
Air mata terus menetes dari kelopak mata indahnya. Alice meratapi nasib malang yang harus ketahuan Damian. Damian tentu tidak akan semudah itu membiarkannya menyelidiki kasus tersebut.
Pasti pria itu akan berusaha menghentikannya dan menjadi penghalang dirinya. Alice berjanji untuk mandiri, ia bukan lagi Alice yang dulu yang mudah dikendalikan. Sekarang ia adalah Alice Nekhade Arakhe sesungguhnya, wanita mandiri bukan menye-menye.
Ia menghapus kasar air matanya dan berjanji pada dirinya penuh keyakinan jika ia akan melakukannya sendiri dan melawan pria itu berani.
Ia menarik napas panjang dan beranjak dari tempatnya lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Ia membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket. Perempuan itu mengguyur tubuhnya dengan air shower. Air berjatuhan menetesi disetiap tubuh mulusnya.
Gosokan Alice semakin melambat pada tubuhnya. Jemarinya berhenti di dadanya. Wanita itu menatap dadanya tepatnya pada bandul kalung yang tergantung di lehernya.
Ia meraih bandul kalung itu dan tersenyum mengamati. Setiap kali rasa rindu menggerogoti, Alice selalu melihat pada kalung peninggalan Genta.
Mereka memiliki kalung yang sama dengan bandul saling berpasangan. Ia tidak tau ke mana kalung yang ia berikan pada pria tersebut sekarang.
Alice menatap pada jemari tangannya yang masih setia tersemat cincin pernikahan mereka. Alice tidak pernah melepaskannya karena ia menganggap jika membukanya adalah sebuah pengkhianatan.
Dan banyak orang yang menjauhi Alice karena menyangka Alice telah memiliki suami. Tapi tidak menutup kemungkinan banyak netizen yang bertanya dimana suaminya?
"Bagaimana kabar mu?" Alice bertanya pada dirinya sendiri yang sangat menyedihkan ini.
Lagi-lagi pertanyaan itu akan menyakiti hatinya sendiri dan membuat hatinya hancur setiap kali membayangkan hal buruk tentang Genta.
"Apa kau tidak merindukan Drake dan Adaire? Mereka sangat merindukan kau Genta. Aku harap kau mendengar ku,", tutur Alice tidak yakin.
Perempuan itu membilas tubuhnya dan mengambil handuk yang tergantung. Ia mengusap handuk itu keseluruhan bagian tubuhnya.
Merasakan sensasi segar pada tubuhnya membuat Alice memilik semangat baru untuk menjalani hidup hari ini.
Ia keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di dada. Ia mengambil pakaian yang akan dikenakannya malam ini.
Baru satu lengan baju yang masuk tiba-tiba ada dering telepon dari ponselnya. Alice megambil dan mengangkat telepon itu tanpa perlu melihat nama kontak orang itu lagi.
Ia mengapit smartphone tersebut diantara telinga dan pundaknya.
"Halo," sapa Alice cepat sambil menyelesaikan memakai baju.
"Nona kami mendapatkan petunjuk baru."
Raut wajah Alice seketika langsung berubah. Ia tidak peduli lagi dengan penampilannya dan duduk di meja kerja di ruangannya.
"Apa yang kau temukan?!"
"Hari ini kami mendapat informasi dari tim jika Genta salah satu korban yang dibuang di jurang."
Senyum Alice sedikit mengembang, setidaknya itu lebih manusiawi ketimbang dibakar hingga tidak meninggalkan kerangka sedikitpun.
"Lalu? Apa kalian menemukan hal lain?"
"Tim juga meyakini jika Genta pada saat itu masih hidup. Kami menemukan ada cangkul dari milik petani yang tertinggal di lokasi yang diyakini tempat tubuh Genta jatuh. Kami dan tim baru menyimpulkan tahap awal jika Genta diselamatkan oleh seorang petani."
Tenggorokan Alice tercekat mendengar informasi tersebut. Dadanya memburu dan dirinya tidak mampu mengatakan sepatah kata pun.
Ia kembali menangis, jika benar Genta selamat ia tidak bisa membayangkan betapa bahagianya dirinya.
"Bagus Josua, lakukan pencarian lebih gencar lagi. Cari data di desa sekitar dan siapa-siapa saja penduduk di desa itu, simpan cangkul yang kau temukan, barangkali bisa memberikan kita petunjuk. Usahakan ini semua tidak diketahui Damian. Aku akan datang ke markas."
Alice menekan tombol merah. Ia mengambil jasnya dan keluar dengan mengendap-endap agar tidak diketahui Damian.
Selain karena pekerjaan Alice juga datang ke Amerika untuk mengusut kasus yang tidak jauh dari desa Woodstock.
__________
Genta memasuki kantor polisi Amerika Serikat. Kedatangannya adalah untuk mengurus kasus Elizabeth yang sangat janggal dan hendak diberhentikan oleh orang tua Elizabeth.
Setelah mendengar berita itu Genta sangat geram dan mengutuk perbuatan mereka. Dirinya tidak terima kasus itu dihentikan begitu saja tanpa info yang jelas.
Ia mengurus kasus itu bersama polisi. Awalnya polisi menolak, namun mendapatkan serangan bertubi-tubi dari debatnya bersama para polisi akhirnya membuat mereka setuju dengan permintaan Genta.
"Ku harap kau dapat mengusut kasus ini sampai tuntas."
Genta beranjak dari tempatnya dan pergi dari ruangan kepala polisi.
Polisi sangat menyebalkan, katanya mengayomi tapi nyatanya mereka hanya menjadi masyarakat budak, dan mudah dimanfaatkan orang-orang tertentu.
Ia menarik napas dan hendak bergegas pulang. Namun, matanya mata elangnya tidak sengaja menangkap keberadaan Alice yang ternyata di tempat ini.
Genta merasa tidak asing dengan wanita itu, hatinya langsung memburu dan memerintahkan kepada tubuhnya sendiri agar tetap mengamati Alice.
Perempuan itu yang sedang berbicara dengan polisi telah mencuri perhatiannya. Kedatangan Alice ke sini untuk menyelidiki kasus tragedi di pelabuhan, ia mencari informasi dari hasil penemuan polisi.
Ia mencari data lebih lengkap dan bertanya meneliti sendiri. Kali ini ia yang akan datang ke tempat tersebut meski nantinya ia harus memendam rasa trauma dan takut yang berlebih.
Polisi tidak memberikan informasi kepadanya dengan lengkap seolah sedang menutupi sesuatu dan mulai detik itu ia tersadar kasus tersebut ternyata ditutup secara paksa dan dihentikan karena mereka menerima sogokan. Tapi siapa yang telah berani melakukan hal keji tersebut?
Napas Alice memburu dan tangannya terkepal, pasti ulah Damian. Laki-laki itu entah kenapa selalu menghalangi hidupnya, apa mau Damian? Ia hanya anak buah ayahnya tidak berhak mengatur kehidupannya.
Alice pergi dengan napas memburu serta kemarahan yang memuncak. Pada saat berjalan ceroboh dirinya malah menabrak tubuh jakung yang tinggi tegap.
Ia mendongak kepalanya dan melihat tubuh siapa yang ditabraknya. Alis orang itu terangkat kala melihat wajah Alice yang begitu sangat dekat.
"Kenapa kau menghalangi jalan ku?"
"Aku? Ku rasa tidak," ujar pria tersebut dan tersenyum dibalik maskernya.
Alice mendengus dan mulutnya menganga seketika kala melihat kaki Genta yang membutuhkan tongkat. Ia tersenyum lirih sambil menggaruk tengkuknya.
"Hey, maafkan aku."
Genta tersenyum kepada Alice. Ketika berbicara dengan Alice ia merasa dekat dengan wanita ini. Seperti ada ikatan sesuatu yang menjalin dirinya.
Mata bulat yang menatapnya tadi seakan dirindukan Genta, wajah cantik wanita itu sungguh menghilangkan kewarasannya.
"Tidak apa Nona."
Alice tersenyum lebar kepada Genta. Ia tidak menyadari itu adalah Genta karena pria itu menggunakan masker dan topi dan hanya menyisakan bagian matanya. Suaranya pun sedikit asing namun terdengar familiar. Tapi, memang banyak suara yang sama seperti Genta.
Mereka mengobrol hangat di depan kantor polisi itu hingga lupa waktu. Begitu banyak kejadian yang tanpa disadari pria itu lakukan.
"Kau jangan bersedih lagi Nona." Tangan Genta refleks terangkat dan mengusap kepala Alice.
"Terima kasih." Tubuh Alice meremang merasakan elusan lembut yang sudah lama hilang dari dirinya.
"Saya tebak Nona tipikal orang yang sangat suka menyukai boneka dan mendengar dongeng, kan?" Tidak tau, kalimat itu spontanitas keluar dari mulutnya.
Alice mengerutkan alisnya terkejut kala Kalimat tadi terlontar. Ia tersenyum gugup dan mengangguk.
"Ya, dimana kau mengetahuinya?"
"Ee eumm aku hanya menebak saja."
Tiba-tiba suasana menjadi canggung diantara keduanya. Alice merasa gugup dan hendak melarikan diri dari situasi ini, ia melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Sepertinya saya ada urusan lagi."
Ketika ia hendak pergi tiba-tiba tubuhnya disenggol seseorang hingga ia jatuh dan menimpa Genta. Genta menahan tubuh Alice sehingga wanita tersebut yang sulit menjaga keseimbangan tidak sengaja mengecup Genta dari luar maskernya.
Alice dan Genta keduanya sama kagetnya. Wanita itu semakin tidak terkendali gugupnya dan langsung lari menghindar.
Genta terdiam di tempatnya bak orang bodoh. Barusan yang terjadi membuat dadanya berdetak hebat seolah tengah terjadi sesuatu dengan jantungnya.
"Siapa kau?" lirih Genta seraya menyentuh dadanya.
______
Tbc