
Alice menatap pada daun yang baru saja jatuh dari dahannya tepat di depan matanya. Daun itu melayang di udara hingga menyentuh tanah.
Tidak ada yang menarik dengan itu, tapi dia merasa tenang melihatnya. Daun demi daun berjatuhan dari ranting yang sudah mulai layu.
Alice merasa bernasib sama dengan daun-daun itu. Perlahan-lahan semangat dalam hidupnya kembali memudar sejak bertemu dengan pria yang hendak dihindari dalam hidupnya, Genta.
Wanita itu masih ingat raut wajah Genta yang tampak marah saat William mengambil keputusan tersebut.
Tapi apa pedulinya? Dirinya pun juga tidak menginginkan anak ini. Anak ini telah menghancurkan semua harapan dan semangat yang awalnya hendak kembali pulih seperti semula, namun runtuh hanya kesalahan belaka.
Alice menarik napas. Otak cantiknya bertanya-tanya kapan kah ia akan kembali seperti semula? Ia ingin seperti manusia normal lainnya.
Perempuan itu lelah dengan keadaan yang merugikan sebelah pihak. Alice rasa Tuhan tidak adil kepadanya.
Saat dalam kesendirian perempuan itu mendengar langkah kaki seseorang yang datang menghampirinya.
Tanpa menatap Alice juga tahu siapa orang tersebut. Semenjak kedatangan pria itu, Genta lebih sering berkunjung secara diam-diam menemui Alice.
Tidak ada yang mengetahui aksi pria itu, sekalipun Lina. Ia sangat pintar bersembunyi. Sementara Alice? Apa yang bisa dilakukan olehnya selain hanya terdiam?
Ia juga sudah melaporkan kelakuan Genta kepada Lina dan perempuan itu sepertinya sekarang telah kecolongan.
Genta membungkukkan tubuhnya dan mengusap perut wanita di depannya. Genta masih merasa semua ini seperti mimpi.
Ia tidak percaya di dalam perut itu telah tumbuh darah dagingnya. Sesekali Genta menatap wajah Alice yang merengut. Hati Genta sungguh sesak melihat Alice yang sama sekali tidak mengharapkan anak mereka.
Genta meneguk ludah dan memberikan segelas susu ibu hamil untuk wanita tersebut.
Alice hanya menatap dan tidak menghiraukan susu itu. Genta sudah kebal dengan penolakan tersebut. Ini terjadi hampir setiap hari, namun Genta yakin dirinya suatu hari bisa mengambil hati wanita ini, meski hal tersebut entah kapan terwujud.
"Anak papa sehat-sehat di sana kan? Kamu sedih ya mama kamu tidak peduli sama kamu? Tenang papa sangat sayang dengan mu dan menunggu kamu lahir ke dunia."
Alice panas mendengar percakapan itu. Ia merasa tersinggung meski apa yang telah diungkapkan pria itu memang benar.
Dalam hati Alice, anak sil*n itu sama dengan ayahnya yang lebih baji"ngan. Benar-benar keturunan yang luar biasa.
Alice kesal ia pun memukuli perutnya dengan kuat. Genta pun terkejut dengan apa yang dilakukan oleh perempuan itu. Ia segera menghentikan pukulan Alice sebelum menyakiti anaknya.
"Alice apa yang kau lakukan? Hentikan, kau bisa melukai anak kita," mohon Genta meraih lengan perempuan tersebut lalu memeluk tubuh Alice cukup erat, "jangan lakukan. Hati ku sakit melihatnya."
Dalam hati Alice meronta, siapa yang peduli dengan mu?
Alice menangis sesugukan. Ia hendak melupakan semua sakit hatinya kepada pria itu dengan cara tersebut. Alice sejenak berpikir apakah ia adalah ibu yang jahat?
"Alice berusahalah untuk menerimanya. Dia adalah darah daging mu, anak mu Alice, hargai kehadirannya. Dia tidak berdosa aku yang berdosa." Genta menangis mengatakannya.
Alice mendorong tubuh pria yang memeluknya itu dengan cukup kuat hingga terjatuh ke samping.
Genta merasakan sakit di pinggangnya. Tidak lama setelah beberapa detik kejadian itu, terdengar suara rintihan Alice.
Mata pria itu membulat sempurna melihat cairan merah dan kental yang mengalir dari kedua kaki Alice.
Genta berusaha bangun dan berteriak meminta tolong kepada orang di luar. Ia mengangkat tubuh tidak berdaya Alice dan berseru kepada semua yang mendengar teriakannya jika Alice dalam kondisi buruk.
Mendengar teriakkan dari bawah sontak membuat William bersama istri segera datang menghampiri.
Mereka terkejut melihat banyak darah dari tubuh Alice. Kontan semuanya cepat langsung membawa Alice menuju rumah sakit.
Genta diperbolehkan ikut di dalam mobil. Pria itu tak berhenti menangis dan menggenggam tangan wanita itu. Tidak ada yang curiga karena memang semuanya fokus dengan keselamatan Alice serta tengah dipenuhi dengan rasa panik.
Hanya Lina yang menyadari sikap Genta. Ia melihat wajah Genta yang akan penuh kekhawatiran tersebut.
Sesekali Genta mengecup puncak kepala Alice, dan membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu. Tiba-tiba Genta teringat jika Alice dulu sangat menyukai ia bercerita tentang dongeng-dongeng di dunia.
Ia pun berniat untuk menceritakan salah satu dongeng dari China yang cukup terkenal. Alice mendengar sebuah cerita yang dilantunkan pun mulai tenang.
Ia menyimak dongeng itu ditengah rasa sakit yang melanda seluruh tubuhnya.
Meski samar-samar tapi Alice tahu betul kalimat apa itu. Ia pun termenung sesaat sebelum dirinya merasakan tubuhnya dipindahkan ke ranjang rumah sakit.
Perlahan-lahan tautan tangan Genta dan Alice terlepas. Sungguh sangat tidak ikhlas bagi Genta untuk melepaskannya.
Genta hendak ikut melihat ke dalam proses persalinan Alice. Namun ia dicegah oleh sebuah tangan.
Genta menatap pada Lina, dan terdiam. Ia melihat Lina memberikan dirinya peringatan untuk tidak bertindak lebih jauh.
"Kau jangan melakukan itu jika dirimu tidak ingin dicurigai oleh tuan."
Genta pun menatap Lina cukup lama lalu hanya membalas dengan sikap dalam diam.
"Seharusnya kau bersyukur kelakuan bejat mu itu tidak dapat diketahui tuan."
Genta terdiam. Benar juga bukan kah William seringkali mengerahkan anak buahnya untuk mencari pelaku yang telah berani menghamili putrinya. Kenapa William tetap tidak tahu pelakunya sangat dekat dengannya. Bahkan Genta rasa ia pun tidak melakukan sesuatu untuk menghindar.
"Kenapa kau tidak memberitahu tuan jika aku pelakunya, bukankah bagus untuk diri mu? Kau bisa mendapatkan banyak uang."
Lina tersentak. Ia menatap Genta dalam, mulutnya tidak dapat mengeluarkan sepatah kata pun.
"Bersyukurlah aku tidak memberitahu tuan, bukan memprotesnya."
"Apakah kau tengah menyembunyikan sesuatu dari ku?"
Lina hanya menatap Genta kemudian meninggalkannya di sana sendirian. "Kenapa kau sendiri tidak mau mengaku?"
"Aku tidak mungkin mengakui. Aku takut jika aku mengakui semuanya dapat membuat ku berjauhan dengan orang yang aku cintai."
______
"Apa yang ingin kau lakukan pada anak ku?!"
"Tidak ada. Apa kau tau di mana Genta bekerja?"
"Apa maksudmu?
"Genta bekerja pada Arakhe."
"Jangan bercanda."
"Aku tidak bercanda. Apa selama ini kau tau anak mu bekerja di mana?"
Cristian pun mematikan sambungan telepon tersebut lalu menarik napasnya. Di belakang sang ayah duduk di kursi kebesarannya dengan tangan melipat di dada.
Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruangan tersebut. Lantas Cristian menoleh pada orang itu lalu mengalihkan pandangan ke sang ayah.
Cristian mengangguk mempersilakan orang itu mengatakan apa yang hendak disampaikannya.
"Alice telah melahirkan di Beijing beberapa menit lalu."
Cristian dan Miguel langsung menatap pria itu. Cristian menarik napas dan menatap pada ayahnya yang termenung seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Lalu bagaimana dengan Genta?" tanya Cristian.
"Untuk Genta pria itu baik-baik saja, tidak ada yang terjadi dengannya."
Cristian mengangguk lalu menyuruh orang itu keluar. Pria itu menghampiri meja Miguel dana duduk di depan ayahnya ia ingin melihat reaksi dari sang ayah.
Tapi Miguel tidak mengatakan apa pun dan malah pergi dari tempat itu begitu saja.
____
Jangan lupa like dan komen ya🥺🥺