My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 19



Tampak mata yang semula tertutup Indah perlahan-lahan mekar kembali. Samar-samar Alice melihat benda-benda di depannya. Ia terpana dengan langit-langit rumah sakit yang serba putih. Apakah dirinya sedang berada di surga sekarang? Sepertinya itu pernyataan yang keliru buktinya di sekitar tampak seperti ruang rumah sakit penuh dengan bau obat-obatan serta alat-alat khusus.


Wanita itu terdiam dan mencerna semuanya, semua yang telah dilaluinya. Ia teringat jika dirinya baru saja bersama Genta, kemudian dia yang memukuli perutnya hingga ia merasa terasa sakit di perutnya.


Alice menahan napas saat telah mengingat semuanya. Ia menyentuh perutnya yang sudah datar tidak membuncit seperti dulu. Seketika napas wanita cantik itu sontak memburu.


Deg


"Apa aku sudah melahirkan? Itu artinya aku adalah seorang ibu?" tanya Alice dalam hati.


Lantas ia melihat ke segala sudut ruangan, dan matanya menemukan sang ibu yang tertidur di samping. Kilasan senyum terukir di wajah manisnya.


Ia melihat tangan sang ibu yang menggenggam kuat kedua tangannya. Ia kemudian melepaskan tautan tangan tersebut.


Merasakan ada pergerakan di sekitar lantas membuat Tiara membuka matanya. Ia melihat Alice yang sudah sadar dari komanya yang cukup panjang.


Wanita itu langsung memeluk Alice putru tercintanya itu dan menciumi wajah putrinya hingga membuat Alice terkikik dalam hati.


Alice mendengar suara pintu dibuka dan ternyata sang ayah lah sang pelaku dan masuk ke dalam kamarnya.


Alice tersenyum melihat kedatangan ayahnya. William pun membalas senyuman sang putri.


William tentu bahagia melihat kemajuan dari sang putri pasalnya Alice sudah hampir seminggu tidak sadarkan diri. Melahirkan dalam kondisi lemah tentu membuat beberapa masalah untuk tubuhnya.


Alice mengangkat dengan lemah kedua tangannya untuk memberikan sang ayah bahasa isyarat.


"Bagaimana dengannya?"


William menghela napas. Ia saling pandang dengan Tiara. Tiara tersenyum kecut, ternyata Alice tampak mempedulikan anak itu.


"Dia baik-baik saja, dia seorang perempuan."


Alice terdiam beberapa saat usai mendengar ucapan sang ayah. Hatinya tiba-tiba bergemuruh, entah apa penyebabnya, Alice juga tidak mengerti. Buat apa ia memikirkannya? Tentu ia tidak peduli dengan bayi itu.


Namun di dalam dirinya yang lain berteriak keras meronta ingin bertemu anaknya. Bagaimana pun masih ada naluri keibuan dari hati seorang Alice.


Wanita itu termenung dengan wajah sendu. Ia kini telah menjadi seorang ibu, dan Alice membenci kenyataan tersebut. Ia bercita-cita di umurnya sekarang adalah bisa mengkoleksi boneka-boneka di seluruh dunia dan berkuliah di Inggris.


Tapi nyatanya itu hanya angan semata. Malang sekali nasib mu Alice, kau lebih menyedihkan dari pada anak yang hidup di jalanan. Kau kaya, tapi hati mu terluka.


Alice menghela napas sejenak. Air matanya hendak jatuh namun perempuan itu berusaha menahannya. Ia tersenyum getir.


"Di mana dia sekarang?"


"Dia ada di inkubator. Umurnya belum cukup. Sudahlah Alice jangan kau pikirkan lagi, sesuai perjanjian sebelumnya bayi mu akan dianggap orang asing di keluarga Arakhe dan menjadi anak dari Lina."


Mata Alice berkaca-kaca sungguh ia sangat kejam bukan? Benar dia bahkan lebih kejam, dirinya menyetujui usulan itu. Apakah anaknya sudah besar akan tahu siapa ibu kandungnya?


Alice memberikan bahasa isyarat jika ia hendak melihat kondisi anaknya. Namun William jelas melarang keras dikarenakan kondisi Alice yang benar-benar belum pulih.


Terpaksa wanita itu hanya bisa melihat si bayi dari layar ponsel. Ia terdiam melihat wajah yang tampak familiar. Rasa sesak di dada menghampirinya, wajahnya sangat mirip dengan si brengs*k itu.


Alice dengan marah meminta William menjauhkan foto tersebut, ia tak sudi melihat wajah bayi itu yang membuatnya mengingat seseorang yang sangat ia benci. Dalam hati Alice berkata memang pantas anak itu dibenci.


Sementara di antara keluarga yang lain tidak ada menyadari kemiripan tersebut. Entahlah kenapa bisa.


Sedangkan di luar sana Genta hanya bisa bersembunyi dan mendengar percakapan keluarga itu. Ia meringis sakit di dada saat mengetahui Alice ternyata sangat membenci anak mereka.


Belakangan ini Genta sangat terpukul. Ia baru saja kehilangan bayi laki-lakinya. Lalu Genta sendiri tidak punya kekuatan untuk mencarinya, ayah macam apa ia ini.


Genta pergi dari sana dan berjalan tak tentu arah. Ia melihat sebuah restoran dan Genta berniat untuk memberikan konsumsi asupan yang cukup untuk tumbuhnya.


Lantas Genta pun masuk ke dalam restoran itu, ia langsung disuguhkan dengan daftar harga makanan yang bukan main mahalnya. Dirinya meneguk ludah melihat makanan yang hendak ia beli ternyata lebih mahal dari harga gajinya.


Tapi tungkainya terhenti menapak lantai saat seseorang menyeru dirinya. Sosok berjas hitam tersebut memberikan makanan yang rencananya ia pesan tadi.


"Apa maksud anda?"


"Ambil saja, aku tau kau pasti lapar," ucap pria itu.


Ia tersenyum kepada Genta. Genta bergidik ngeri melihat senyuman itu yang cukup aneh, namun perlakuan pria itu cukup baik kepadanya. Ia tidak begitu jelas melihat wajah dari sang pria karena terhalang topi hitam yang digunakan pria itu.


"Kenapa anda melakukannya? Ambil saja, aku sudah tidak lapar."


"Aku juga." Pria itu menatap Genta dan memberikan senyuman ramah tapi tetap saja Genta merasa ia harus waspada kepada pria ini, "kenapa wajah mu murung sekali? Kau punya masalah?"


Genta menarik napas. Jujur ia mempunyai masalah sangat berat malahan. Susah untuk dirinya pikul sendirian, tapi apakah dirinya pantas menceritakan masalahnya pada pria yang baru saja ia temui, dengan sekali lihat pun Genta tau pria itu misterius.


"Tidak ada."


Pria itu merangkul Genta dan menepuk pundaknya. Wajahnya hanya setengah terlihat selebihnya tertutup oleh topi hitam yang dikenakan pria itu.


"Katakan saja," ujarnya mengajak Genta mengobrol. Namun tetap saja Genta tidak mau membeberkan masalah dengan orang seperti pria itu.


"Aku ada keperluan, aku akan pergi."


Pria itu terdiam dengan raut datar. Dia tersenyum miring dan melangkah dengan santai tapi penuh dengan misteri.


"Apa kau kehilangan salah satu anak mu."


Seruan itu sukses membuat Genta menghentikan jalannya. Ia tercekat dan menatap lurus ke arah manusia yang tengah berlalu lalang.


Lantas akhirnya pun Genta menoleh kepada pria tersebut dengan mimik tidak mengerti disertai bingung.


Dari mana orang ini tahu dengan masalahnya? Siapa pria ini? Jujur Genta pun tidak melihat dengan jelas wajah pria itu meskipun mereka dalam jarak yang cukup dekat, tapi jika dipikir-pikir pria ini tampak familiar, jika pun ia pernah melihatnya tapi siapa?


"Bagaimana kau tau?"


"Tidak perlu kau mengetahuinya." Pria itu mendekati Genta dan tersenyum sekilas, "kau pasti akan menemukan anak mu kembali. Ini ambillah kau pasti sangat lapar."


Si misterius itu pergi usai memberinya makanan yang ia inginkan tadi. Genta tidak mengerti tapi ia bersyukur cukup beruntung menjadi salah satu penikmat makanan mahal tersebut.


__________


"Di mana Sean?" tanya William pada anak buahnya yang lain. Ia mendengar kabar jika Sean datang menyusul ke China.


Seharusnya sekarang pria itu sudah sampai tapi kenapa Sean tidak menemui dirinya. William menarik napas dan melenggang pergi usai mendengar jawaban dari anak buahnya.


Saat hendak keluar dari rumah sakit seorang pria menghampiri William. William tersenyum melihat Sean yang sudah datang, padahal baru saja ia mengkhawatirkan pria itu.


Sean tersenyum kepada William dan melakukan penghormatan dan menunduk.


William menatap jengah kelakuan Sean. Mereka cukup akrab seharusnya pria itu tidak perlu melakukan penghormatan kepadanya.


"Bagaimana keadaan di New York?"


"Tidak ada masalah. Hanya saja ada pergerakan dari.." Sean tidak melanjutkan jawabannya. Ia melihat William yang seolah tengah menunggu kelanjutan ucapannya. "Mobil Damian sempat dikepung tuan oleh beberapa mobil Texis yang diam-diam telah mengikutinya. Mobil itu setelah saya cek tidak ada jualnya di seluruh dunia, saya rasa mereka telah merancangnya sendiri dengan beberapa kebutuhan khusus. Damian diserang pada saat hendak pergi ke Manhattan tapi saya dan anak buah lainnya telah mengatasinya. Saya menemukan sebuah tato Black Rose di setiap tangan mereka. Saya sempat menahan salah satu di antara mereka tapi pria tersebut bunuh diri sebelum diintrogasi."


William mengeraskan wajahnya. Ia menggenggam tangannya begitu erat. Siapa yang telah berani bermain-main dengannya? Orang itu belum tahu keluarga Arakhe sepertinya.


______


Jangan lupa like dan komen... maaf jika ceritanya kurang menarik.