
Drake menggoyang-goyangkan tangan Genta memohon kepada sang ayah untuk ikut bersamanya ke tempat sang ayah bekerja, Drake beralasan ingin bertemu dengan mama Alice. Ia merindukan perempuan itu, sangat.
Alice sudah dianggap oleh Drake sebagai ibu kandungnya sendiri. Ia sangat menyayangi Alice dan tidak ingin berbagi jika bisa. Tidak tahu saja Drake jika Alice memanglah ibunya.
"Papa, Drake ikut sama papa ya?" Drake mengedipkan bulu matanya beberapa kali dan terlihat gemas di mata Genta.
Siapa pun yang melihatnya pasti tidak akan tega menolak permintaan dari bocah kecil ini. Hati Genta pun melunak dan ia mengijinkan jika Drake ikut bersamanya ke rumah keluarga Arakhe.
Meskipun itu merupakan keputusan yang sangat berat di mana Drake secara tidak langsung akan bertemu dengan keluarga besarnya.
Hati Genta tidak ikhlas ia takut identitas Drake yang sebenarnya akan diketahui, ia tidak dapat membayangkan bagaimana nasib anaknya kelak.
Genta tidak ingin terjadi sesuatu dengan Drake tapi digoda seperti ini ia tidak sanggup untuk menolak keinginan Drake.
"Ya kau boleh ikut," ucap Genta yang pada akhirnya tunduk dengan kepolosan Drake.
Drake senangnya bukan main, ia berteriak bahagia dan berjingkrak ria sembari bertepuk tangan dan meloncat. Tidak lupa pula jika ia tengah kesenangan seperti ini pasti akan menghujani wajah Genta dengan ribuan ciuman, mungkin puluhan jika ribuan terlalu lebay.
"Terima kasih papa. Drake ingin bermain sama mama Alice."
"Hm."
______
Mata Drake takjub melihat rumah besar di depannya. Ia membulatkan mulutnya seolah terpukau dengan keindahan bangunan ini.
Ia meneliti seluruh tempat dan mengunjunginya dengan pandangan tidak percaya. Anak itu berlari ke sana kemari kesenangan mendapatkan tempat seindah ini.
Dari arah berlawanan muncul Sean yang berjalan mendekatinya. Napas Genta tercekat saat melihat Sean yang mengamati anaknya. Matilah ia, bagaimana Sean curiga dengannya? Mungkin ini akan menjadi hari terakhir ia bekerja.
"Sean," imbuh Genta panik sembari menutupi rasa gugupnya.
"Siapa dia?" tanya Sean penuh dengan selidik dan mengamati Drake yang tenga bermain di halaman rumah.
"Ah dia anak tetangga ku yang dititipkan dengan ku," balas Genta dengan wajah sedikit berkeringat.
Sean pun mengangguk dan menghela napas. Pandangannya terkunci dengan tingkah lucu dari Drake.
"Aku baru tahu ada tetangga yang rela merepotkan orang lain. Ah iya aku masih bingung kenapa Alice bisa memukul mu hingga berdarah kemarin? Ah ya bukannya kemarin aku juga mendengar jika anak itu memanggil mu dengan papa?"
Otak Genta buntu seketika, mulutnya terbuka tidak tahu hendak membalas ucapan Sean dengan kalimat mana? Jika salah sedikit berbicara maka hanya sampai di sini kisah hidupnya.
Genta berusaha mencari ide yang cukup bagus dan merangkai kata yang cocok.
"Dia sudah bersama ku sejak kecil karena itu ia sudah terbiasa memanggil ku seperti itu. Untuk Alice kemarin Drake hanya berbohong."
"Woah jawaban yang bagus."
Pria itu tersenyum lalu pergi dari hadapan Genta. Genta belum puas, hatinya masih memburu karena takut jika Sean mengetahui semuanya.
"Ku harap tidak ada yang akan terjadi." Ya itulah yang diharapkan Genta meski kecil kemungkinan.
"LEPASIN!! INI PUNYA ADAIRE JANGAN DIAMBIL!!"
Genta menyentuh kepalanya yang tampak pusing ketika mendengar suara ribut yang tidak jauh dari tempatnya.
Ia memandang Drake dan Adaire yang tengah berebut boneka. Ia menghela lelah dan berjalan pasrah menuju kerusuhan tersebut.
"Ini boneka Adaire!!" Adaire mendorong Drake hingga anak itu membentur tanah cukup keras.
Drake menatap sinis Adaire dan berusaha bangun tegak kembali dengan wajah kusut. Ia mendengus dan memandang Adaire dengan mengejek.
"Ih ambil aja, bonekanya jelek."
"Tidak. Boneka Adaire cantik kaya Adaire!!"
"Jelek!!!"
"Cantik!!!!"
"Jelekkkkkkk!!!
"Cantikkkkk!!
"Kenapa kalian bisa ada di sini?" tanya seseorang yang baru saja datang dan keheranan melihat tingkah dua bocah itu.
Pandangan Alice jatuh kepada Genta yang memasang mimik pasrah. Ia pun menghampirinya dan mengintimidasi Genta.
"Paman aku ingin bicara dengan kau," pungkas Alice dan menggigit bibir bawahnya ragu-ragu.
Genta mengangguk dan meminta sang anak untuk bermain di sana terlebih dahulu.
Alice membawanya ke tempat yang cukup sepi dan jauh dari keramaian. Genta lantas mengerutkan jidatnya melihat Alice.
"Ada apa Alice?"
"Paman," lirih perempuan itu dan melepaskan tangannya yang menarik Genta tersebut.
"Apa paman mencintai Alice?" Ia memandang seksama bola mata Genta berharap ada setitik harapan dari mata tersebut.
Deg
Jantung Genta berdetak dua kali lipat dari seperti biasanya ia memandang Alice tidak mengerti. Perasaannya saling berlomba dan gugup.
"Ma-maksud nona?" Kini Genta akhirnya memanggil Alice dengan sebutan nona.
Alice dengan wajah sendunya memandang jauh ke dalam manik mata indah tersebut. Air matanya luruh seketika.
"Alice pernah mendengar ketika Alice ingin melahirkan kau mengatakan mencintaiku paman."
Ingatan Genta pun terlempar kepada kejadian beberapa tahun lalu. Dirinya meneguk ludahnya kasar. Ia tidak menyangka Alice masih mengingatnya dan menyadari ucapannya.
"Nona saya bisa menjel--."
"Paman! Alice juga mencintai paman," aku Alice yang membuat wajah panik Genta berubah dalam hitungan detik.
Napas Genta tertahan untuk beberapa waktu. Persendian tubuhnya terasa tidak berfungsi dengan baik.
"Nona saya tidak mengerti."
Genta masih terkejut dengan pengakuan Alice secara tiba-tiba. Ia belum siap menghadapi situasi menegangkan ini.
"Paman tidak mencintai Alice lagi ya?"
Perempuan itu menangis tersedu-sedu menyangka perasaan Genta telah berubah. Genta menggeleng lalu memeluk tubuh itu. Ia juga ikut menangis dan mengecup puncak kepala perempuan tersebut.
"Perasaan ku masih sama Alice."
Alice mendongak dan tersenyum bahagia ia tidak dapat mengekspresikan perasaannya saking senangnya ia.
Genta tertawa kecil dan mengecup bibir merah milik Alice. Alice pun tertawa menerima perbuatan Genta. Tawa Alice disusul oleh Genta. Mereka tertawa bersamaan.
Genta meninggalkan Alice yang keheranan melihatnya yang pergi dari hadapan perempuan itu begitu saja. Tapi ia tersenyum kembali saat Genta datang dengan membawa setangkai bunga.
Genta menyelipkan bunga itu di sisi telinga Alice. Alice tampak mempesona dengan bunga itu, sangat cantik.
"Aku mencintaimu."
"Sejak kapan?" tanya Genta penasaran sebab yang ia tahu hanya ada kebencian dari Alice selama ini untuknya.
"Sejak lama."
Rasa itu telah tubuh di hati Alice sudah cukup lama. Perempuan mana yang tidak akan luluh dengan sikap tulus Genta, Genta yang manis dan berbeda dalam memperlakukan wanita.
Genta tampak tidak mengerti apa-apa dan hati Alice tersentuh melihat kegigihan Genta berjuang mendapatkan maaf darinya.
"Aku akan berusaha mencintai mu dengan sempurna. Dan aku juga akan menerima Adaire dan Drake semampu ku. Terima kasih selama ini sudah sabar."
Genta tertawa bahagia. Senyuman tidak luntur dari wajahnya. Pria itu mengacak rambut Alice dengan gemas.
"Aku akan membantu mu bocah kecil. Ayo kita kembali anak-anak telah menunggu, apa kau lupa bocah kecil ini sekarang punya bocah?"
Wajah Alice memerah ia pun lantas memukul tubuh Genta dan tertawa bersama.
______
Ketegangan menyelimuti ruangan tersebut. Miguel tidak biasanya marah-marah dan membentak seluruh orang yang berada di sana.
"Bagaimana bisa pabrik terbakar? Apa kalian semua bodoh?" marah Miguel dan menendang orang yang memberikan laporan, "siapkan mobilku."
Tangan Miguel terkepal setelah mendapatkan pabrik propertinya di California terbakar. Napasnya memburu, ia tahu pelakunya tanpa harus pusing memecahkan kasus tersebut.
Sudah barang tentu itu ulah William. Pria tersebut telah mengibarkan bendera perang, mungkin ini sudah saatnya ia menunjukkan diri di depan pria itu tanpa harus bergerak diam-diam.
Dertt
Miguel mengambil dengan kasar ponselnya. Ia mengernyit heran melihat nomor yang tidak dikenal yang ditampilkan layar ponsel.
"Halo?"
"Miguel berhentilah bermain-main. Apa kau masih belum jera hah? Ingat Miguel kau tidak akan pernah bisa melawan ku. Kau tidak perlu bersembunyi lagi karena aku telah mengetahui semuanya. Tukang kebun di rumah ku itu anak mu, kan? Waw sangat mengejutkan. Asap kau tahu permainan mu sangat bodoh."
_____
Tbc
Like dan komen🥺 Aku gak tau cerita aku bagus apa enggak. tapi aku sering overthinking dan berharap kalian suka.
Btw jangan lupa yah buat baca karya temen saya yang lain.