My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 40



Tibalah pada saat yang ditunggu-tunggu. Hari ini Genta dan Alice akan melakukan fitting baju pengantin di salah satu butik terkenal di desa Woodstock yaitu pedesaan di Amerika Serikat yang menjadi tempat tinggal mereka.


Sebenarnya fasilitas yang ada di desa ini tidak kalah jauh dengan fasilitas yang ada di kota. Bahkan di sini juga banyak barang canggih dan rakyatnya tidak miskin seperti yang ada di pikiran kalian. Hanya saja yang membedakan tempatnya lebih terpencil.


Alice menghela napas berkali-kali saat penat menderanya. Sudah hampir sejam dirinya memilih baju pengantin tapi tidak ada yang cocok menurut seleranya.


Pilihan perempuan itu jatuh pada salah satu gaun putih dengan lengan panjang dan sedikit tertutup. Ia memutuskan untuk mengenakan gaun itu dan keluar meminta pendapat Genta dan anak-anaknya.


Ia keluar dari ruang ganti dengan parasnya yang cantik selalu menyertai. Genta yang tengah bermain bersama anaknya pun spontan menatap Alice.


Matanya membulat melihat Alice yang sangat cantik jauh berkali-kali lipat. Perempuan itu telah membuat hatinya berdetak tidak menentu melihat kecantikan yang dimiliki perempuan itu.


Alice bak bidadari yang baru saja turun dari kahyangan untuk dihadiahkan padanya. Genta meneguk ludahnya dan tersenyum dengan susah karena berusaha menahan gugup.


"Apakah bagus?" tanya Alice berharap Genta menyukainya.


Genta mengangguk sembari terpana. Tidak hanya dirinya saja yang merasakan, Genta yakin setiap orang yang melihat Alice akan terjebak ke dalam pesona wanita itu.


Adaire dan Drake anaknya saja berdecak kagum melihat sang ibunda yang berpenampilan luar biasa.


"Mama cantik," puji Adaire malu-malu dan pandangan matanya terkunci oleh kecantikan sang ibunda.


Drake turut membenarkan perkataan Adaire. Untuk kali ini ia akan menyetujui perempuan itu, Alice memang sangat cantik.


Alice merasa malu dipuji demikian. Wajahnya memerah dan tersenyum malu-malu, tapi wanita itu kembali menimalisir perasaannya.


"Ku rasa tidak cocok." Semua orang yang ada di sana terbengong dengan ucapan Alice.


Bisa-bisanya perempuan tersebut mengatakan hal demikian. Gaun itu sudah benar-benar cocok untuk Alice.


Genta berusaha setuju dengan ucapan Alice. Ini sudah kedelapan kali perempuan itu menunjukkan gaun yang dipilihnya. Semuanya sangat cantik entah kenapa di mata Alice selalu buruk, Genta pun tidak tahu bagaimana selera Alice yang dia inginkan.


Alice masuk ke dalam ruang ganti sementara Genta meringis, sampai kapan mereka akan berada di sini?


"Ibu mu memang berbeda," gumam Genta pelan dengan nada pasrah kepada Adaire dan Drake.


"Drake, nanti akan laporin Papa ke Mama." Genta menatap malas sang anak yang tiada tandingannya kalau soal menakut-nakuti.


"Diamlah kau Drake, jangan menambah beban ku," marah Genta sembari melayangkan tatapan kesal.


Adaire mendengus melihat tingkah Drake kembarannya itu yang sangat aneh. Kenapa ia bisa memilik kembaran seperti Drake? Demi apa pun itu bukan keinginan Adaire memiliki kembaran seperti Drake.


Adaire menatap ke arah ruang ganti ketika melihat Alice muncul dari dalam sana. Perempuan itu berjalan dengan anggun.


Gaun yang dikenakan Alice saat ini benar-benar sangat memukau bahkan Adaire saja terpana dan menganga tidak percaya.


Genta melihat ke arah tersebut dan dirinya lebih terpesona dari gaun-gaun sebelumnya. Ini adalah gaun terbaik menurut Genta.


Gaun itu jatuh dan menyapu lantai saat terseret. Bagian dadanya berbentuk V dengan tali spaghetti di bahunya.


Genta tercengang dan tidak bisa memalingkan wajahnya. Alice puas melihat Genta yang merasa sangat terpesona dengannya.


"Apakah ini cocok ke aku?"


"Tentu saja. Kau sangat cantik Alice."


"Aku akan mengambil gaun ini," ujar Alice ke si pemilik butik.


Pemilik tersebut tersenyum menanggapi dengan ramah. Ia meminta kru-nya yang lain untuk mengemasi gaun itu.


Terlebih dahulu Alice berganti baju dengan pakaian saat mereka datang pertama kali. Ia menghembuskan napas panjang menunggu gaun itu diberikan. Dia duduk di sofa bersama Genta dan anak-anaknya.


"Apa kau lelah menunggu ku?" tanya Alice sembari menatap Genta.


Genta menggeleng pelan dirinya tidak akan lelah jika itu soal Alice. Perempuan kecil itu sanggup membuatnya tidak berdaya.


"Aku tidak pernah lelah jika itu tentang kau," imbuh Genta seraya membawa Alice ke dalam dada bidangnya.


"Aku harap apa yang kau katakan benar."


Alice melirik Genta dan tersenyum manja dan Genta menanggapi dengan mencubit hidung wanita itu.


"Aku harap juga begitu," Genta mengecup sebentar bibir Alice.


Lelaki itu merapikan tatanan rambut Alice yang berantakan. Sementara tangannya yang lain bekerja mengusap pipi Alice yang sangat lembut.


"Ini gaunnya."


"Berapa harganya?"


"5000 dolar!"


"APA?!"


___________


Akhirnya hari itu pun sampai juga. Hari dimana Genta dan Alice akan melakukan pemberkatan di sebuah gereja yang tidak jauh dari sana.


Dada Alice berdegup kencang ketika wajahnya tengah dirias. Ia bisa melihat wajah yang sangat berbeda dengannya sebelum dirias yang timbul di dalam kaca.


Sedikit polesan lagi maka make up pada hari ini akan selesai dan Alice akan keluar menemui calon pria yang telah menunggu di atas altar.


"Anda sangat cantik," ujar sang perias tidak berhenti kagum dengan kecantikan Alice.


Alice tersenyum lebar dan mengangguk. Ia setuju apa yang dikatakan perias tersebut. Dirinya sendiri juga seakan tidak percaya itu dirinya.


"Terima kasih riasan mu sangat indah," puji Alice.


Ia beranjak dari tempat duduk dan siap untu keluar dari kamar dan menuju sebuah gereja.


Ia memasuki sebuah kereta kuda bergaya klasik untuk mengantarkannya ke gereja.


Ia dengan anggun duduk manis di dalam sana dengan degupan dada yang sangat kencang.


Sang pembawa kuda tersebut tersenyum miring seperti ada terselip sesuatu. Alice merasa tidak nyaman dengan sikap pria itu.


"Anda sangat cantik nona."


"Terima kasih." Alice tersenyum tidak nyaman.


Ia melihat ada gelagat yang aneh dari pria itu dan dirinya berusaha mengenyahkan pemikiran kemungkinan-kemungkinan buruk.


Ia berdoa kepada Tuhan jika acara pemberkatan hari ini berjalan dengan lancar.


Setelah menempuh perjalanan yang tidak memakan waktu yang lama akhirnya rombongan mempelai wanita sampai juga di gereja.


Tamu undangan telah berkumpul di sana menyambut kedatangan Alice. Dada Alice tidak berhentinya berdetak kencang.


Rasanya jantungnya hendak meledak. Ia turun dari kereta tersebut dibantu oleh seseorang dan ia langsung meraih tangan walinya yang akan mengantarkan Alice ke atas altar.


Senyuman melebar berusaha melawan rasa gugup. Para tamu terpaku ke arah dirinya serta para anak-anak yang turut ada Adaire dan Drake menaburkan bunga ke arah Alice.


Senyum Genta merekah melihat perempuan yang sebentar lagi statusnya akan berubah menjadi istrinya. Senyuman tidak pernah luntur dari wajah tampan milik pria itu. Tapi, tatapannya tidak sengaja bertubrukan dengan orang yang membawa kereta Alice tadi. Napasnya tertahan dan berusaha bersikap biasa saja, dia berdoa semoga tidak ada terjadi sesuatu.


______


Tbc


Jangan lupa like dan komen yah teman-teman. Silakan juga baca karya temen aku dijamin bagus dan rekomendasi banget.