My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 18



Hati Genta tersentuh melihat dua bayi mungil di dalam inkubator. Bayi itu prematur lahir belum cukup bulan, terpaksa bayi-bayi mungil tersebut harus diletakkan di dalam sana.


Genta menitikkan air mata melihat buah hatinya yang masih dalam kondisi merah. Tangan Genta menyentuh kaca inkubator tersebut lalu tersenyum hangat kepada dua anaknya.


Genta tidak mengetahui jika anaknya kembar. Betapa bahagianya Genta mendapatkan kejutan tersebut. Terkadang Genta merasa bangga sendiri.


Genta tertawa sekilas, ia tidak menyangka telah menghamili anak yang baru masuk tahap dewasa. Memang brengsek, tapi membawa berkah.


Pria itu tidak hentinya menatap ke arah sana seolah pandangannya telah terkunci untuk hanya menatap inkubator tersebut.


"Maafkan papa baru tau kau sekarang. Yang penting papa ada kan di saat kau lahir ke dunia?" tanya Genta pada anak kembarnya.


Alice melahirkan sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan. Tentu hati Genta bahagia, ia juga berharap Alice juga senang mengetahuinya.


Tidak ada yang tahu jika Alice melahirkan anak kembar, suster baru saja meletakkan bayi itu dan dia pertama kali melihat bayinya selain suster yang menangani.


"Papa pasti akan menjaga mu, merawat mu, dan ada disetiap pertumbuhan mu."


Genta tersenyum mengatakannya. Hatinya bak disirami beribu bunga. Menatap wajah tampan dan cantik itu membuat bebannya seketika menghilang.


"Bunda pasti juga akan bahagia," Genta mengucapkannya dengan ragu-ragu. Ia tersenyum masam, meskipun kecil kemungkinan.


Tapi tidak ada yang tidak mungkinkan jika Tuhan berkehendak? Semoga saja Tuhan menghendaki itu agar keinginannya menjadi nyata.


Sementara dari jauh tampak orang berjas hitam yang dari tadi mengamati aktivitas Genta. Pria itu melihat Genta yang tampak senang dengan kedua bayinya.


Pria misterius tersebut langsung menghampiri dokter yang hendak melihat anak kembar yang baru saja dilahirkan oleh Alice.


Laki-laki tersebut langsung mencegah dokter itu. Sang dokter dan suster di situ pun menjadi heran. Namun mereka terdiam melihat intimidasi dari pria itu.


Tampak aura hitam pekat yang menguak dari tubuhnya hingga membuat sang dokter dan suster merasakan gugup yang luar biasa.


"Aku ingin bayi itu dan jangan beritahu jika dia telah melahirkan anak kembar ke siapa pun."


"Apa kau bodoh? Tentu kami tidak akan melakukannya. Memang kau siapa berani sekali memberi kami perintah seperti itu," tolak sang dokter dan memandang pria tersebut remeh.


Pria itu tersenyum miring. Ia mendekat ke wajah dokter cantik tersebut dan mendekatkan bibirnya ke telinga dokter wanita itu.


"Apa kau yakin masih ingin berkata seperti itu?"


Sebuah pistol tiba-tiba mendarat tepat di depan bola matanya. Sang dokter beserta para suster tercekat ketakutan.


Pria itu tersenyum dan mengedipkan matanya.


"Lakukan atau peluru panas ini akan menembus mata mu nona?"


Sang Dokter menahan napas. Keringat membanjiri seluruh tubuhnya. Ia bergetar ketakutan. Namun tetap saja ia tidak ingin melakukannya. Lebih baik dirinya mati saja ketimbang melakukan pengkhianatan terhadap sumpahnya sendiri.


"Aku tidak mau."


"Oh begitu kah? Bagaiman jika aku akan melakukan sesuatu kepada keluarga mu?"


Dokter itu tertawa sumbang dan meludah di depan pria tersebut. Ia hanya menggeleng tidak percaya.


"Bagaimana mungkin kau bisa melakukannya? Aku tak yakin."


"Hm. Baiklah jika itu mau mu," pria tersebut menunjukkan data keluarga dari sang dokter yang mana hal itu mampu membungkam mulut dokter tersebut. "Bagaimana?"


"Siapa kau? Ke-keknapa kau melakukan ini?"


"Lakukan perintahku dan jangan beritahu siapa pun. Ambil bayi laki-lakinya untuk ku."


Dokter itu mengangguk dan cepat melakukan apa yang diperintahkan oleh si pria tersebut. Saat ia mendekati inkubator Genta sudah tidak berada di sana.


Sang pria misterius pergi dari sana. Ia berjalan dengan penuh wibawa, topinya menutupi sebagian wajahnya.


Sedangkan dengan Genta, pria itu buru-buru keluar dari tempat penyimpanan bayi yang baru lahir tersebut agar aksinya tidak diketahui.


Padahal dalam lubukĀ  hatinya terdalam ia masih ingin berlama-lama di sana.


"Maafkan aku anak ku," lirih Genta, ia hendak sekali menebus kesalahannya kepada anaknya.


________


Dokter menghampiri keluarga Alice yang menunggu di luar. William dan Tiara antusias ingin mendengar informasi dari sang dokter.


"Anak anda telah melahirkan seorang putri. Selamat Tuan, nyonya." Dokter tersebut tersenyum dan menjabat tangan William dan Tiara.


Untuk jenis kelamin memang belum ada yang mengetahui. Keluarga Arakhe sama sekali tidak melakukan USG, bagi mereka tidak perlu mengetahui jenis kelamin bayi yang tidak diharapkan.


William hanya mengangguk dan tidak tertarik. Padahal di dalam hatinya ia sangat bahagia telah menjadi seorang kakek. Namun ia gengsi mengakui.


"Bagaimana kondisinya?"


"Kondisinya cukup bagus untuk bayi yang prematur. Sekitar setengah bulan atau lebih cucu anda bisa dikeluarkan dari inkubator."


Tiara tersenyum kepada dokter tersebut ia menatap sang suami lalu mengalihkan pandangannya ke Lina. Lina hanya tertunduk, ia jelas sudah ditugaskan untuk merawat anak itu dan menganggap jika anak yang dilahirkan Alice adalah putrinya.


"Apa aku boleh menemuinya?"


"Tentu saja tuan."


Dokter tersebut berjalan lebih dulu dan William mengekor di belakang. Untuk Tiara perempuan itu lebih memilih menjenguk anaknya yang masih belum sadarkan diri.


Tiara memandang Alice tanpa ekspresi. Ia tersenyum lirih dan mengusap puncak kepala anaknya.


Ia tidak menyangka putri kecilnya yang selalu manja dengannya kini telah resmi menjadi seorang ibu.


Hati Tiara pedih mendapati kenyataan ini, tapi apa boleh buat? Semua telah terjadi, jadi hanya percuma saja menyesalinya.


"Kau wanita kuat anak ku, aku yakin kau mampu bertahan."


Tiara menitikkan air matanya. Anaknya dalam kondisi lemah harus dipaksakan melahirkan. Masih untung Tuhan berbaik hati menyelamatkan nyawa Alice.


Sekarang Tiara bingung apakah ia masih pantas bersyukur kepada Tuhan atas sebelumya ia selalu saja mencaci Tuhan karena dianggap tidak adil dengan putrinya.


"Kau tahu? Kau telah melahirkan bayi cantik anak ku. Ya meski kau tidak menerimanya, dan aku pun juga begitu. Maafkan ayah dan ibu yang masih tidak mampu mengetahui pelakunya."


Tiara merasa orang yang telah menodai putrinya bukan sembarang orang. Hanya orang-orang dengan kemampuan tertentu yang mampu mengelabui keluarga Arakhe yang notabenenya memiliki koneksi jaringan kuat di antara semua kalangan di New York bahkan dunia.


Tapi siapa yang telah berani-beraninya bermain dengan keluarga Arakhe? Siapa pun itu pasti dia cukup berbahaya.


Setan yang berada di samping Tiara hanya tertawa terbahak-bahak mengetahui pikiran Tiara. Padahal orang kepercayaan keluarga merekalah yang telah melakukannya, seorang pelayan bukan seorang penuh dengan kekuatan.


Tiara menyentuh kepalanya yang berdenyut pusing memikirkan hal tersebut. Ia memejamkan matanya.


"Mama akan mencarinya untukmu Alice."


Tiara menghela napas dan menatap wajah damai putrinya. Senyuman tercetak jelas di wajah wanita paruh baya itu.


______


Jangan lupa like dan komen