
Tatapan intimidasi dari Genta tak juga membuat nyali Damian menciut. Pria itu meminta ibunya agar masuk terlebih dahulu ke dalam mobil sementara ia akan menghadapi Genta.
Lina sempat menolak ia tidak ingin jika Genta dan Damian akan terjadi bentrokan, sebab Lina juga sangat merindukan Genta. Dulu ia bersama pria ini adalah rekan kerja, dan selalu saling membantu dan sekarang seperti ada tembok besar yang menghalangi mereka.
Genta juga telah berubah banyak, ia tidak lagi seperti Genta yang dulu dikenal Lina. Sosoknya sedikit dingin dan aura kepemimpinan begitu kuat dari dalam dirinya, Lina dapat merasakan itu.
Ia tidak menyangka jika Genta lah yang akan mempersunting putri yang ia rawat dari kecil. Begitu sedih ketika harus menerima fakta sang nona yang ia sayangi kini sudah ada pria yang menjaganya.
"Genta! Kau jaga Nona baik-baik," amanah Lina sebelum beranjak dari sana.
Genta hanya menanggapi dengan dingin, ia sama sekali tidak berkenan untuk menjawab. Tanpa perintah Lina pun pasti ia akan lakukan. Bagaimanapun Alice adalah wanitanya yang memang sudah sepantasnya ia lindungi.
Lina tersenyum tipis dan berbalik sambil meneteskan air mata. Ia tahu mereka adalah korban dendam orang tua mereka dimasa lalu. Ia tidak menyangka jika itu juga dapat memberikan sekat hubungannya dengan nonanya.
Ia juga sungguh merindukan kedua anak Alice yang sudah dianggap cucu oleh Lina. Tapi, apakah kedua anak itu merindukannya?
Genta menarik napas panjang ketika melihat wanita berumur itu yang telah masuk ke dalam mobil. Ia berdiri lebih dekat dengan Damian dan menatap laki-laki tersebut dengan pandangan begitu tajam.
"Kau yang melakukan semua ini?" tanya Genta tanpa basa-basi, ia tahu betul jika Damian lah yang menyabotase perusahannya dan memfitnah dirinya melakukan korupsi.
Untungnya semua sudah teratasi, tapi belum sepenuhnya. Polisi sudah mendapatkan bukti jika ia tidak melakukan hal terlarang itu, tapi masyarakat masih banyak yang belum mempercayainya, selain itu polisi juga belum berhasil menyelidiki siapa dalang yang telah memberikan berita hoax tersebut.
Damian tertawa tanpa ekspresi. Ia mendekatkan bibirnya di samping pipi pria itu.
"Kau ingin tahu jawabannya?"
"Tanpa perlu kau menjawab aku juga sudah tahu," balas dingin Genta sembari menatap pria itu.
"Kenapa kau bertanya jika kau sudah tahu? Kau membuang waktu saja."
Damian mendecih dan meludah di depan Genta. Ia memberikan tatapan mengejek seraya hendak meninggalkan lelaki itu. Tapi baru beberapa langkah ia memutar kembali tubuhnya.
"Ah, ya ingatkan kepada istri mu itu bagaimana cara menghargai orang yang telah berjasa mengurusnya!"
"Dia adik mu," timpal Genta.
"Aku tahu, tapi dia tidak mengakui ku."
Damian lantas meninggalkan halaman rumah Genta. Ia masuk ke dalam mobil dan melihat ibunya yang ternyata sedang menangis.
Ia marah dengan Alice yang memberikan sikap tidak sepantasnya itu. Jika Alice bukan orang penting di hidup ibunya mungkin ia juga tidak akan membiarkan Alice hidup dengan tenang.
Ia baru saja menutup kaca mobil tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu mobilnya. Damian mengernyit dan melihat ibunya yang tiba-tiba berubah ceria.
"Alice!!"
Mendengar nama itu kemudian Damian pun membuka pintu mobilnya. Di sana tampak Alice berdiri di samping mobilnya dengan derai air mata jatuh setiap tetesnya ke pipi mulus wanita tersebut.
"Bibi!" Alice menyapa dengan senyum di wajahnya.
Ia juga merindukan Lina, bahkan sangat. Ia merangkuh tubuh Lina yang berada di dalam mobil.
"Kau menemui ku?" tanya Lina tidak percaya, ia meraba seluruh permukaan wajah Alice, "aku tidak salah lihat, kan?"
Alice menggeleng keras, "tidak, ini Alice Bi, maafkan Alice."
Lina menggeleng, tanpa Alice meminta maaf ia telah memaklumi sikap Alice kepadanya, ini sebuah keajaiban, bahkan Damian yang melihatnya ikut terharu.
"Tidak apa Nona."
"Bibi aku hanya ingin melihat mu sebentar, pergilah sebelum Genta mengetahui aku menemui mu!"
Alice menatap ke belakang takut Genta mempergoki mereka. Ia tidak ingin Lina menjadi imbasnya.
"Nona!!"
"Damian cepat pergi dari sini. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan Bibi."
Damian melajukan mobil tersebut, perlahan tautan tangan Alice dan Lina terlepas. Perpisahan itu sama-sama membuat mereka merasakan dunia begitu kejam.
Alice menatap mobil itu yang sembari hilang perlahan. Ia mengepalkan tangannya dan menatap ke atas agar air mata tak lagi turun bak begitu deras.
Wanita itu memilih masuk ke dalam rumah sebelum ia diketahui oleh Genta.
__________
"Sayang pasangkan dasi ku!"
Alice meraih dasi yang dipegang oleh suaminya tersebut dan membantu pria itu mengenakan benda tersebut.
Jaraknya dengan Genta begitu dekat hingga membuat Alice merasakan irama degupan dadanya begitu laju. Ia memang sudah bisa sedekat ini dengan Genta, tapi masih saja ia merasa gugup jika sedekat itu dengan pria ini.
Sementara Genta tak bosan menatap wanita yang lebih rendah darinya itu. Ia tersenyum lalu mengecup kepala istri kecilnya tersebut.
"Sudah," lapor Alice sembari memperbaiki tata letak dasinya.
Genta mengangguk puas di depan kaca. Ia menggulung tangan jasnya yang sedikit panjang.
"Bagaimana dengan dede bayi, dia tidak menyusahkan mu bukan?"
Alice menggelengkan kepala, mungkin karena kandungannya yang masih baru makanya ia jarang merasakan sakit.
"Tidak."
"Anak pintar," ujar Genta sambil mengusap perut Alice.
Ia mengecup perut tersebut beberapa kali dan mengajak anak yang ada di dalam kandungnya tersebut berbicara.
"Genta dia belum terbentuk sempurna, belum bisa mendengar mu!" Tawa Alice pecah melihat kekonyolan suaminya tersebut.
Genta tidak peduli dan ia malah berganti menjahili Alice. Pria itu menggelitik perut istrinya hingga Alice pun tak kuasa menahan tawanya.
Wanita itu tertawa terbahak-bahak dan berusaha kabur dari himpitan Genta. Ia memukul laki-laki itu berkali-kali, tapi tak juga membuatnya mudah lepas dari Genta.
"Sayang hentikan!!"
Genta yang sudah lelah pun lantas berhenti. Ia berdiri dan mengecup puncak kepala Alice.
"Aku pergi dulu sayang," pamit Genta seraya meraih kunci mobilnya di atas nakas.
Alice membawa tas kerja suaminya dan berjalan mengekor di belakang Genta. Ia memberikan tas tersebut sebelum suaminya pergi.
Ketika Genta telah masuk ke dalam mobil dan hendak pergi ia melambaikan tangannya untuk melepaskan kepergian pria tersebut. Di sana kedua anaknya sudah menunggu minta diantarkan sekolah.
Saat mobil Genta telah melaju jauh, ia pun menarik napas dalam dan masuk ke dalam rumah.
Ia kembali ke kamarnya dan ingin membereskan kamar. Genta boleh saja melarang ia bekerja di dapur, tapi dirinya masih bisa bekerja membereskan kamar yang luasnya minta ampun.
"Kau pikir bisa melarang ku?" monolog Alice sambil mengejek.
Ia tidak ingin pelayan yang membersihkannya karena Alice mulai menetapkan prinsip tidak ada yang boleh masuk ke kamar mereka, karena kamar adalah hal yang sangat privasi.
Saat Alice membersihkan kolong ranjang tidak sengaja menyentuh sebuah benda yang sedikit aneh.
"Ini buku, tapi milik siapa?"
Ia mengambilnya dan menatap benda tersebut yang mirip sebuah buku harian. Merasa penasaran, Alice pun membukanya dan membaca tulisan yang ada di buku itu.
Ia terkejut ketika tahu bahwa buku harian tersebut adalah milik Elizabeth. Entah kenapa hati Alice terus mendesak agar dirinya membaca tulisan yang ada di sana.
Beberapa menit ia lalui dengan membaca buku harian milik Elizabeth. Air matanya luruh ketika membaca setiap part yang ada di sana.
Ia tidak menyangka jika hidup Elizabeth sesulit ini. Ia merupakan anak yang polos dan sangat rajin tapi harus dipaksa untuk menjalani misi oleh orangtuanya.
"Kau tidak sepantasnya menerima ini," lirih Alice dan masih melanjutkan membaca.
Di sana Elizabeth mencurahkan semua perasaannya. Ia tidak pernah mengenal cinta, ia dipaksa menikah dengan pria yang tidak diketahuinya dan diancam. Ia menikah dengan Genta atas dasar keinginan Sean yang sengaja menjadikan dirinya boneka pria itu.
Jika ia tidak ingin melakukan maka orangtuanya akan dibunuh. Elizabeth terpaksa menikah dengan Genta, ia tidak menyangka dirinya yang lugu akhirnya jatuh cinta dengan seorang Genta.
Ia tidak tega ketika Genta yang hilang ingatan otaknya diasah semula oleh Sean. Sean mencuci otak Genta melalui Elizabeth, Sean tidak berniat ingin memulihkan ingatan Genta, akan lebih baik jika pria itu kehilangan ingatan agar mudah diatur. Pada akhirnya Elizabeth penat dan ia tidak ingin melakukannya.
Ia juga mengambil barang-barang Genta ketika pria itu ditemukan di desa, niatnya ia ingin membantu Genta mengingat masa lalunya, meskipun ia harus menerima kenyataan jika Genta telah menikah dan cinta sebenarnya bukan dirinya tapi wanita yang bernama Alice.
Tapi belum sempat ia mengatakan yang sebenarnya, ia telah dibunuh oleh Sean, sungguh tragis kisahnya.
Alice menghapus air matanya. Perjuangan Elizabeth tidak semudah dibayangkan, begitu banyak hal yang ia korbankan bahkan nyawanya.
"Kau memang sepantasnya bahagia, tapi aku ingin egois ,Genta hanya milik ku. Maafkan aku Elizabeth, kau boleh membenci ku di sana."
________
Tbc