My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 74



Spontan dua wanita yang ada di ruang tamu itu menoleh ke belakang. Mereka terkesiap melihat Genta yang baru saja datang.


Seluruh persendian Angel melemah, matanya hendak menumpahkan semua cairan yang terkandung di dalam sana. Benar ternyata Genta belum meninggal, pria itu tengah berdiri di depannya sekarang.


Pertahanan Angel menipis, tanpa bisa dicegah ia berlari ke dalam pelukan sang kakak. Jujur ia belum mengenal lebih seorang Genta, tapi hanya pria itu yang sekarang ia miliki.


Hanya Genta keluarganya yang tersisa dan tempat pelariannya. Ia tidak malu ketika harus mendekap tubuh Genta begitu erat.


Sementara Genta ikut merasakan apa yang telah dirasakan Angel. Ia memeluk tubuh wanita ini penuh dengan rasa rindu. Adiknya, Angel.


"Kakak aku takut," lapor Angel sembari menatap ke bola hitam milik Genta.


Genta tersenyum menyakinkan Angel jika perempuan itu akan aman bersamanya. Ia jamin itu.


"Kau tidak perlu takut, ada aku." Genta mengusap surai indah yang dimiliki Angel. Surai ini lebih panjang dari sebelumnya.


"Genta! Maafkan." Alice merasa bersalah karena perbuatan Damian. Meski ia tidak menganggap Damian ia ingin melakukan permintaan maaf mewakili laki-laki itu.


Genta menoleh ke arah Alice. Ia menarik napas panjang, kebiasaan istrinya ini mudah merasa bersalah.


"Tidak apa. Kau tidak perlu meminta maaf, bukan kau yang salah."


Angel tidak mengerti arah percakapan kedua insan tersebut. Ia menatap Alice keheranan.


"Maksud kalian apa? Meminta maaf?"


"Ah, Angel tidak apa-apa. Tidak ada yang terjadi. Sekarang kau bisa tinggal di rumah ku. Aku akan melindungi mu."


Angel mengangguk haru. Akhirnya ia bisa bebas juga dari iblis kejam itu sudah lama ia menanti kebebasan ini. Damian benar-benar iblis menyakiti fisik dan batinnya tanpa ampun.


"Kau selamat Kak? Aku tidak menyangka." Angel menatap Genta dari atas hingga ujung kaki.


Pria ini sempurna tidak ada lecet meski terdapat banyak bekas luka di tangannya.


"Maafkan aku tidak dapat menolong mu kemarin."


Angel menggeleng lemah. Dengan ditolong sekarang ia sudah sangat bersyukur. Ia menatap Alice dan Genta bergantian.


"Kalian menikah?" tanya Angel penuh selidik. Ia tersenyum tipis dan berubah masam. "Aku sulit menerima istri mu ketika tahu siapa dia."


"Dia tidak bersalah Angel. Sudahlah kau akan diantarkan pelayan ke kamar mu."


Angel mengangguk dan tidak lama ada pelayan yang datang dan membawanya menuju ke suatu ruangan.


Genta menghela napas. Setelah Angel pergi, sifat dirinya yang sebenarnya pun muncul perlahan. Tangan Genta mengepal jelas ia sedang dilingkupi amarah yang begitu besar.


"Genta!" seru Alice sambil berjalan ke arah pria itu.


Alice takut ketika Genta menunjukkan sisi lainnya. Ia merasa ada orang lain di dalam diri Genta.


"Alice masuk ke kamar mu!"


"Apa maksudmu? Kau tidak akan melukai Damian dan ibunya, bukan?" tanya Alice begitu sangat khawatir.


Meski sikap yang diambil Damian sangat salah, ia tidak ingin jika pria itu dibunuh, terlebih Lina. Lina bak ibu kedua baginya.


"Aku tidak janji," timpal Genta seraya pergi meninggalkan Alice begitu saja.


Alice merasa terpukul air matanya pun jatuh. Ia menatap punggung Genta, jika sudah seperti ini Genta tidak bisa lagi dicegah, ia berharap Tuhan memberikan kesadaran pada Genta.


Genta membuka kasar pintu ruang kerjanya. Pria itu mengepalkan tangannya hingga urat-uratnya menyembul.


Ia menendang tembok dengan kuat melampiaskan amarah yang bersarang di dadanya. Bagaimana mungkin ia tidak marah jika Damian begitu bejat memperlakukan adiknya.


"Ada apa?" tanya Genta seraya menghidupkan cerutu dan menghisapnya. Sementara tangan satunya lagi memegang ponsel.


"Tuan kapal tengkorak yang hendak menghadang kapal kita telah dibom di samudra Pasifik. Kami telah memastikan tidak ada polisi yang tahu dengan pengeboman ini."


"Bagus, siapkan satu kapal lagi untuk mengawal kapal kita. Kau sudah berhasil mencari tahu dalang semua ini?" Genta menghembuskan asap dari rokoknya.


"Kami telah berhasil menyelidiki dan dalangnya adalah Damian, Tuan."


Genta menahan napas. Amarahnya semakin membara, pria itu benar-benar tangguh ingin melawannya. Genta membuang puntung rokok dan menggilasnya dengan sepatu.


"Aku ingin kau terus memantau pergerakan Damian. Jangan sampai kita kecolongan."


Genta menutup sambungan telepon itu lalu mencengkram kuat benda pipih tersebut. Ia menghembuskan napas kasar lalu duduk di meja kerjanya.


_______


Genta tersenyum melihat istrinya yang duduk di meja rias dengan pakaian santai. Ia menghampiri Alice dan menatap wanita tersebut dari kaca.


Penampilan Alice begitu memukau dengan make up yang sederhana. Perempuan itu telah menyihir hatinya. Genta menyisir rambut Alice yang sudah ditata rapi dengan tangannya.


"Kau cantik sekali baby." puji Genta sembari menundukkan kepalanya dan mengecup leher Alice sangat lama.


Alice berusaha menetralkan napasnya. Ia bak patung sambil melihat dirinya dan kelakuan sang suami dari kaca di depannya.


Genta menjauhkan kepalanya dan tersenyum puas. Ia melihat hasil karyanya yang tercetak jelas di leher wanita itu.


"Ada pikiran yang menggangu mu?"


Alice diam tidak menjawab. Jujur saja Alice sering kali memikirka hal-hal yang selalu membuat dirinya cemas.


Buku diary milik Elizabeth selalu menghantui pikirannya. Ia merasa tidak tenang tiap kali teringat setiap bait yang dituliskan Elizabeth, ia merasa bersalah dan jahat telah egois ingin Genta hanya miliknya sendiri.


"Tidak ada."


Genta mengembuskan napas berat dan menatap Alice melalui kaca dengan tajam. Sementara wanita itu bisa melihat jelas aura mencengkram dari Genta.


"Ada yang kau sembunyikan dari ku?"


"Tidak ada. Sudahlah aku ingin tidur." Alice beranjak sembari menyingkirkan tubuh Genta yang menghalangi jalannya.


Genta terdiam di tempat dengan pandangan lurus ke depan. Ia tidak suka melihat Alice mengelak pertanyaannya.


Genta ikut berbaring di samping Alice yang sudah terpejam.


"Kau tidak pandai berbohong dengan ku."


Mata Alice kembali terbuka. Ia menatap ke depan dengan pandangan kosong. Matanya terbuka sayu-sayu karena bercampur perasaan tidak tenang.


Ia mendekap erat guling nya.


"Kau masih tidak ingin menjawab ku?"


Genta bangkit dari baringnya dan mendengus kasar, lelaki itu menatap seluruh ruangan kamarnya ini. Ia merasa kesal pertanyaannya tidak dijawab oleh Alice.


Mata Genta tidak sengaja mencuri pandang dengan sebuah buku yang tergolek di sisi ranjang. Lantas Genta meraih buku itu dan menatapnya. Ini adalah buku yang ia ingin cari, diary lengkap Elizabeth.


Ia membuka buku tersebut dan sekilas membaca setiap halamannya. Ia memandang Alice lalu kembali pada buku itu. Ia pun mulai sadar dengan sikap Alice.


Alice merasa penasaran Genta tidak menggangu lagi itu lantas bangun dari tidurnya. Ia melihat Genta yang tengah memandang dirinya begitu tajam. Lirikan Alice jatuh pada buku di tangan Genta.


"Kau?"


"Kau sudah membaca buku ini?" potong Genta seraya menyerahkan buku tersebut pada Alice.


Alice menatap lama buku tersebut dan mengambilnya dengan tangan bergetar. Takut-takut ia melirik Genta dan air matanya luruh tanpa diminta.


"Maafkan aku, jika buku ini membuat mu sakit hati. Aku mohon kau tidak membenci Elizabeth." Genta merangkuh tubuh Alice sangat erat.


Perlahan-lahan air mata Alice pun turun. Ia meneteskan buliran bening itu setiap detiknya. Hati wanita mana yang tidak sakit ketika suaminya dicintai wanita lain?


"Elizabeth tidak salah," tutur Alice sambil menaruh dagunya di pundak Genta.


"Terimakasih kau sudah memahami Elizabeth."


Alice mengangguk pelan. "Apakah kau mencintainya?"


Usapan tangan Genta di punggung wanita itu terhenti. Ia terdiam sesaat.


"Aku mencintainya sebagai orang terdekat ku, tidak dengan hati ku, aku hanya mencintai mu."


Alice dapat merasakan ketulusan cinta Genta. Ia percaya penuh dengan pria ini.


"Sekali lagi maafkan aku Elizabeth," gumam Alice halus bahkan tidak terdengar. Matanya mulai terpejam jatuh dalam dunia ilusi.


_______


Tbc