My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 26



Drake yang mendengar suara pintu dibuka lekas berlari ke arah depan rumahnya. Bibirnya tersungging ke atas kala melihat wujud yang lebih tinggi darinya berdiri di depannya. Lantas ia pun langsung memeluk orang tersebut dengan sangat erat.


"Papa. Papa kenapa baru pulang? Drake kangen papa. Drake sudah buatkan makanan untuk papa." Drake dengan semangat mengatakannya pada Genta.


Ia menggiring Genta yang tersenyum tersebut ke dapur. Di meja makan Genta melihat begitu banyak makanan yang tersaji.


Kalian tidak tahu saja jika Genta sangat pintar memasak dan bakat itu ia turunkan kepada anaknya, Drake.


"Kau yang memasak ini sendirian?" tanya Genta pada putra semata wayangnya sembari duduk di kursi yang tersedia.


Drake mengangguk mengiyakan jika dirinyalah yang membuat makanan itu semua untuk Genta yang baru saja pulang bekerja. Drake tahu ayahnya pasti lelah maka dari itu ia yang akan menyiapkan kebutuhan perut untuk ayahnya.


Di usianya yang baru menginjak 4 tahun Drake sudah mahir menguasai dalam bidang memasak, meski belum terlalu sempurna setidaknya ia sudah cukup lumayan.


Drake duduk di depan Genta. Ia mengamati sang ayah yang mengambil piring dan memasukkan lauk pauk yang ia buat.


Genta lantas mencicipi makanan tersebut. Ia mengangguk sambil tersenyum menandakan jika ia suka dengan masakan yang disajikan Drake.


Tangannya pun terulur mengacak rambut Drake. Drake tertawa mendapatkan perlakuan seperti itu dari sang ayah.


Beberapa lama kemudian Genta pun akhirnya menyudahi makannya pas dikira jika perutnya telah terisi penuh.


Ia terlebih dahulu mengurusi Drake. Ia memandikan anak itu dan kemudian giliran ia pula untuk membersihkan badan.


Genta menghampiri sang anak yang masih membuka mata di atas tempat tidurnya. Genta menarik napas dan menatap ke luar jendela yang sudah sangat gelap.


Pria itu lantas saja menghampiri Drake dan duduk di sisi ranjang milik anak itu.


"Kenapa kau belum tidur Drake? Hari sudah malam. Kau besok harus sekolah."


Drake pun mengangkat tubuhnya dan membawanya duduk bersila. Genta mengangkat satu alisnya melihat apa yang dilakukan oleh Drake.


"Papa! Tadi Drake bertemu dengan mama Alice. Dia cantik pa, pasti mama kandung Drake juga cantik seperti mama Alice," lirih anak tersebut dan menunduk sembari meremas kedua tangannya.


Genta menelan salivanya dengan susah payah. Ia terdiam setelah mendengar rangkaian kata yang dilontarkan Drake. Tentu saja ibu kandung pria itu secantik Alice karena memang Alice lah ibu kandungnya.


Benar apa yang dikatakan oleh Drake. Alice sangat cantik, dan karena salah satu hal itu pula lah yang membuat Genta jatuh pada pesona anak yang masih berumur 17 tahun, apalagi kini Alice semakin dewasa dirinya semakin cantik dan tubuhnya makin berisi.


Genta sebenarnya tidak dapat lagi menahan rindunya. Ia sangat ingin bertemu secara langsung dengan Alice, tapi keinginan itu ia kubur dalam-dalam.


Dirinya tahu Alice sekarang telah bahagia dan dia tidak ingin merusak kebahagiaan Alice. Biarkanlah rasa cinta ini menggerogoti jiwanya hingga membuat serpihan luka di dada.


Rasa sakit itu nyata, apalagi saat melihat anak-anak nya yang tidak mendapatkan kasih sayang yang lengkap.


Bahkan ibu di kampung halamannya pun belum pernah sama sekali ia beritahukan apa saja yang telah terjadi di kota. Ia sering pulang ke kampung tapi tidak dengan membawa Drake.


"Kau tahu Drake? Ibu mu sangat cantik. Dia sangat lucu, imut, manis, dan dirinya juga sangat suka dibacakan dongeng oleh ayah sama seperti mu. Terkadang tingkahnya sangat kekanak-kanakan. Ia sangat menyukai boneka," lirih Genta bercerita sembari tidak melunturkan senyuman di wajahnya, "sama seperti adik mu," lanjutnya tapi dengan suara yang pelan.


Drake yang mendengar cerita itu pun ikut tersenyum. Di kepalanya telah berspekulasi bagaimana cantiknya sang ibu. Ia makin tidak sabar ingin bertemu dengan orang yang melahirkannya.


Drake tidak tahu saja bahkan Alice sama sekali tidak mengetahui jika Drake lahir ke dunia.


"Nama ibu juga Alice kan pa?"


"Ya."


"Papa bagaimana caranya aku punya adik perempuan?" Entah kenapa tiba-tiba pertanyaan itu terlontar begitu santai dari mulut Drake.


Ia sering mendengar teman sekelasnya yang menceritakan adik mereka masing-masing.


Genta pun terkejut dan langsung menatap Drake. Ia mengernyitkan alis heran kenapa Drake bisa bertanya seperti itu.


"Kenapa?"


"Aku pengen punya adik perempuan kalau bisa."


Genta pun menghela napas, ia mendekati Drake dan membawa kepala anak tersebut berbaring di pangkuannya. Ia melarikan pandang ke atas sambil tangan mengusap rambut sang anak.


"Kau tahu Drake? Jika suatu hari nanti kau memiliki adik perempuan, maka jagalah dia dan Jangan biarkan ada orang yang menyakitinya. Sayangi dia seperti aku yang menyayangi mu."


"Tentu papa aku akan menjaga adik ku."


Seseorang duduk di sofa dengan tangan yang direntangkan angkuh. Ia tertawa miring melihat berita di tv. Ia mengambil remote tv tersebut dan mematikan benda besar yang menyala itu.


Ia beranjak dari tempatnya dan duduk menghampiri orang yang tampak santai di kursi kebesarannya.


"Apa kau senang akhirnya salah satu keinginan mu terwujud?" tanyanya tenang sambil mengeluarkan sebuah rokok dan membakarnya lalu menghisapnya.


"Kenapa kau harus bertanya jika kau sudah tau jawabannya?" balas pria itu dengan sudut bibir tersenyum sinis.


Ia mengambil wine dan meminumnya dalam satu tegukan. Ia tertawa sekilas. Akhirnya apa yang ia inginkan dapat terwujud perlahan-lahan.


Itu membuatnya merasa sangat senang. Dendamnya pun perlahan-lahan terbalaskan. Pria itu menarik napas panjang.


"Aku tidak sabar ingin melihat wajahnya."


Pintu ruangan itu dibuka dan masuklah orang yang berjas hitam dan tak luput pula dengan topi hitam yang selalu tidak ketinggalan.


"Kerja bagus," ujar sang ketua saat si pria berjas hitam itu duduk di depannya.


Pria berjas hitam tersebut tersenyum miring. Ia membuka jas nya lalu topinya yang melampirkan wajah tampan yang dia miliki.


Salah satu lengan kaos di sebelah kanan tersingkap hingga tampaklah lambang bunga Black Rose.


"Bagaimana Miguel apa kau puas kali ini? William telah kehilangan asetnya hingga kehilangan para klien dan mengalami kerugian besar. Sebentar lagi keinginan mu tercapai Miguel," kata sang pria yang mengenakan jas hitam tadi dengan bahagia.


Miguel tersenyum angkuh. Ia semakin yakin apa yang dirinya inginkan makin terlihat jelas di depan matanya.


"Kau dengar Cristian? Apa kau juga senang?"


Cristian membuang puntung rokoknya dan mengangguk sebagai jawaban untuk Miguel.


"Tentu saja."


"Aku berterima kasih pada mu, kau sangat dapat ku andalkan. Ingat jangan sampai ada yang mengetahui diri mu." Orang itu lantas mengangguk.


"Tenang saja kau jangan khawatir aku pasti tidak akan ketahuan," ujarnya seraya mengambil bungkus rokok milik Cristian.


"Terus awasi Genta. Jangan sampai ada yang mencurigainya," ujar Miguel yang tiba-tiba merasa khawatir, "kita boleh hampir gagal. Tapi tidak untuk diulangi lagi."


Miguel berdiri dari kursi kebanggaannya itu dan melangkah ke arah dinding kaca. Kaca itu langsung berhadapan pada jalan raya yang tampak rapi dari atas pada saat malam hari.


Miguel berdiri di sana dengan pandangan lurus. Masih banyak terdapat ide licik di kepalanya.


Ia mengepalkan kedua tangannya saat ingatannya 30 tahun yang lalu kembali terputar di otaknya. Pria berumur itu harus menahan sesak di dada.


Tragedi yang cukup mengerikan akibat dari persaingan bisnis dan kekuasaan mengharuskan memakan banyak korban di pihaknya. Ia tidak menyangka sahabatnya yang sangat ia percayai dulu ternyata dialah yang membantai keluarganya hingga ibu dan ayahnya terbunuh, terlebih lagi istrinya yang sangat ia cintai, ibu dari Genta.


Genta, ya pria itu adalah anak kandungnya yang harus dilarikan jauh dari New York saat tragedi itu. Sang pengasuh membawanya kabur ke kampung.


Miguel sempat kesusahan mencari Genta hingga pada saat Genta remaja ia pun mengetahui di mana keberadaan pria itu. Ia tidak ada niatan untuk menjemputnya karena Miguel tahu di kota sangat keras tidak cocok untuk Genta.


Sementara pertemuan Cristian dan Genta di media sosial ternyata telah disetting. Cristian sengaja mengaku sebagai orang sederhana agar Genta tidak curiga padanya.


Dan untuk Genta yang bekerja di rumah Tiara pun itu disengaja karena dengan begitu Cristian lebih mudah untuk keluar masuk di rumah keluarga Arakhe dengan alasan menemui Genta.


Miguel menarik napasnya cukup panjang. Setiap melihat Genta ia selalu ingat dengan istrinya yang belasteran Amerika Indonesia tersebut. Ya ibu dari Genta asal Indonesia tepatnya Manado, maka dari itu nama Genta sangat asing di telinga orang Amerika.


Sementara Cristian dan Angel adalah hasil dari pernikahan perjodohan yang dilakukan oleh Miguel demi kepentingan bisnis.


"Kau ternyata sudah besar. Ibu mu pasti bahagia melihat mu dari sana. Aku pasti akan melindungi mu sesuai dengan perintah ibu mu."


Orang yang selama ini yang berada di balik Genta untuk melindungi pria itu adalah Miguel.


______


Tbc


Jangan lupa Like and Komen🥺