
Meski hari sudah larut malam, Genta masih betah berdiri di atas balkon dekat dengan pagar pembatas. Ia menatap keindahan kota Washington DC ini dari puncak rumahnya.
Hanya ada hutan yang mengelilingi karena ia mengambil rumah yang lebih sunyi dari keramaian, tujuannya agar dapat hidup dengan tenang bersama keluarga kecilnya.
Genta terus memikirkan misi yang ditugaskan untuknya. Ia merasa delima ketika harus melakukan misi tersebut, jika ia menolak dan mencegah diam-diam, maka aksinya selama ini akan ketahuan dan akan menghancurkan strategi yang telah ia buat bersama anggotanya.
Tidak segampang membalikkan telapak tangan mengambil keputusan, jika ia salah mengambil langkah sedikit saja maka dirinya akan berada di tepi jurang yang sangat berbahaya.
Genta tidak ingin membuatnya semua berantakan. Ia masih memikirkan cara untuk menghentikan aksi gila itu.
Ia percaya dirinya bukan orang yang lemah, ia bisa mengatasi hal ini. Genta yakin, tapi memang tidak ada cara lain ia harus melakukan misi tersebut. Mungkin target pertama tidak terlalu berbahaya karena posisinya tidaklah begitu penting.
Tapi, target keduanya bukanlah sembarang orang. Bahkan pria itu juga ternyata ketua Mafia yang tidak sembarangan, itu artinya ia tidak bisa menyerang pria itu tanpa ada strategi.
Jika ia menolak misi tersebut maka kekuasaannya akan hilang. Bagaimana pun Mitra Crop adalah milik Rose Black, bahkan ia bisa memiliki Mitra Crop secara utuh ketika dirinya telah berhasil memimpin Black Rose, maka ia akan mendapatkan sertifikat saham dan seluruh aset kekayaan ayahnya.
Mitra Crop sangat berpengaruh dengan keberhasilan White Rose. Kenapa Genta memilih nama organisasinya adalah White Rose? Karena laki-laki itu ingin merubah kekejaman Black Rose menjadi sesuatu yang mulia.
Ia tidak menghancurkan Black Rose tapi ia merubah seluruh misi di organisasi tersebut.
"Genta, minumlah!" Perut Alice yang tengah mengandung sudah terlihat membuncit. Wanita itu menaruh gelas yang berisi teh terbaik dari China tersebut di atas meja.
Genta menoleh ke belakang dan tersenyum manis melihat sang istri menghampirinya. Ia duduk di kursi yang tidak jauh darinya itu lalu meraih teh buatan Alice tersebut.
Ia menyeruput air tersebut dan mengusap bibirnya yang terasa lengket.
"Kenapa kau belum tidur?" tanya Genta penuh selidik kepada wanita di dekatinya ini.
Pandangan matanya jatuh ke perut Alice. amarahnya seketika mencair dan ia tersenyum manis. Laki-laki itu mendekatkan telapak tangannya di luar permukaan perut Alice, ia mengusap perut tersebut pelan.
"Aku tidak sabar menunggu kehadirannya," ujar Genta dan mengangkat kepalanya.
Mata mereka saling bertemu, Alice terharu melihat sikap Genta yang terlihat menyayangi anaknya. Ia begitu senang Genta sangat memperhatikan calon anak mereka.
"Aku juga."
Genta mengangguk karena ia yakin Alice pasti merasakan hal yang sama seperti dirinya. Pria itu mendekatkan bibirnya di kepala Alice dan menciumnya sangat hikmat.
"Kau jangan diluar, di sini dingin. Tidak baik dengan kesehatan mu." Genta membawa Alice ke dalam kamar dan merebahkan tubuh wanita itu.
"Kau akhir-akhir ini sepertinya sangat kelelahan, kenapa kau tidak megambil cuti?" Alice membuka selimut yang masih terlipat di atas kasurnya dan membentangkannya.
"Aku tidak apa," timpal Genta dan membuka bajunya hingga tampaklah dada bidang dan perutnya yang terdapat roti sobek.
Pria itu sudah biasa tidur tidak mengenakan pakaian, tapi meski pemandangan itu sudah tiap malam ia lihat tetap saja Alice merasakan wajahnya bersemu dan dadanya sangat gugup.
Ia cepat mengalihkan pandangan matanya dari pemandangan surgawi tersebut.
"Apa ada hal yang menggangu pikiran mu? Kau boleh menceritakan hal tersebut kepada ku!" ujar Alice seraya tersenyum kearah pria tersebut.
Genta menarik nafas sebanyak-banyaknya lalu merebahkan tubuhnya yang sudah sangat letih itu di atas kasur.
Dia menarik tubuh istrinya dan membawa Alice ke dalam pelukannya. Alice tersentak seraya dadanya berdegup kencang ketika harus berdekatan dengan tubuh pria itu yang tidak berbusana.
Ia tepat berhadapan dengan roti sobek laki-laki itu. Lantas dadanya pun bergemuruh tak karuan.
"Ge-genta!" gagapnya sembari mendongak menatap laki-laki tersebut.
Genta melirik kearah wanita yang ada di pelukannya tersebut, lalu ia mendekatkan wajahnya ke telinga perempuan itu.
Sudah dapat menebak hal apa yang akan dilakukan oleh Genta selanjutnya. Benar saja dugaan Alice, pria itu lantas menempelkan benda kenyal pada bibirnya.
Alice dapat merasakan lembutnya bibir pria itu yang menyentuh rongga mulutnya. Perlahan ciuman itu semakin menuntut membuat Alice semakin terbuai dan jatuh dalam permainan laki-laki tersebut.
Seluruh tubuh Alice merasa lemah, persendiannya luluh begitu saja seperti lilin. Ia menarik nafas dan mencengkeram selimut yang ada di sekitarnya dengan kuat.
Ciuman tersebut yang semakin buas membuat Alice merasa kewalahan, ia menarik nafas sebanyak mungkin ketika Genta memberikannya luang untuk bernapas.
"Gentah kau seperti hendak membunuhku saja," marah Alice Seraya mendorong tubuh pria itu ke samping.
Matanya jauh menerawang ke atas. Dadanya masih terasa berdetak begitu kencang. Sementara Genta yang merupakan pelakunya hanya tertawa kecil melihat penderitaan Alice dan rasa gugup wanita itu yang begitu kontras.
"Aku tidak dapat menahan nafsuku jika bersamamu sayang," lirih Genta sembari menopang tangannya dan melirik istrinya dengan tubuh berbaring ke samping menghadap perempuan tersebut.
Alice mendecih malas mendengar ucapan pria itu yang selalu mesum. Sebenarnya ia sudah muak tapi rasa cintanya begitu besar mengalahkan rasa muak nya.
Brakkk
Kedua insan itu yang masih dimadu asmara menatap kearah pintu yang terbuka lebar. Alice yang pakaiannya sudah melorot langsung terkejut dan merapikan pakaiannya.
Ia menghampiri anak-anaknya yang berdiri di depan pintu. Sedangkan di sisi lain Genta merasa aktivitasnya diganggu oleh makhluk-makhluk kecil tersebut.
Ia mendengus bosan dan kemudian menghampiri istrinya di depan pintu. Iya penasaran kenapa bocah besar itu datang kemari di larut malam seperti ini.
"Kenapa kau datang ke kamarku?" Itu adalah suara dingin yang dikeluarkan Genta untuk anaknya sendiri.
Drake menatap ayahnya sedangkan Adaire juga menatap sang ayah namun penuh keimutan sehingga sukar Genta untuk menolak kedua bocah pengganggu tersebut.
"Kau Genta, tidak bisakah kau berbicara lembut dengan anakmu. Mereka masih kecil, kau tidak perlu berkata seperti itu," bela Alice seraya membawa kedua anaknya masuk ke dalam kamar.
"Kenapa kau datang kemari? Bukankah kau memiliki kamar sendiri?"
"Hari ini aku dan abang ingin tidur bersama Papa dan Mama."
Mata Genta langsung membulat. Ia terkejut dengan penuturan Adaire. Tidak, Genta tidak ingin ketua bocah itu ikut bersamanya dengan sang istri.
Justru hal tersebut akan membuat ia kehilangan jatah yang seharusnya malam ini ia dapatkan. Ia tidak ingin sang anak merusak keinginannya yang dinanti-nanti.
"Aku tidak mau menerima mu, balik lah ke kamar kalian," tolak Genta mengusir anak-anak tersebut, namun aksinya langsung dicegah oleh Alice yang merasa tidak terima.
"Kau ini bagaimana sih? Mereka ingin tidur bersama, kenapa kau menolaknya. Dia masih anakmu juga Genta!"
Alice lantas menyuruh kedua bocah itu merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya bersama Genta. Ranjang Genta sangat besar dan muat menampung beberapa orang.
Sementara Genta yang melihat kedua anaknya berada di tengah-tengah dirinya dan Alice mendengus kasar. Lelaki itu menarik selimut dan merajuk, hilang sudah hal-hal yang selalu ia nantikan karena kedua bocah itu tidur di kamarnya.
Alice yang menyadari hal tersebut lantas tertawa dalam hatinya. Iya terkikik karena kepolosan Genta. Pria itu tidak tahu saja ia sengaja menyuruh anaknya tidur di dalam kamar ini.
Ia tidak ingin melayani pria itu karena Genta bisa mengingkari janjinya dan malah bermain kasar.
"Kau pintar Alice," puji Genta sudah termakan rasa kesal.
"Aku lelah. Maafkan aku," Alice tertawa lemah dan memeluk tubuh Adaire yang sudah nyenyak terlelap.
_________
TBC