
"Tadi kau mengajakku ke kantor polisi, sekarang kau mau membawaku ke mana lagi?" interogasi Alice melihat pria ini yang lagi-lagi membawanya entah kemana bukannya mengantarkannya pulang ke hotel.
Ia tidak tau tujuan pria ini sekarang akan mengajaknya ke tempat apa lagi, begitu banyak sepertinya tempat yang ingin dikunjungi Genta, entahlah ia juga tidak paham.
Matanya menatap tajam ke dalam netra yang tetap tenang meski mendapatkan kemarahannya. Sejenak Alice merasa bingung sekaligus aneh ketika pria ini memberhentikan mobil tepat di depan mansion mewah yang bergaya klasik orang Eropa zaman dulu.
Sangat langka pikir Alice ada mansion yang bergaya Eropa di Amerika. Alice begitu mengagumi keindahan dari mansion tersebut, entah siapa pemiliknya yang pasti tentunya orang kaya.
Jika ia adalah orang kaya seperti dulu saat papanya masih hidup dan keluarganya masih utuh ia akan membeli mansion seperti ini. Gaya mansion tersebut sungguh menggoda ingin sekali ia berpetualang di dalam sana.
Lamunan Alice buyar dalam sekejap ketika Genta membuka pintu mobil dan memberikan tangannya membantu ia keluar dari dalam mobil.
Dengan perasaan bingung ia menyambut tangan itu dan keluar dari dalam mobil. Fokus matanya tetap tidak beralih dari keindahan mansion tersebut.
"Kenapa kau mengajak ku kemari? Besok aku harus pulang seharusnya malam ini aku akan berkemas. Kau membuang waktu ku saja," kesal Alice tapi tidak dapat dipungkiri jika sebenarnya ia masih ingin berlama-lama di Amerika.
Tapi sayang pekerjaan begitu menuntut dirinya untuk kembali ke Kanada dan membereskan semua pekerjaannya dan jika ada waktu maka ia akan kembali lagi, entah kapan.
Tapi Alice merasa ia tidak akan sanggup berpisah lagi, terutama Genta yang akhir-akhir ini sangat posesif dan pastinya pria itu tak kan setuju ia tinggal di Kanada.
Genta tersenyum miring melihat wajah takjub dari Alice dan bersamaan sedang marah dengannya. Ia tidak ada berniat menjelaskan pertanyaan yang dilontarkan Alice, biarkan saja waktu beberapa menit lagi yang akan menjawabnya.
Tidak lama keluar begitu banyak para penjaga dan pelayan dari dalam mansion. Masing-masing di antara mereka melakukan tugasnya. Alice heran ketika barang belanjaannya yang dibeli diangkut juga oleh pelayan itu.
"Eeee... Itu barang saya." Alice berusaha mengambil barang belanjaannya.
Pelayan itu bingung dan menatap Genta. Genta menyuruh pelayan itu tetap membawa masuk barang-barang milik Alice tersebut. Melihat itu Alice kian geram dan hendak memukul pria ini tapi tangannya terhenti di udara ketika sadar jika di sini ada anak mereka.
Adaire dan Drake sibuk menatap keindahan sekitar, keduanya lebih dulu berlarian dan saling bertengkar seperti biasanya.
Alice merasa pusing dan mengejar kedua anak itu takut jika mereka merusakkan sesuatu dan ia tidak memiliki uang untuk menggantinya.
"Adaire!! Drake!! Jangan pakai sepeda itu!! Itu punya orang Nak," tegur Alice dan berusaha merebut sepeda yang hendak mereka tunggangi.
Kedua bocah itu sudah besar dan seharusnya sudah mengerti jika itu bukan milik mereka.
"Mama ini punya Adaire sama Abang Ma! Adaire sama Abang yang pilih sepeda ini sendiri, Papa yang belikan untuk Adaire dan Drake," jelas Adaire begitu jelas dan saking jelasnya Alice sampai merasa amarahnya hendak meledak.
Ia menatap tajam Genta dan Genta menggidikan bahu lalu tersenyum menghampiri kedua anaknya.
"Kalian boleh mencoba sepeda baru mu!"
"Makasih Pa!"
Dengan semangat anak kembar itu memainkan sepeda baru mereka. Alice meneguk ludahnya tidak mengerti dengan situasi ini.
Kenapa Genta membelikan sepeda buat mereka dan ditaruh di depan mansion orang dan entah siapa pula pemilik mansion ini dan kenapa mereka berhenti di tempat ini?
"Genta apa maksudmu?"
"Yeah, this is my home."
Alice terkejut dan bengong masih mencerna perkataan laki-laki tersebut. Ia menatap tidak percaya kepada bangunan yang luasnya luar biasa lalu ke arah anak-anaknya yang tengah sibuk bermain sepeda barunya.
Ia benar-benar tidak menyangka jika pelayannya dulu malah menjadi orang yang tidak pernah terbayangkan oleh-nya.
"Kau jangan membual Genta." Alice mendekati pria itu.
Genta tertawa tips lalu meletakkan kedua tangannya di pundak sang wanita. Ia menatap cukup lama wanita ini.
Mungkin Alice sekarang masih tidak menyangka jika pelayannya dulu sekarang adalah seorang CEO terkenal dan memiliki rumah mewah berkali-kali lipat megahnya dari rumah wanita itu dulu.
Kebijakan, peraturan, dan strategi baru yang dibuatnya membawa Mitra Crop menuju kejayaan. Bahkan pria bermarga Miller itu berhasil telah menggeser posisi keluarga Bekry dari nomor 1 orang terkaya di Amerika dan nomor 5 orang terkaya di dunia.
Tentunya itu menjadi persaingan ketat dan bisnis yang mulai tidak stabil. Banyak orang yang mengincar nyawanya dan keselamatannya karena persaingan tidak sehat.
"Kau tidak percaya? Aku akan membuatmu percaya."
Genta menarik tangan Alice dan mengenalkan rumahnya kepada wanita itu. Tentunya Alice merasa takjub dengan arsitektur indah di zaman kuno. Genta sepertinya sangat suka tema Eropa zaman dulu tentunya tidak terlepas karena ia yang hobi membaca cerita klasik.
Saking terperangah dengan bangunan indah ini sampai Alice tidak menyadari dirinya telah sampai di depan pintu yang menjulang tinggi, tahu-tahunya ia telah di depan kamar.
"Ini kamar siapa?"
"Kamar kita," jawab enteng Genta tidak memikirkan bagaimana reaksi Alice yang menanggapinya.
"Aku tidak tinggal di sini."
"Siapa bilang?" tantang Genta yang lagi-lagi membuat Alice harus menyerah.
Jika begini ia tahu siapa yang akan menang. Genta memiliki seribu cara dan mengetahui banyak titik kelemahannya.
"Aku besok akan pulang ke Kanada."
"Kau tidak akan pulang karena perusahaan mu sudah ku beli dan ku pindahkan kantor pusatnya di Amerika. Kau tinggal masuk besok ke kantor baru mu." Genta berlalu dan masuk ke dalam kamar terlebih dahulu.
Alice bukan main syok-nya. Ia terbelalak dan mengejar Genta meminta penjelasan atas ucapan laki-laki itu.
"GENTA APA MAKSUDMU?!!"
"Kau pikir aku akan membiarkan mu pulang ke Kanada? Tidak lagi Alice, tidak lagi kita berpisah. Kita akan membangun keluarga bahagia dan memiliki banyak anak. Bagaimana kalau kita menambah anak dan membuatnya sekarang?" Genta menaik turunkan alisnya.
Alice memutar bola mata malas, selalu saja yang dipikiran Genta adalah hal mesum padahal pria itu sebentar lagi akan berkepala empat tapi otaknya masih saja kotor.
Malang nasib di umurnya yang masih muda harus mengurusi nafsu seorang pria.
"Aku lelah aku ingin tidur."
"NO!! TIDAK BISA!!"
_________
Damian membuka pintu dan ia mengerutkan keningnya kala mendapatkan ruangan kosong.
Ia pun berlari dan membuka kamar Alice tapi sama hanya kehampaan yang menyambutnya. Ia pun membuka lemari milik Alice dan sama sekali tidak ada pakaian wanita itu lagi, apa Alice sudah pulang lebih dulu ke Kanada?
Tidak masalah jika Alice sudah lebih dulu pulang ke Kanada tapi masalahnya kenapa perempuan itu bisa tidak memberitahunya?
Ia pun menelpon petugas bandara apakah ada penerbangan ke Kanada baru-baru ini. Wajah Damian memanas ketika mengetahui sama sekali tidak ada penerbangan yang dilakukan sore dini hari.
Ia pun baru ingat jika Alice pagi tadi dijemput Genta. Pasti ini semua ulah Genta. Laki-laki itu memang sedang mencari mati telah berani membawa kabur adiknya.
"KAU GENTA!!" Damian menggeram dan menendang tembok penuh amarah. Siapa pun yang melihatnya pasti tidak akan berani mendekat dan menjadi pelampiasan api kemarahan dari pria tersebut.
__________
Tbc
Hay teman-teman jangan lupa dukungan dan komennya yah🥺 semangat dari kalian ngaruh banget buat parau author. Terimakasih yang sudah baca.