
Langit cukup cerah malam ini, sinar rembulan memancar dengan terang benderang. Barisan bintang-bintang berjejer rapi.
Adaire sangat menyukai pemandangan malam. Ia duduk di tepi jendela dan mengamati pemandangan di tengah malam yang sangat indah.
Ia tersenyum dan tertawa melihat sepasang kunang-kunang saling mengejar. Tawa imutnya harus terhenti ketika seseorang memanggil namanya.
"Adaire!"
Anak kecil yang penuh dengan senyuman itu pun membalikkan tubuhnya. Ia memberikan sebuah kerutan kepada wanita yang berdiri di depannya.
"Ada apa ibu?"
Lina menghela napas dan menatap Adaire dengan raut wajah yang tidak dimengerti. Wanita itu duduk di tepi ranjang yang diikuti oleh anak kecil tersebut sambil mendekap boneka dalam pelukannya.
Adaire duduk manis di samping Lina. Ia menunggu wanita yang telah merawatnya itu mengungkapkan sesuatu, wajahnya yang imut dengan mata bulat menatap wajah Lina.
"Kau lagi-lagi melakukan kesalahan."
Adaire menunduk. Ia meremas kedua tangannya takut-takut. Benar ia telah lancang menyentuh boneka indah koleksi Alice. Ia juga sangat menyukai boneka, boneka yang dikoleksi oleh Alice sangat bagus dan lucu menurutnya.
Ia ingin juga memilik boneka sama seperti milik Alice, tapi apa daya tentu ia tidak dapat membelinya. Adaire yang mengetahui kenyataan itu hanya menerima dengan pasrah nasibnya.
"Maafkan Adaire," ujarnya dengan wajah tertunduk dan raut yang menahan tangis.
"Sudah aku katakan jangan pernah menyentuh barang milik nona," marah Lina. Ia menghela napas dengan kuat, karena ulah Adaire ia yang harus menerima segalanya, "Adaire tidak bisakah kau menurut? Ini demi kau, apa kau ingin terus menerus mendengar amukan nona?"
Adaire menggeleng. Tentu dirinya tidak ingin mendengar itu, ia sangat takut pada Alice. Semenjak ia mulai bisa melakukan sesuatu ia sudah menjadi pelayan Alice.
"Iya ibu."
"Ku harap kau dapat mengerti Adaire."
Adaire menatap Lina. Pandangannya sangat dalam dan penuh dengan raut sedih. Ia menarik napas dan mengetuk dagunya seolah sedang berpikir.
Anak itu sebenarnya sangat ceria, seberapapun sedihnya pasti tidak akan lama. Ia sangat sulit membenci seseorang. Maka dari itu ia tidak membenci Alice malah sangat menyayangi nonanya tersebut.
"Ibu kenapa nona sangat membenci ku?" tanya Adaire sembari menatap Lina takut-takut.
Lina terdiam kelu mendengar pertanyaan dari Adaire. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya, lagi pula Adaire tidak akan paham.
Perempuan itu menangkup wajah Adaire dengan kedua telapak tangannya. Ia tersenyum pada Adaire yang terlihat imut.
"Jauh dalam hati nona dia tidak membenci mu. Lakukan apa yang dia perintah, jangan membangkang maka kau akan disayang nona."
"BENERAN IBU?!!" teriak Adaire senang. Ia memekik bahagia dan memeluk erat bonekanya. Ia sangat ingin dekat dengan nonanya seperti Lina yang dekat dengan Alice.
Wanita paruh baya itu menatap sendu Adaire. Sungguh malang nasib anak tersebut. Ia harus menjadi imbas dari semua ini.
"Ibu ayah Adaire mana?"
Kali ini Lina terkesiap mendengar pertanyaan dari Adaire. Mulutnya terkunci tidak mampu untuk berbicara beberapa patah kata.
Lina memalingkan wajahnya ke arah langit. Ia tidak tahu harus mengatakan apa kepada bocah
yang masih polos ini. Ini adalah untuk pertama kalinya Adaire menannyakan ayah kepada dirinya.
Tiba-tiba suara pintu dibuka mengalihkan perhatian Lina. Ia terkejut melihat Alice yang masuk ke dalam kamar Adaire.
Tidak terkecuali Adaire, ia juga sangat kaget atas kedatangan Alice. Ia takut Alice akan menyuruhnya dan menghukumnya. Ia sangat lelah hari ini untuk bekerja. Ia juga ingin bermain.
Alice menatap tajam Adaire yang lantas membuat anak itu langsung ketakutan dan menunduk. Wajah dingin Alice membuat suasana menjadi hening.
"AYAH MU TIDAK ADA SIAL*N JANGAN PERNAH MENCARINYA!!" Alice sangat geram mendengar pertanyaan Adaire tadi.
Kemarahannya meluap dan tidak terkendali. Wanita itu memandang Adaire dengan amarah yang memuncak lalu mendekatinya dan kemudian tanpa disangka-sangka menampar keras wajah Adaire.
Plakkkk
"Akhhhhh HIKSS!!! HUAA." Adaire langsung memekik dan menangis kencang.
Ia memegang wajahnya yang sangat terasa perih. Melihat itu membuat Lina langsung mendekap tubuh Adaire. Ia menjadikan punggungnya perisai dari amukan Alice.
Usai menampar anaknya sendiri Alice langsung terdiam. Ia menatap telapak tangannya yang digunakan untuk menampar wajah Adaire.
Napasnya memburu, ia menatap pada Adaire yang bersembunyi di balik tubuh Lina dengan wajah ketakutan. Hati Alice tiba-tiba terasa sesak dan bak ditusuk ribuan kaca.
Ia menggeleng kemudian menangis. Ia berteriak seraya memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Ia langsung berlari keluar dari kamar Adaire. Ia menangis dan terduduk di luar kamar.
Ia tidak menyangka telah melakukan itu pada Adaire. Hatinya sebenarnya sakit. Sungguh di dalam lubuk yang terdalam ia sangat peduli kepada Adaire, namun hanya saja rasa benci kepada pria itu yang membuat Alice gengsi untuk menerima kehadiran Adaire.
"Aku ibu yang jahat Tuhan."
Ia melupakan rasa sakit di dadanya.
Genta yang tadi hendak menemui putrinya diam-diam hanya menatap kejadian tadi dengan wajah sedih.
Ia telah melihat semuanya. Ia sangat marah saat Alice menampar Adaire. Ia juga baru mengetahui nama anaknya sangat indah.
Genta melihat keadaan Alice yang kacau. Pria itu hendak datang menghampiri, tapi tidak dia lakukan sebab tahu sampai kapan pun mustahil ia akan dimaafkan. Mungkin ini karma untuknya.
Suara tangis Adaire yang nyaring menyayat hati Genta. Putrinya, darah dagingnya, kembaran Drake. Ia sangat ingin memeluk Adaire dan memberikan kasih sayang seorang ayah yang tidak pernah didapatkan anak tersebut.
"Lagi-lagi aku hanya bisa berkata maaf tanpa mampu melakukan sesuatu. Tuhan hentikan semuanya, aku tidak sanggup. Oh Jesus."
________
Kali ini Lina tidak bisa lagi diam. Ia harus menyatakan kebenarannya. Ia sudah menyimpan rahasia yang cukup besar dan secara tidak langsung ia juga telah berkhianat.
Sudah saatnya bagi Lina untuk memberitahu William jika biang pemerkosa putrinya adalah Genta Arakhan, pelayan kesayangan William sendiri.
Tapi langkahnya terhenti saat tiba-tiba seseorang menarik tubuhnya. Lina hendak berteriak namun langsung dibekap mulutnya.
"Sudah aku katakan jangan berani-beraninya kau ingin memberitahu William. Apa kau sudah bosan hidup?"
Lina berusaha lepas dari sekapan pria itu namun tidak mampu. Inilah alasan selama ini dirinya tidak bisa mengatakan pada William, saat ada celah sedikitpun untuknya mengatakan pasti akan ketahuan.
Lagi-lagi pria itu mengancamnya jika tidak mengikuti kemauannya. Nyawanya serta keselamatan keluarganya menjadi jaminan.
"LEPASKAN AKU!!!" Pria itu pun melepaskan dan mengacungkan sebuah pistol ke kepala Lina. "Kenapa aku harus takut? Kau sangat bajing*n!!! Kau telah mengkhianati bos yang telah menolong mu! Bahkan kau makan dari uangnya!!!"
"Tentu kau harus takut. Siapa bos yang menolong ku? Kau pikir William menolong ku? Dia telah membunuh banyak orang dan keluarga ku. Itukah yang kau katakan menolong ku? Bos ku bukan dia."
Pria itu pergi dari sana meninggalkan Lina yang lagi-lagi harus membungkam mulutnya. Ia lelah dengan keterbatasannya.
"Maafkan saya nona."
Alice sejauh ini masih belum berani mengungkapkannya. Aneh memang tapi dirinya hendak memendamnya diam-diam.
______
Sean membuka pintu ruang rahasia tersebut. Di sana telah berkumpul banyak orang, dapat Sean lihat William berdiri di samping kursi kebesarannya.
Ia jelas dapat melihat ada orang yang terlilit dengan borgol. Tubuhnya sangat menggenaskan dengan beberapa luka yang cukup parah.
Ia tidak dapat mengenali pria itu dengan jelas sebab wajahnya sudah tidak berbentuk lagi.
"Di mana Damian? Kenapa dia terlambat?"
Lantas Sean pun mengamati orang-orang yang hadir di sana. Benar tidak ada Damian. Namun tak lama pintu itu kembali dibuka.
Damian masuk dengan setelan jas dan topinya yang berwarna hitam. Pria itu memang senang menggunakan topi akhir-akhir ini.
"Kenapa kau terlambat Damian?"
"Maafkan saya. Ada beberapa kendala di jalan tadi tuan."
William mengangguk. Ia menatap satu persatu anak buahnya. Sudah bertahun-tahun mereka mencari pelakunya tapi tidak juga berhasil.
"Kita telah melakukan pencarian tapi selalu gagal. Ku rasa banyak pengkhianat di ruangan ini. Bagaimana menurut mu Damian?"
Sean menatap pada Damian dengan datar. Ia menunggu jawaban dari pria itu.
"Benar apa yang dikatakan tuan. Saya rasa pengkhianat di sini memiliki posisi yang cukup tinggi," ungkapnya sembari melirik Sean yang menatap dirinya tajam. Damian tersenyum miring dan Sean juga melakukan hal yang sama.
Sean mengepalkan tangannya. Tapi ia berusaha tetap tampak seperti biasa.
"Aku setuju apa yang dikatakan kau Damian. Tapi aku sekarang telah menemukan pelakunya."
Sontak saja Damian dan Sean langsung menatap Wiliam terkejut. Mereka seolah tengah menunggu William untuk melanjutkan kata-katanya.
Tapi mata Damian dan Sean jeli. Mereka melihat pada pria yang sudah babak belur.
Napas Sean tercekat melihat pemandangan menggenakan itu. Sama halnya dengan Damian, ia masih dapat mengenali pria tersebut. Tangannya mengepal serta napas yang penuh amarah.
Pria menggenaskan tersebut dalam ambang sekarat.
_____
Tbc
Jangan lupa like dan komen yah