
Alice mencatat apa pun yang ditemukan dari investigasi yang dilakukannya bersama tim. Ia menyusuri lereng jurang yang curam dengan hati-hati, Josua setia di sampingnya menjaga.
Tanpa rasa takut sedikitpun, ia menuruni jurang dengan bantuan tali. Saat sampai didasar jurang napasnya tercekat pasalnya melihat banyak kerangka dan tengkorak di lereng tersebut.
Matanya berkaca-kaca karena ngeri melihat bangkai manusia yang berserakan, apakah petugas kepolisian sama sekali tidak mengurus kerangka ini?
Alice menghela napas sejenak dan menyiapkan mental untuk tetap melanjutkan penelitian.
Josua menatap Alice yang tidak takut sedikitpun. Ia tersenyum tipis pasalnya mental Alice sudah mampu menghadapi kejamnya bisnis.
Tangan wanita itu terulur menyentuh salah satu tulang belulang manusia yang masih utuh dengan setelan jasnya.
Napasnya tercekat dan langsung mundur. Ia menatap Josua dengan wajah syok berat.
"Ada apa Nona?" tanya Josua seraya melihat kerangka tersebut dan menyentuhnya.
Alice menarik napas cepat dan matanya terus tertuju pada kerangka itu. Ia mendekat dan perlahan dengan berani mengulurkan tangan dan menyentuh kerangka tersebut dengan tangan bergetar.
"Dia Miguel," lirih Alice tidak percaya ayah mertuanya telah tiada. "Kita harus melakukan pemakaman."
Josua cepat menatap Alice. Ia tidak setuju dengan ide perempuan itu, masih banyak hal yang harus diselidiki dari mayat-mayat ini.
"Siapa Miguel?"
"Musuh ayah ku dan pemimpin organisasi Black Rose," ujar Alice mengingat ke belakang. Ia berdiri dan melihat tengkorak yang lain yang sudah hancur.
Begitu banyak kerangka manusia yang terbengkalai, suasana menjadi mencengkram sementara anak buah dari Alice sibuk melakukan penelitian.
"Dimana cangkul itu ditemukan?" tanya Alice yang terus menatap sekitar.
Ia melangkah pelan menuju jalan yang sedikit rumit. Alice mengernyit ketika melihat ada benda yang ditinggalkan di sana.
Ia meraih pena dan kertas yang sudah lecek dan merah pekat bercampur darah. Ia menyatat penemunya dan memasukkan barang tersebut ke dalam tempat khusus.
"Di situ Nona," tunjuk Josua tepat berada di tempat Alice berdiri sekarang.
Alice langsung beranjak dan menatap Josua penuh tanya. Melihat keyakinan dari Josua menambah petunjuk besar baginya. Senyumnya terulas lebar sembari menepuk pundak Damian.
"Aku mendapatkannya."
"Apa yang nona dapatkan?"
"Benar Josua, benar suamiku lah yang mereka selamatkan," binar Alice dan kegirangan. Ia naik ke atas dan hampir saja terjatuh jika tidak ditahan Josua.
"Hati-hati Nona." Alice mengangguk dan kali ini melakukannya dengan penuh perhitungan.
"Perintahkan kepada yang lain kita akan berhenti melakukan investigasi. Dan akan pergi ke desa di dekat sini."
"Baik Nona."
Alice tersenyum menampakkan deret giginya yang rapi. Ia menangis terharu tidak menyangka kepada dirinya sendiri maupun melakukannya.
Ia lebih dulu masuk ke dalam mobil dan menunggu Josua masuk. Rombongan Alice pun datang ke sebuah desa yang tidak jauh dari tempat itu.
Sesampainya di sana Alice mengintrogasi setiap warga hingga pada akhirnya mereka menemukan titik terang.
"Apa ada korban selamat beberapa tahun yang lalu bekas tragedi di pelabuhan ditemukan di jurang di desa ini?" Mata Alice menyiratkan penuh harap kepada setiap warga yang ditemuinya.
"Maaf Nona saya kurang tahu," sesal orang tersebut dan lanjut mengerjakan pekerjaan mereka.
"Apa kau menemukan informasi?"
"Maaf, sayang sekali tidak Nona."
"Mereka juga?" Alice memandang anak buahnya yang sama melakukan hal sama seperti dilakukannya bersama Josua.
"Apa kalian mencari pria bernama Genta?"
Alice langsung berbalik dan menatap seorang wanita paruh baya itu seraya mengangguk semangat. Ia menghampiri wanita tersebut dan melemparkan senyuman sangat ramah.
"Apakah Anda mengetahuinya?"
"Genta diselamatkan oleh seorang petani saat mencari kayu. Petani itu tidak sengaja melihat korban yang masih berdenyut nadinya dan membawa pulang. Tidak ada yang tahu dengan Genta." Wanita paruh baya itu menatap Josua dan Alice dengan dingin dan tersenyum tipis.
Ia duduk di kursi tua dan memandang serius ke depan. Sementara dengan Alice wanita itu sudah menitikkan banyak air mata.
Ia memeluk tubuh Josua dengan senang. Josua juga ikut bahagia mendengarnya, ia mengusap belakang Alice.
"Selamat Nona."
"Dimana Genta sekarang Grandma?"
Wanita dengan usia lanjut itu menarik napas tersenyum singkat. Hal itu membuat bingung Alice. Ada apa dengan wanita itu? Apa mungkin sesuatu telah terjadi?
Alice harap tidak lagi, ia sudah sangat merindukan pria itu bertahun-tahun. Dirinya hampir saja bunuh diri untung diselamatkan Damian dan ia juga mengalami stres berat.
Lalu apa saat ini? Mereka seakan tengah ditahan oleh takdir dan itu sangat menyakitkan.
"Genta menikah dengan orang ibu kota dan keluarganya juga pindah ke ibu kota. Washington DC."
Dunia Alice seakan runtuh berkeping-keping menyisakan butiran debu kala kalimat itu dikatakan. Hatinya hancur dan dirinya menjatuhkan semua barang yang dipegangnya.
Pertahanan dirinya runtuh dan wanita itu bersimpuh dengan wajah teduh. Air matanya luruh sementara butiran salju terus jatuh menghantam dirinya.
"Ma-maksud Anda?"
"Sesuai yang kau dengar. Maaf aku ada urusan lain."
Kepergian dari wanita tua itu menyisakan luka yang tidak seharusnya dirinya dengar. Jika benar itu Genta sungguh sangat kejam pria itu. Ia menghapus air matanya dan berjalan dengan langkah cepat.
Apa yang ia dapat dari pencariannya bertahun-tahun? Rasa sakit yang seharusnya bukan miliknya kini ia harus terima karena kebodohannya.
"Nona kita harus pulang ke ibu kota, besok kita akan ada meeting lagi dengan Mitra Crop."
Suara yang mengalun milik Josua bak angin lalu yang singgah sementara di pendengarannya. Cairan bening terus saja keluar dan membenamkan senyuman indahnya.
Genta
Ya satu nama itu tiba-tiba membuatnya diam untuk beberapa detik. Itu nama bos dari perusahaan yang akan bekerjasama dengannya. Alice penasaran siapakah orang dibalik usaha besar tersebut?
__________
Tbc
Jangan lupa like dan komen