My Handsome Maid

My Handsome Maid
Part 33



Miguel menendang apa pun yang ada di depan matanya. Letupan emosi telah membara di dalam dadanya. Ia hanya bisa terpaku di tempat dengan amarah yang mengiringi melihat pabriknya yang cukup besar dilalap si jago merah.


Pria itu menelan ludahnya dan mengepal erat. Tampak anak buahnya sibuk tengah memadamkan api yang berkobar kuat.


Cristian melirik sang ayah yang tampak mengerikan dengan raut marahnya. Tidak seperti biasanya Miguel yang selalu diam kini bak monster menakutkan.


Miguel menjauh dari tempat itu sementara para wartawan sibuk mengambil potret. Ia tidak mempedulikan para wartawan yang menguntit dirinya ke mana pun.


"Bagaimana tanggapan anda mengenai terbakarnya pabrik anda?"


"Apa yang akan dilakukan kedepannya? Dan solusi apa untuk mengatasi kerugian?"


"Apakah anda yakin ini hanya karena listrik konslet? Atau mungkin ada seseorang sedang berusaha menjatuhkan anda, dan bagaimana tanggapan anda mengenai hal ini?"


Hingga Miguel benar-benar merasa terganggu dengan wartawan itu. Ia pun langsung mendorong salah satu wartawan hingga kamera yang wartawan itu pegang terjatuh dan hancurĀ  berkeping-keping.


Miguel menatap orang-orang tersebut dengan pandangan muak. Ia ingin sendiri dan tidak ingin diganggu seperti para bedebah itu saat ini.


"Hentikan omong kosong kalian!!"


Tanpa mempedulikan sedikit pun nasib para wartawan Miguel berlalu dengan angkuh melewati para wartawan yang malah makin berlomba-lomba memotret dirinya dan mengabadikan setiap moment.


Setiap hal yang dilakukan Miguel bisa menjadi uang bagi wartawan. Sementara Cristian mendengus melihat para wartawan yang tidak tahu diri dan tidak tahu privasi.


Ia meminta salah satu anak buah ayahnya untuk membereskan masalah ini dan tidak tersebar rumor buruk mengenai barusan ayahnya lakukan.


Saat urusannya telah teratasi Cristian mengikuti jalan yang dilalui Miguel menuju salah satu tempat yakni club besar di California.


"Siapkan semua kepentingan rapat. Kita akan melakukan pertemuan darurat."


"Baik tuan."


"Dan pastikan tidak ada penyusup."


Cristian membuka pintu mobil Lamborghini berwarna hitam miliknya. Ia mengendari mobil mewah itu dengan kecepatan di atas rata-rata.


________


"Kau benar akan menginap di sini bukan?" tanya Alice antusias dari dalam kamar.


Ia menghampiri Genta yang menemuinya di depan kamar wanita itu diam-diam. Hari telah gelap dan kini hanya ada mereka berdua saja di tempat ini.


Genta melepaskan senyumnya saat melihat Alice menghampiri dirinya. Ia merentangkan kedua tangannya menyambut Alice di dalam dekapannya.


Alice tertawa sekilas lalu menyambut pelukan itu dan memeluk tubuh Genta dengan erat. Ia mendongak dan mata mereka bertemu dan saling memandang dengan dalam.


Genta menatap serius wajah cantik itu. Diamatinya dengan teliti setiap detail yang tercetak indah. Alice sangat sempurna seperti tokoh-tokoh para Dewi. Kecantikannya tidak dapat diragukan lagi, banyak pria di luar sana yang terpikat dengan gadis manis ini, tapi ingat hanya Genta yang mengisi namanya.


Genta merasa ia seperti pria paling beruntung karena cintanya terbalas oleh anak majikannya. Sungguh ini seperti di drama-drama murahan dan itu terjadi padanya.


Semuanya bagaikan khayalan di dunia fiksi. Genta mengambil separuh rambut Alice yang menutupi mata perempuan itu, ia mengsampirkan benda yang menghalangi wajah nan rupawan.


"Nona apa saya boleh memeluk anda seperti ini?"


Wajah Alice yang semula penuh dengan aura bahagia langsung meredam dalam sekejap. Ia mendengus kesal. Kenapa pria itu malah bertanya setelah ia melakukannya? Sangat aneh.


"Aku rasa kau memang terkena guna-guna," tutur Alice sembari memandang Genta dengan wajah serius.


"Kenapa bisa?" tanya Genta penasaran hingga Alice bisa berpikir hal semacam itu.


"Bisa saja."


Genta tidak dapat marah dengan Alice melihat wajah menggemaskan milik perempuan tersebut, memandang sedetik saja membuat hatinya meleyot tidak berdaya. Ia mencubit wajah Alice dan mencium pipi yang memerah karena ulahnya.


"Nona saya rasa saya adalah pria yang paling beruntung, apakah kau tahu nona?" ujar Genta tertawa sekilas melihat perubahan drastis dari Alice.


Perempuan itu tidak lihai menyembunyikan kegugupannya. Wajahnya merah seperti tomat habis digoda oleh pria yang sialnya telah berhasil mengukirkan namanya di hati Alice dan menjadi detak jantung di setiap detiknya.


"Apa kau sedang mencoba menggombal paman?"


"Menurut mu nona?"


Alice tidak dapat menahan rasa malunya. Ia menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada bidang Genta.


"Alice kau tahu aku dulu membenci pedofil, sekarang aku melakukannya. Maafkan aku."


Genta mengusap pipi Alice dengan lembut. Perempuan itu jatuh ke dalam dekapan Genta pada akhirnya. Ia menyerah membohongi hatinya dan mencoba menerima fakta sesungguhnya, ia sangat mencintai lelaki ini.


Pajangan gambar di kebun binatang beberapa hari lalu menarik minat Alice. Ia menatap cukup lama, di situ tampak ia sangat bahagia seolah ia telah menemukan arti kehidupan sesungguhnya.


"Aku tidak memaksa mu, tapi aku yakin suatu hari kau akan menjadi ibu yang paling baik bagi mereka."


Alice kontan memandang Genta dan mengharapkan ucapan Genta benar-benar akan terbukti.


"Aku harap itu benar-benar akan terjadi," lirih Alice keluar dari mulutnya yang sudah pasrah.


"Apa mereka sudah tidur?"


"Ya mereka sudah tidur. Aku benar-benar tidak percaya mereka bisa satu kamar."


Genta gemas melihat Alice, ia membawa perempuan tersebut ke dadanya dan membelai kepala Alice penuh cinta.


"Mereka kembar, pasti bisa."


"Ku rasa perkataan mu ada benarnya juga paman." Alice menjauhkan tubuhnya dan menatap Genta, "bisakah kau bacakan aku dongeng seperti dulu lagi?"


"Tentu."


Mereka menuju tempat tidur yang ada di sana. Alice merebahkan tubuhnya dan Genta yang duduk di sampingnya sembari mengkisahkan dongeng dari Prancis.


Genta khusyuk membacakan dongeng untuk Alice. Sementara Alice mendengarkan dengan serius. Namun matanya tidak juga kunjung terkunci hingga sampai akhirnya Genta pun selesai membacakan dongeng dari Prancis tersebut.


Ia melirik Alice yang masih menatapnya dengan mata segar. Pria itu tersenyum tulus dan mengelus puncak rambut milik perempuan itu.


"Kenapa belum tidur?"


Alice menggeleng ia terlalu penasaran dengan kisah yang diceritakan Genta, rasanya tidak ingin ia meninggalkan kisah menarik itu ke alam mimpi.


Tatapan Genta sendu melihat wajah damai Alice. Ia ikut merebahkan tubuhnya di samping perempuan tersebut. Ia menopang kepalanya demi bisa melihat Alice.


Wajah cantik itu sungguh telah menghipnotis matanya hingga ia enggan menjauhkan tatapannya barang sedetik pun.


Genta mengecup bibir Alice. Awalnya hanya sebuah kecupan sebelum berakhir dengan dalam. Genta menatap mata Alice seperti tengah memohon.


Sejenak Alice termenung ia menggeleng merasa bersalah.


"Maafkan aku."


"Tidak apa." Genta memeluk tubuh Alice dengan kencang hingga menimbulkan tawa renyah keduanya. "Tidurlah."


_______


Derttt


Merasa terganggu dengan dering ponsel tersebut membuat sang empu terbangun dan mengangkat telpon itu dengan mata terpejam.


Tidak ada panggilan dari sana yang membuat Genta heran. Ia membuka matanya dan memastikan siapa yang tengah menelpon di malam hari.


"Keluarlah aku menunggu mu."


Sambungan telepon itu terputus seketika. Genta merasa tidak enak. Ia beranjak dan menatap Alice yang terlelap nyaman.


Pria itu keluar dari kamar diam-diam dan menuju lokasi yang dikatakan oleh si penelpon. Karena rasa penasarannya lah yang membawa Genta mengikuti keinginan si penelpon.


Genta menatap keluar pagar. Tidak ada siapa-siapa di sana. Ia pun mengernyit heran dan hendak kembali ke kamar.


Namun sayang beribu sayang tiba-tiba ada sebilah kayu yang memukul pundaknya hingga ia jatuh pingsan.


Seorang mengenakan topi seperti biasanya tersebut tersenyum miring. Ia memerintahkan anak buahnya untuk mengangkat tubuh Genta.


"Lakukan sebaik mungkin."


______


Tbc


Jangan lupa like dan komen


Btw jangan lupa mampir di karya temen aku juga ya. Ceritanya seru bgt tau.