
Genta menatap lama berkas yang ada di tangannya. Itu adalah map yang berisi tanda tangannya yang dan berarti ia resmi telah menjadi ketua Black Rose.
Hidupnya sebentar lagi akan penuh dengan hitamnya dunia bisnis. Organisasi ini terkenal sangat kejam, Genta bukanlah orang yang jahat, tapi orang sepertinya yang selalu diajarkan berbuat baik ini dipaksa menjadi Mafia, konyol bukan?
Ya organisasi Black Rose tidak jauh berbeda dengan Mafia. Melakukan apa saja dan membunuh mereka yang menghalangi jalan keberhasilan Black Rose.
Black Rose telah dimasukkan ke dalam buku hitam dan menjadi target utama buronan polisi. Hanya saja karena kepintaran anggota Black Rose menyembunyikan identitas mereka membuat Black Rose sama sekali tidak tercium media dan polisi sukar menemukan pemimpinya.
Jika sampai terkuak siapa pemimpinnya tentu posisi Genta akan berbahaya. Maka dari itu Genta akan berusaha bagaimana caranya agar tidak ada satupun orang yang mengetahui dirinyalah pemimpin anggota Black Rose.
"Melelahkan, tapi menyenangkan, bermain-main sebentar saja, sepertinya tidak buruk juga."
Ia juga terkejut jika orang yang telah mengancamnya dan memaksanya adalah Sean. Sean bisa dikategorikan orang yang berbahaya, ia begitu pandai bermain peran menyusahkan lawan.
Bahkan kadang Genta sendiri sulit memprediksi Sean, seperti sekarang, ia tidak tahu apakah Sean benar-benar memaksanya hanya karena ia pewaris atau ada hal besar yang direncakan pria itu?
Ia tidak mungkin mempercayai Sean mentah-mentah. Genta menarik napas panjang dan membuka lacinya.
Ia menatap senjata api berupa pistol di sana. Ia meraihnya lalu menelitinya. Pistol itu merupakan pistol kesayangannya, meski bentuknya kecil tapi begitu mematikan.
"Bagaimana menurut kalian dengan benda ini?"
"Sangat sempurna Tuan," balas anak buah Genta yang berada di dalam ruangan bersamanya.
Genta tertawa nyaring, jelas sangat sempurna. Apa yang ada di benaknya memang tidak pernah salah.
Berkat kepintarannya ia merancang benda itu sendiri. Tidak ada yang tahu dengan senjata itu selain bawahannya. Ia sengaja menyembunyikan benda tersebut.
Senyum Genta tercetak jelas di sudut bibirnya. Ia mengukir senyum miring membayangkan hal-hal yang telah dilalui beberapa hari belakangan ini. Ingin menjatuhkannya, yah? Genta tertawa dalam hati, tidak akan semudah itu.
Meski ia tampak lemah tapi tidak dengan otaknya. Ia menyusun rencana diluar kendali orang-orang yang hendak mempermainkannya.
Ia bukan anak kecil lagi yang sesuka hati mereka mengatur. Genta telah dewasa bahkan ia hampir berkepala empat, otaknya juga diciptakan sangat cerdas, lalu buat apa ia menyia-nyiakan kemampuannya ini?
Ia duduk di kursi utama. Agen rahasia yang didirikannya berdiri tegak utuh, mungkin Sean telah mengetahui kelompok yang dibuatnya, tapi Sean tidak akan mengetahui jika di dalam kelompok itu masih ada kelompok intinya lagi.
Genta mengumpulkan mereka semua dan melakukan rapat rahasia. Ia telah memikirkan rencana dengan matang untuk menjatuhkan Black Rose, sebenarnya sangat mudah tetapi ada Sean yang mengendalikan makanya ia harus memutar rencana.
"Jangan harap yang berkhianat lolos dari ku!!"
Ia tidak tahu harus berterimakasih seperti apa kepada Sean telah dengan suka rela menunjuk dirinya sebagai ketua. Tapi Genta juga tidak boleh lengah, ia yakin Sean pasti lebih waspada.
"Tuan, mata-mata di sebelah barat Amerika mengatakan ada pergerakan dari kelompok tertentu. Sepertinya mereka akan mencegat kapal pengangkut minyak kita."
Genta tersenyum licik, banyak orang yang ingin menjatuhkannya, tapi siapa yang telah berhasil? Semuanya musnah di tangan Genta.
"Sebelum meraka mencegatnya kirimkan salah satu diantara kalian yang siap mati, dan ledakan kapal mereka jam sepuluh malam nanti. Aku tidak mau tahu kalian harus melakukan itu." Tidak ada yang berani membantah ucapan Genta. Mereka mengangguk dan memilih siapa yang siap mengemban tugas itu.
Kesetiannya kepada Genta membuat mereka rela melakukan apa saja demi tuannya. Genta sangat bangga memiliki anak buah seperti itu.
"Baik Tuan," sahut asisten Genta.
Daniel hanyalah asistennya di kantor. Ia tahu Daniel adalah orang Sean, ia tidak mungkin mengajak pria itu ke dalam organisasinya. Sejauh ini Sean belum dapat memantaunya ketika ia bertemu dengan organisasinya.
"Bagaimana perkembangannya?"
"Tuan tidak perlu khawatir, semua telah dipersiapkan."
"Aku tidak ingin rencana kita sampai ke telinga anggota Black Rose. Aku ingin menghancurkan organisasi sialan itu." Genta mengepalkan tangannya erat, "tidak peduli jika pendirinya ayah ku. Aku akan tetap menghapus dan menghentikan kejahatan ayah ku. Ansel!! Urus mobil Black Rose yang akan sampai di California besok dan membawa ribuan budak dari Afrika. Bebaskan mereka, jangan biarkan satupun terluka!!"
Benar seharusnya ia tidak boleh memberitahukan rahasia Black Rose yang akan membawa budak yang mereka culik di Afrika. Itu murni rahasia dari anggota Black Rose tapi mereka salah memberitahu Genta, perdagangan manusia telah lumrah dilakukan oleh organisasi itu.
"Sean kita lihat! Dan kau Damian sepertinya belum kapok juga!" Genta tertawa gelak begitu mengintimidasi.
_______
Alice menatap tajam Damian yang berani-beraninya menginjakkan kaki di depan rumahnya. Ia menatap Lina yang turut serta di samping pria itu.
Jujur saja hati Alice sangat sakit mengetahui kebenarannya. Ia tidak ingin menjauhi Lina karena wanita itu tidak melakukan kesalahan, tapi ia juga tidak sanggup berada dekat dengan Lina.
Ia masih syok dengan fakta yang sebenarnya. Kedatangan orang tua dan anak itu membuat mood Alice lenyap seketika.
"Kenapa kau kemari?" Alice melirik sekilas mantan pembantunya.
Melihat sang ibu yang diperlakukan tidak baik membuat amarah Damian memuncak. Ia memperingati Alice tapi wanita itu tidak menghiraukan tatapan yang diberikan Damian.
"ALICE!! Hormatilah dia, dia juga ibu mu yang mengasuh mu dari lahir."
"Aku tidak meminta ia mengasuhku!" timpal Alice enggan menatap mereka.
Lina hanya bisa melirih sedih dan menatap Alice dengan bola mata berkaca-kaca. Jaraknya sangat dekat tapi terasa sangat jauh. Ia tidak dapat menggapai tubuh wanita yang dulu dirawatnya. Ia tidak perduli Alice anak dari siapa tapi ia menyayangi Alice.
Bahkan ia rela dan menerima semua kenyataan jika William lebih memilih Tiara yang merupakan budaknya waktu itu ketimbang dirinya. Meski ia telah memiliki anak tapi nyatanya ia sadar diri jika ia hanya sebagai wanita pemuas Tuannya. Berbeda dengan Tiara yang sungguh istimewa.
"ALICE!! Ibu ku rela merawat mu!! Dia bahkan memaafkan ibu mu yang jal*Ng itu!"
Mata Alice memerah tidak menyangka jika Damian mengucapakan kalimat tersebut, ibunya bukan jala*ng, ibunya wanita baik-baik, hanya Damian saja yang kurang waras.
"Kau!!"
Alice mendekat dan menampar pipi Damian kuat. Hatinya sakit sebagai anak ibunya disebut-sebut seperti itu, ia melirik Lina yang telah menangis.
"Bahkan ibu ku rela datang dari Kanada ingin bertemu dengan mu!! Dan kau mengusirnya!!"
"Aku tidak memintanya datang." Alice menatap Lina yang sudah menangis, "maafkan aku. Aku belum siap bertemu dengan mu!!"
"Tidak apa Nak, kau menemui ku, aku pun sudah senang!! Ku harap kau dapat menerima ku!"
Alice tersenyum tipis dan menghapus air matanya kasar. Ia melihat mobil suaminya yang telah kembali, gawat Genta pasti akan marah besar.
Benar, pria itu membanting pintu mobil cukup keras dan berjalan ke arah mereka.
"Apa-apaan kau Damian!!"
Bughh
Genta merasa darahnya di ubun-ubun saat melihat ada Damian di depan rumahnya dan Alice yang menangis. Ia menyangka Damian telah melakukan sesuatu kepada istrinya.
"Genta sudah!"
"Kau masuk Alice!! Biar aku yang mengurus mereka!!"
"Genta!!"
"Alice," ujar Genta dingin dan itu artinya ucapannya tidak bisa dibantah.
Alice pergi dengan memberikan isyarat ke Lina dan Damian jika merak juga harus cepat pergi dari sini. Ia juga masih punya hati nurani, tidak mungkin ia membiarkan Genta melukai Lina, ia juga menyayangi wanita itu hanya saja belum siap bertemu, mungkin mood nya tidak baik hari ini.
_______
Tbc