
Langkah kaki Alice semakin pelan hingga ia pun berhenti. Ia menarik napas kasar dan mendengus melihat orang di depannya yang sedang bersandar di mobil mewah milik pria itu.
Alice berusaha tidak peduli dan memutar bola matanya malas tat kala orang tersebut hendak menghampirinya. Tapi sebelum itu terjadi, Alice lebih dulu pergi menghindari pria tersebut.
Sayangnya keputusannya tidak memberikan solusi baginya. Pria itu terus membuntuti dirinya bak anak yang ditinggal orang tuanya.
Alice mengepalkan kedua tangannya melihat kejahilan pria ini yang tiada tara. Ia membalikkan tubuhnya dan melihat Genta yang menyengir bak bocah tak berdosa.
"Pergi kau!!"
"Baby! Kau masih marah pada ku kah?" Genta memelas dan hendak meraih tangan Alice namun langsung ditepis olehnya.
Alice memberikan tatapan peringatan kepada pria itu tapi nyatanya tetap saja peringatan yang diberikannya tak dihiraukan.
Ia bak berbicara kepada orang gila, tapi jika dipikir Genta memang crazy. Ia sungguh sangat marah dengan pria itu yang selalu saja membuatnya kelelahan.
"Memang gila kau!" Mulut Alice langsung dibungkam oleh Genta.
"Baby mulut mu yang manis ini tidak pantas mengucapkan itu. Kau hanya boleh memuji ku." Genta mendekatkan mulutnya di telinga Alice, "dan mendesah untuk ku."
Kontan mata Alice langsung membulat dan ia memberikan hadiah pukulan berpuluh kali kepada Genta.
Genta tertawa gelak dan melarikan diri. Ia masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobilnya. Alice hanya bisa memaklumi sifat tidak waras Genta, ia begitu muak apalagi ketika pria itu membuka kaca mobilnya dan mengejeknya.
"Baby masuklah!"
Pria itu membukakan pintu untuk Alice tapi sama sekali tidak ada pergerakan dari perempuan itu. Wanita itu diam tanpa berminat masuk ke dalam mobil yang sudah disuguhkan.
"Baby," ujarnya melirih. Ia keluar dari dalam mobil dan menarik tangan Alice paksa dan memasukkan wanita itu ke dalam mobil.
"Apa-apaan kau Genta!!" kesal Alice dan hendak membuka pintu namun tangannya langsung ditahan.
"Kau harus di sini temani aku, sayang."
Genta meraih tangan Alice dan mengecup punggung tangan wanita itu. Ia pun menatap mata Alice sangat dalam dan mendekatkan wajahnya lalu mencium puncak kepala wanita tersebut.
Genta tersenyum lalu menatap dalam wajah wanita tersebut. Ia begitu menikmati wajah cantik yang tiada tara tandingannya bahkan bidadari akan kalah dengan kecantikannya.
"Wajah cantik ini tidak cocok memasang muka judes seperti ini," goda Genta membuat Alice bercampur marah dan tersenyum malu.
Tapi Alice berusaha menutupi saltingnya dari pria ini. Ia tidak ingin Genta semakin besar kepala, mulut laki-laki itu memang manis hingga membuat siapa pun bakal tergoda.
"Ceih yang senyum-senyum sendiri. Senyumannya tidak boleh disimpan, mubazir, sayang mending kasih ke aku."
Pada akhirnya Alice pun menyerah dan tersenyum lebar. Ia tertawa dan menyimpan wajahnya di dada bidang milik pria itu. Melihat tingkah Alice yang menggemaskan membuat Genta merasakan senang yang luar biasa.
Genta meraih sebuah benda di jok belakang. Ia memberikan benda besar tersebut kepada Alice.
Melihat sesuatu yang amat besar disodorkan di wajahnya membuat Alice merasa syok. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya lalu menatap Genta tidak percaya.
"OMG ini boneka yang aku mau beli," senang Alice dan memeluk bonekanya begitu erat.
Ia tertawa bahagia dan memeluk Genta sebagai balasan terimakasihnya. Hilang sudah api kemarahan yang selalu menyertai wanita tadi.
Kemarahan Alice mencair perlahan. Bagaimana pun dirinya tidak akan bisa jika boneka sebagai objek utama tanda permintaan maaf.
"Kamu senang sayang?" tanya Genta memperhatikan raut bahagia yang tercetak jelas di sana.
Alice mengangguk antusias. Ia mengecup pipi Genta membuat laki-laki itu terkejut dan menatap horor Alice.
"Jangan memulai."
Tapi Alice tidak peduli dan menjulurkan lidahnya. Alhasil ia diserang dengan ciuman bertubi-tubi di wajahnya, siapa lagi kalau bukan Genta pelakunya.
Terdengar suara renyah keduanya dari dalam mobil. Mereka begitu amat bahagia meski tidak seutuhnya.
___________
Hari ini satu keluarga itu baru saja menjelajahi kota Washington DC mengajak kedua anaknya berkeliling sebelum pulang ke Kanada. Adaire dan Drake begitu senang bisa menikmati pemandangan kota Washington DC bersama keluarganya.
Banyak hal yang telah mereka lakukan hari ini hingga moment-moment tersebut sukar untuk dilupakan, akan selalu terpatri di dalam benak mereka.
Genta melihat dari kaca yang tergantung di mobil, Adaire yang sibuk dengan bonekanya dan Drake yang sibuk dengan bukunya. Drake sangat hobi membaca kisah maupun novel.
Pengetahuannya tentang kisah-kisah menarik di dunia sangat luas. Bahkan Alice sering meminta Drake membacakan cerita untuknya setiap kali ia mengenang Genta dulu.
Sekarang Genta di sisinya dan pria itu kerap membacakan sebuah kisah yang begitu menarik untuk diikuti.
Genta menarik napas dan diam tidak menjawab, hal tersebut membuat Alice merasa aneh sekaligus marah karena perkataannya dihiraukan.
"Kita akan ke kantor polisi."
Mimik wajah Alice sudah cukup untuk mewakilkan jika ia begitu syok dan terkejut dengan pengakuan pria itu. Ada gerangan apa di kantor polisi?
Apakah ada masalah baru? Atau ada sesuatu yang disembunyikan pria itu darinya? Alice menatap penuh tanya kepada Genta.
"Genta katakan ada apa?" paksa Alice begitu khawatir.
Genta menggeleng santai lalu menatap dalam netra milik Alice. Ia menghela napas sejenak membiarkan ia menikmati beberapa waktunya sebentar.
"Daniel menelpon ku jika aku tidak bisa membuka kasus Elizabeth kembali? Hal ini membuat ku semakin merasa janggal ada yang salah. Mungkin berhubungan dengan masa lalu ku? Kau mengenal Elizabeth?"
Elizabeth? Ia saja tidak tahu rupanya. Sungguh begitu banyak nama Elizabeth di dunia ini dan Elizabeth mana yang ditanyakan Genta?
Alice melamun dalam diam. Genta begitu berusaha mencari keadilan untuk Elizabeth. Pasti Elizabeth sangat berharga bagi Genta.
"Aku tidak mengenalnya."
Genta tahu Alice merasa tidak nyaman ketika membicarakan Elizabeth, tapi mau bagaimana lagi? Wanita itu sendiri yang bertanya. Ia tidak mungkin membiarkan Elizabeth menanggung semuanya jika itu bersangkutan dengannya.
"Maafkan aku."
Alice menatap Genta dan menggeleng sembari tersenyum lebar, "kau memang seharusnya melakukan ini, mencari keadilan untuk Elizabeth. Eliza di sana pasti senang."
Genta tertawa kecil, semoga saja apa yang dikatakan Alice benar adanya. Elizabeth senang melihatnya di sini bersama wanita lain.
Mobil berhenti tepat di depan kantor polisi. Alice dan Genta keluar dari dalam sana dan tidak luput dengan kedua anak manisnya.
Tampak sekali jika Genta sedang marah. Ia membuka kasar pintu polisi yang menangani kasus tersebut.
"Apa maksud dari semua ini??!" pungkas Genta begitu masuk di dalam ruangan petugas.
Orang yang ada di dalam sana terkejut melihat kedatangan Genta yang langsung marah-marah. Tatapan dingin dari Genta membuat inspektur River menghela napas.
Ia menyuruh Genta duduk dan mendengarkan penjelasannya pelan-pelan. Tapi, wajah Genta sama sekali tidak bersahabat.
"Sudah aku bilang bukan kalian harus menyelidikinya?!! Beginikah polisi? Menutup kasus seenaknya."
Inspektur River menggelengkan kepala. Ia meraih beberapa berkas dan menelitinya satu per satu.
"Kami sudah berusaha, dan tidak ada kecurigaan yang Anda khawatirkan. Ini bukti-buktinya." Inspektur River menyerahkan semua bukti kepada Genta.
Terdengar deru napas yang begitu laju. Kemarahan Genta sudah diujung tanduk, ia melempar semua berkas dan bukti yang tidak berguna.
"Kau pikir aku akan percaya begitu saja?"
"Ini murni kecelakaan biasa dan supir juga sudah mengaku sejujurnya, supir mengantuk dan tidak fokus."
"Omong kosong yang sangat indah? Kau yakin sudah mengintrogasinya dengan benar?" Genta tertawa sinis, "cih!! Kalian semua memang tidak berguna. Jika kau tidak ingin membuka kasusnya biar aku sendiri yang akan mencari tahu."
Genta meninggalkan ruangan itu dengan marah. Di luar, Alice sudah menunggu bersama anak-anaknya.
Melihat Genta keluar Alice pun mengikuti pria itu. Saat di tengah jalan, seorang berhoodie hitam dan menutupi kepalanya dengan topi hoodie tersebut tidak sengaja menabrak Alice.
Ia meminta maaf kepada Alice dan wanita itu hanya mengangguk dan tidak memperhatikan pria tadi.
Ketika punggung mereka semakin jauh pria tadi berbalik dan menatap Alice dan Genta dengan diam.
Ting
Sebuah pesan masuk menghentikan langkah Genta. Ia membuka HP-nya dan menatap pesan tersebut.
Unknown: Berhenti menyelidiki kasus Elizabeth, tugas utama mu adalah menggantikan ayah mu. Kau adalah penerus keluarga Miller.
Genta menatap bosan pesan masuk tersebut. Ia tidak tahu siapa pengirimnya tapi teror berbentuk pesan itu sudah seringkali ia dapatkan. Dan karena itu pula lah ia yakin jika Elizabeth meninggal karena dibunuh.
________
Tbc
man teman semua jalan lupa kasih like dan komen yang banyak biar aku semakin semangat lanjutinnya dan secepat mungkin.