
Alice keluar dari dalam mobil mewah yang ia tumpangi kemari. Wanita itu membuka kacamata hitam yang terpasang di wajahnya. Aura anggun sontak menguak dari diri Alice.
Orang yang berada di sekitar pun merasa terpesona dengan kecantikan dan keanggunan yang dimiliki oleh wanita tersebut.
Ia tersenyum ramah kepada orang yang ada di sekitarnya. Para orangtua wali murid yang hendak menjemput anaknya melihat Alice langsung berdecak kagum.
Hari ini Alice yang akan datang menjemput anaknya ke sekolah. Wanita itu melakukan tugasnya sendirian karena Genta masih sibuk dengan meeting nya.
Alice pun memutuskan untuk menjemput anaknya sekalian beradaptasi dengan lingkungan sekolah anak-anaknya. Ia juga ingin tahu kedua bocah itu berteman dengan siapa saja.
Senyum Alice terukir lebar melihat Adaire dan Drake yang keluar dari gedung sekolah tersebut. Ia melambaikan tangannya kepada dua bocah tersebut.
Drake yang melihat sang ibu lekas berlari meninggalkan Adaire yang belum menyadari Alice menjemputnya.
"Mama!!" Drake menghambur ke dalam pelukan sang ibunda.
Alice langsung menangkap tubuh Drake yang berlari ke arahnya tersebut. Ia tertawa dan menghujami Drake dengan ribuan ciuman.
Alice mendongak melihat Adaire yang datang dengan wajah cemberut. Ia menarik baju Drake dan menjauhkan lelaki itu dari Alice.
"Mama!!" Lalu Adaire pula yang memeluk tubuh wanita itu.
Alice hanya mampu tertawa melihat tingkah anaknya yang saling cemburu. Ini adalah hal biasa bukan sesuatu lagi. Hampir tiap hari terjadi.
"Sudah-sudah. Tidak baik bertengkar," nasehat Alice dan mengusap kepala sang anak.
"Adaire!! Aku yang lebih dulu."
"Tidak mau. Kita gantian." Adaire malah lebih mengeratkan pelukannya membuat Alice sesak.
"Aishh... Kau tidak lihat mama kewalahan memeluk mu. Kau ingin membunuh mama?" tanya Drake sembari menjauhkan tubuh Adaire.
"Kalian ini, Mama tidak apa-apa Drake."
Adaire yang sadar dirinya terlalu kencang memeluk tubuh sang bunda pun lantas melepaskannya. Ia menyengir menampakkan deretan giginya.
"Mama maafkan Adaire!"
"Tidak apa."
Alice pun hendak membawa mereka masuk dalam mobil dan pulang. Tapi, perempuan tersebut tercekat melihat orang yang sedang berdiri di depannya.
Napasnya memburu dan spontan ia mundur. Alice memeluk tubuh anaknya dengan kuat. Dadanya bergemuruh melihat orang tersebut makin mendekat ke arahnya.
"Kau! Jangan mendekat padaku pergi kau dari sini," ujar Alice sembari menatap kedalam netra pria itu yang menatapnya tajam.
Drake bersama Adaire bingung melihat ibunya yang tampak sangat ketakutan. Adaire lantas memeluk ibunya erat juga merasakan takut yang ditularkan oleh Alice, sementara Drake berdiri di paling depan untuk menjadi perisai sang ibu.
Drake menatap Sean seolah-olah tengah mengancam pria tersebut.
"Paman!! Pergi dari sini sebelum aku akan menghabisi mu!!"
Alice yang mendengar anaknya berkata seperti itu terkejut. Lantas ia menatap tidak percaya ke arah Drake.
"Drake pergilah!! Dia bukan tandingan mu!"
Sean menghela napasnya panjang. Ia berjongkok di depan Drake. Laki-laki itu menyentuh kepala Drake. Hal tersebut membuat Alice panik bukan kepalang.
Ia menepis tangan Sean yang ingin mengusap kepala Drake. Sean memandang Alice dan tersenyum kecil.
"Aku tidak akan menyakitinya!"
"Lantas mau apa kau kesini?!!"
"Kau sudah besar rupanya." Sean teringat saat Drake masih kecil. Ia menculik anak itu dari Alice dan memberikannya kepada Genta diam-diam untuk menjalankan misi dari Miguel.
Tidak ada yang tahu dialah pelakunya. Dan sekarang anak tersebut sudah besar hampir sama seperti dirinya. Drake memang masih muda tapi tubuhnya bak anak remaja.
"Sean mau apa kau ke sini?"
"Kau terlalu banyak tanya Alice. Aku ingin melihat anak istimewa mu!! Anak dari dua garis keturunan yang sangat luar biasa dan saling menyimpan dendam." Sean menertawakan hal konyol tersebut.
Drake adalah penerus selanjutnya ia memiliki dua kakek yang bukan orang biasa. Saling bermusuhan dan saling membunuh, ia tidak tahu akan berada di pihak mana anak kecil ini.
"Kau menarik perhatian ku Drake!"
"Kau tahu semua ini sangat konyol!"
"Kau!!!"
"SEAN!!"
Genta yang baru saja datang langsung menghadiahi pria tersebut dengan sebuah tinjuan. Ia menatap penuh intimidasi.
"Jika berani kau mengganggu anak istri ku, aku tidak akan tinggal diam," marah Genta sembari mendorong tubuh Sean.
Sean menarik napas dan pandangannya jatuh kepada perut Alice. Sebentar ia terkejut tapi tidak lama senyum miring terukur di bibirnya.
Genta yang menyadari tatapan Sean menggeram marah. Ia mengepalkan tangannya dan menatap lawannya dengan tajam.
"Apa mau mu?!!"
Sean dengan wajah santai mendekat pada Genta dan membisikkan sesuatu.
"Kau tidak ingin mereka kenapa-napa bukan?Tinggalkan dan fokuslah dengan tugas mu karena mereka bisa menjadi ancaman terbesar!"
Genta membulat dan memukul pria itu. Orang-orang yang berada di sekitar sana memekik ketakutan. Alice cepat memisahkan mereka.
"Genta sudah!! Sebaiknya kita pergi dari sini!"
Ia menarik tubuh Genta dan membawa kedua anaknya dalam mobil.
"Kau tidak apa-apa?" khawatir Genta dan mengecek tubuh Alice.
Ia sangat terkejut mendapatkan kabar jika Sean menemui istrinya. Ia tidak ingin pria itu berbuat macam-macam dan membahayakan keluarganya. Sean sudah tidak terkendali maka dari itu ia cepat menuju ke sekolah anak-anaknya.
"Aku tidak apa-apa. Seharusnya kau yang dikhawatirkan!"
Genta mendesis dan menatap wanita tersebut. "Kau tidak perlu khawatirkan aku. Aku tidak apa-apa."
"Tapi bagaimana jika kau terluka?"
"Aku bukan anak kecil," balas Genta.
"Papa tadi bukannya paman Sean?" tanya Drake sambil menatap keluar jendela mobil.
Alice pulang ikut dengan mobil Genta, sementara mobilnya dibawa oleh bodyguard.
"Iya. Mulai sekarang kau harus menjauhinya!" peringat Genta pada anaknya Drake yang sudah sangat dekat dengan Sean.
Sean ternyata sering menemui Drake pas anak itu bayi hingga berumur 4 tahun dan hal itu membuat keduanya dekat.
"Kenapa paman Sean membuat mama takut?"
Alice tersenyum tipis. Ia mengusap surai sang anak dan menggeleng lemah.
"Tidak apa," ujar Alice kepada anak sulungnya tersebut.
Genta mengemudikan mobil itu membelah jalanan yang mulai padat. Banyak gedung pencakar langit di pinggiran dan hal itu sudah lumrah di kota Washington DC.
"Lain kali kau tidak boleh pergi sendiri! Aku akan mencarikan bodyguard untuk mu!" ujar Genta yang sambil mengemudi tersebut.
Sontak Alice menatap pria itu. Ia mengernyitkan alisnya penuh tanya.
"Genta kau tidak perlu melakukan hal ini," tolak Alice karena ia merasa bisa mengatasi dirinya sendiri, ia risih jika harus diikuti bodyguard.
"Kau tidak lihat? Bagaimana jika Sean menyakiti mu tiba-tiba? Atau musuhku yang ingin melukai mu?"
Alice kalah, ia tidak bisa berkata-kata lagi dan pasrah. Wanita itu dan menatap ke depan. Ia harus menurunkan egonya.
"Terserah kau!"
"Nah, istri ku pintar," puji Genta dan mengusap kepala sang istri dengan satu tangannya.
Diam-diam Alice yang sedang cemberut tersebut tersenyum. Ia menoleh ke samping agar Genta tak menyadarinya.
________
Tbc