
Brakk
Genta yang datang-datang ke markas rahasia Black Rose langsung menendang kursi yang menopang tubuh Sean. Sean tidak bergeming sama sekali dari tempat duduknya.
Ia pun tidak terganggu dan terus membaca berkas yang terdapat di tangannya. Pria tersebut menarik napas kala suara dentuman menyeruak di gendang telinganya.
"JAUHI ALICE!! JANGAN PERNAH SAMA SEKALI KAU MENGGANGGUNYA! AKU TIDAK AKAN TINGGAL DIAM JIKA KAU BERANI MENYAKITINYA!!" Genta yang sudah dipenuhi dengan emosi tersebut mengambil berkas di tangan Sean dan melemparnya asal ketika merasa kedatangannya tidak diperhatikan.
Sean mendengus dan hendak kembali meraih berkas yang dibuang Genta tersebut, tapi tangannya lebih dulu ditepis oleh Genta.
"Kau mendengar ku tidak?!!" marah Genta dan menatap tajam Sean.
Sean mendecih seraya mengambil pulpen dan kertas kosong. Ia mencoret abstrak kertas tersebut hingga menghasilkan lukisan yang indah.
"Bagaimana aku tidak mendengar mu jika aku sedekat ini dengan mu!" Sean meremas kertas tersebut dan melemparkannya ke dalam tong sampah. Ia menghadap Genta dan tersenyum simpul. "Ada apa? Apa masih berhubungan dengan masalah semalam?"
Genta yang muak dengan basa basi tersebut tanpa pikir panjang mengangguk malas. Laki-laki ini sengaja berpura-pura, Genta benci pria tersebut.
"Kau tidak harus membuang waktu dengan basa-basi konyol mu itu!!"
"Aku tidak berbasa-basi. Lalu apa yang akan kau ambil? Melepaskannya atau melihatnya tak bernyawa?" imbuh Sean dengan wajah datar.
Tidak lama ia tertawa gelak melihat raut Genta yang penuh amarah tersebut. Ia memukul pelan meja di depannya dan menatap lurus ke depan.
Genta sebenarnya sangat ingin menghajar pria tersebut. Ia begitu marah dengan Sean yang menganggap masalah mereka sepele. Lihat saj, Genta menyeringai diam-diam.
"Jangan berpikir kau dapat membunuhnya!!"
Sean melirik Genta dan menatap pria itu dengan tampang tak percaya, "benarkah? Aku saja bisa membunuh ayahnya!!"
"Karena kau memang bajingan!! Kalian termakan ego masing-masing!"
Genta yang sudah sangat marah tersebut duduk di samping Sean. Ia menatap berkas yang sempat dibuangnya tadi. Ia meraihnya kembali dan membaca berkas tersebut.
Berkas itu ternyata berisi data pribadi target mereka. Genta menahan napas melihat hal itu, ia tidak sekejam itu menerima misi ini.
"Kau tidak ingin melakukannya? Tapi sayang sekali kau harus melakukannya." Sean menatap serius Genta dan oleh pria itu tak dihiraukannya sama sekali.
"Aku tidak meminta pendapat mu!!"
"Genta!!" geram Sean sembari merebut berkas yang telah menjadi perhatian pria itu. "Kau harus melakukannya!!!"
Genta mencengkram kedua telapak tangannya dan menyeringai. Ia menatap Sean dan tersenyum miring.
"Kau ingin mengatur ku?" Genta menarik napas dan memainkan benda pipih di tangannya. "Kau pikir bisa memerintah ku?"
Sean berdiri spontan dan menatap Genta marah. Tangannya mengepal penuh emosi. "KAU TIDAK TAKUT? JANGAN MENTANG-MENTANG KAU MEMILIKI ORGANISASI RAHASIA KAU BISA MENENTANG BLACK ROSE!! INGAT KAU DIBAWAH KENDALI KU, GENTA!!" Sean tertawa gelak seperti orang telah dirasuki sesuatu.
Genta santai tak terbawa emosi meski hatinya sudah panas sekali. Pria itu berusaha tetap tenang dengan raut datarnya.
"Aku datang ke sini untuk memperingati mu!!" Genta berpikir beberapa menit, "aku mengambil misi itu," putus Genta dan berlalu begitu saja di depan Sean.
Genta tersenyum miring ketika telah meninggalkan tempat itu. Ia telah memiliki rencana, yang tentunya ia dan organisasinya yang tahu.
Ia ingin melihat kebanggan Sean. Sean adalah antagonis sesungguhnya, sikapnya tidak manusiawi, ia bukan karena tulus bekerja dengan ayahnya tapi melainkan ingin mencapai sesuatu.
Ia tahu itu setelah menyelidikinya, pria itu menjadikan ayahnya pion dan sengaja menghasut ayahnya untuk gegabah melakukan penyerangan terhadap William.
Jika Sean membuktikan bahwa manusia tidak ada yang tulus maka ia akan memperkuat logika itu, ia juga tidak tulus bekerjasama dengan Sean, lihat saja pria itu akan mendapatkan karmanya sendiri.
Alice termenung di taman bunga yang tidak jauh dari halaman rumahnya. Akhir-akhir ini taman itu menjadi tempat favoritnya bersantai.
Di sana ia dapat berpikir jernih dan membuang hal-hal negatif di otaknya. Pemandangan asri yang selalu melayaninya membuat Alice merasa nyaman setiap kali datang kemari.
Semakin hari perutnya semakin terlihat membesar. Ia juga mulai agak kesulitan berjalan.
Wanita tersebut meneteskan air matanya kala menatap bunga melati yang dulu selalu menjadi favorit ibunya. Tiara selalu membeli Bungan tersebut dan menanam di belakang rumah.
Dahulu ia juga sangat suka membantu ibunya menanam bunga tersebut. Masih terekam jelas tawa dan suara mereka kala itu di otak Alice.
Hanya ukiran senyum pedih terpatri di wajahnya. Sudah lama ibunya pergi dari dunia ini. Sebenernya ia sangat marah ibunya tidak peduli dengannya dan malah meninggalkannya seorang diri dalam keterpurukan.
Rasa rindu itu jelas bersarang di dadanya. Ia sangat berharap kedekatannya dengan sang ibu kembali terulang. Belum lagi ia tidak tahu dimana Damian menyembunyikan Grisson, ia ingin bertemu dengan adiknya setelah sekian lama.
Tetesan air mata saling beradu. Alice mengusapnya lemah hampir tidak berdaya. Ia begitu rapuh didalam kesendiriannya.
"Aku merindukan mu, Ma!" lirih Alice yang tidak mampu berbuat apa-apa dengan ibunya tersebut.
Ia berharap semesta dapat menjaga ibunya di sana, tidak hanya ibunya tapi William ayahnya juga.
Tidak dipungkiri ia merindukan William meski ayahnya merupakan orang bejat yang pernah ditemuinya.
Pria yang menghancurkan semuanya demi ego masing-masing. Tidak ada yang ingin mengalah tapi rasa dendam terus menggerogoti jiwa orang-orang tersebut.
"Papa, aku juga merindukan Mu! Semoga Tuhan menjaga Mu di sana." Alice tersenyum tulus senantiasa mengarahkan pandangannya ke atas langit. "Tolong jaga orangtuaku di sana!"
Alice melirik Angel yang baru saja datang dan mengambil alih tempat duduk di sampingnya. Ia sedikit menyunggingkan senyum pada perempuan itu.
"Kau merindukanku orang tua mu?"
Angel juga melamun dan mengenang keluarganya. Tidak hanya Alice yang menderita di sini tapi dirinya juga. Ia sangat ingin bertemu kembali dengan ayahnya dan Cristian kakaknya.
Sekarang keadaannya semakin diperburuk ketika ia harus menjadi budak Damian, untuk serangan ini ia masih aman, tidak tahu kedepannya apa yang akan terjadi dengannya.
"Kau merindukan mereka juga?"
"Tentu saja." Angel menatap Alice dan menghapus air matanya yang tanpa sadar telah keluar.
"Maafkan aku," ujar Alice yang sangat merasa bersalah.
"Kapan semua ini akan berakhir?"
Alice menggeleng, ia juga tidak tahu kapan kisah memilukan ini akan segera selesai. Ia sangat merindukan masa damai ketika tidak ada masalah yang menyerang hidup mereka.
"Mungkin sebentar lagi."
"Aku tidak yakin. Pasti di antara kita ada yang akan pergi lebih dulu sebelum masa itu datang," kata Angel ambigu sambil menitikkan air matanya.
Alice spontan menatap Angel. Ia tidak mengerti dengan ucapan wanita tersebut, jika memang itu benar, ia harap itu adalah dirinya.
"Aku tidak ingin kau pergi, semoga saja itu aku," ucap Alice seraya mengusap surai lembut Angel.
________
Tbc