My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 21



William mengepalkan kedua tangannya. Ia mengencangkan genggaman tangannya hingga dapat terlihat urat-urat yang menyembul di sana.


Pria itu sontak mengarahkan tinjunya pada anak buahnya. Semua orang yang menyaksikan itu tertunduk takut. Pria yang menjadi korban William hanya bisa terdiam tak berkutik.


Jika ia semakin melawan maka semakin dekat pula ia dengan ajal. Napas William yang memburu sudah barang tentu telah menunjukkan bahwa pria itu sedang diliputi oleh amarah.


Tidak ada yang berani menghentikan William. Jika ia telah marah maka habislah sudah. Seperti pria malang itu saat ini, ia ditendang di bagian perut hingga terlempar beberapa meter. Laki-laki tersebut memuntahkan cairan darah dari mulutnya.


Tidak hanya satu korban William, ia pun menarik kerah anak buahnya yang lain dan melakukan hal yang sama kepada pria itu.


Sean terdiam melihat tuannya yang tidak dapat dikendalikan. Hanya menambah amukan pria itu saja jika ia berani menghentikannya.


William pun menghentikan perbuatan kejamnya itu lalu menatap Sean yang tidak jauh berdiri darinya.


Ia menghampiri Sean dan menatapnya cukup tajam. Sean pun hanya berani menunduk menunggu apa yang hendak disampaikan oleh William.


"Kenapa kalian semua tidak becus? Apa yang kau lakukan Sean selama ini? Sudah hampir setahun kalian tidak kunjung menemukan pelakunya. BODOH."


William berteriak dan memandang semua orang di sana dengan kesal. Bagaimana ia tidak marah, ia telah memberikan arahan semua anak buahnya, masa menemukan pria itu saja tidak bisa.


"Tu-tua-n sepertinya ada di antara kita yang berkhianat dan menjadi mata-mata," ungkap pria tersebut dengan takut-takut. Darah mengalir penuh di seluruh tubuhnya.


Sentak saja William langsung melihat pria tersebut. Dirinya mengernyit dan terdiam sesaat. Tidak lama ia pun langsung emosi kembali.


Berani-beraninya ada orangnya berkhianat. William menatap satu persatu ana buahnya sebelum akhirnya memberikan pertanyaan kepada sang pria yang terkapar tidak berdaya itu.


"Darimana kau tahu?"


"Saya tidak sengaja menemukan beberapa bukti seperti beberapa berkas dan mendengar percakapan seseorang yang sedang berusaha menghentikan pencarian. Dan ada orang yang cukup mencurigakan berkeliaran, saya hendak mengikutinya diam-diam tapi saya kehilangan jejak. Puncaknya mereka mengejar Damian."


William berpikir sejenak. Ia tentu sangat marah mendengar kabar tersebut. Dirinya telah kecolongan. Pria itu menatap pada Sean.


"Kenapa kau tidak melaporkannya pada ku?"


"Tuan saya rasa saya bisa mengatasinya. Maka dari itu saya tidak melapor ke tuan." William pun tersenyum remeh kepada orang kepercayaannya tersebut.


"Kau pikir kau siapa, hah?"


"Maafkan saya tuan."


Tidak lama pintu ruangan itu dibuka oleh seseorang. Tampak seorang pria berjas hitam dan topi berwarna senada yang menutupi sebagian wajahnya.


Lelaki itu masuk dan melangkah pelan. Setiap langkahnya tampak terlihat penuh dengan wibawa.


Pria itu membuka topinya dan tersenyum kepada William. William mengangguk dan membalas senyum pria itu sekilas.


"Apakah saya sudah lama terlambat tuan?"


"Tidak. Duduklah Damian. Sepertinya ada pengkhianat di antara kita, kau tau siapa itu?"


"Saya juga merasakan yang sama tuan," ujar Damian. Damian pun mengubah ekspresinya menjadi serius. "Seseorang telah mengejar saya dan hampir mengambil nyawa saya. Saya diikuti mobil dengan lambang Texis. Dan beruntungnya Sean datang tepat waktu. Dari pengamatan saya ada seseorang yang sedang merencanakan sesuatu yang cukup besar untuk tuan. Tentunya mereka bukan orang sembarangan, tidak mudah untuk kita mengungkap identitasnya terutama orang itu cukup berbahaya."


William tampak termenung. Sudah lama sekali dirinya tidak bermain kucing-kucingan seperti ini. Tapi pria itu yakin pasti dapat mengungkapkannya.


"Aku sendiri yang akan turun."


______


Genta hari ini meminta izin untuk menginap di rumahnya. Pria itu tengah tersenyum kepada sang anak. Ia seperti duda anak satu saja.


Ia mengusap wajah sang anak dengan penuh sayang. Kehadiran Drake Arakhan di hidupnya membuat hari-hari Genta terasa lebih berwarna.


Beberapa hari ini ia disibukkan dengan mengurus Drake. Jika ia bekerja ke rumah William maka ia akan menitipkan pada tetangganya. Ia juga senang jika tetangganya bernama Dyana itu menganggap Drake seperti anaknya sendiri.


Mengurus sang putra beberapa hari telah membuat Genta mahir dalam menangani anak kecil.


Ketika Drake telah membuka matanya perlahan cepat pria itu langsung menimangnya. Ia memberikan susu formula kepada sang anak. Sangat menyedihkan sekali putranya ini, ia harus mendapatkan susu formula yang dimana seharusnya ia mendapatkannya dari Alice.


Membayangkan Drake menyusu pada Alice membuat wajah Genta memerah. Ia tersipu merasa salah tingkah sendiri. Ah rasanya Genta sangat merindukan perempuan tersebut.


Hanya senyuman kecut setelahnya menghiasi wajah masam Genta. Pria itu menatap wajah sang anak yang sangat mirip dengan Alice. Melakukan hal tersebut dapat mengurangi rasa rindunya yang tidak dapat dibendung lagi.


Genta menghela napas dan meletakkan sang anak yang mulai nyaman tertidur kembali ke box bayi. Ia duduk di tepi ranjang dan mengambil beberapa lembar buku, ia mengarang beberapa cerita yang telah menjadi hobinya sekarang.


Jika ada Alice ia dengan senang hati membacakannya untuk perempuan tersebut.


Genta memejamkan matanya. Semenjak ada Drake ia mulai berhenti mabuk-mabukan. Bagaimana jika orang tuanya di kampung mengetahui hal ini?


Ia tidak dapat membayangkan wajah marah sang ibu. Pasti kecewa ibunya, ia telah melukai hati wanita yang telah merawatnya.


Usai melakukan pekerjaan Genta termenung di tepi jendela. Otaknya tengah mencerna alur hidupnya. Sampai sekarang Genta tidak mengerti kenapa tiada satupun orang di rumah mencurigai dirinya jika pemerkosa seperti dia telah hidup berbulan-bulan di sana. Konyol sekali, Genta tentu tidak bodoh untuk mengakuinya, penjahat mana mau mengaku?


Yang lebih membuat Genta tidak mengerti adalah Lina? Perempuan itu mengetahui semuanya, ia juga tentu sangat menyayangi Alice, tetapi kenapa perempuan itu sama sekali tidak pernah melaporkannya? Apa ada sesuatu yang tengah pelayan itu sembunyikan.


Untuk Alice, Genta rasa perempuan itu juga masih bisa berkomunikasi dengan beberapa media, tapi kenapa pula dia tidak mau memberitahukan jika dirinya yang telah membuatnya seperti itu, lagian Alice sangat membencinya.


Genta tidak tahu saja jika Alice sebenarnya sangat ingin malahan mengatakan. Tapi entah ada belahan hatinya yang mencegah setiap ia hendak melakukannya.


"Semuanya membingungkan ku. Aku tidak mengerti dengan dunia orang kaya begitu banyak kah rahasia yang mereka sembunyikan? Apakah semuanya berhubungan dengan ku?"


Genta berusaha menjawab pertanyaan yang timbul dari benaknya sendiri. Otaknya semakin tidak berfungsi ketika harus berpikir keras setelah melihat sebuah bingkai foto di rumah Miguel kemarin, jelas ia tahu foto itu. Foto tersebut sama dengan foton kecilnya yang ada di rumahnya di kampung.


_______


Tbc


Jangan lupa like dan komen. Maaf kalau kurang bagus, kasi masukan aja.