
"Bisa saya menemui tuan?" tanya Genta pada Sean yang berdiri di luar ruangan William.
Sean menatap tajam Genta. Ia meneliti pria itu dari atas hingga ujung kaki. Sean tentu melihat sebuah berkas di tangan Genta.
Tapi dirinya tetap diam membuat Genta hanya bisa menghela napas pasrah. Ia tadi diminta Miguel untuk memberikan berkas tersebut kepada William.
Miguel mengatakan jika ia ada kepentingan dengan sahabat lamanya yakni William. Tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun Genta menyetujui permintaan Miguel.
Di sinilah dirinya sekarang berdiri di depan ruangan William untuk melaksanakan permintaan dari Miguel.
"Berikan berkas itu. Siapa yang memberi mu ini?" tanya pemuda tersebut pada Genta.
"Aku bertemu seseorang hari ini dan dia meminta agar aku memberikan berkasnya. Namanya Miguel Miller, dia mengatakan jika dia adalah sahabat lama tuan," kata Genta menceritakan kejadiannya pada hari ini.
Sedangkan Sean raut mukanya langsung datar dan mengeras. Napasnya memburu, dapat Genta tatap jika pria itu sedang menahan amarah namun berusaha agar tetap tenang.
"Begitukah? Baiklah kau boleh pergi sekarang."
Genta mengangguk dan undur diri meninggalkan ruangan itu. Sean meneguk ludahnya susah payah.
Pria itu pun memasuki ruangan William. Ia tampak ragu-ragu untuk memberikan berkas tersebut kepada sang tuan.
"Apa yang dia beri?" tanya William sambil menanda tangani beberapa berkas di atas mejanya.
Sean pun menarik napas dan berjalan lalu menyerahkan berkas yang dibawa oleh Genta tadi kepada William.
William meraih berkas itu dan membukanya. Seketika itu pula wajahnya mengeras dan tangannya mengepal. Ia menatap tajam Sean lalu membuang berkas itu asal.
Dadanya naik turun seolah tengah menahan gejolak api kemarahan. Ia memukul meja dengan kuat hingga membuat Sean terkejut dan menunduk takut terhadap kemarahan William.
"Berani-beraninya dia," geram William. Ia berdiri dari meja kerjanya dan menghampiri jendela. Pria itu mengepalkan tangan erat, "pria itu sudah tidak takut bermain dengan ku. Miguel, hahah mungkin kau belum jera."
William tersenyum miring dan tertawa terbahak-bahak membayangkan wajah Miguel. Ia tidak sabar menunggu permainan pria itu, ia ingin sekali menyaksikan permainan murahan tersebut.
_______
Sebuah foto lama ia ambil. Ia menatap foto itu lekat penuh dengan kerinduan. Sudah berbulan-bulan dirinya menunggu dan dia belum juga mendapatkan kabar dari sang wanita pujaan hati.
Ia rindu wanita itu, bagaimanakah kabarnya sekarang? Apakah Alice sudah membaik? Jika benar Genta lebih senang mendengarnya.
Ia tersenyum melihat foto itu dan dikecupnya. Cinta pertamanya, konyol sekali malah ia jatuh cinta dengan sang nona. Dan lebih parah dirinya pula yang memperawani wanita itu. Entah itu disebut keberuntungan atau kesialan.
Genta meletakkan kembali foto itu ke tempat semula. Ia duduk di tepi ranjang dan menatap kosong ke atas. Kemudian ia memejamkan matanya.
Dertttt
Genta pun meraih ponsel tersebut dan melihat nama yang tertera di sana. Ia pun tersenyum sekilas dan mengangkat telepon tersebut.
"Hallo nak. Bagaimana kabar mu di sana? Apa kau betah."
"Ya ibu tenang saja."
"Tidak terjadi sesuatu, kan?"
Genta pun diam dan tidak menjawab. Ia tidak mungkin mengatakan iya jika sebenarnya telah terjadi sesuatu.
"Tidak buk."
"Syukurlah. Nak aku meminta mu untuk berhati-hati di sana. Jauhi siapa pun mereka. Dan jangan mudah percaya, di kota penuh dengan kebohongan. Jika ada seseorang mencurigakan langsung telepon ibu."
Genta tersenyum mendengar nada khawatir dari seberang sana.
"Ya Bu."
"Ibu tutup teleponnya."
Genta pun menatap layar ponsel yang menyala lalu melempar handphone itu asal. Ia menarik napas dan masih bingung dengan apa yang terjadi hari ini. Kenapa ibunya seperti ketakutan sekali ia mengenal orang kaya?
______
5 bulan kemudian.
Kondisi Alice semakin membaik tubuhnya pun tumbuh dengan subur. Semakin hari Alice semakin berwarna dan periang seperti dulu lagi.
Ia menerima kenyataan itu dengan dada lapang. Kini dirinya tampak jauh lebih bahagia.
Wanita itu melihat anak-anak di tempat bermain. Ia terkikik melihat para anak-anak yang tertawa sambil bermain perosotan.
Jika dirinya tidak dalam kondisi tersebut tentu wanita itu akan meminta untuk bergabung dengan mereka.
Lina hanya mengulas senyum melihat kemajuan dari sang nona. Setidaknya Alice tidak murung lagi seperti dulu.
Perut Alice kian hari kian membuncit. Tubuhnya pun semakin berisi. Mengenai kehamilannya Alice masih belum bisa menerima.
Lama dalam keadaan bisu tentu membuat Alice sangat sulit untuk berkomunikasi. Ia juga sudah mulai bisa memakai bahasa isyarat untuk orang bisu.
Lina sebagai pelayan pribadi Alice juga harus mempelajari bahasa isyarat. Seperti sekarang ia memahami apa yang diinginkan Alice. Wanita itu minta di bawa masuk ke dalam rumah.
"Bibi antarkan aku ke dalam rumah."
"Baik nona."
Lina mendorong kursi roda tersebut dan membawanya ke kamar wanita itu. Namun suara riang dari luar membuat Lina berhenti.
Alice bertepuk tangan senang saat melihat ayah dan ibunya yang ternyata mengunjungi dirinya di sini.
Tiara dan William juga mempelajari bahasa isyarat agar bisa leluasa berkomunikasi dengan putrinya.
Pria itu memeluk sang ayah dengan sangat erat lalu bergantian memeluk ibunya.
"Bagaiman hari mu sekarang nak?" tanya William seraya mengusap kepala Alice dengan sayang.
"Alice baik pa," ucapnya dengan bahasa isyarat tangan.
"Anak mama pasti baik dong." Tiara tersenyum dan mencium pipi putrinya.
Alice terkikik senang dengan perlakuan kedua orangtuanya. Ia menatap pada bingkisan yang dibawa oleh Tiara dan William.
Tiara yang menyadari itu mengulas senyum. Perempuan tersebut membuka bingkisan itu dan menyerahkan boneka besar yang dibawanya untuk putrinya tersebut kepada Alice.
Anak itu senang bukan kepalang. Ia segera meraih boneka kucing dan memeluknya. Dirinya memang suka mengkoleksi boneka.
Di kamarnya saja sudah penuh dengan ratusan boneka yang dibawakan oleh orang tuanya saat berkunjung ke China.
"Grisson katanya kangen kaka ya?" tanya Tiara pada Grisson yang berada di gendongan pengasuhnya.
Ia mengambil anak mungil itu dan menyuruh Grisson yang sudah mulai bisa berjalan menghampiri sang Kaka.
Alice sangat bahagia melihat Grisson sudah tumbuh besar. Ia sangat menyukai anak-anak. Anak-anak? Jika dipikir-pikir sebentar lagi juga dirinya akan memiliki seorang bayi.
Mood Alice pun seketika hilang, ia menatap pada perutnya yang buncit yang baru saja memasuki bulan ke delapan. Ia menyentuh perut itu dan menghela napas.
"Tuan barang-barangnya diletakkan di mana?" tanya seseorang yang baru saja sampai dengan banyak bawaan di kedua tangannya.
Alice pun menatap pria yang baru datang itu dan tercekat seketika. Tidak jauh berbeda dengan sang pria yang juga menatap Alice.
Deg
Seketika keduanya sama-sama terkejut. Genta bisa melihat Alice di sana dengan kondisi perut membuncit dan hal itu membuatnya kaget bukan kepalang. Ia menjatuhkan semua barang dengan mata tak lepas dari Alice. Tubuhnya bergetar, demikian pula Alice.
______