
Mereka terus berlari melarikan diri dari kejaran rombongan Miguel. Genta membawa Alice ke dalam sebuah balik ruangan. Ia memeluk tubuh Drake dan Adaire yang menangis kencang.
"Tenanglah tidak akan terjadi apa-apa," bujuk Genta pada kedua anaknya.
Ia mengusap kepala anaknya tersebut dengan penuh kehati-hatian hingga suara tangis tadi meredup.
"Kau yakin kita tidak akan ketahuan?" khawatir Alice sembari kepalanya menyembul melihat keadaan di luar.
Semua manusia yang ada di pelabuhan panik berusaha melarikan diri dari kobaran api. Suara tangis dan teriakan saling bersahutan.
"Tenanglah kita pasti aman di sini." Genta meraih tangan Alice dan mengusapnya.
Senyum penuh percaya diri selalu terhias di wajah manisnya berharap bisa menenangkan sang pujaan. Mereka sama-sama berdoa kepada yang kuasa agar diselamatkan.
Adaire dan Drake berhasil ditidurkan sedangkan Alice bersandar di dada Genta. Satu tangannya bekerja mengelus Drake satunya lagi menggenggam tangan Genta erat.
Cukup lama mereka dalam posisi itu dan beruntung tidak ada satupun yang mengetahui keberadaan mereka. Genta menarik napas pelan lalu mengusap pipi Alice.
Diamatinya wajah polos yang tidak berdosa itu. Senyumnya terbit kala memandang wajah teduh tersebut. Dirinya benar-benar beruntung bisa mendapatkan gadis secantik Alice.
Dari malapetaka berujung kebahagiaan yang tiada tara. Dulu ia sempat menyesali perbutan bejatnya mungkin sekarang itu semua akan menjadi kenang-kenangan terindah diawal semua hubungan ini.
"Apakah sudah aman?"
"Sebentar akan ku lihat dulu," tukas Genta dan menjauhkan tubuh Alice dari dirinya.
Ia sedikit mengeluarkan kepala dan tidak sengaja ada orang yang berpakaian hitam melihat dirinya.
Genta dapat pastikan jika orang itu salah satu dari orang yang mencarinya, namun naas semuanya telah terlambat dan orang itu pun juga telah melihat keberadaan dirinya dan ya pria tersebut menghampirinya.
"Alice kau tunggu di sini sebentar, ada yang harus ku urus," lirih Genta sembari mengusap wajah perempuan tersebut yang dipenuhi dengan rasa kekhawatiran.
"Genta katakan ada apa?"
Alice langsung mengintip dibalik celah. Dadanya tersentak dan seraya menatap Genta dengan wajah sendu.
"Ku mohon jangan pergi, tetaplah di sini," pinta Alice menahan kepergian Genta, "kita bisa kabur bersama."
"Tidak Alice kau harus tetap di sini menjaga anak-anak, yakinlah kepada ku."
Genta tersenyum paksa dan menguatkan hatinya untuk keluar meninggalkan Alice yang ingin sekali berteriak melarang pria itu, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Genta? Jika begitu bagaimana dengannya nanti?
"Aku tidak akan memaafkan mu jika sesuatu terjadi dengan mu," ujarnya dengan suara lemah dan menghapus air mata yang baru saja menitik.
Mata Genta menatap pria yang membawa senjata itu dengan tidak ramah. Ia mengepalkan tangannya dan menyerang pria tersebut sesuai dengan kemampuannya.
Genta berusaha mengelak tembakan yang dilayangkan pria bersenjata tersebut. Dirinya melakukan terjangan dengan cepat dikala orang tersebut lengah. Pria itu tersungkur dan Genta cepat meraih senjata api milik laki-laki itu dan menembak si pria hingga mati menggenaskan.
Genta menahan napas melihat aksinya yang tanpa disadarinya, ia tidak menyangka telah membunuh orang.
Ia kira orang yang diserangnya tadi adalah anak buahnya, tapi parkirannya salah besar, orang itu adalah anak buah dari William, ia menyadari saat melihat lambang di baju tersebut.
"Ternyata tidak hanya mereka yang mengepung ku," lirih Genta dan menatap tiga orang yang berpakaian sama hendak menyerang dirinya.
Genta sekuat tenaga memberikan perlawanan dan meninju wajah mereka. Ia juga beberapa kali mendapatkan pukulan dan tendangan di tubuhnya hingga Genta tersungkur di tanah.
"APA MAU KALIAN!!"
Genta terbatuk darah dan menatap mereka semua dengan sinis. Senjata mereka mengarah tepat di kepalanya, mungkin ini saatnya ia menyerahkan ajalnya.
Pandangannya lirih dan Genta meneguk ludah kasar siap merasakan timah panas yang akan menembus kepalanya.
Ketika orang itu hendak menarik pelatuk tiba-tiba sebuah sinar laser mengarah ke kepala orang itu dan tiba-tiba tembuslah timah panas hingga orang tersebut langsung terkapar dengan mata melotot dan darah bersimbah.
Sedangkan yang lainnya terkejut dan menatap arah datangnya laser itu. Mereka mundur kala melihat rombongan Miguel datang bersama pasukannya.
"Gawat, cepat laporkan ke Tuan."
Salah satu di antara mereka segera memberi sinyal kepada anggota yang lain. Tidak berapa lama benar saja banyak rombongan William yang berdatangan.
Miguel bersesi tatap dengan William. Kedua napas pria itu saling memburu dan menyimpan dendam masing-masing di dada mereka.
"Well, akhirnya kita bertemu kembali," ujar Miguel tersenyum ramah.
William menganggukkan kepala dan membalas senyuman itu tipis. Tangannya masih mengepal dan kemarahan telah meliputi hatinya.
"Tidak ada waktu untuk berbasa-basi."
Tanpa diperhitungkan William sudah lebih dulu menembak Miguel tapi ia bisa mengelaknya hingga yang terkena tembakan anak buahnya yang lain.
"Baiklah jika itu yang kau inginkan."
Aksi tembak menembak terjadi dan Genta yang tidak berdaya hanya bisa menyaksikan itu dengan menahan sakit di seluruh tubuhnya.
Ia hendak diam-diam mundur dan pergi dari tempat itu dan menemui Alice. Anak itu pasti ketakutan apalagi setelah mendengar suara tembakan.
Tapi ternyata tidak segampang itu. Ia ditahan dan dibawa ke hadapan William. William tersenyum smirik dan langsung menjadikan Genta tawanan.
Napas Genta tercekat melihat senjata hendak diarahkan ke dirinya. Ia menatap ayahnya yang geram dan marah besar.
"Kau bisa ucapkan kata terkahir mu untuk anak mu Miguel. Ah, ada satu cara untuk menyelamatkan dia, menyerahlah."
"Sial*n kau!! Bangs*t!!!" maki Miguel dan hendak marah namun tertahan, sekarang nyawa anaknya menjadi taruhan.
Namun, aksi tidak disangka dari Sean yang tiba-tiba mengarahkan senjatanya ke kepala William hingga membuat kaget pria itu.
"Apa-apaan kau Sean!!"
"Akulah orangnya selama ini!"
"Apa maksudmu? Tidak mungkin!! BANS*T KAU SEAN!"
Miguel tersenyum miring penuh kemenangan.
_________
Tbc
Jangan lupa like dan komen yah man teman-teman.
Btw man teman jangan lupa yah buat baca karya punya teman aku, pasti gak kalah seru.