dari sana. Genta hanya bisa mengukir senyum sepanjang harinya.


Ia begitu semangat hari ini untuk mengasuh sang anak. Menjadi peran ayah dan ibu sekaligus.


Genta mengusap sayang kepala anaknya lalu masuk ke dalam rumah. Ia hendak memberikan keamanan pada anaknya.


"Kau tahu papa sangat senang papa ada di samping mu sekarang."


Tidak jauh dari sana pria berjas hitam dan dengan ciri khasnya memakai topi hitam tersebut tersenyum tipis dan tidak lama rautnya datar melihat Genta masuk ke dalam rumah.


Ia pun juga meninggalkan tempat itu. Masih banyak kepentingan yang harus ia tangani.


______


China


Kondisi Alice semakin membaik wanita itu tengah melakukan pengobatan fisikologis dan fisiknya. Alice telah bisa menggerakkan kakinya saat sebelumnya sama sekali ia tidak memiliki tenaga untuk melakukannya.


Ia pun perlahan mulai bisa mengeluarkan suara meski tidak terdengar jelas apa yang diucapkan oleh Alice.


Alice melihat pada bayi yang dibawa Lina. Jantungnya berpacu cepat melihat bayi itu.


Ia mengusir Lina dan bayinya keluar tapi si bayi malah makin nyaring menangis.


Dokter menyarankan agar Alice terlebih dahulu memberikannya asi setelah keluar dari inkubator.


Perempuan itu jelas tidak sudi melakukannya, ia meminta Lina untuk menyusuinya tapi wanita paruh baya tersebut tidak memiliki asi.


"Nona anda harus memberikannya asi."


Alice lantas mengarahkan pandangan kesal kepada Lina. Ia mendecih tidak sudi. Lina hanya bisa menghela napas sementara si bayi kian sulit untuk ditenangkan.


Suara tangisannya sungguh memekakan telinga. Alice pun jenuh mendengarnya dan terpaksa harus memberi si bayi ASI.


Alice membuka kancing bajunya dan menyusui putrinya. Lina tersenyum melihat itu, setidaknya Alice masih memiliki rasa peduli kepada anaknya.


"Nona sepertinya dia sangat senang dengan ibunya."


Sontak Alice menatap tajam si pelayan. Menyadari kemarahan Alice lantas membuat nyali Lina terciut


"Jangan pernah katakan lagi itu di depan ku," ujarnya dengan lirikan mata penuh isyarat


______


Tbc


Huhuhu gak tau deh semoga suka kaliannya