My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 63



Seorang pria dengan penampilan sederhananya tampak tengah berdiri tegap di dalam ruang gelap sedang melakukan sesuatu.


Bumi diselimuti penuh akan gelap gulita ditambah ruangan hampa yang sama sekali tidak memiliki pencahayaan, menambah kesan horor suasana sekitar.


Ia menghidupkan obor hingga tampaklah ruangan sepi itu bercahaya remang-remang. Ia tidak berniat menyulap ruangannya penuh dengan cahaya lampu listrik. Ia menyukai obor karena mengingatkannya akan zaman dulu.


Matanya lurus menatap ke depan. Tidak ada yang menarik, dan dirinya juga tidak fokus melihat apa yang ada di depannya tapi malah diam melamun tengah memikirkan sesuatu. Pikirannya kalut penuh dengan sebuah strategi-strategi licik yang akan dilancarkan secepatnya.


Sebelumnya dia bukanlah orang jahat ia hanyalah mendapat amanat. Ia menjalankan amanat itu sebaik mungkin.


Pria tersebut menghela napas lalu duduk di kursi usang miliknya. Matanya berkelana hingga terpusat lah pandangannya pada suatu objek yang menggenaskan.


Seorang pria yang penampilannya tampak usang terikat dengan mulut tersumpal di sudut ruangan. Hanya maut yang sebentar lagi akan menjemput ajalnya.


Senyum miring tercetak jelas di sudut bibir laki-laki itu tat kala melihat pria tak berdaya tersebut merintih.


Terdengar suara lirihnya yang memohon agar penderitaannya diangkat, tapi laki-laki ini seakan tidak peduli.


Ia membuka topi hoodie dan tampaklah wajahnya yang mendominasi di kegelapan malam.


"Tidak ada gunanya kau memohon," ucapnya seraya memandang malas pria tersebut.


Ia meraih beberapa berkas di mejanya lalu mengerjakan dengan giat. Entah apa yang dilakukan hanya dirinya dan Tuhan lah yang tahu.


Senyumnya sempurna. Kali ini sebuah senyum tulus bukan lagi senyum licik. Ia menatap pria tadi yang masih melirik ke arahnya penuh permohonan.


Ia mendekati laki-laki lemah tersebut lalu berjongkok di depannya. Tampak sang pria sangat bahagia karena ia menyangka jika dirinya bakal dibebaskan, tapi nyatanya tidak.


Sebuah sayatan tiba-tiba menggores dalam lehernya. Hingga matanya melotot dan nyawa pun sudah terangkat.


Laki-laki itu membuang pisau yang digunakannya tadi ke sembarang arah. Darah bersimbah sulit dijelaskan saking banyaknya.


Bau anyir memenuhi ruang hampa itu. Pria tadi seolah tidak terganggu dengan bau menyengat tersebut seakan dirinya sudah terbiasa.


Ia meraih ponselnya di meja lalu mengetikkan beberapa huruf dan mengirim pesannya.


Tidak lama tampaklah pemberitahuan jika pesan tersebut telah dibaca. Senyumnya terukir lalu tak lama layar ponselnya menampilkan sebuah panggilan masuk.


Ia pun menggeser layar hijau dan mendekatkan ponsel tersebut ke telinganya. Terdengar deru napas penuh amarah dari seberang sana.


"BERHENTI MENGIRIMI KU PESAN!! OMONG KOSONG SEMUA YANG KAU KATAKAN!"


"Aku hanya mengikuti amanah ayah mu. Kau harus turuti perkataan ayah mu meneruskan organisasi Black Rose bukannya malah membuat organisasi baru dan menantang organisasi Balck Rose. Ingat kau satu-satunya pewaris yang masih hidup."


"Kau pikir kau siapa melarang ku seolah aku bisa dikendalikan??!! Aku tidak akan pernah mendengarkan mu. Cukup dulu aku hanya bisa melihat dan membiarkan orang-orang sekitar memainkan ku. Sekarang aku akan melawan kalian dan menunjukkan jika aku bukan lagi pria lemah yang selalu diatur oleh kalian."


"KAU GENTA!!"


Tangan pria itu terkepal geram mendengar penuturan tak masuk akal. Genta memang mudah berubah dan menjadi orang hebat dan berbahaya dalam sekejap. Ia akui Genta memang bukan lagi pria lugu yang dapat diatur seperti dulu.


Genta jelas nyata sebagai ancaman terbesar organisasi Black Rose. Ia tidak akan membiarkan organisasi tersebut hancur, dirinya akan berusaha membuat Genta takluk kembali.


"Ah, ya kalau tak ku sangka kau juga kan pelaku penutupan kasus Elizabeth, kau memang bajingan telah membunuhnya!!"


Tut


Sambungan itu dimatikan sepihak. Setelah mendengar ucapan kerasnya Genta langsung mematikan telepon tersebut.


Ia menghela napas lalu meraih sebuah lukisan indah yang hanya tinggal sebuah harapan.


"Aku akan melakukan tugas ku dengan baik."


_______


Genta menatap penuh emosi handphonenya. Ia membanting benda itu ke dinding hingga terdengar suara ledakan kecil. Genta meremas rambutnya dengan kedua jarinya.


Napasnya saling beradu dan berusaha ditenangkan. Air matanya luruh secara perlahan. Ia menangis tanpa eskpresi.


Benar keluarganya memang dibunuh oleh anak buah William atas perintah pria itu. Seharusnya ia marah dengan Alice dan menjadikan wanita itu objek balas dendam, nyatanya ia malah jatuh begitu dalam pesona wanita itu.


Mereka hanya orang luar yang berusaha masuk ke dalam hidupnya dan menghancurkan hubungannya dengan Alice. Mereka memang tidak pantas menganggapnya anak dan mangaku-ngaku jika ia sang pewaris, padahal mereka sama sekali tidak ada ketika ia dalam masa pertumbuhan.


Ia sudah besar dan tidak pantas untuk diatur dan menjadi boneka mereka. Genta keluar dari ruang kerjanya dan masuk ke dalam kamar.


Hal pertama yang menyambut penglihatannya adalah Alice yang sedang terlelap begitu nyaman di ranjang mereka.


Ia tahu Alice begitu lelah karena pekerjaannya yang semakin banyak setelah iklannya resmi dibuka. Banyak peminat boneka dari seluruh pusat Amerika yang menyukai rancangan wanita itu.


Ia berjalan menghampiri wanita tersebut dan duduk di sampingnya. Lama dirinya menatap seoonggok tubuh yang terbaring lemah.


Wajahnya mendeskripsikan jika wanita ini sangat lugu dan nasibnya menyedihkan. Tangannya terangkat dan mengusap punggung wanita itu.


"Aku berjanji akan menjadi orang yang pertama melindungi mu."


Ia mencium kening sang wanita begitu dalam. Sebelum ikut tidur di samping Alice, Genta terlebih dahulu pergi ke WC dan melakukan ritual pembersihan badan.


Tak lama dirinya keluar hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya lalu mencari pakaiannya di dalam lemari dan mengenakannya.


Udara dingin karena musim salju membuat tubuh terasa membeku. Genta masuk ke dalam selimut dan merebahkan badannya di samping perempuan tersebut.


Ia memeluk Alice lalu ikut menyusul ke dalam mimpi. Tidak lama setelah Genta hanyut dalam dunia ilusi, Alice membuka matanya. Ia tersenyum melihat tangan Genta yang memeluknya.


Wajah Genta mengerut terlihat ia sangat kelelahan. Alice merasa kasihan karena Genta harus menanggung banyak beban pikiran.


"I love you my husband," bisik Alice lalu menciumi seluruh wajah Genta dan memejamkan matanya.


Tiba-tiba tubuhnya ditarik dan didekap semakin erat. Alice tersentak langsung menatap tepat di depan mata Genta.


"Tidurlah jika kau tidak ingin berolahraga bersama."


_________


Tbc