My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 22



Genta menyeka keringat yang jatuh dari wajahnya ketika usai membersihkan semak-semak di taman. Dirinya merasa lega dan dapat bernapas dengan leluasa saat telah menyelesaikan semua pekerjaannya pada hari ini.


Pria itu menarik napas sejenak lalu pergi membersihkan tubuhnya. Ia telah rapi kembali.


Para pelayan wanita yang melintas di dekatnya langsung memekik melihat ketampanan dari seorang Genta. Pria itu memilik tubuh yang atletis serta wajah yang menawan.


Banyak para pelayan wanita yang mendekati dirinya. Namun tiada satupun yang mampu untuk mengambil hati dari seorang Genta. Hatinya telah terkunci hanya untuk satu nama yaitu Alice Nekhade Arakhe.


Mengingat namanya membuat Genta tersenyum-senyum sendiri, meski rasa rindu amat menyesakkan di dada tapi ia berusaha untuk melupakannya, tidak untuk selamanya tapi hanya sementara.


Pria itu menatap arjoli yang melingkar pada tangannya. Ia pun langsung keluar dari rumah Arakhe untuk pulang.


Tiara sempat bingung karena Genta akhir-akhir ini seringkali memilih pulang ke rumahnya. Ia cukup sedih karena Genta merupakan salah satu orang terpercaya Tiara.


Saat di depan gerbang Damian mencegat Genta. Genta tidak mengerti apa tujuan Damian mencegatnya.


Pria tersebut menatap Genta dengan raut datar tidak terbaca sehingga membuat Genta merasakan ada yang aneh. Kenapa pula ia ditatap seperti itu?


Genta hendak pergi dan tidak mempedulikan tatapan tajam dari Damian, tapi baru saja beberapa kali melangkah suara Sean membuatnya berhenti untuk sesaat.


Pria itu membalikkan badannya lalu menautkan kedua alisnya seakan sedang bertanya kepada Sean.


Sean melewati Damian dan menatap dingin pria itu. Ia berlalu begitu saja di depan Damian dan melemparkan senyuman untuk Genta.


"Ada apa?"


"Kenapa kau buru-buru sekali?" tanya Sean. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana.


Rambut Sean yang cukup panjang berterbangan ditiup angin. Pria itu sangatlah tampan dengan senyum menawan di wajahnya.


"Aku punya keperluan di rumah."


"Begitu kah? Bagaimana aku saja yang mengantarkan kau ke sana?"


Genta mengusap belakang kepalanya yang tidak gatal. Ia pun cengengesan, pria tersebut berencana untuk menolak tawaran Sean. Ia masih bisa pulang dengan bus malam ini, lagian belum terlalu larut juga.


"Tidak perlu Sean aku bisa sendiri. Aku pria, jangan khawatirkan aku, apa kau tidak malu mengkhawatirkan seorang pria dan memberikannya tumpangan?"


Usai mengatakannya Genta pun berpamitan pulang dan melintasi Sean dan Damian begitu saja. Saat Genta semakin jauh Damian dan Sean saling berpandangan dingin.


Sean pun juga pergi menuju mobilnya dan meninggalkan Damian yang masih terdiam di tempat. Napas Damian memburu tangannya mengepal tapi ekspresinya tampak tenang.


Beberapa saat kemudian


akhirnya Genta pun sampai ke rumah yang selalu ia rindukan itu, terlebih anaknya. Rasanya Genta tidak sabar ingin menciumi wajah menggemaskan Drake.


Genta terlebih dahulu singgah ke rumah tetangganya Dyana untuk menjemput Drake.


Ia mengetuk pintu rumah Dyana beberapa kali dan tidak lama keluar seorang perempuan paruh baya sambil menggendong bayi yang masih tertidur.


Genta melemparkan senyumnya pada Dyana. Ia pun meraih tubuh Drake dan mendekapnya.


"Terima kasih telah Dyana kau telah menjaga Drake untukku."


"Ya. Kau tidak seharusnya perlu berterima kasih Genta," ujarnya dengan senyum manis di wajahnya. Kemudian Dyana masuk kembali ke dalam rumahnya.


Genta mengangguk usai kepergian Dyana. Pria itu menyeka keringat di kepalanya. Hari ini sangat melelahkan, banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan.


Sejenak pria itu melamun. Ia sempat mendengar pembicaraan William di ruang rahasia pria itu tadi. Tubuhnya bergetar kala mengetahui William akan turun tangan sendiri mencari pelakunya yang tidak lain adalah dirinya sendiri.


Napas Genta tercekat, syukur sampai sekarang Tuhan masih mau melindunginya. Tapi tidak tahu akan hari esok bukan? Bisa saja semuanya terungkap dan dirinya ditangkap kemudian dibunuh? Tragis bukan? Ia masih ingin hidup lebih lama bersama anaknya.


"Drake aku akan melindungi mu, juga ibu mu." Genta menahan napas saat mengatakannya.


Pria itu mengecup puncak kepala sang anak lalu mengulas senyum penuh rasa sayang. Wajah Drake sangat tampan di usianya yang masih balita.


Genta yakin suatu hari Drake akan masuk nominasi pria tertampan. Siapa pun pasti akan mengakui itu, sejak kecil saja ia sudah dapat memikat hati perempuan, Dyana misalnya.


Pria itu pun masuk ke dalam rumahnya sambil membawa Drake dalam gendongannya. Sekarang ia memiliki tugas baru yaitu mengurus Drake yang dalam masa-masa aktifnya.


________


4 tahun kemudian


Suasana ramai menyambut kedatangan seseorang yang baru saja turun dari dalam pesawat. Langkahnya anggun dan penuh wibawa.


Perempuan itu membuka kacamatanya yang berwarna hitam lalu berjalan melangkah dengan anggun.


Badannya sempurna dengan wajah yang sangat cantik. Pakaiannya pun tampak kasual. Ia menghampiri orang yang telah menunggunya di luar bandara.


Orang itu yang akan menjemputnya. Ia tersenyum kepada sang supir yang dibalas pula oleh supir itu dengan ramah.


"Nona silakan masuk."


Perempuan itu mengangguk dan masuk ke dalam mobil yang akan membawanya ke tempat tujuan.


Ia tidak sabar ingin segera sampai, setelah beberapa menit mengarungi jalan akhirnya ia pun sampai juga ke rumahnya.


Ia menatap rumah mewah yang menjulang tinggi. Ia sangat merindukan rumah tersebut, suasananya pun masih sama sebelum ia meninggalkan tempat itu.


Ia melangkah masuk dengan tidak sabar ingin menatap tempat masa kecilnya. Perempuan itu langsung berteriak bahagia dan memeluk sang ibu yang menyambutnya.


"Alice bagaimana perjalanan kali ini, kau aman bukan?" tanya Tiara dengan penuh nada khawatir. Ia menatap seluruh tubuh anaknya, dan benar tidak ada satupun yang terluka. Hal itu dapat membuat Tiara bernapas lega.


"Tidak ada. Kau tenang saja Ma, aku aman." Alice tidak kalah melebarkan senyumnya untuk sang ibu.


Alice berjalan menatap setiap sudut rumah yang tidak ada berubah. Masih sama seperti dulu meski ada beberapa yang telah dirombak.


4 tahun lebih berada di China untuk melakukan serangkaian pengobatan telah membuat Alice kian membaik. Keadaannya kembali seperti semula ketika sekian lama harus duduk terdiam di kursi roda.


Alice bersyukur ia mendapatkan lagi kebahagiaannya. Hingga ia memutuskan untuk kembali ke New York meski berat untuk meninggalkan China.


Perempuan itu semakin cantik dan dewasa, sebenarnya sifatnya masih sama. Menyukai boneka dan kekanakan meski tidak sekental dulu lagi.


Wanita tersebut duduk di sofa yang terdapat di ruang tamu dan meluruskan kakinya. Ia hendak merilekskan persendian tubuhnya yang terasa kaku. Perjalanan panjang membuatnya merasa lelah.


"ADAIRE!!!"


Seorang anak kecil berlari terburu-buru menghampiri Alice yang telah memanggilnya. Anak kecil berkepang dua itu segera memenuhi panggilan dari Alice.


"Pijatkan kaki ku," ujar Alice dengan nada ketusnya.


Adaire yang semula menunduk pun mengangguk. Ia melakukan apa yang telah diperintahkan oleh Alice untuk dirinya.


"Baik nona."


Sebenarnya Adaire takut jika namanya telah dipanggil oleh Alice. Ia selalu saja mendapatkan pekerjaan yang cukup berat dari Alice. Jika ia melakukan kesalahan barang sedikit maka ia akan mendapatkan hukuman dari wanita itu.


"AGAK KENCANGAN DIKIT!"


Adaire terkesiap mendengar nada keras dari Alice. Ia pun semakin dalam memijat kaki sang nona. Jantungnya berdegup kencang, ia sangat ketakutan saat ini.


Tiara hanya menghela napas menatap Alice yang bersikap keras kepada Adaire. Ia juga tidak berniat untuk menegur putrinya.


"Dengarkan nona mu, lakukan apa yang dia perintahkan," tutur Tiara dan menjewer telinga Adaire.


Anak itu langsung tersentak. Ia hendak menangis tapi berusaha untuk tidak menjatuhkan air matanya.


Sementara Genta yang hendak pulang ke rumahnya pun melintasi ruang tamu. Ia tidak sabar ingin menjemput Drake. Rasanya ia sangat merindukan anak tampannya itu.


Tapi matanya tidak sengaja melihat seorang wanita di sofa. Ia terkejut bukan kepalang, tentu Genta sangat mengenali wanita itu.


Tangannya mengepal menahan emosi yang meletup-letup. Ia sangat rindu dengan wanita itu. Alice semakin cantik dan tubuhnya yang semakin seksi. Hal itu membuat Genta kian merasa ingin berlari ke arah wanita tersebut dan memeluknya erat.


Ia tidak ingin kehilangan wanita itu lagi. Genta sungguh merindukannya. Tuhan izinkan dirinya lebih lama berdiri di sini untuk melihat wanita pujaan yang selalu terpatri di doanya dan rindunya.


Mata Genta pun beralih pada seorang anak kecil yang memijat kaki Alice. Saat memandangnya Bak ribuan pisau menikam jantungnya, lelaki itu merasa pedih saat melihat wajah anak kecil tersebut apalagi melihat perlakuan Alice yang cukup kasar kepada anak kecil itu.


Itu putrinya, putri yang selalu ia rindukan setiap malamnya, Jelas Genta mengetahui dengan sekali tebak, naluri dan wajah itu tidak mampu membohongi kenyataan. Putrinya sangat mirip dengannya. Rasanya Genta hendak mendekap tubuh ringkih itu.


"Maafkan papa nak. Ini semua karena papa sehingga kau tidak bisa mendapatkan cinta dari ibu mu. Maafkan aku Alice, aku mencintaimu dan sungguh sangat rindu pada mu." Genta menjatuhkan air mata dari kelopak matanya, semuanya nyata, jika mimpi pun ia akan meminta kepada Tuhan agar tidak terbangun dari bunga indah ini.


Sudah saatnya ia menebus semua kesalahannya yang berakibat kepada anak-anaknya. Genta meremas kedua tangannya.


_____


Tbc


Makasih yang udah baca semua 🖤🖤🖤❤️ btw jangan lupa like dan komen ya🥺 kalau ada kekurangan silakan di komen aja ya.