
Sementara William tercekat tidak percaya jika selama ini yang menjadi penghianat nya adalah Sean bawahan yang sangat bagus kinerjanya.
Dirinya benar-benar marah untuk saat ini, ia ingin sekali mengamuk dan melenyapkan segala ha yang membuatnya marah besar.
"Apa-apaan kau Sean?"
Sean memberikan senyum simpul dan menatap jauh ke dalam netra William. Bertahun-tahun pengkhianat hidup di rumahnya dan menjadi orang kepercayaan William pula.
"Ya seperti yang kau lihat."
William menepis senjata yang diacungkan ke kepalanya tersebut dan cepat menyerang pasukan Miguel.
Maka terjadilah bentrokan hebat di pelabuhan yang banyak memakan korban. Orang-orang berlarian panik dan hendak melarikan diri.
Polisi telah ditelpon tapi sepertinya mereka tidak bisa datang kemari karena semuanya telah disetting secara rapi.
Ini saatnya bagi Miguel membalas semua kesakitan hatinya. Aksi tembak-tembakan membuat beberapa bangunan menjadi hancur.
Mayat bergelimpangan jatuh tidak bernyawa. Hujan deras menambah suasana yang menegangkan itu.
Miguel berusaha memberikan pukulan keras kepada William namun dapat dielak oleh pria itu. Tendangan pukulan saling berbalas.
Sean sudah berada di pihak Miguel dan melawan organisasinya sendiri. Banyak diantara mereka yang masih enggan melawan Sean dan itu memudahkan Sean melenyapkan mereka.
Ia menarik napas panjang dan membantu Cristian yang kewalahan menghadapi musuh. Ia menembak mati pratner Cristian hingga meregang nyawa dengan sia-sia.
"Kau tidak apa?" tanya Sean dengan napas tersengal-sengal.
"Aku tidak apa," ujarnya dengan terburu-buru. Ia menepuk pundak Cristian dan tersenyum lebar.
Brakk
Tiba-tiba Sean mendapatkan serangan dari Damian. Pria itu menghajar Cristian dan Sean secara membabi buta, kekuatannya tiada tara hingga membuat Cristian dan Sean kelelahan.
"Aku sudah lama ingin menghajar mu," jujur Damian sambil menatap tinju di tangannya, "kau memang brengsek hingga membuat Tuan tidak mempercayai ku, mengkambinghitamkan aku."
Sean tertawa nyaring dan memegang perutnya. Hebat bukan penyamarannya hingga orang seperti William pun tertipu, ia bangga dengan dirinya sendiri.
"Bagaimana?"
"Sial*n kau!"
Maka terjadilah adu jatos kedua laki-laki tersebut. Mereka sangat lihat dalam seni bela diri hingga keduanya sulit ditumbangkan.
Damian memukul tengkuk Sean hingga pria itu terbatuk darah. Ia menembakkan pistol miliknya ke Sean tapi Cristian cepat lebih dulu menembak punggung Damian hingga ia terkejut dan jatuh perlahan dengan napas saling memburu.
"Cepatlah." Cristian mengulurkan tangannya untuk Sean dan pria itu meraih tangan Cristian seraya beranjak dan hendak melawan anak buah William yang lain.
"Thanks."
Sedangkan tangis Alice pecah kala gendang telinganya mendengar suara peluru yang saling bersahutan. Ia takut di luar sana telah terjadi sesuatu.
Ia menatap Drake dan Adaire yang tertidur pulas meski ditengah ketegangan. Air bening itu tidak henti menetes begitu deras saat melihat nasib naas hidupnya.
Dengan menyiapkan mental yang cukup kuat ia melirik keadaan di luar yang memang sangat mengharukan, napasnya tercekat melihat banyak mayat.
"Oh God."
Duarr
Suara ledakan hebat dari bom telah memberangkatkan bangunan. Pasukan Miguel selamat berbeda dengan William yang berada dalam ledakan yang dibuat oleh Sean itu.
"PAPA!!!!"
Alice berteriak kencang melihat sang ayah yang hancur berkeping-keping di depan matanya. Ia berlari menghampiri tubuh hancur ayahnya. Ia menangis kuat meratapi orang yang telah menjadi pahlawan hidupnya telah tiada.
Alice meraung sekencang mungkin dan memukuli tanah untuk mengungkapkan rasa sakit yang ia lupakan.
"TIDAK PAPA JANGAN TINGGALKAN ALICE! PAPA!!" HIKS, HIKS!!"
Genta memandang sang istri dengan pandangan sakit. Ia tidak sanggup melihat Alice menangis sekencang itu.
Tidak sengaja matanya melihat Miguel hendak menembakkan peluru ke arah Alice. Matanya membulat dan sekuat tenaga menghampiri Alice.
Ia memeluk tubuh perempuan itu hingga Genta lah yang menjadi korban. Genta membelalak merasakan sesuatu yang panas masuk dengan paksa di punggungnya.
"GENTA!! KU MOHON TIDAK LAGI!!" tangis Alice melihat Genta yang perlahan luruh ke tubuhnya. "Ku Mohon Tuhan!!!"
Miguel menjatuhkan senjata di tangannya. Ia menatap tidak percaya jika yang dilukainya adalah Genta anaknya.
"Tidak, tidak mungkin," sangkal Miguel sembari berjalan lirih ke arah tubuh Genta yang penuh dengan darah.
Air mata Miguel jatuh dan rasa terkejut itu tidak hanya dirasakan Miguel saja tapi anak buah mereka yang lain termasuk Sean dan Cristian.
"Kenapa aku bodoh!"
Ia hendak meraih tubuh anaknya yang berada dalam dekapan Alice tapi dirinya tertembak beberapa kali hingga ia pun juga jatuh dan mengatupkan mata. Darah keluar dari bekas tembakan dan juga mulut.
Cristian dan Sean juga mendapatkan tembakan yang sama hingga membuat keduanya harus terkapar di tanah yang basah akan darah.
Alice langsung kaget dan menatap orang yang telah memanfaatkan waktu itu dengan pandangan ketakutan.
"Apa maksudmu Damian?"
"Nona pergilah, Anda harus secepatnya pergi dari sini," titah Damian yang harus menahan sakit di punggungnya.
"Tidak Damian.. Lepaskan aku!" brontak Alice dan berusaha lepas dari beberapa orang yang menarik tubuhnya, "GENTA!! PAPA!!"
"MAMA!! PAPA!!" tangis kedua bocah itu yang harus diseret paksa dan dimasukkan ke dalam mobil yang berbeda dengan Alice.
"JANGAN!!!" teriak Alice sembari menatap tubuh Genta yang terkumpul bersama mayat-mayat yang lain.
_______
Tbc
Jangan lupa like dan komen yah.
Btw saya punya cerita bagus nih buat kalian silakan mampir yah.