
William terdiam di tempat menatap bangunan rumah yang ada di depannya. Tangannya mengepal menguapkan rasa marahnya karena lagi-lagi ia keduluan, rumah Genta dan Alice berantakan dan itu artinya seseorang lebih dulu datang ke tempat ini.
Ia menatap anak buahnya dengan geram, bisa-bisanya mereka didahului. Sean terdiam dengan pikiran yang berkecamuk di benaknya.
Sementara Damian juga bak patung hidup, tidak ada respon yang dikeluarkan oleh mulutnya.
Ia tengah berpikir keras di mana keberadaan Genta dan Alice sekarang dan akan kabur kemana mereka? Otaknya hendak pecah saking sulitnya.
"Cepat kejar mereka," perintah tegas William seraya masuk ke dalam mobil dan mengendarai secepat kilat.
Sean menarik napas dan dengan langkah gontai ia hendak masuk ke dalam mobilnya menyusul William yang telah lebih dulu pergi bersama anak buahnya.
Saat ia hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba ia melihat siluet seseorang di sampingnya. Ia mengerutkan kening seraya menatap siapa orang itu.
Ia memandang Damian dingin dan begitupula dengan Damian yang tidak kalah dingin memandang dirinya.
Perang mata di mulai hingga pada akhirnya keduanya bosan dengan kebisuan itu. Damian menatap dalam Genta sebelum angkat bicara.
"Kau tahu dimana mereka?" tanya Damian dengan ekspresi dingin penuh intimidasi.
Sean mendengus dan berusaha tidak peduli dengan pertanyaan Damian. Ia pun kembali melanjutkan kegiatannya membuka pintu, namun tangannya dicekal lebih dulu oleh tangan berotot Damian.
Pria itu melirik Damian dan menatapnya horor. Tapi, Damian tidak terganggu dengan tatapan itu.
"Kenapa?"
"Kau pasti tahu dimana mereka?"
Sean mengernyitkan alis dan mendecih malas, Damian terlalu sok tahu, bahkan ia sendiripun tidak tahu di mana mereka sekarang.
"Kau pikir aku mengetahuinya? Aneh kau ini," timpal Sean seraya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Damian yang terdiam di tempat sambil meneguk salivanya kasar.
Napasnya memburu dan tangannya terkepal erat. Pria itu membanting pintu mobil dengan nyaring seraya melajukan kendaraan tersebut.
Sedangkan rombongan Miguel telah mengetahui dimana sekarang Genta berada. Ternyata mereka masih dalam perjalan panjang menuju pelabuhan.
Sigap pasukan Miguel mengejar mobil Genta melalu GPS. Mereka tidak ingin kecolongan untuk kali kedua.
Wajah datar Miguel telah membuktikan betapa seriusnya pria itu kali ini, ini bukanlah masalah sepele yang bisa diselesaikan begitu saja.
Mungkin kali ini akan menjadi puncak dari segala puncak balas dendam. Maka dari itu dirinya telah menyiapkan pasokan senjata di bagasi mobil masing-masing jika pada saat nanti kemungkinan terjadi sesuatu.
Tidak mungkin William akan menyerah begitu saja setelah bertemu dengannya nanti. Pasti akan terjadi persaingan dan itulah yang dirinya tunggu.
Hp-nya bergetar menandakan sebuah pesan masuk. Ia meraih benda pipih itu dan membuka ponsel tersebut.
Bos mereka sedang mengejar mu.
Itulah isi pesan tersebut. Miguel sudut bibirnya miring usai membaca kalimat di sana. Inilah dirinya inginkan dan tidak sabar menunggu akan bertemu dengan kawan lamanya tersebut.
"Kita lihat nanti siapa yang paling kuat," gumam Miguel sembari mengukir senyum licik.
Ia menatap jam di pergelangan tangannya lalu mendengus. Ia mengambil pemetik dan rokok lalu mendekatkan ke mulutnya dan menghidupkan pemetik itu kemudian dibakar di ujung rokok.
Keluarlah asap yang menggebul dari dalam mulutnya. Ia menikmati cerutu tersebut dengan santai sembari menyusun strategi di otaknya.
Miguel mengirimkan pesan suara kepada seluruh anak buahnya yang berisi 'MAWAR HITAM' yang berarti simbol perubahan strategi dari sebelumnya.
Laki-laki itu menarik napas panjang dan menatap jalanan dengan wajah dingin. Sebentar lagi, yang sebentar lagi permainan itu akan berada di puncaknya.
_______
Tbc
Jangan lupa like dan komen yah🥺 tolong tinggalkan jejak untuk memberikan dukungan kepada saya.