
Genta resah menunggu jadwal keberangkatan kapal yang akan mereka tumpangi menuju Swiss. Genta dan Alice memutuskan bersama untuk pergi ke Negara Swiss karena diyakini tempat itu jauh lebih aman dan damai.
Drake dan Adaire tertidur di pangkuan Alice. Sementara perempuan itu tidak hentinya merasa takut dengan tubuh bergetar hebat.
Genta berusaha menenangkan dan meyakinkan Alice jika mereka akan selamat.
"Tenanglah dan berdoa kepada Tuhan," ucap Genta seraya mengelus punggung wanita itu.
Alice mengangguk dan menatap Genta sambil tersenyum. Ia meraih jemari Genta dan menggenggamnya erat menyalurkan rasa gugupnya.
Kepalanya bersandar pada pundak Genta. Ia menatap ke depan dengan pandangan kosong. Tidak ada yang menarik bahkan keindahan kapal pun tidak membuatnya tenang.
"Aku takut." Alice melirik Genta dengan mata menyiratkan kekhawatiran.
Genta tahu jika perempuan ini sangat ketakutan dan maka dari itu semua tengah berpikir hal apa yang dapat menenangkan wanita tersebut. Alice tidak ingin berpisah dengan Genta barang sedetikpun, ia takut kehilangan Genta dan tidak bisa bertemu kembali.
Sungguh demi apa pun ia tidak akan rela jika itu benar-benar terjadi padanya. Ia berdoa kepada Tuhan agar hal tersebut dihindarkan.
"Apakah kau ingin makan," tawar Genta pasalnya sudah dari malam tadi mereka tidak mengkonsumsi apa pun.
Alice menggeleng lemah karena makanan seenak apa pun tidak akan selera lagi di mulutnya, yang ia pikirkan hanyalah secepatnya pergi dari sini.
Genta pun berinisiatif untuk mengajak keluarganya menikmati keindahan laut sembari menunggu kapal berangkat.
Ia membangunkan Drake dan Adaire yang tadinya masih terlelap. Ia mengajak keluarganya itu menuju pagar pembatas untuk melihat keindahan laut.
"Sangat indah bukan?" tanya Genta kepada perempuan yang dipeluknya.
Alice mengamati pemandangan indah itu beberapa saat lalu membenarkan ucapan pria tersebut.
Pemandangan laut memang sangat mengesankan tidak ada apa pun yang menarik tapi membekas di dada.
"Apa kau tidak ingin membuat permintaan?"
Alice pun heran dan melepaskan dekapan Genta di tubuhnya lalu memandang serius pria itu, benar apa yang dikatakan Genta apakah mereka tidak membuat permintaan saja?
"Bagaimana caranya?"
"Kita akan membuat permohonan atau harapan di dalam botol bekas ini dan melemparkannya ke laut." Genta tersenyum sembari mengumpulkan botol bekas dan secarik kertas bersama pulpennya.
"Apa kau tidak takut ketahuan oleh petugas?" herannya karena setahu Alice perbuatan itu sangat mencemari lautan dan mereka bisa saja terkena sanksi.
Genta mengacak rambut Alice dan mensejajarkan tinggi badannya dengan wanita itu dan memandang wajah perempuan tersebut cukup lama.
"Jika kita ketahuan maka kita akan kabur bersama-sama."
"Hahahha yeah kita berhasil!" tawa renyah Alice dan meloncat kecil mengungkapkan kebahagiaan sembari bertepuk tangan halus dengan pandangan tidak lepas dari botol yang terbawa arus.
Satu keluarga itu tertawa bahagia dan menikmati keindahan laut sambil menunggu jam keberangkatan. Banyak hal yang mereka lakukan di sana dan berlari di sekitar pelabuhan hingga kadang membuat kesal banyak orang.
Genta dan Alice berdiri tepat berada di bawah sorot sinar matahari pagi. Ia memeluk tubuh Alice yang tengah mengamati laut dari belakang.
Dagunya diletakkan di pundak wanita itu. Tangannya melingkar erat di perut dengan posesif. Alice hanya miliknya tidak boleh ada orang lain yang merebutnya dan memisahkan mereka sekalipun itu Tuhan.
"I love you so much," ujar Genta dengan sangat dalam hingga Alice merasa tersentuh dengan makannya yang tidak kalah dalam.
"Too," balas Alice dengan pandangan lurus tapi senyuman tidak henti terbit di wajahnya.
"Jangan katakan too seolah-olah kau mengikuti ucapan ku saja," rajuk Genta.
Alice memutar bola mata malas namun tidak lama ia tertawa kecil. Ia membalikkan tubuhnya hingga saling berhadapan dengan Genta.
Tangannya dilingkarkan di leher pria itu. Genta mengerutkan alisnya melihat wajah Alice yang tidak henti memandangnya seperti tengah menahan sesuatu.
"Kenapa?"
"I love u Genta Arakhan Miller." Genta membeku mendengar Alice menyebut nama dirinya dengan marga Miller di belakangnya, "and always love you just you, you."
Genta langsung tersenyum haru setelah mendengar ucapan Alice. Perempuan yang bertubuh kecil itu mendekatkan wajahnya dengan kaki yang berjinjit agar bibirnya bisa sejajar dengan Genta lalu ******* bibir pria itu dengan dalam.
Keduanya berciuman cukup lama tanpa ada nafsu di dalamnya. Tautan itu terhenti ketika Alice merasakan sesak di dadanya, dan dengan sangat tidak ikhlas Genta pun menjauhkan wajahnya.
Alice terkikik melihat raut masam Genta. "Aku bahagia," ungkapan tulus dari Alice.
Duarrrr
Suara dentuman keras tersebut mengambil alih kesadaran keduanya dan menatap ke arah sumber suara. Genta dan Alice tercekat melihat kapal mereka dibom dan api telah melalap bangunan kapal itu.
Orang berlarian berhamburan tidak tentu arah. Genta dan Alice langsung meraih Drake dan Adaire yang tidak jauh darinya agar tidak terjadi sesuatu kepada kedua bocah tersebut ditengah antara kerumunan orang yang berlari panik.
Keduanya tidak sengaja melihat ada pasukan Miguel yang sedang berkeliaran. Genta meneguk ludahnya dengan kasar lalu meraih tangan Alice membawanya lari dan kabur dari area itu ke mana pun asalkan keberadaan mereka tidak diketahui.
"Papa!!" tangis kedua anaknya yang dirundung oleh rasa ketakutan.
_______
Tbc
Jangan lupa like dan komen untuk memberikan dukungan saya melanjutkan cerita ini🥺🥺